Analisis Christianto Wibisono
Kebangsaan Vs Kemanusiaan

Presiden Clinton mendarat di Xian sebagai Presiden AS
pertama yang mengunjungi RRC sejak insiden Tiananmen,
pada saat intervensi bersama AS-Jepang, mencoba
mempertahankan nilai yen yang sedang merosot karena
stagnasi dan krisis ekonomi Jepang. Saya menyaksikan
jumpa pers duet Clinton-Jiang Zemin di Great Hall of
the People yang ditayangkan melalui CNN, Sabtu siang
waktu Beijing.

Salah satu pertanyaan wartawan ialah bagaimana
menjelaskan fenomena ambruknya yen dan intervensi
Washington Tokyo di satu pihak dan upaya serius
Beijing untuk mempertahankan nilai renminbi. Sebab
bila terjadi devaluasi renminbi, maka itu akan memicu
gelombang kedua depresiasi seluruh mata uang
Asia termasuk rupiah. Clinton menjawab bahwa
intervensi AS hanya sekadar faktor pendukung, dan
resesi ekonomi Jepang hanya bisa diatasi oleh Jepang
sendiri yang harus segera membenahi struktur
fundamentalnya yang kropos dan rawan.

Pertanyaan media lain tentang Dalai Lama dan Tibet
serta pembangkang Cina dijawab secara diplomatis oleh
Jiang. Pemerintah Cina tidak berkeberatan
berdialog dengan Dalai Lama, dengan syarat Dalai Lama
mengakui bahwa Tibet adalah bagian integral dari Cina.
Disindir pula oleh Jiang bahwa Dalai Lama
mewakili paham teokrasi, seperti Eropa sebelum Abad
Pertengahan dan Pra Reformasi ketika kekuasaan Gereja
atau Agama dan negara bercampur baur manunggal.
Kenyataan bahwa jumpa pers itu ditayangkan bebas tanpa
sensor di seluruh Cina juga ditekankan oleh CNN
sebagai terobosan Beijing dalam menyikapi arus gerakan
demokrasi di Cina.

Westphalia vs Washington

Menyaksikan jumpa pers Clinton Jiang Zemin kita
melihat dialog dua filosofi besar umat manusia yang
diwakili oleh negara terbesar dalam jumlah penduduk
dan negara terkuat dalam ekonomi politik bisnis
militer, RRC dan AS. Jiang Zemin mewakili bangsa dan
negara yang sudah berumur ribuan tahun yang selalu
merasa sebagai pusat dan kiblat dunia karena pernah
menjadi pusat imperium peradaban manusia selama
berabad-abad. Jiang Zemin juga mewakili ideologi
pengagum nationstate atau negara kebangsaan. Suatu
paham yang juga lahir di Barat, hasil Peace of
Westphalia tahun 1648 dengan semboyan right or wrong
my country.

Sementara Bill Clinton mewakili ideologi kemanusiaan
yang menjunjung tinggi hak asasi manusia melawan
dominasi absolut penguasa tunggal yang selama
berabad-abad, merupakan sistem politik yang bersifat
generik dan universal dimana pun dimuka bumi ini. AS
lahir karena individu anggota masyarakat tidak ingin
dikuasai oleh sistem politik sepihak yang mendikte
masyarakat yang senantiasa bisa salah dan memerlukan
koreksi terus-menerus secara transparan. Karena itu AS
menghormati oposisi, dissident dan perimbangan
serta pengawasan kekuasaan yang efektif untuk mencegah
dominasi negara oleh oknum dan klik oligarki tertentu
dengan dalih atau slogan muluk apapun.

Saya baru saja membaca buku 3d Milenum The Challenge
and the Vision, suatu produk dari kelompok seniman dan
cendekiawan global dalam wadah The Club of
Budapest yang diketuai Ervin Laszlo. Anggotanya 36
orang antara lain Dalai Lama, aktor Peter Ustinov,
konduktor Zubin Mehta, Inayat Khan dan Richard
von Weiszacker. The Club of Budapets berdiri tahun
1993 dan melihat mutlak perlunya pendekatan
multidisiplin dan sentuhan kepekaan etis kemanusiaan
dalam memasuki milenium ketiga. Laszlo yang adalah
gurubesar pada Yale, Princeton dan State University of
New York menyimpulkan bahwa paradigma lama
yang dipakai untuk menyikapi masa depan akan gagal.

Tidak mungkin kita mengelola dunia sekarang dengan
praduga dan konsep masa lalu betapa pun suksesnya
teori yang sudah membaku dan nyaris membeku dalam
otak generasi lama elite dunia. Harus ada terobosan ke
arah paradigma baru dimana dikap konservatif right or
wrong my country yang dimitoskan dan diberhalakan,
dirubah menjadi sifat proaktif menyongsong tantangan
globalisasi yang semakin akut.

Membaca Laszlo tidak perlu khawatir bahwa anda akan
menjadi liberal klasik, sebab Laszlo justru
mengintrodusir pola win-win solution ketimbang winner
takes all yang menjadi kiblat kaum liberal klasik
zaman Adam Smith. Saya rasa bagi orang yang sudah
melewati masa Keynes, tidak perlu menjadi
dogmatis bahwa liberalisme Barat itu identik dengan
homo homini lupus. Sebab sejak ditantang oleh Marxisme
dan Fasisme, liberalisme Barat sudah alih rupa dan
mawas diri menjadi liberalisme yang manusiawi,
menyegani intervensi negara dan publik. Demi tetap
memelihara kebebasan individu dari ancaman
pembajakan dan penindasan oleh golongan mana pun,
birokrasi dan aparatur negara. Maupun dari bisnis
maupun mobokrasi brutal kaum anarkis, teroris dan
fanatis primordial yang tidak mampu mengatasi naluri
biadab dan sifat kebinatangan yang rendah dalam diri
manusia beringas.

Pemikiran The Club of Budapest ini sangat diwarnai
oleh sentuhan etnis dan rasa estetika para seniman
budayawan yang mewakili pelbagai peradaban dan
latar belakang agama. Saya rasa The Club of Ciganjur
yang dipimpin Gus Dur ketika mengeluarkan pernyataan
mengutuk Tragedi Biadab 12-14 Mei, tidak kalah
inteleknya maupun kadar kemanusiaannya dibanding The
Club of Budapest. Saya juga menilai militansi Ester
Yusuf, wanita muda Tionghoa yang menikah dengan
pribumi Batak tulen, yang berani mengeluarkan
Deklarasi dan menuntut ABRI untuk
mempertanggungjawabkan absennya aparat keamanan selama
48 jam holocaust di Jakarta tidak kalah dengan Mary
Robinson, mantan Presiden Irlandia yang sekarang
menjadi Presiden Komite HAM PBB. Saya salut pada
Rosita Noor, wanita lajang Minang tulen yang berani
mengultimatum Perintah RI bahwa BAKOM PKB akan
mengadukan Tragedi Biadab itu ke PBB. Bila pemerintah
tidak mengutuk dan menghukum aktor intelektual dan
pemicu tingkah laku biadab yang membuat jati diri
Indonesia terpuruk mirip Nazi Hitler dan rezim Pol
Pot. Saya sendiri merasa kecil karena sedang berada di
AS untuk mendampingi cucu saya yang menderita
"disoerientasi habitat". Seorang anak sudah terbiasa
dengan rumahnya, kamarnya, lingkungannya. Mendadak
karena dibakar dan was was terus menerus selama berada
di Jakarta, cucu saya harus berpindah rumah, kamar dan
lingkungan. Para psikiater sibuk menganalisis secara
ilmiah, tapi para orang tua bayi dan cucu seperti saya
yang harus menanggung beban berat menyaksikan proses
adaptasi yang sulit bagi anak
kecil yang sering menangis tak keruan juntrungan.

Terkadang saya pribadi terpikir untuk melakukan
gugatan "class action" mewakili korban Tragedi Biadab
12-14 Mei bukan untuk diri saya atau anak-anak saya
atau cucu saya, walaupun mereka sangat menderita,
karena yang diperkosa dan dibunuh, tentu jauh lebih
menderita dari saya dan keluarga saya. Saya sedang
berpikir keras dan berkonsultasi dengan pengacara
saya, apakah saya bisa menggugat oknum yang bernama
Soeharto sebagai penanggungjawab kebiadaban 12-14 Mei
1998. Sebab waktu itu Soeharto masih menjadi Presiden
RI yang tidak bisa melarikan diri dari tugas dan
kewajiban serta tanggungjawab melindungi tumpah darah
Indonesia dan segenap rakyat Indonesia. Tapi selama 48
jam, rezim yang dipimpin oleh Soeharto tidak mampu
mengirim satu tentara atau polisi untuk mencegah dan
menindak para pemerkosa, penjarah, pembunuh rasialis
yang telah menginjak-injak hak asasi manusia dan
mempermalukan reputasi RI dimata ummat manusia seluruh
muka bumi. Saya termasuk yang percaya dan yakin bahwa
ABRI dan pemerintah RI sebgai suatu kesatuan kolektif
institusi politi modern, tidak mungkin mempunyai
kebijakan membiarkan Tragedi Biadab itu. Karena itu
saya tidak ingin menggugat dan menyalahkan pemerintah
RI maupun ABRI secara
institusional. Saya hanya ingin menggugat kepada oknum
Soeharto agar ia bertanggungjawab kepada seluruh
rakyat Indonesia dan sgenap umat manusia
atas apa yang terjadi pada hari-hari terakhir rezim
politik kesrakat yang dipimpinnya secara tangan besi,
one man show dan telah memakan banyak korban
jiwa dan harta manusia tidak berdosa secara sangat
sadis dan tidak manusiawi.

Gugatan saya cukup sederhana, Soeharto harus memberi
ganti rugi finansial dan material kepada seluruh
korban kebiadaban rekayasa dan teror politik
yang pernah dilakukan selama 32 tahun berkuasa. Tidak
hanya korban yang dijarah selama 48 jam Tragedi Biadab
Kontra Reformasi, melainkan korban yang
jatuh sejak Malari. Keluarga Hariman Siregar dan
mertuanya Prof Dr Sarbini, dengan anak istri yang
menderita depresi dan dipenjara. Keluarga dan pribadi
Subadio Sastrosatomo yang juga keluar masuk penjara.
Keluarga HR Dharsono yang dipenjara dan difitnah,
keluarga para korban insiden Tanjung Priok, insiden
Santa Cruz Dili, insiden Lampung dan rentetan
peristiwa berdarah berlatar belakang rekayasa politik
yang sudah dilupakan orang. Pada skala global,
kejahatan dan kekeliruan politik yang dilakukan oleh
Nazi Hitler dan bahkan pemerintah AS yang menginternir
warga keturunan Jepang di AS, telah
memberikan ganti rugi finansial kepada para korban
ketidakadilan masa lalu Soeharto pribadi harus
bertanggungjawab mengapa terjadi pembakaran
sistematis terhadap gereja dan insiden SARA sejak
Situbondo berantai ke seluruh tanah air, menjelang
Pemilu sampai pelaksanaan Sidang Umum MPR Maret
1998. Soeharto pribadi juga harus bertanggungjawab
atas drama 27 Juli 1996 ketika kantor DPP PDI diserbu
"preman politik secara brutal dan ebringas.
Daftar dosa Soeharto ini bisa setebal Ensiklopedia
Britanica bila dirinci secara detail bahkan perlu pula
diusut mengapa ia tidak melindungi alm
jenderal Yani, ketika ia dilapori Kolonel Latief bahwa
PKI akan menculik Yani cs. Kolonel Latief masih hidup
dan bisa diperiksa kembali mengapa PKI
justru membiarkan Soeharto lolos?

Terus terang saja, saya kasihan dan prihatin terhadap
Soeharto yang ditinggalkan oleh para mantan penjilat
dan pengekornya. Saya juga tidak kepengen mendapat
ganti rugi sepeserpun dari Soeharto untuk rumah eks
anak saya di Pantai Indah Kapuk. Tapi saya akan
menggugat dan menuntut pengelola Pantai Indah Kapuk,
PT Mandara Permai untuk mengganti rugi secara material
dan finansial kepada semua penghuni rumah murah jenis
Camar dan Walet yang dibakar dan dirampok. Sedang
jenis rumah mewah dan showroom Indomobil tidak
terlempar bekas kerikil sekalipun. Bekas rumah anak
saya sendiri seyogyanya dilestarikan sebagai Monumen
Tragedi Biadab Kontra Reformasi 12-14 Mei 1998.
Harus ditulis dengan huruf besar yang tampak dari
udara, LAST DAYS OF SOEHARTO, BARBARIC TERROR OF MAY
12-14 1998. Supaya kita sebagai bangsa tidak
mengulangi kesalahan serupa di masa depan. Supaya kita
benar-benar mengutuk dan menjamin bahwa teror biadab
itu tidak akan terulangi oleh siapapun dan dengan
dalih apapun. Supaya kita sebagai bangsa mampu
memasuki Milenium Ketiga seperti peringatan The Club
of Budapest, bukan dengan semboyan masa lalu yang
ketinggalan zaman seperti right or wrong my country,
apalagi my president yagn berKKN dan berpola Ken Arok.

Masa depan dunia akan bergeser pada kemanusiaan yang
adil dan beradab. Masa lalu yang dibajak oleh penguasa
totaliter atas dalih nasionalisme dan
chauvinisme, tidak mungkin survive karena akan
dikucilkan oleh dunia yang beradab dan
berperikemanusiaan. tingkah laku yang lebih jahat dari
binatang terhadap sesama manusia oleh oknum Kontra
Reformasi harus dikutuk sekeras-kerasnya. Kunjungan
Clinton ke RRC sekarang ini telah memaafkan
insiden Tiananmen, tapi dunia tidak akan melupakan
pembantaian biadab itu secara mudah. Trauma Tiananmen
akan tetap menjadi beban sejarah bagi RRC.
Karena itu Zhao Ziyang menulis surat terbuka bahwa
pemerintah RRc harus meminta maaf dan menyesali serta
mengutuk penggilasan mahasiswa oleh tank secara
brutal. Zhao Ziyang adalah PM dan Sekjen Partai
Komunis Cina yang bersimpati dan mendatangi demonstran
mahasiwa di Tiananmen sebelum mereka
digilas oleh tank dan panser atas perintah Li Peng
yang direstui Deng Xiao Ping. Segera setelah itu Zhao
Ziyang dipecat dan ditahan dalam kota Beijing
hingga saat ini.

Dialog Clinton dengan Jiang Zemin yang terjadi di
Beijing seharusnya memberi ilham kepada kita apakah
kita sebagai bangsa akan survive memasuki Milenium
Ketiga dengan sistem politik demokratis atau ingin
tetap ngotot dengan sistem politik model Westphalia
yang ketinggalan zaman. Jiang Zemin dan RRC
mewakili pola westphalia yang mengklaim bahwa elite
politik mampu memberi kepemimpinan pada rakyat yang
masih melarat dan bodoh.

Clinton mewakili sistem demokrasi modern yang insaf
dan sadar bahwa manusia bisa berdosa dan membajak
kepentingan umum, karena vested interest pribadi
dan keluarga elite politik. Karena itu sistem
demokrasi sejati yang menganut paham pembatasan,
pengawasan dan perimbangan kekuasaan merupakan
prasyarat mutlak keberhasilan suatu rezim meningkatkan
kesejahteraan lahir batin,
material spiritual penduduk yang dikelolanya. Sistem
ini juga memperjuangkan kemanusiaan bagi seluruh umat
manusia termasuk melindungi hak asasi para
oposan dan dissident yang di negara asal mereka
dibunuh, dibantai, dicekal, dibui dan dimusuhi.

Waktu menulis analisis ini saya sangat terharu dan
terkesan oleh perjuangan Hafsat Abiola (23 tahun),
putri Presiden terpilih Nigeria, Moshood Abiola
yang ditahan oleh penguasa militer Nigeria, Jenderal
Sani Abacha sejak 23 Juni 1994. Ibunya, Kudirat yang
memperotes penangkapan suaminya, dibrondong
peluru di Logas ketika akan berangkat menghadiri
Wisuda Hafsat. Minggu lalu Jenderal Sani Abacha mati
mendadak dan diganti oleh Mayjen Abdulsalam
Abubakar. Hafsat melancarkan kampanye melalui Time,
Newsweek dan media massa AS bahwa ia akan kembali ke
Nigeria. Hafsat juga mengecam pemerintah AS yang
tidak menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Nigeria karena
kepentingan bisnis maskapai minyak AS. kecaman Hafsat
memang tepat, sebab AS juga tidak mampu
mencegah Sani Abacha menggantung Ken Saro Wiwa,
penyair dan dramawan terkenal Nigeria. Tapi kampanye
demokrasi oleh Hafsat hanya bisa dilakukan
dari bumi AS yang menghormati hak asasi dan oposisi
demokratis. Dari Portland saya berdoa semoga Indonesia
tidak perlu jadi Nigeria dan mengalami
banyak Hafsat yang kehilangan ayah dan ibu karena
perbedaan politik. Kepada mereka yang ngotot
bersemboyan right or wrong country atau my commander
in chief atau my president, belajarlah tentang
Tiananmen, tentang Hafsat dan tentang politik
kemanusiaan yang utuh melawan kebangsaan pola
Westphalia yang kuno. sempit dan kerdil.

Insiden Trisakti dan teror Kontra Reformasi, tragedi
biadab 12-14 Mei 1998 telanjur mencoreng kita sama
dengan Tiananmen mencemari citra RRC. Semoga
elite Indonesia bertobat, mawas diri dan mohon ampun
agar Tuhan tidak menghukum bangsa Indonesia menjadi
Sodom dan Gomora menjelang Millenium Ketiga. ***
(SP062998)

--
From: Yohanes Sulaiman  
Date: Tue May 13, 2003  7:39 am 
Subject: Refleksi terhadap komisi rekonsiliasi Mei 

Lima tahun setelah kerusuhan Mei 1998, Indonesia belum
melakukan tindakan yang konkrit dalam menyelesaikan
kasus-kasus kriminal yang terjadi di
Jakarta, Medan, Solo, dan banyak kota lainnya di
Indonesia. Hal ini berbeda sekali dengan negara-negara
lain seperti Afrika Selatan, Guatemala, Rwanda,
dan lain-lain, di mana negara-negara tersebut
membentuk komisi pencari fakta, komisi untuk
rekonsiliasi (Afrika Selatan), dan pengadilan (Rwanda
dan Yugoslavia). Beberapa kelompok menyarankan
pembentukan komisi seperti ini di Indonesia, namun
dalam tulisan ini, saya ingin berargumen bahwa
komisi-komisi ini akan sulit sekali untuk berdiri di
Indonesia atau kalaupun bisa berdiri, tak akan
memiliki gigi sehingga bisa memberikan bab
penutup untuk tragedi ini dan juga banyak tragedi
lainnya di Indonesia dengan satu alasan yang sangat
sederhana: masalah kekuasaan.

Pertama-tama, kita akan melakukan survey singkat
tentang komisi-komisi di negara-negara yang saya
sebutkan di atas. Ada tiga macam komisi yang akan
dibahas di bagian ini, dan saya urutkan berdasarkan
bagaimana mereka memperlakukan pelaku kekerasan.

Di Uruguay, Chili, dan Argentina, dan banyak negara
Amerika Selatan, komisi pencari fakta bertujuan untuk
hanya mencari fakta dan memberikan amnesti kepada
semua pelaku militer yang bertanggung jawab kepada
"menghilangnya" banyak tokoh politik dan berusaha
menyelidiki apa yang terjadi selama
puluhan tahun berkuasanya diktator-diktator militer di
negara-negara tersebut. Di Argentina, laporan hasil
penemuan komisi ini dijual kepada publik dan laku
seperti kacang.

Namun, hasilnya dianggap kurang memuaskan karena
amnesti total kepada semua pelaku menyebabkan pelaku
kurang memiliki insentif untuk memberikan seluruh
fakta dan banyak sekali halangan menyebabkan
komisi-komisi tersebut kurang efektif. Misalnya saja
di Argentina, laporan tersebut walaupun menyebabkan
diadilinya beberapa tokoh militer, tapi mereka
dianggap sebagai kambing hitam, sementara biang
keladinya sendiri tetap tak tersentuh, dan ironisnya
beberapa tahun kemudian, para kambing hitam tersebut
diberikan grasi oleh presiden.

"Truth and Reconciliation Comission" dibentuk di
Afrika Selatan pada tahun 1992 untuk menyelidiki
kasus-kasus pembunuhan dan teror yang dilakukan
pemerintah apartheid Afrika Selatan selama tahun
1979-1991. Komisi ini mirip dengan komisi-komisi di
atas, dengan dua perbedaan utama: Selain mencari
fakta, cara kerja komisi ini adalah (1) memberikan
forum bagi para korban untuk menceritakan segala
penderitaan mereka, mempertemukan para korban dengan
pelaku, dan memaksa pelaku untuk menghadapi korban
secara pribadi dan mengakui kesalahan mereka dan juga
memberikan fakta-fakta secara benar dan (2) dengan
imbalan amnesti bagi yang mau menggunakan forum
ini. Dengan ini, maka walaupun tak semua pelaku
dihukum, namun fakta-fakta yang terjadi di lapangan
bisa diketahui secara keseluruhan.

Jenis ketiga adalah pengadilan seperti di Rwanda, di
mana pemerintah Rwanda membentuk pengadilan untuk
mengadili kaum Hutu yang membantai kaum Tutsi,
dan memberikan hukuman berat kepada mereka yang
dianggap sebagai dalang, sedangkan memberikan hukuman
kerja sosial untuk pelaku yang ikut-ikutan seperti
membangun kembali rumah-rumah kaum Tutsi yang
dihancurkan. Di Yugoslavia, PBB membentuk pengadilan
yang mengadili para pelaku pembantaian etnis, dan
beberapa yang diadili memang tokoh-tokoh kakap seperti
mantan Presiden Yugoslavia, Milosevic.

Mengapa ada tiga jenis komisi ini? Alasannya seperti
yang saya tuliskan di awal tulisan ini: kekuasaan. Di
Amerika Selatan, penguasa sipil tetap waspada terhadap
militer yang memang masih kuat dan bisa menggulingkan
pemerintah sipil sewaktu-waktu, apalagi kalau mereka
melihat pemerintah sipil siap melemparkan para
pemimpin militer ke bui. Akhirnya komisi yang terjadi
hanya memberikan cubitan di tangan para pemimpin
militer.

Di Afrika Selatan, pembentukan "Truth and
Reconciliation Commission" berlangsung karena adanya
transisi yang cukup baik, di mana pemerintah
Apartheid, sadar bahwa waktu mereka hampir habis,
berusaha membuat perjanjian yang mempertahankan
sebagian kepentingan mereka sementara mengorbankan
yang bisa mereka korbankan. Akhinya bisa terbentuk
komisi ini, yang memberikan sedikit bantuan kepada
para korban untuk menutup luka lama yang menganga dan
bisa kembali meneruskan hidup mereka.

Di Rwanda, pengadilan bisa terjadi karena pemerintahan
baru Rwanda adalah suku Tutsi dan mereka menang telak
dalam perang yang terjadi selama
pembantaian itu berlangsung. Di Yugoslavia, Milosevic
ditendang dari kursi presiden setelah dikalahkan dalam
perang lawan Amerika di Kosovo. Jadi di
sini terjadi peralihan kekuasaan yang sangat drastis,
di mana memang para pelopor pembantaian massal
kehilangan kekuasaan mereka dengan drastis,
sehingga korban bisa meminta keadilan dari negara dan
diberikan tanpa halangan.

Kalau kita mau bandingkan Indonesia dengan ketiga
contoh di atas, Indonesia paling mirip dengan contoh
pertama. Di Indonesia, kekuasaan masih dipegang
oleh orang-orang yang terimplikasi dalam rezim
Suharto, atau mereka masih memiliki kekuatan yang
cukup besar akibat afiliasi mereka dengan
organisasi-organisasi radikal yang bisa memberikan
masalah keamanan untuk pemerintah - atau dengan kata
lain: kekerasan fisik masih menjadi masalah.
Fakta dilapangan membuktikan bahwa kerusuhan terjadi
karena adanya kepercayaan bagi para begal dan perusuh
seperti Anton Medan, bahwa mereka bisa melakukan aksi
kriminal tanpa diganggu atau diseret ke pengadilan,
dan garansi untuk hal seperti ini hanya bisa
didapatkan dari sebagian atau seluruh pemimpin
keamanan atau tokoh-tokoh politik berpengaruh di
kota-kota tempat terjadinya kerusuhan. Seperti kita
ketahui, oknum-oknum tersebut masih bebas berkeliaran
karena mereka memiliki pengaruh dari segi kemampuan
mereka menggerakkan kelompok-kelompok kriminil atau
dari informasi yang mereka miliki yang bisa
membahayakan tokoh-tokoh penting lainnya.

Selain dari para oknum yang masih berkuasa, legitimasi
pemerintah pun masih lemah sehingga rekonsiliasi yang
akan memakan banyak sekali sumber daya politik sangat
sulit dilakukan. Secara gamblangnya, untuk apa
mengorbankan "political capital" yang bisa didapat
dari kelompok yang sangat berpengaruh hanya untuk
sekelompok kecil masyarakat yang sangat terpecah belah
dan tak akan memberikan penalti apa-apa kepada
pemerintah, selain sedikit gangguan (minor
inconveniences)? Itu pertanyaan yang tak pernah
dipikirkan oleh orang-orang yang menginginkan fakta
untuk dibeberkan dan para oknum diseret ke pengadilan.

Tapi artikel ini bukan sebagai anjuran untuk tak
membentuk komisi pencari fakta dan rekonsiliasi atau
membuang harapan terjadinya keadilan bagi para
korban. Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan
gambaran realistis tentang apa yang dihadapi di masa
kini, sehingga memang nada artikel ini sangatlah suram
bagi orang-orang yang haus akan kebenaran dan
keadilan. Namun kita perlu sadar bahwa Indonesia
sekarang ini sedang melangkah ke masyarakat majemuk
yang menjunjung hak asasi (civil society). Komisi
pencari fakta perlu terus ada dan terus bekerja karena
apa yang mungkin sekarang dianggap hanya sebagai
"minor inconveniences" di tahun-tahun
kedepan bisa menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh.
Selain itu, kalau sejarah Mei 1998 dilupakan maka
korban tragedi Mei 1998 akan mengalami tragedi kedua
yang tak kalah sadisnya: catatan kaki sejarah yang tak
diingat.

Demi para korban Mei 1998, tragedi ini perlu terus
diingat.

YS


**********************
Yohanes Sulaiman
Department of Political Science
The Ohio State University
2043 Derby Hall, 154 North Oval Mall
Columbus, OH 43210-1373

Phone:
Office: (614) 292-3627
Home: (614) 268-4480

http://psweb.sbs.ohio-state.edu/grads/ysulaimn/

ICQ: #27640045

"The rise of democracy was not proving, after all, a
safeguard of peace and civilization, because it
brought with it the rise of the uncivilized whom
no school education can suffice to provide with
intelligence and reason."

Charles Eliot Norton (1827-1908)







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke