Memberantas gimane?
Wong yang korupsi sebagian besar (kalo tidak mau disebut mayoritas) 
adalah orang jawa.
Ini kenyataan lho, bukan sebuah retorika tanpa bukti.

Salam


--- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>       NASIONAL  
>      
>         
>            
>            
>               
>             Orang Jawa Memberantas Korupsi
> 
> 
> 
>             SEBELUM ada yang tersinggung dengan judul tulisan ini, 
saya ingin mempermaklumkan diri bahwa saya ini orang Jawa. Sama 
dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Soeharto, dan Soekarno. Ketiga 
presiden itu sama-sama menyatakan bertekad memberantas korupsi. 
Soekarno, sekalipun pada zamannya korupsi belum meruyak seperti 
sekarang, sudah berteriak-teriak ingin memberantasnya, tapi gagal. 
Soeharto, yang selama 32 tahun memerintah telah membentuk beberapa 
tim pemberantasan korupsi, hasilnya idem dito alias sami mawon. SBY 
baru saja mulai, semoga saja presiden keenam RI ini berhasil.
> 
>             Sengaja judul itu saya pilih karena semakin kuat 
diyakini bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa Indonesia. Budaya 
dalam pengertian luas, yakni nilai-nilai yang mempengaruhi cara 
pandang dan perilaku dalam segala bidang kehidupan, ya politik, 
ekonomi, dan sosial. Karena itu, cara pemberantasan korupsi banyak 
diusulkan harus melalui pendekatan budaya. Nah, kalau bicara soal 
budaya, karena jumlah penduduknya yang besar dan perjalanan 
sejarahnya, orang Jawa menjadi faktor dominan dalam menentukan 
perikehidupan di negeri ini. Ini tentu saja termasuk dalam hal 
berkorupsi dan upaya pemberantasannya.
> 
>             Dominasi budaya Jawa kuat tercermin dalam lambang 
negara, rumusan serta penjelasan tentang dasar negara Pancasila, dan 
lebih-lebih lagi dalam butir-butir manusia Pancasila yang disajikan 
dalam penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) 
dalam era Orba. Masih ada cerminan lainnya, antara lain dalam 
slogan/moto, bahasa pergaulan di lingkungan birokrasi pemerintahan, 
arsitektur bangunan-bangunan pemerintah pusat dan daerah, serta nama-
nama yang dipakai. Bahkan struktur organisasi pemerintahan pun 
mengacu pada hierarki kerajaan Jawa (mulai bupati sampai lurah).
> 
>             Yang menonjol dari perilaku orang Jawa adalah tidak mau 
menonjol, "sak madyo" (tengah-tengah, secukupnya). Tapi, dalam hal 
korupsi bisa lain. Orang Jawa sangat mendambakan keselarasan hidup, 
karena itu sikapnya sangat toleran. Tidak suka konflik dan suka 
mengalah. Itu kelihatannya, tapi dalam hatinya orang Jawa tetap saja 
berharap akan menang pada akhirnya. Perilaku atau sikap hidup itu 
merupakan cerminan dari ungkapan-ungkapan falsafati orang Jawa, 
seperti "tepo seliro" (toleran) dan "wani ngalah luhur wekasane" 
(berani mengalah akan luhur atau menang pada akhirnya).
> 
>             Saya selalu berusaha untuk percaya bahwa ungkapan-
ungkapan itu diciptakan guna mewujudkan sesuatu yang 
diyakini "adiluhung" atau luhur, bahkan transendental. Tapi, dalam 
prakteknya, yang terjadi adalah kebalikannya. Bisa jadi, itu akibat 
pemahaman dan pemaknaan yang keliru. Atau, karena begitu "agung"-nya 
ungkapan itu sehingga tidak terjangkau oleh manusia biasa. Singkat 
kata, telah terjadi "gap" atau jurang pemaknaan.
> 
>             Ambigu, Gagu, Ragu
> 
>             "NGONO ya ngono, ning aja ngono" adalah contoh ungkapan 
lain yang membingungkan. Arti harfiahnya: begitu ya begitu, tapi 
jangan begitu. Kedengaran sangat ambigu, tidak jelas, dan lebih-lebih 
lagi tidak tegas. Membingungkan, membuat orang ragu! Kalau ditanya, 
lalu bagaimana? Orang bisa gagu untuk menjawabnya. Paling-paling, 
setelah berputar-putar, jawabannya bisa: "Ya, pikir sendirilah!" 
Seakan penilaian, pemahaman, dan pengamalan ungkapan falsafati itu 
diserahkan kepada masing-masing orang tergantung situasi dan kondisi 
yang dihadapi.
> 
>             Fleksibel memang, tapi sekali lagi membingungkan! Coba, 
kalau ungkapan falsafati itu dipakai sebagai landasan untuk 
memberantas korupsi, kan repot! Lebih membingungkan lagi jika 
ungkapan itu diterjemahkan dan diucapkan dalam bahasa Inggris: "yes 
but, no but". Ini dapat membuat mitra atau lawan bicara kita, yang 
orang asing, tobat!
> 
>             Sikap tepo seliro dengan mudah dapat dituduh sebagai 
tidak mendukung gerakan memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan 
nepotisme). Mengapa? Bagaimana seseorang yang dirinya sendiri 
melakukan korupsi akan memberantas korupsi di lingkungannya atau 
bawahannya? Kalaupun ia akan memberantas korupsi, kemungkinan 
alasannya ada dua. Pertama, ia sudah tobat, dan kedua, ia 
melakukan "pembenaran diri" atas tindakannya yang korup, tapi ingin 
menindak orang lain. Jika yang kedua ini yang menjadi alasan, maka 
orang itu telah bertindak sebagai ditaktor dalam memberi makna tepo 
seliro. Ia bertindak diskriminatif: untuk diriya sendiri boleh 
melakukan korupsi, untuk orang lain melarang. Yang terjadi adalah 
hegemoni makna.
> 
>             Ada lelucon mengenai hal ini. Seorang kakek Jawa yang 
kaya raya memberi nasihat kepada orang-orang muda untuk bertindak 
mengikuti petuah "sugih tanpo bondo" atau kaya tanpa harta. Karena 
terkesan akan penampilan dan gaya bicara sang kakek, hampir semua 
anak muda setuju. Tandanya, mereka "manggut-manggut" (mengangguk-
anggukan kepala). Kecuali seorang anak yang berpikir kritis dan 
bertanya: "Nasihat itu bagus, Kek. Tetapi kenapa Kakek kok kaya?". 
Apa jawab si kakek? Dengan tenangnya ia berkata: "Nasihat ini memang 
untuk kalian yang masih muda. Saya tidak perlu lagi nasihat itu 
karena sudah tua." Sejatinya, nasihat itu bermakna luhur bahwa 
seseorang dapat merasa kaya bukan karena terutama memiliki harta, 
melainkan karena banyak teman yang bersedia membantu dalam kesulitan.
> 
>             Ada satu contoh tepo seliro yang membuat orang tahu 
sama tahu dan akhirya tidak mengambil tindakan apa pun karena sama-
sama korup. Ini melibatkan wartawan, korps saya, dan sebuah instansi 
yang petugasnya terkenal suka melakukan pungli. Dalam sebuah 
penataran yang diselenggarakan instansi itu, saya minta para peserta 
menulis daftar keluhan terhadap perilaku wartawan. Dengan semangat 
tinggi, mereka menulis bahwa wartawan suka memeras, bertindak arogan, 
mau menang sendiri dan beroperasi dalam kelompok, dan sebagainya. Ada 
18 keluhan. Ketika kemudian saya minta mereka menulis daftar keluhan 
masyarakat yang diwakili wartawan atas pelayanan instansi itu, mereka 
terkejut dan dengan senyum kecut menulis daftar keluhan yang sama. 
Karena sama-sama korup, jarang ada liputan pers yang negatif tentang 
instansi itu, kecuali ada wartawan baru yang masih idealis atau 
setoran untuk wartawan tidak dipenuhi.
> 
>             Menghibur Diri
> 
>             SAYA pikir, korupsi punya akar dalam kebiasaan memberi 
sesuatu sebagai ungkapan terima kasih atas pertolongan atau tanda 
kesalahan dan kekalahan. Saya belum pernah menemukan lakon wayang 
kulit (yang sering dianggap merepresentasikan budaya Jawa secara 
lengkap) berkisah tentang tindakan seorang raja terhadap koruptor.
> 
>             Tentu, ungkapan-ungkapan falsafati Jawa sangat bermakna 
dan berdaya guna, jika dipahami dan diamalkan sesuai dengan nilai 
luhur yang diinginkan penciptanya. Untuk mereka yang pragmatis ada 
juga gunanya, terutama bagi mereka yang mendambakan keselarasan atau 
ketenangan hidup (sekalipun dalam kekalahan, kemiskinan, dan 
keterbelakangan). Juga untuk para penguasa yang memegang hegemoni 
makna atas ungkapan-ungkapan itu untuk kepentingan mereka sendiri. 
Masih ada juga manfaat lainnya, yakni untuk menghibur diri pada waktu 
kalah.
> 
>             Terserah penilaian Anda, secara jujur saya pesimistis 
upaya yang dilakukan pemerintah sekarang dalam memberantas korupsi 
akan berhasil, jika pendekatan budaya yang dipakai adalah budaya Jawa 
dengan pemaknaan yang keliru atas ungkapan-ungkapan falsafati itu.
> 
>             Lalu, cara memberantas korupsi berdasarkan budaya Jawa 
dengan makna yang benar seperti apa? Jawabannya klasik seperti Anda 
sudah tahu juga, yakni mulai dari diri sendiri, baik di lingkungan 
keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas. Ini dapat merupakan 
perwujudan ungkapan tepo seliro dengan makna yang benar. Jika Anda 
tahu akibat korupsi itu menyengsarakan orang lain, termasuk keluarga 
Anda, maka Anda jangan korupsi. Ini lagi-lagi cuma gampang untuk 
diomongkan daripada dilaksanakan.
> 
>             Berbagai slogan/moto, gerakan, gebrakan, dan langkah 
untuk memberantas korupsi telah dicanangkan dan dilancarkan oleh 
presiden sebelum SBY. Hasilnya? Anda tahu sendiri: korupsi tambah 
marak di seluruh persada Indonesia. Jika Anda juga pesimistis, saya 
senang, karena itu berarti Anda peduli dengan nasib bangsa ini. 
Minimal, Anda tidak bersikap masa bodoh dan apalagi malah ikut-ikutan 
berkorupsi. Apakah korupsi hanya dilakukan orang Jawa dan telah 
menjadi bagian budaya Jawa saja? Oh, jelas tidak. Anda sudah tahu 
jawabannya.
> 
>             Nah, apakah SBY menerapkan falsafah budaya Jawa --yang 
dimaknai secara keliru-- dalam memberantas korupsi? Saya berdoa 
tidak. Ia harus melaksanakan ungkapan Jawa "sabdo pandhito ratu". Apa 
yang sudah diucapkan harus dilaksanakan, tidak boleh ragu-ragu alias 
harus konsekuen. Sekalipun pesimistis, masih tersisa harapan upaya 
kali ini berhasil. Minimal, nama tim yang diumumkan SBY pada 2 Mei 
lalu bernuansa budaya gado-gado, yakni "Tim Tas Tipikor", sebuah 
akronim, yang bagi kebanyakan orang Jawa di desa agak susah untuk 
melafalkannya. Jika SBY juga gagal memberantas korupsi, saya khawatir 
judul tulisan ini akan dipelesetkan orang menjadi "Orang Jawa kok 
memberantas korupsi" (Orang lain juga belum tentu bisa).
> 
>             Parni Hadi
>             Wartawan ([EMAIL PROTECTED])
>             [Kolom, Gatra Nomor 28 Beredar Senin, 23 Mei 2005]  
> 
> 
>       SEBELUM ada yang tersinggung dengan judul tulisan ini, saya 
ingin mempermaklumkan diri bahwa saya ini orang Jawa. Sama dengan 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Soeharto, dan Soekarno. Ketiga 
presiden itu sama-sama menyatakan bertekad memberantas korupsi. 
Soekarno, sekalipun pada zamannya korupsi belum meruyak seperti 
sekarang, sudah berteriak-teriak ingin memberantasnya, tapi gagal. 
Soeharto, yang selama 32 tahun memerintah telah membentuk beberapa 
tim pemberantasan korupsi, hasilnya idem dito alias sami mawon. SBY 
baru saja mulai, semoga saja presiden keenam RI ini berhasil.
> 
>       Sengaja judul itu saya pilih karena semakin kuat diyakini 
bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa Indonesia. Budaya dalam 
pengertian luas, yakni nilai-nilai yang mempengaruhi cara pandang dan 
perilaku dalam segala bidang kehidupan, ya politik, ekonomi, dan 
sosial. Karena itu, cara pemberantasan korupsi banyak diusulkan harus 
melalui pendekatan budaya. Nah, kalau bicara soal budaya, karena 
jumlah penduduknya yang besar dan perjalanan sejarahnya, orang Jawa 
menjadi faktor dominan dalam menentukan perikehidupan di negeri ini. 
Ini tentu saja termasuk dalam hal berkorupsi dan upaya 
pemberantasannya.
> 
>       Dominasi budaya Jawa kuat tercermin dalam lambang negara, 
rumusan serta penjelasan tentang dasar negara Pancasila, dan lebih-
lebih lagi dalam butir-butir manusia Pancasila yang disajikan dalam 
penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dalam era 
Orba. Masih ada cerminan lainnya, antara lain dalam slogan/moto, 
bahasa pergaulan di lingkungan birokrasi pemerintahan, arsitektur 
bangunan-bangunan pemerintah pusat dan daerah, serta nama-nama yang 
dipakai. Bahkan struktur organisasi pemerintahan pun mengacu pada 
hierarki kerajaan Jawa (mulai bupati sampai lurah).
> 
>       Yang menonjol dari perilaku orang Jawa adalah tidak mau 
menonjol, "sak madyo" (tengah-tengah, secukupnya). Tapi, dalam hal 
korupsi bisa lain. Orang Jawa sangat mendambakan keselarasan hidup, 
karena itu sikapnya sangat toleran. Tidak suka konflik dan suka 
mengalah. Itu kelihatannya, tapi dalam hatinya orang Jawa tetap saja 
berharap akan menang pada akhirnya. Perilaku atau sikap hidup itu 
merupakan cerminan dari ungkapan-ungkapan falsafati orang Jawa, 
seperti "tepo seliro" (toleran) dan "wani ngalah luhur wekasane" 
(berani mengalah akan luhur atau menang pada akhirnya).
> 
>       Saya selalu berusaha untuk percaya bahwa ungkapan-ungkapan 
itu diciptakan guna mewujudkan sesuatu yang diyakini "adiluhung" atau 
luhur, bahkan transendental. Tapi, dalam prakteknya, yang terjadi 
adalah kebalikannya. Bisa jadi, itu akibat pemahaman dan pemaknaan 
yang keliru. Atau, karena begitu "agung"-nya ungkapan itu sehingga 
tidak terjangkau oleh manusia biasa. Singkat kata, telah 
terjadi "gap" atau jurang pemaknaan.
> 
>       Ambigu, Gagu, Ragu
> 
>       "NGONO ya ngono, ning aja ngono" adalah contoh ungkapan lain 
yang membingungkan. Arti harfiahnya: begitu ya begitu, tapi jangan 
begitu. Kedengaran sangat ambigu, tidak jelas, dan lebih-lebih lagi 
tidak tegas. Membingungkan, membuat orang ragu! Kalau ditanya, lalu 
bagaimana? Orang bisa gagu untuk menjawabnya. Paling-paling, setelah 
berputar-putar, jawabannya bisa: "Ya, pikir sendirilah!" Seakan 
penilaian, pemahaman, dan pengamalan ungkapan falsafati itu 
diserahkan kepada masing-masing orang tergantung situasi dan kondisi 
yang dihadapi.
> 
>       Fleksibel memang, tapi sekali lagi membingungkan! Coba, kalau 
ungkapan falsafati itu dipakai sebagai landasan untuk memberantas 
korupsi, kan repot! Lebih membingungkan lagi jika ungkapan itu 
diterjemahkan dan diucapkan dalam bahasa Inggris: "yes but, no but". 
Ini dapat membuat mitra atau lawan bicara kita, yang orang asing, 
tobat!
> 
>       Sikap tepo seliro dengan mudah dapat dituduh sebagai tidak 
mendukung gerakan memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). 
Mengapa? Bagaimana seseorang yang dirinya sendiri melakukan korupsi 
akan memberantas korupsi di lingkungannya atau bawahannya? Kalaupun 
ia akan memberantas korupsi, kemungkinan alasannya ada dua. Pertama, 
ia sudah tobat, dan kedua, ia melakukan "pembenaran diri" atas 
tindakannya yang korup, tapi ingin menindak orang lain. Jika yang 
kedua ini yang menjadi alasan, maka orang itu telah bertindak sebagai 
ditaktor dalam memberi makna tepo seliro. Ia bertindak diskriminatif: 
untuk diriya sendiri boleh melakukan korupsi, untuk orang lain 
melarang. Yang terjadi adalah hegemoni makna.
> 
>       Ada lelucon mengenai hal ini. Seorang kakek Jawa yang kaya 
raya memberi nasihat kepada orang-orang muda untuk bertindak 
mengikuti petuah "sugih tanpo bondo" atau kaya tanpa harta. Karena 
terkesan akan penampilan dan gaya bicara sang kakek, hampir semua 
anak muda setuju. Tandanya, mereka "manggut-manggut" (mengangguk-
anggukan kepala). Kecuali seorang anak yang berpikir kritis dan 
bertanya: "Nasihat itu bagus, Kek. Tetapi kenapa Kakek kok kaya?". 
Apa jawab si kakek? Dengan tenangnya ia berkata: "Nasihat ini memang 
untuk kalian yang masih muda. Saya tidak perlu lagi nasihat itu 
karena sudah tua." Sejatinya, nasihat itu bermakna luhur bahwa 
seseorang dapat merasa kaya bukan karena terutama memiliki harta, 
melainkan karena banyak teman yang bersedia membantu dalam kesulitan.
> 
>       Ada satu contoh tepo seliro yang membuat orang tahu sama tahu 
dan akhirya tidak mengambil tindakan apa pun karena sama-sama korup. 
Ini melibatkan wartawan, korps saya, dan sebuah instansi yang 
petugasnya terkenal suka melakukan pungli. Dalam sebuah penataran 
yang diselenggarakan instansi itu, saya minta para peserta menulis 
daftar keluhan terhadap perilaku wartawan. Dengan semangat tinggi, 
mereka menulis bahwa wartawan suka memeras, bertindak arogan, mau 
menang sendiri dan beroperasi dalam kelompok, dan sebagainya. Ada 18 
keluhan. Ketika kemudian saya minta mereka menulis daftar keluhan 
masyarakat yang diwakili wartawan atas pelayanan instansi itu, mereka 
terkejut dan dengan senyum kecut menulis daftar keluhan yang sama. 
Karena sama-sama korup, jarang ada liputan pers yang negatif tentang 
instansi itu, kecuali ada wartawan baru yang masih idealis atau 
setoran untuk wartawan tidak dipenuhi.
> 
>       Menghibur Diri
> 
>       SAYA pikir, korupsi punya akar dalam kebiasaan memberi 
sesuatu sebagai ungkapan terima kasih atas pertolongan atau tanda 
kesalahan dan kekalahan. Saya belum pernah menemukan lakon wayang 
kulit (yang sering dianggap merepresentasikan budaya Jawa secara 
lengkap) berkisah tentang tindakan seorang raja terhadap koruptor.
> 
>       Tentu, ungkapan-ungkapan falsafati Jawa sangat bermakna dan 
berdaya guna, jika dipahami dan diamalkan sesuai dengan nilai luhur 
yang diinginkan penciptanya. Untuk mereka yang pragmatis ada juga 
gunanya, terutama bagi mereka yang mendambakan keselarasan atau 
ketenangan hidup (sekalipun dalam kekalahan, kemiskinan, dan 
keterbelakangan). Juga untuk para penguasa yang memegang hegemoni 
makna atas ungkapan-ungkapan itu untuk kepentingan mereka sendiri. 
Masih ada juga manfaat lainnya, yakni untuk menghibur diri pada waktu 
kalah.
> 
>       Terserah penilaian Anda, secara jujur saya pesimistis upaya 
yang dilakukan pemerintah sekarang dalam memberantas korupsi akan 
berhasil, jika pendekatan budaya yang dipakai adalah budaya Jawa 
dengan pemaknaan yang keliru atas ungkapan-ungkapan falsafati itu.
> 
>       Lalu, cara memberantas korupsi berdasarkan budaya Jawa dengan 
makna yang benar seperti apa? Jawabannya klasik seperti Anda sudah 
tahu juga, yakni mulai dari diri sendiri, baik di lingkungan 
keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas. Ini dapat merupakan 
perwujudan ungkapan tepo seliro dengan makna yang benar. Jika Anda 
tahu akibat korupsi itu menyengsarakan orang lain, termasuk keluarga 
Anda, maka Anda jangan korupsi. Ini lagi-lagi cuma gampang untuk 
diomongkan daripada dilaksanakan.
> 
>       Berbagai slogan/moto, gerakan, gebrakan, dan langkah untuk 
memberantas korupsi telah dicanangkan dan dilancarkan oleh presiden 
sebelum SBY. Hasilnya? Anda tahu sendiri: korupsi tambah marak di 
seluruh persada Indonesia. Jika Anda juga pesimistis, saya senang, 
karena itu berarti Anda peduli dengan nasib bangsa ini. Minimal, Anda 
tidak bersikap masa bodoh dan apalagi malah ikut-ikutan berkorupsi. 
Apakah korupsi hanya dilakukan orang Jawa dan telah menjadi bagian 
budaya Jawa saja? Oh, jelas tidak. Anda sudah tahu jawabannya.
> 
>       Nah, apakah SBY menerapkan falsafah budaya Jawa --yang 
dimaknai secara keliru-- dalam memberantas korupsi? Saya berdoa 
tidak. Ia harus melaksanakan ungkapan Jawa "sabdo pandhito ratu". Apa 
yang sudah diucapkan harus dilaksanakan, tidak boleh ragu-ragu alias 
harus konsekuen. Sekalipun pesimistis, masih tersisa harapan upaya 
kali ini berhasil. Minimal, nama tim yang diumumkan SBY pada 2 Mei 
lalu bernuansa budaya gado-gado, yakni "Tim Tas Tipikor", sebuah 
akronim, yang bagi kebanyakan orang Jawa di desa agak susah untuk 
melafalkannya. Jika SBY juga gagal memberantas korupsi, saya khawatir 
judul tulisan ini akan dipelesetkan orang menjadi "Orang Jawa kok 
memberantas korupsi" (Orang lain juga belum tentu bisa).
> 
>       Parni Hadi
>       Wartawan ([EMAIL PROTECTED])
>       [Kolom, Gatra Nomor 28 Beredar Senin, 23 Mei 2005]  
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke