http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/26/opi04.htm


Bisakah Ekonomi Pancasila Diwujudkan?
(Renungan Mengiringi Kepergian Prof Mubyarto)
Oleh: Nugroho SBM


INDONESIA telah kehilangan salah satu putra terbaiknya, yaitu Prof Dr Mubyarto. 
Beliau pergi untuk selamanya Selasa 24 Mei 2005 karena menderita penyakit 
paru-paru basah dan serangan jantung ringan. 

Mengapa Prof Muby, begitu panggilan akrabnya, layak disebut sebagai salah satu 
putra terbaik Indonesia? Sebab, dialah ekonom terkemuka yang di tengah-tengah 
arus globalisasi yang sebenarnya tak lain adalah globalisasi paham kapitalisme, 
masih punya keyakinan besar dan dengan sekuat tenaga memperjuangkan corak atau 
paham ekonomi yang lain dan kemudian dikenal dengan nama "Ekonomi Pancasila".

Saya sendiri sebenarnya tak mengenal Prof Muby secara pribadi. Bahkan ketika 
mengambil program doktor di UGM sampai sekarang tidak pernah mengajar kelas 
program itu, entah mengapa. Saya mengenal hanya lewat tulisan dan kadang-kadang 
mendengarkan dia memaparkan makalahnya di seminar dan diskusi yang diadakan 
oleh Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM yang dikepalainya.

Saya mulai mengenal Pak Muby ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi 
Undip lewat gagasannya yang kemudian menjadi polemik hebat, yakni tentang 
Ekonomi Pancasila tahun 1980-an. Polemik di media massa itu kemudian mendorong 
Fakultas Ekonomi UGM menyelenggarakan seminar memperingati 20 usianya dengan 
tema "Ekonomi Pancasila" pada Februari 1981 yang hasilnya telah dibukukan 
dengan judul yang sama. 

Akibat mendapat banyak kritik bahwa gagasan Ekonomi Pancasila hanya realistis 
pada tataran gagasan ideal, pada Dies Natalis Ke-25 Fakultas Ekonomi UGM pada 
tahun 1985 diadakan lagi seminar tentang "Ekonomi Pancasila". Kali itu 
menekankan pada aspek realita atau empiris yang hasilnya kemudian dibukukan 
dengan judul Sistem dan Moral Ekonomi Indonesia (LP3ES, 1988).

Pemikiran Prof Muby tentang "Ekonomi Pancasila " mendapatkan kritikan sebagai 
sesuatu yang belum jelas. Salah satunya waktu itu seingat saya datang dari Dr 
Arief Budiman. Dalam salah satu tulisannya menanggapi gagasan Prof Muby tentang 
"Ekonomi Pancasila", Arief Budiman pada salah satu media terkemuka menulis 
bahwa gagasan tersebut ibarat menangkap kijang baru berhasil memagari kijang 
tersebut agar tidak lari ke mana-mana, tetapi kijangnya sendiri belum 
tertangkap.

Namun demikian sebagaimana yang saya tangkap pada berbagai tulisan, makalah, 
dan ceramah beliau yang dimaksudkan dengan "Ekonomi Pancasila" adalah ilmu 
serta praktik berekonomi yang merupakan anti atau kritik terhadap ilmu dan 
praktik berekonomi Neo Klasik yang banyak dianut lebih-lebih setelah Uni Sovyet 
dengan sosialisme-komunismenya runtuh. 

Ciri-ciri ekonomi Neo Klasik antara lain: pertama, percaya bahwa mekanisme atau 
pasar bebas dengan campur tangan pemerintah yang minim merupakan satu-satunya 
cara mencapai perekonomian yang baik. Kedua, para pemikir ilmu ekonomi Neo 
Klasik ingin "memurnikan" ilmu dan praktik berekonomi dengan konsekuensi ilmu 
ekonomi dipisahkan dari ilmu-ilmu sosial lain seperti etika, moral, filsafat, 
bahkan agama. Ketiga, pendekatan atau metodologi yang digunakan adalah 
abstrak-deduktif. Maksudnya, dalam analisis untuk memecahkan masalah seringkali 
ahli-ahli ekonomi Neo Klasik cukup memakai logika dan abstraksi belaka. Apa 
yang secara logika dan deduktif benar dianggap secara empiris pun benar. 

Keempat, dalam analisisnya ahli-ahli ekonomi Neo Klasik senang menggunakan 
metode kuantitatif, misalnya statistik dan matematik. Bahkan dalam 
perkembangannya sekarang banyak ahli ekonomi yang sudah mencoba menggabungkan 
ilmu ekonomi dengan ilmu fisika yang kemudian dikenal sebagai ekonofisika.

Dalam pandangan Mubyarto apa yang dilakukan oleh para ekonom Neo Klasik 
tersebut dalam kenyataannya telah menjauhkan ilmu ekonomi dari realita 
masyarakat. Tentang hal itu barangkali pak Muby tidak sendirian. 

Paul Ormerod, seorang ekonom Inggeris juga mengemukakan hal yang sama. Menurut 
Ormerod, ilmu ekonomi sekarang telah melenceng jauh dari jati dirinya sebagai 
ilmu sosial. Ia telah menjadi ilmu yang abstrak dan ilmu pasti sehingga dalam 
penilaian Ormerod ilmu ekonomi sudah mati.

Dalam ketidakpuasannya terhadap ilmu dan praktik berekonomi Neo Klasik itulah 
Prof Muby menawarkan gagasan "Ekonomi Pancasila" yang kemudian sampai wafatnya 
diyakini secara kuat dan dicoba diperjuangkan terus-menerus dalam berbagai 
forum.

Sila Pancasila

Sebenarnya tidaklah sulit memahami apa "Ekonomi Pancasila" itu. ''Ekonomi 
Pancasila'' adalah ilmu dan cara berekonomi menurut sila-sila dalam Pancasila, 
yaitu ilmu ekonomi dan praktik berekonomi yang berke-Tuhanan Yang Mahaesa, 
berperikemanusiaan yang adil dan beradab, mementingkan persatuan Indonesia, 
menggunakan asas musyawarah, dan berkeadilan sosial. 

Secara singkat Prof Muby ingin mengembalikan ilmu ekonomi sebagai ilmu sosial 
yang berketuhanan, beretika, dan bermoral, serta punya ciri lokalitas.

Dalam berbagai tulisannya ia mengontraskan ciri-ciri ekonomi Neo Klasik yang 
dianggap tidak realistis dengan Ekonomi Pancasila yang lebih sesuai untuk 
kondisi Indonesia dan lebih realistik. 

Pertama, terhadap pokok pikiran Neo Klasik bahwa pasar bebas tanpa campur 
tangan pemerintah merupakan hal terbaik, Prof Muby sangat menentang. Hal itu 
dibuktikan ketika pemerintah mencabut subsidi BBM ia menulis bahwa kebijakan 
itu bertentangan dengan aspek keadilan.

Tidak adil karena di satu sisi pemerintah tetap mempertahankan subsidi bagi 
orang kaya lewat dana rekapitalisasi perbankan, tetapi di sisi lain mencabut 
subsidi BBM yang mengakibatkan orang miskin kian susah hidupnya. 

Subsidi sebagai salah satu bentuk campur tangan pemerintah masih diperlukan 
untuk kondisi Indonesia. Dalam tulisannya tersebut Prof Muby mengatakan bahwa 
"subsidi bukanlah sesuatu yang jahat". 

Terhadap pendekatan kuantitatif yang dipakai pun Prof Muby sering mengkritik. 
Pada tingkat yang paling sederhana seringkali ekonom-ekonom Indonesia beraliran 
Neo Klasik salah dalam mengukur sebuah fenomena atau variabel dalam ekonomi 
Indonesia.

Saya ingat dalam salah satu tulisannya Prof Muby mengambil contoh dalam hal 
pengukuran pengeluaran konsumsi dan pengeluaran untuk investasi. Para ekonom 
Neo Klasik yang tak memahami Indonesia sering, misalnya, dengan gampang 
mengategorikan pengeluaran untuk membeli sepeda motor sebagai pengeluaran 
konsumsi. 

Padahal sepeda motor itu nanti digunakan untuk mengojek. Jadi semestinya 
termasuk pengeluaran untuk investasi. Kesalahan pengukuran itulah yang menurut 
Prof Muby bisa menjawab keheranan beberapa pengamat yang melihat mengapa ketika 
investasi baik asing maupun domestik tidak bertambah (stagnan) toh ekonomi 
Indonesia tumbuh juga.

Kritik yang lain terhadap Neo Klasik, yaitu ilmu dan praktik berekonomi harus 
murni dan terlepas dari ilmu-ilmu sosial lain sudah jelas dipaparkan Prof Muby 
pada berbagai kesempatan. Misalnya ia pernah menyatakan kebijaksanaan 
masyarakat tradisional khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya dalam 
berekonomi jauh lebih bermoral daripada yang diajarkan oleh ilmu ekonomi Neo 
Klasik. 

Ia pernah mencontohkan bagaimana manajemen kekeluargaan AJB Bumi Putera bisa 
mengantar BUMN tersebut sebagai BUMN besar. 

Ia pernah menunjuk juga bagaimana warga pedesaan yang dalam berdagang lebih 
manusiawi dengan mengambil untung tak begitu banyak karena lebih mementingkan 
solidaritas sosial.

Persoalan yang kemudian timbul bahkan sampai Prof Muby meninggal adalah 
bagaimana mewujudkan "Ekonomi Pancasila" itu dalam kenyataan? 

Kita semua tahu, globalisasi kapitalisme dengan ideologi pasar bebas yang 
notabene merupakan hasil pemikiran Neo Klasik sudah sedemikian kuat 
mencengkeram semua negara termasuk Indonesia. Lalu bagaimana mungkin 
mempraktikkan "Ekonomi Pancasila" yang bertentangan dengan itu semua?

Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab. Tetapi memang masih ada sisa optimisme. 
Salah satunya adalah beberapa UU dan peraturan yang sudah membatasi mekanisme 
pasar, misalnya UU Antimonopoli dan Persaingan Usaha yang Tidak Sehat. 

Ada UU yang mencoba menjangkau aspek keadilan sosial, contohnya UU Jaminan 
Sosial yang sekarang dibahas di DPR. Masih ada lagi beberapa UU yang lahir dari 
inspirasi ''Ekonomi Pancasila'' dari para ahli dan praktisi ekonomi Indonesia 
yang punya hati nurani. 

Tetapi pesimisme mungkin akan timbul lagi mengingat di Indonesia ada jarak 
cukup lebar antara peraturan dan pelaksanaannya. Itulah PR terbesar bagi para 
murid Prof Muby dalam mewujudkan pemikirannya tentang ''Ekonomi Pancasila''. 

Selamat jalan Prof Mubyarto, beristirahatlah dalam damai dan semoga Tuhan 
mengampuni dosa dan menerima segala amal baik Anda di dunia. Amin.(27)



- Nugroho SBM, SE MSP, dosen Fakultas Ekonomi Undip Semarang 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke