________________________________________________________
BBM (BISIK-BISIK MEDIA): All About MATRA!

Klik: http://mediacare.blogspot.com
Milis: http://www.yahoogroups.com/mediacare/subscribe
email: [EMAIL PROTECTED]
 
"Bacalah! Dengarlah! Tontonlah! Tapi gunakan nalar dan akal sehat Anda: 
Jangan percaya 100% pada media massa. Jangan telan mentah-mentah apa
yang tersaji pada apa yang kau baca, yang kau dengar, dan yang kau 
tonton....................."
________________________________________________________
MATRA - magazine
35,000
Jl. RS Fatmawati ­ Komplek Ruko Fatmawati Mas Kavling B4/No. 321-322, 
Jakarta
Phone: (021) 765-8513
Fax: (021) 765-9218
Email: [EMAIL PROTECTED]

Kawans,
 
Tak dinyana, tulisan saya soal perubahan redaksional di majalah MATRA ternyata
mendapat tanggapan yang sungguh luar biasa. Terima kasih, terima kasih.
Artinya, MATRA memang 'pernah' dicintai oleh para pembacanya. Saya tuliskan
kata 'pernah' - dalam tanda kutip - karena MATRA kini telah berubah total. 

Sebuah perubahan pasti akan menimbulkan reaksi: bisa positif bisa 
negatif. Kalau kelak para pembaca tambah tergila-gila dengan MATRA, artinya
perubahan itu menuju ke arah yang benar. Dampaknya? Jumlah pelanggan
bertambah, tiras terus naik, kocek MATRA kian tebal, dan ujung-ujungnya
kesejahteraan karyawan MATRA pun akan meningkat pula. Disini senang
disana senang, semuanya senang: aku senang, kamu senang, pembaca senang, 
agen senang, pengiklan senang, pengasuh MATRA pun ikut  senang. Itu impian 
semua penerbit bukan? Duit Mbak Sri yang konon ditanam
sebesar Rp 9 miliar pun takkan sia-sia (Maaf, dengan terpaksa saya 
pakai kata 'konon' karena tak melihat dengan mata kepala sendiri bahwa
Mbak Sri yang istri mantan petinggi militer setor 9M, cuma mengutip 
dari tabloid KONTAN). MATRA yang mengklaim bertiras 35.000 eksemplar 
itupun pasti ludes di pasar..retur nol, alias 'zero return'.
 
Tapi terus terang, saya miris juga dengan reaksi yang muncul begitu
MATRA mempermak diri, karena lebih banyak negatif daripada positifnya. 
Walau itu tak mewakili seluruh lapis pembaca MATRA, saya prediksi bandul 
itu agaknya akan cenderung bergerak ke kiri. Persepsi para pembaca telah 
berubah. 

Pencitraan MATRA sebagai 'majalah pria yang layak diintip wanita' pun 
ikut mengkerut. Citra MATRA sebagai majalah yang punya sentuhan 
intelektual telah terkikis. Citra MATRA sebagai jangkar seni budaya pun 
kini sirna. GQ-nya Indonesia kini telah tiada. Padahal dalam sebuah 
wawancara dengan tabloid KONTAN beberapa waktu lalu, Wina Armada pernah
bilang bahwa MATRA tak akan berubah. Berikut saya kutipkan:  
 
...........Akan berubahkah Matra? "Tidak, MATRA akan tetap menjadi 
majalah pria yang patut diintip kaum wanita," tutur Wina, menyitir 
resep lama Matra. Ia yakin formula ini masih manjur................. 
 
Nah, terbukti kan bahwa apa yang ia ucapkan tak bisa dipegang. Kalau saya simak 
sekilas, upaya MATRA saat ini bukan meningkatkan reputasi, tapi malah menuju ke 
jurang kehancuran. Di saat berbagai lembaga ramai-ramai membangun reputasi, 
juga mempertahankan dan meningkatkannya, MATRA malah melawan arus itu. Apa 
pandangan masyarakat pembaca saat menyimak sampul MATRA yang menampilkan sosok 
perempuan yang sebenarnya bernyawa dan punya nama, tapi oleh MATRA ditampilkan 
seolah-olah perempuan itu hanya pajangan belaka? Siapa dia dan raut wajahnya 
seperti apa, pembaca tak perlu tahu,  yang penting belahan dada dan tonjolan 
'merapi merbabu' dan 'sindoro
sumbing'nya. Merk bra-nya apa dan kalungnya koleksi darimana atau 
perancangnya siapa, MATRA pun tak ambil peduli. Coba, siapa tak terhenyak 
dengan 
perubahan frontal seperti itu? Majalah sekelas FHM pun tak akan gegabah 
menampilkan gaya seronok seperti itu. Mungkin komentar rekan Baby Tertiani 
Simanjuntak dari THE JAKARTA POST bisa mewakili keresahan para pembaca MATRA 
saat ini. Berikut opininya:
 
"Ada satu hal yang menurutku bisa menjadi masalah besar, baik buat 
MATRA maupun pers Indonesia: eksploitasi organ tubuh di sampul 
majalah. Memang, definisi pornografi masih terbuka untuk perdebatan, 
tetapi pada tahun 1970-an, kalau tidak salah, saat euphoria-nya 'adult 
magazine' di Amerika, ada semacam kesepakatan bahwa menampilkan tubuh 
telanjang sekalipun tetapi lengkap dengan wajah dan ekspresi adalah 
lebih "human" daripada mem-blow up organ tubuh tertentu. Dehumanizing, 
katanya. Hmmm kejamnya persaingan media ..."
 
Tanpa bermaksud menggurui, saya kutipkan pendapat dari Cees BM van Reel, 
profesor Corporate Communications dari Rotterdam School of Management 
Erasmus Huis: persoalan reputasi tak cuma berkisar soal citra atau 
rasa semata, tetapi menyangkut pula sebuah teknik dan strategi PR yang 
bisa diukur, dihitung secara  matematis, serta bisa dimanage. Menurutnya,
ada enam hal untuk mengukur sebuah reputasi, yakni produk dan service, 
pendekatan emosional, tanggung jawab sosial, visi dan kepemimpinan, 
performa finansial, serta lingkungan. Reputasi dibangun melalui 
persepsi, untuk itu memerlukan strategi PR yang mumpuni. "Di era globalisasi, 
reputasi menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mengembangkan 
sebuah kepercayaan masyarakat," ujar Cees.
 
Untuk pengasuh MATRA, semua ini sekadar masukan, dengan harapan MATRA
akan lebih berjaya di masa mendatang. Jadi tak perlu ada yang kebakaran
jenggot kala muncul kritik bertubi-tubi. Pengkritik bukanlah musuh, tetapi 
justru
mereka itu justru teman sejati - kalau tak mau dibilang sahabat.  Apalagi 
sampai 
sibuk memburu dan terus mencari siapa 'orang dalam' yang 
pernah saya tuliskan. Itu sungguh langkah yang sia-sia dan tak perlu. Cukup 
berkacalah, mematut-matut diri, bergincu tipis-tipis saja kalau perlu. 
Ini kan artinya masih ada orang yang peduli di sekitar Anda. Siapapun 
mereka dan apapun komentarnya, hargailah. Daripada dicuekin: "Ah, apa 
sih bagusnya MATRA pakai dikomentari segala"? 
 
Justru sudah saatnya media massa kita membiasakan diri dengan 
hujan kritik -- tak cuma puas dengan gerimis pujian di siang bolong -- 
seiring dengan kecenderungan masyarakat kita yang kian kritis dan
kian beragamnya jalur untuk saling berkomunikasi, salah satunya melalui
milis ini. Semua itu demi menuju ke arah yang lebih baik, tentu saja. 
Duh, zaman memang telah berubah....... 
 
Tak lupa, mohon maaf kalau ada salah kata.
 
Salam,
 
Radityo Djadjoeri
[EMAIL PROTECTED]
 
Catatan:
Terima kasih buat mas/mbak Uce (entah siapa nama lengkap dan nama aslinya, 
karena saya sudah cek ke markas MATRA tak ada yang punya nickname atawa paraban 
"Uce"), dan juga mas M. Latief dari MATRA yang sudah memberi tanggapan 
atas opini saya. Soal klub, mustinya Klub 2001 di kawasan Kota..namun
maaf saya tidak tahu tepatnya dimana, karena sudah jarang keluyuran malam.
Mungkin mas Latief bisa kirimi saya 'peta buta' tempat itu? Siapa tahu
ada yang penasaran ingin mencoba dan mencoba.......
 
Terima kasih juga buat para moderator beberapa milis 
di internet yang sudi menampung segala opini ini. Tak perlu takutlah 
terseret-seret dalam ajang somasi seperti munculnya kasus 
'KOMPAS vs SATRIA KEPENCET', 'SCTV vs REVRISOND BASWIR', 
'REPUBLIKA vs ADE ARMANDO dan lain-lain.........wong itu semua demi 
menegakkan kebenaran kok. 
 
_________________________________________________________
GING GINANJAR - email: [EMAIL PROTECTED]
Saya orang yang pro pornografi, tetapi dengan pembatasan. Misalnya, 
tak boleh dijual oleh pedagang asongan. Tak boleh dipajang di sembarang
tempat  -- sebagaimana di Eropa, entah di tempat lain. Buat saya, peminat
pornografi, betapapun rendah seleranya, berhak mendapat tempatnya 
juga.
 
Begitu pun Matra, Popular, dan sebagainya. Buat saya, itu majalah-majalah yang 
minta ampun norak seleranya sekarang. Humornya jelek, artikelnya 
ketinggalan zaman. Liputan-liputan seksnya sering diimbuhi 
komentar-komentar munafik. Tetapi mereka punya hak hidup. Karena 
banyak yang seselera sama Matra format baru, Popular dan sebagainya. 
Yang saya keberatan adalah Matra sekarang memposisikan dirinya benar-benar 
sebagai calo seks. Lihat saja, ada rubrik tentang dimana Anda bisa 
mendapat pelacur jika berkunjung ke suatu negara. Ini pun sah saja, 
kalau memang mau menjadi majalah calo seks. Tetapi tolong posisikan 
dengan tegas.
 
===============
JEN - email: [EMAIL PROTECTED]
Saya menyimak Matra sejak masih SD. Maaf, saya memang suka 
baca Matra sejak kecil, karena saya dulu suka beli Matra bekas di pasar. 
Yah, karena gambarnya yang agak-agak gimana gitu. Meskipun saya akhirnya 
mengagumi Matra karena saya banyak belajar jurnalisme di Matra --- 
namun kini saya kecewa dengan konsep Matra sekarang ini. 
 
Tulisan editorial tentang Ayu Azhari - 'Janda Of The Month' -- itu, 
yang menyebut harus berubah, saya prinsipnya sepakat. Karena yang abadi 
memang perubahan. Tapi konsep perubahan yang dibuat sekarang ini 
benar-benar mengecewakan, baik dari sisi jurnalisme, model liputan serta 
tampilan Matra 
yang tidak lagi eksotis.  Kini baca MATRA juga melelahkan. Bagaimana tidak 
melelahkan, 
ada di halaman Ayu Azhari misalnya: "Kalau mau janda seperti Ayu, musti 
mempunyai dana 60 juta USD! Itu menurut saya keterlaluan, meskipun itu 
hanya semacam guyon saja. Tapi apa manfaatnya coba?
 
Maaf kepada lembaga Matra. Setelah membeli edisi Mei 2005, kemungkinan 
saya tidak akan beli lagi Matra. Karena saya sudah tidak bisa menjadikan 
Matra sebagai referensi belajar menulis, belajar membuat peliputan 
yang lebih berenergi, dan lain sebagainya. Sekali lagi mohon maaf......
 
Komentar:
SD sudah baca MATRA? Hehehehee...hebat tenan Mas Jen! Waktu SD mah bacaan saya 
cuma Bobo, Hai, Si Kuncung, Kawanku......Kompas dan Panyebar Semangat 
(karena almarhum ayah saya berlangganan). Waktu SMA baru baca Matra.
 
=================
UGE A. RIDWAN BASAR - MEDIAHUB - email: [EMAIL PROTECTED]
Mungkin Matra namanya harus diganti juga jadi "Desperately Seeking Ad"....
he...he....he.... Taruhan seribuan, nggak akan sukses! Brand yang sudah 
'decline' mah sulit..lit..lit...apalagi cuma jadi 'me too' followernya.
Mustinya MATRA nanya dulu ke para pakar media sebelum buang-buang uang...
 
================
ADYANTO JUMONO - email: [EMAIL PROTECTED]
Ngomong-ngomong, perubahan MATRA tersebut berdasarkan riset
atau hanya karena ada 'new comer'? Sekadar beda? Selamat berjuang Matra!
 
================
BASO AMIR - Majalah MANAJEMEN - email: [EMAIL PROTECTED]
Sebenarnya dengan larangan itu, Matra ingin orang-orang yang 
berusia 21 tahun ke bawah yang membacanya. Orang Indonesia kalau 
dilarang malah melakukannya. Lihat saja korupsi itu, semakin dilarang 
semakin beramai-ramai melakukannya, seperti di KPU. Pornografi semakin 
dilarang semakin banyak peminatnya.
 
================
SATRIANA BUDI - email: [EMAIL PROTECTED]
Perubahan konsep isi Matra membuat saya sebagai
pelanggannya sejak lima tahun silam, benar-benar kecewa. Matra baru
rasanya telah mencederai akal sehat saya dengan dominasi foto
perempuan berdada montok dan berpaha mulus. Seolah-olah pula telah
memaksa saya berfantasi ala 17tahun.com dengan foto-foto seksi yang
pasti didalihkan sebagai art. Wawancara tokoh dan beberapa rubrik
tetap seolah hanya tempelan. Saya kehilangan ruh matra sebelum FHM,
Popular, ME, kian berkibar dan --mungkin-- menggoyang tiras Matra.
Rubrik cerpen hilang. Sentuhan sastra pada tulisan pudar dan di sana
sini dihias dengan joke-joke yang banyak sekali bertebaran di
internet. duh...
 
Saya belum tahu mau terus berlangganan Matra atau tidak. Masih
lihat-lihat ke depannya, karena buat saya, jika hanya ingin melihat
dada dan paha perempuan buat apa susah-susah beli Matra di zaman film
dan situs porno meriah layaknya jamur di musim hujan? Saya tidak habis
pikir majalah sekelas Matra bisa kehilangan kepercayaan diri dengan
banting setir mengekor pesaingnya. Jujur saja, FHM dan Popular, plus
ME masih jauh lebih menarik untuk urusan selangkangan dan payudara.
Kenapa Matra memaksakan diri? Ah, saya kehabisan kata-kata untuk Matra
yang dulu pernah membuat saya amat terkesan dengan kontennya...
Suka-suka kaulah Mat!

Maaf kalau ungkapan jujur ini membuat kru Matra agak-agak gemanaaaaaaaaa
geto lokh!
 
===============
PASAR BECEK - email: [EMAIL PROTECTED]
Soal larangan usia, selain sensasi saya rasa ini juga langkah Matra 
untuk re-announce kalau inilah majalah pria dewasa sebenarnya, angka 21 
untuk bikin penasaran karena pasti ada yang mikir RATED 21 pasti lebih 
"heboh" dari RATED 17 ..he he he...

Wah, persaingannya makin kental nih dengan POPULAR dan FHM. MAXIM
juga sebentar lagi akan masuk.
 
Komentar: 
RATED 21 itu kan setara dengan XXX (triple X), artinya pornografi yang 
hard-core, alias dimana-mana mustinya bergambar adegan persetubuhan dan tersorot
alat kelamin yang siap pakai. Apakah MATRA tak akan membohongi pembacanya, 
karena setelah dibuka-buka lembar demi lembar, ternyata 'cuma' gambar 
perempuan pakai beha saja? 
 
================
BOULDERBASH - email: [EMAIL PROTECTED]
Kayaknya sih, stiker bertuliskan 'UNTUK UMUR 21 KE ATAS' itu cuma ulah 
redaksi Matra dengan dua tujuan:
- promosi
- jaga-jaga kalau nanti ada yang protes atas isi yang terlalu "terbuka".

 
================
DANIEL SIBURIAN - Mata-Mata - email: [EMAIL PROTECTED]
Ngomong-ngomong soal MATRA, saya melihat media ini mulai limbung sejak 
ditinggal Nano Riantiarno. Mereka terlihat kehilangan elan vital 
sejak dipegang Wina Armada. Cerpen MATRA yang dulu sempat 
dipuja-puji, misalnya, tinggal kenangan. Begitu juga dengan Wawancara, 
yang dulu menjadi salah satu andalan utama. Kini, tidak lebih dari 
wawancara biasa saja. Ya, MATRA tak lagi menjadi oase di tengah 
kehausan pembaca terhadap media cerdas dan kritis melihat fenomena 
sosial-budaya. Sayang, padahal menurutku, MATRA tidak seharusnya 
merasa tersaingi oleh FHM dkk, karena mereka punya pasar sendiri.
 
=================
DJONY HERFAN - Grasindo - email: [EMAIL PROTECTED]
Wah, terima kasih atas penyampaian info menarik soal MATRA. 
Bagaimana Bung Rustanto Sudin, Redaksi Bahasa Matra, apakah ada info 
lain yang memperkaya soal kebijakan redaksional Matra yang berubah 
total itu?
 
 
RUSTANTO SUDIN - email: [EMAIL PROTECTED]
Mengenai Matra yang telah berubah hampir 180 derajat
itu, jujur saja saya juga terkejut. Sekadar informasi,
saya sudah tidak bekerja lagi di Matra sejak Maret
2005. Waktu saya tinggalkan, Matra masih memakai
format yang lama. Sejak investor baru masuk per Maret
kalau tidak salah, barulah Matra berubah drastis.
 
Perubahan Matra sekarang ini, menurut beberapa awak
Matra, masih belum permanen. Mereka masih terus
mencari format yang pas. Saya sendiri sebagai pribadi tidak cocok 
dengan Matra yang sekarang karena terlalu mengeksploitasi perempuan. 
Memang dari segi foto, Matra yang sekarang lebih baik.  
Perubahan ini juga mungkin terkait dengan oplah Matra
yang terus turun, karena hadirnya media sejenis yang
lebih fokus/segmented dan cukup berani memamerkan
kemolekan tubuh perempuan. 
 
Terus terang, kalau Matra tetap mempertahankan format
seperti sekarang ini, redaktur bahasa tidak diperlukan
di majalah ini. Untung, saya sudah keluar. Kalau
tidak, saya malah makan gaji buta, he he he. 
 
ASEP SAMBODJA - email: [EMAIL PROTECTED]
Salut buat Sudin yang punya pilihan yang -- menurut saya -- sangat 
benar!
 
=================
KUTILANG DARA - email: [EMAIL PROTECTED]
Gw paling suka baca majalah MATRA, khususnya rubrik Dari Kami, Seks 
Problem, Liputan, Kencan, Selebriti dan Perjalanan. Matra punya ciri 
khas yang membuatnya mampu tampil beda. Untuk MATRA edisi Mei 2005
belum dapet, jadi gw belum bisa kasih komentar. O ya, gw juga suka majalah 
POPULAR,
yang paling enjoy baca liputan malamnya, dan untuk majalah berita ya
TEMPO pilihanku. 
 
=================
                             
BURHANUDIN ABE - mantan managing editor majalah ME
Gw juga kaget bro dengan perubahan Matra.
Change! Itu harus, kata orang-orang pinter itu,
termasuk yang disarankan Rhenald Kasali dalam buku
terbarunya, kalau tidak ingin tergilas oleh zaman yang
terus berubah.
 
Cuma, begitu menjadi 'majalah dewasa' gw rada gak
rela MATRA mengikuti jejak majalah-majalah pria lain,
termasuk 'franchise magazine' yang masuk belakangan,
yang terbukti sukses. Apa yang dilakukan Matra
luar biasa beraninya, bahkan cenderung eksploitasi
terhadap seks sebagai komoditi terlalu 'kasar'. 
Kesannya, Matra jadi follower neh, padahal dulu kan

trend setter. Rohnya sebagai majalah lelaki, dengan
wawancaranya yang yahud, nggak ada lagi. Apa mau kayak
Penthouse yang rubrik wawancaranya juga ok?
Btw, perubahan sudah dilakukan. Apakah benar arahnya,
hanya waktu yang bisa menjawab. Dan gw tetap mengucapkan proficiat!
 
=================
TABLOID KONTAN: Juragan Baru Majalah Matra
Bisnis media massa rupanya masih juga dianggap sangat menggiurkan. Ini 
contoh terakhirnya: Sri S. Tardjo berani membeli 100% saham majalah 
Matra dengan harga Rp 9 miliar. "Matra itu bisnis yang menguntungkan," 
tutur Mbak Sri, begitu ia biasa dipanggil. 
 
Maka, pada Matra terbaru ada perubahan. Muncul nama Teddy Rusdi 
sebagai Komisaris Utama PT Mitra Media Matra, pemilik baru Matra. 
Teddy adalah pensiunan  Marsekal Madya, yang juga suami Mbak Sri.  
Sedangkan posisi Pemimpin Redaksi dipegang Wina Armada, adik mantan 
menteri BUMN Laksamana Sukardi. Mbak Sri sendiri menjadi Direktur 
Utama. Para dedengkot Matra seperti Fikri Jufri, Mahtum Mastoem, dan 
Nano Riantiarno masih dipertahankan sebagai Dewan Pakar. 
 
Nah, akan berubahkah Matra? "Tidak, ia akan tetap menjadi majalah pria
yang patut diintip kaum wanita," tutur Wina, menyitir resep lama 
Matra. Ia yakin formula ini masih manjur. Sekarang, Matra punya tiras 
35.000 setiap terbit.  
 
Mbak Sri sendiri tak akan berhenti sampai di Matra. Pengusaha yang 
juga ketua Ikatan Alumni Universitas Airlangga Surabaya dan pemilik 
Kafe Hore Hore ini berencana terjun lebih dalam ke bisnis media. "Tunggu 
saja langkah saya berikutnya," tuturnya.
 
================   
MONASH UNIVERSITY - indonesian.arts.monash.edu.au/ 
T3/INM3315/bacaan/u1tanya1.htm
Membaca dengan teliti:
Jeng Sri di Sarang Pers Lelaki 
1. Siapa Jeng Sri? 
2. Bagaimana Jeng Sri mulai berkecimpung di dunia MATRA? 
3. Bagaimana gaya manajemennya di MATRA? Jelaskan! 
4. Apakah Anda suka cerita profil tentang Jeng Sri ini? Jelaskan pendapat Anda! 
 
Sistem Peringatan Dini dan Laju Perusahaan 
5. Bagaimana ciri Teddy Rusdy? 
6. Apa latar belakangnya sebelum masuk MATRA? 
7. Apa tugas 'komisaris utama'? 
8. Dalam perusahaan ini, apa yang menyebabkan pimpinan perusahaan penting? 
9. Bandingkan majalah pria MATRA ini dengan majalah pria yang ada di negara 
Anda! (Bentuk dan cara kerja perusahaannya, serta isi majalahnya) 
 
_______________________________________
INFO
Anda punya info terkini tentang kiprah media 
massa atau awaknya? Atau sekadar mau kasih komentar? Kirimkan ke: 
[EMAIL PROTECTED]
____________________________________
 


Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
                
---------------------------------
Yahoo! Mail Mobile
 Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke