Menangisi Tanah Air        
Oleh Prof. Dr. H. Tabrani Rab     
Jumat, 11 Maret 2005  

Dibulan-bulan terakhir ini tak kering-keringnya kita menangisi tanah air. 
Dikala musim hujan banjir, wabah malaria, muntaber, hancurnya jalan raya, 
hancurnya perekonomian rakyat karena terendamnya hasil panen, pembangkit 
listrik tenaga air yang overloaded sehingga banjirpun menghantam 
perumahan-perumahan penduduk diseputar sungai.Lolongan dahsyatnya akibat gempa 
tektonik yang menelan ribuan di Aceh bahkan puluhan ribu oleh gelombang Tsunami 
sampai 6 ribu kilometer jauhnya dari pusat gempa, seolah-olah menenggelamkan 
konflik yang tak berkesudahan di Aceh. Bahkan gempa bumi di Nabire seolah-olah 
mengingatkan kita kepada janji Tuhan untuk menurunkan bala ketika umat-umat 
yang berkonflik ini tak sudah-sudahnya menimpa negara ini. 

Ribuan mayat yang tergeletak di Banda Aceh, puluhan tersangkut di pohon-pohon, 
belum hercules yang terjatuh di Nabire semuanya membawa kemelut akhir tahun 
bagi bangsa ini. Apa yang dapat dibanggakan oleh bangsa ini lagi? Kalau Tuhan 
tidak mengirimkan balanya bangsa ini sendiri memang sudah meluluhlantakkan 
kehidupan masa depannya sendiri. Penebangan hutan yang tak terkontrol, 
perusahaan-perusahaan kertas yang tak pernah menghitungkan dampak yang paling 
buruk yang terjadi pada masyarakat semunya menunjukkan hampir semua tangan 
bernoda oleh penjahanaman alam ini. Dimata Internasional bangsa ini tak lagi 
diperhitungkan kecuali meletakkan korupsi di ranking kelima tertinggi di dunia. 

Khusus untuk Riau diberikan Tuhan rezeki yang hampir 40 kali lipat dari 
anggaran sebelumnya. Anggaran propinsi dan kabupaten melebihi 10 miliar. 
Memasuki tahun kelima tak terasa adanya perubahan bahwa rezeki otonomi itu 
memang perlu dinikmati oleh rakyat. Seolah-olah lapisan pembesaran negeri ini 
entah dibidang eksekutif, entah dibidang legislatif bahkan terjerembab ke 
bidang yudikatif dihadapi oleh korupsi yang besar seolah-olah rezeki yang 
menimpa negeri ini tersangkut pada lapisan atas dan tak menetes ke rakyat 
banyak. Angka-angka kemiskinan tak juga bergeser dari 43 persen bahkan di 
Bengkalis dimana pendapatan tertinggi di propinsi 1,4 triliun angka kemiskinan 
sampai 53 persen. Ada yang sakit dinegara ini yakni tidak menyadari rezeki yang 
diberikan Tuhan padahal Tuhan telah berfirman Bila engkau mau bersyukur niscaya 
nikmat yang kuberikan kepadamu akan kutambah. Jalan-jalan di propinsi ini dapat 
digolongkan sebagai jalan yang terburuk. Propinsi Sumatera Barat yang hanya 
menerima
 sepertiga dari anggaran Propinsi Riau jalan-jalan ke kampung-kampung dan 
disepanjang kota tetap prima. Baru-baru ini saya mencoba jalan darat ke Medan. 
Alangkah kagetnya saya begitu sampai ke Bagan Batu yang termasuk bagian 
propinsi ini jalannya menjadi buruk dan berlubang-lubang dan bukan berlubang 
saja tapi genangan kubangan kerbau. Walaupun demikian tetap saja dihadang oleh 
hukum petinggi-petinggi mereka. Yang dikorupsipun jauh lebih kecil dari 
propinsi ini. Tapi hukum telah mengantarkan pemimpin-pemimpin mereka mulai dari 
Gubernur Sumbar, Walikota sampai ke anggota DPRD dihadang oleh hukum. Apa yang 
terjadi sebenarnya pada negeri yang bernama Riau ini?. 

Beberapa kabupaten baru menyadari bahwa mereka tidaklah mempunyai konsep 
bagaimana ekonomi kerakyatan mungkin dapat dilaksanakan. Yang ada hanyalah 
ekonomi kepemimpinan yang membuncitkan perut-perut mereka. Yang lebih anehnya 
lagi pihak kepolisian mengajukan angka resmi kepada pemerintah daerah 300 
miliar untuk operasional. Padahal instansi yang vertikal ini seharusnya tidak 
menjadi beban pemerintahan daerah. Itu baru pada tingkat propinsi. Belum lagi 
pada tingkat kabupaten bahkan pada tingkat kecamatan anggaran daerah ini 
diperberat dengan alasan operasional. Itupun secara rutin. Bila saja ada hari 
besar seperti hari raya Natal, tahun baru, sekian ribu digelar, perlu sekian 
miliar anggaran tambahan. Kapan pemerintah daerah dapat berfikir untuk 
membangun pendidikan sebagai arah kemajuan bangsa ini? Belum lagi illegal 
loging yang selama ini mendapat dekingan dari petinggi-petinggi. Negeri ini 
memang sudah hancur bukan oleh karena tidak mempunyai rezeki dari Tuhan. Bahkan 
setiap saya
 membandingkan negara Indonesia ini dengan negara-negara lainnya seperti India 
atau Cina maka sungguh negeri ini telah diturunkan rezeki oleh Tuhan dengan 
nikmat yang tak terhingga. Hanya saja ditangani oleh tangan-tangan kufur nikmat 
dengan cara berkorupsi dan mencari berbagai cara untuk memperkaya diri sendiri. 

Belum lagi terhitung kekayaan negeri ini yang dirong-rong oleh negara 
tetangganya Malaysia dan Singapura. Kitapun terperangah mendengar kata-kata 
Menteri Kehutanan untuk manusia Indonesia yang datang ke Malaysia tanpa 
disertai dokumen yang lengkap disebut dengan pendatang haram akan tetapi untuk 
kayu yang diangkut ke Malaysia tanpa dokumen lengkap disebut dengan pendatang 
halal. Negeri ini memang menjadi isapan dari tetangganya Singapura. Entah 
berapa triliun money loundry melalui Singapura diletakkan diberbagai negara 
lainnya. Uang rakyat yang demikian tidak dihitung sebagai money loundry. 

Gempa bumi di Aceh dengan menelan ribuan korban dan gempa bumi di Nabire yang 
selalu sering terdengar menyadarkan kita bahwa bangsa ini sedang mendapat 
peringatan dari Tuhan. Sebagaimana dikatakan SBY dalam silaturahmi di Cipanas 
beberapa waktu yang lalu bahwa kita perlu menegakkan kembali marwah bangsa ini, 
marwahnya terletak pada kejujuran bahwa kita adalah bangsa Indonesia. Apa yang 
telah terjadi pada birokrat melegalitaskan penghancuran hutan yang terjadi pada 
aparat yang hanya dinilai sebatas korupsi, licin-tandasnya 138 triliun uang 
negara yang dihancurkan oleh para konglomerat yang menumpang di negeri ini maka 
peringatan Tuhan dengan gempa di Aceh dan gempa di Nabire telah cukup untuk 
menyadarkan kita dengan apa yang dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu 
�Didalam diri ini ada segumpal daging maka bila daging ini hitam, maka hitamlah 
negeri ini�. Dan Muhammad sendiri dengan tegas menyatakan �Seandainya putriku 
Fatimah mencuri, akulah yang memotong tangannya�. Semoga
 peringatan Tuhan ini menyadarkan kita betapa hilangnya marwah bangsa ini dan 
inilah yang akan kita kembalikan dengan supremasi hukum. 
 
http://www.universitas-abdurrab.com/index.php?option=com_content&task=view&id=41&Itemid=1

 

Yahoo! India Matrimony: Find your life partneronline.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Dying to be thin?
Anorexia. Narrated by Julianne Moore .
http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke