Memberantas gimane? Wong yang korupsi sebagian besar (kalo tidak mau disebut mayoritas) adalah orang jawa. Ini kenyataan lho, bukan sebuah retorika tanpa bukti.
Salam --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > NASIONAL > > > > > > Orang Jawa Memberantas Korupsi > > > > SEBELUM ada yang tersinggung dengan judul tulisan ini, saya ingin mempermaklumkan diri bahwa saya ini orang Jawa. Sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Soeharto, dan Soekarno. Ketiga presiden itu sama-sama menyatakan bertekad memberantas korupsi. Soekarno, sekalipun pada zamannya korupsi belum meruyak seperti sekarang, sudah berteriak-teriak ingin memberantasnya, tapi gagal. Soeharto, yang selama 32 tahun memerintah telah membentuk beberapa tim pemberantasan korupsi, hasilnya idem dito alias sami mawon. SBY baru saja mulai, semoga saja presiden keenam RI ini berhasil. > > Sengaja judul itu saya pilih karena semakin kuat diyakini bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa Indonesia. Budaya dalam pengertian luas, yakni nilai-nilai yang mempengaruhi cara pandang dan perilaku dalam segala bidang kehidupan, ya politik, ekonomi, dan sosial. Karena itu, cara pemberantasan korupsi banyak diusulkan harus melalui pendekatan budaya. Nah, kalau bicara soal budaya, karena jumlah penduduknya yang besar dan perjalanan sejarahnya, orang Jawa menjadi faktor dominan dalam menentukan perikehidupan di negeri ini. Ini tentu saja termasuk dalam hal berkorupsi dan upaya pemberantasannya. > > Dominasi budaya Jawa kuat tercermin dalam lambang negara, rumusan serta penjelasan tentang dasar negara Pancasila, dan lebih-lebih lagi dalam butir-butir manusia Pancasila yang disajikan dalam penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dalam era Orba. Masih ada cerminan lainnya, antara lain dalam slogan/moto, bahasa pergaulan di lingkungan birokrasi pemerintahan, arsitektur bangunan-bangunan pemerintah pusat dan daerah, serta nama- nama yang dipakai. Bahkan struktur organisasi pemerintahan pun mengacu pada hierarki kerajaan Jawa (mulai bupati sampai lurah). > > Yang menonjol dari perilaku orang Jawa adalah tidak mau menonjol, "sak madyo" (tengah-tengah, secukupnya). Tapi, dalam hal korupsi bisa lain. Orang Jawa sangat mendambakan keselarasan hidup, karena itu sikapnya sangat toleran. Tidak suka konflik dan suka mengalah. Itu kelihatannya, tapi dalam hatinya orang Jawa tetap saja berharap akan menang pada akhirnya. Perilaku atau sikap hidup itu merupakan cerminan dari ungkapan-ungkapan falsafati orang Jawa, seperti "tepo seliro" (toleran) dan "wani ngalah luhur wekasane" (berani mengalah akan luhur atau menang pada akhirnya). > > Saya selalu berusaha untuk percaya bahwa ungkapan- ungkapan itu diciptakan guna mewujudkan sesuatu yang diyakini "adiluhung" atau luhur, bahkan transendental. Tapi, dalam prakteknya, yang terjadi adalah kebalikannya. Bisa jadi, itu akibat pemahaman dan pemaknaan yang keliru. Atau, karena begitu "agung"-nya ungkapan itu sehingga tidak terjangkau oleh manusia biasa. Singkat kata, telah terjadi "gap" atau jurang pemaknaan. > > Ambigu, Gagu, Ragu > > "NGONO ya ngono, ning aja ngono" adalah contoh ungkapan lain yang membingungkan. Arti harfiahnya: begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Kedengaran sangat ambigu, tidak jelas, dan lebih-lebih lagi tidak tegas. Membingungkan, membuat orang ragu! Kalau ditanya, lalu bagaimana? Orang bisa gagu untuk menjawabnya. Paling-paling, setelah berputar-putar, jawabannya bisa: "Ya, pikir sendirilah!" Seakan penilaian, pemahaman, dan pengamalan ungkapan falsafati itu diserahkan kepada masing-masing orang tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. > > Fleksibel memang, tapi sekali lagi membingungkan! Coba, kalau ungkapan falsafati itu dipakai sebagai landasan untuk memberantas korupsi, kan repot! Lebih membingungkan lagi jika ungkapan itu diterjemahkan dan diucapkan dalam bahasa Inggris: "yes but, no but". Ini dapat membuat mitra atau lawan bicara kita, yang orang asing, tobat! > > Sikap tepo seliro dengan mudah dapat dituduh sebagai tidak mendukung gerakan memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Mengapa? Bagaimana seseorang yang dirinya sendiri melakukan korupsi akan memberantas korupsi di lingkungannya atau bawahannya? Kalaupun ia akan memberantas korupsi, kemungkinan alasannya ada dua. Pertama, ia sudah tobat, dan kedua, ia melakukan "pembenaran diri" atas tindakannya yang korup, tapi ingin menindak orang lain. Jika yang kedua ini yang menjadi alasan, maka orang itu telah bertindak sebagai ditaktor dalam memberi makna tepo seliro. Ia bertindak diskriminatif: untuk diriya sendiri boleh melakukan korupsi, untuk orang lain melarang. Yang terjadi adalah hegemoni makna. > > Ada lelucon mengenai hal ini. Seorang kakek Jawa yang kaya raya memberi nasihat kepada orang-orang muda untuk bertindak mengikuti petuah "sugih tanpo bondo" atau kaya tanpa harta. Karena terkesan akan penampilan dan gaya bicara sang kakek, hampir semua anak muda setuju. Tandanya, mereka "manggut-manggut" (mengangguk- anggukan kepala). Kecuali seorang anak yang berpikir kritis dan bertanya: "Nasihat itu bagus, Kek. Tetapi kenapa Kakek kok kaya?". Apa jawab si kakek? Dengan tenangnya ia berkata: "Nasihat ini memang untuk kalian yang masih muda. Saya tidak perlu lagi nasihat itu karena sudah tua." Sejatinya, nasihat itu bermakna luhur bahwa seseorang dapat merasa kaya bukan karena terutama memiliki harta, melainkan karena banyak teman yang bersedia membantu dalam kesulitan. > > Ada satu contoh tepo seliro yang membuat orang tahu sama tahu dan akhirya tidak mengambil tindakan apa pun karena sama- sama korup. Ini melibatkan wartawan, korps saya, dan sebuah instansi yang petugasnya terkenal suka melakukan pungli. Dalam sebuah penataran yang diselenggarakan instansi itu, saya minta para peserta menulis daftar keluhan terhadap perilaku wartawan. Dengan semangat tinggi, mereka menulis bahwa wartawan suka memeras, bertindak arogan, mau menang sendiri dan beroperasi dalam kelompok, dan sebagainya. Ada 18 keluhan. Ketika kemudian saya minta mereka menulis daftar keluhan masyarakat yang diwakili wartawan atas pelayanan instansi itu, mereka terkejut dan dengan senyum kecut menulis daftar keluhan yang sama. Karena sama-sama korup, jarang ada liputan pers yang negatif tentang instansi itu, kecuali ada wartawan baru yang masih idealis atau setoran untuk wartawan tidak dipenuhi. > > Menghibur Diri > > SAYA pikir, korupsi punya akar dalam kebiasaan memberi sesuatu sebagai ungkapan terima kasih atas pertolongan atau tanda kesalahan dan kekalahan. Saya belum pernah menemukan lakon wayang kulit (yang sering dianggap merepresentasikan budaya Jawa secara lengkap) berkisah tentang tindakan seorang raja terhadap koruptor. > > Tentu, ungkapan-ungkapan falsafati Jawa sangat bermakna dan berdaya guna, jika dipahami dan diamalkan sesuai dengan nilai luhur yang diinginkan penciptanya. Untuk mereka yang pragmatis ada juga gunanya, terutama bagi mereka yang mendambakan keselarasan atau ketenangan hidup (sekalipun dalam kekalahan, kemiskinan, dan keterbelakangan). Juga untuk para penguasa yang memegang hegemoni makna atas ungkapan-ungkapan itu untuk kepentingan mereka sendiri. Masih ada juga manfaat lainnya, yakni untuk menghibur diri pada waktu kalah. > > Terserah penilaian Anda, secara jujur saya pesimistis upaya yang dilakukan pemerintah sekarang dalam memberantas korupsi akan berhasil, jika pendekatan budaya yang dipakai adalah budaya Jawa dengan pemaknaan yang keliru atas ungkapan-ungkapan falsafati itu. > > Lalu, cara memberantas korupsi berdasarkan budaya Jawa dengan makna yang benar seperti apa? Jawabannya klasik seperti Anda sudah tahu juga, yakni mulai dari diri sendiri, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas. Ini dapat merupakan perwujudan ungkapan tepo seliro dengan makna yang benar. Jika Anda tahu akibat korupsi itu menyengsarakan orang lain, termasuk keluarga Anda, maka Anda jangan korupsi. Ini lagi-lagi cuma gampang untuk diomongkan daripada dilaksanakan. > > Berbagai slogan/moto, gerakan, gebrakan, dan langkah untuk memberantas korupsi telah dicanangkan dan dilancarkan oleh presiden sebelum SBY. Hasilnya? Anda tahu sendiri: korupsi tambah marak di seluruh persada Indonesia. Jika Anda juga pesimistis, saya senang, karena itu berarti Anda peduli dengan nasib bangsa ini. Minimal, Anda tidak bersikap masa bodoh dan apalagi malah ikut-ikutan berkorupsi. Apakah korupsi hanya dilakukan orang Jawa dan telah menjadi bagian budaya Jawa saja? Oh, jelas tidak. Anda sudah tahu jawabannya. > > Nah, apakah SBY menerapkan falsafah budaya Jawa --yang dimaknai secara keliru-- dalam memberantas korupsi? Saya berdoa tidak. Ia harus melaksanakan ungkapan Jawa "sabdo pandhito ratu". Apa yang sudah diucapkan harus dilaksanakan, tidak boleh ragu-ragu alias harus konsekuen. Sekalipun pesimistis, masih tersisa harapan upaya kali ini berhasil. Minimal, nama tim yang diumumkan SBY pada 2 Mei lalu bernuansa budaya gado-gado, yakni "Tim Tas Tipikor", sebuah akronim, yang bagi kebanyakan orang Jawa di desa agak susah untuk melafalkannya. Jika SBY juga gagal memberantas korupsi, saya khawatir judul tulisan ini akan dipelesetkan orang menjadi "Orang Jawa kok memberantas korupsi" (Orang lain juga belum tentu bisa). > > Parni Hadi > Wartawan ([EMAIL PROTECTED]) > [Kolom, Gatra Nomor 28 Beredar Senin, 23 Mei 2005] > > > SEBELUM ada yang tersinggung dengan judul tulisan ini, saya ingin mempermaklumkan diri bahwa saya ini orang Jawa. Sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Soeharto, dan Soekarno. Ketiga presiden itu sama-sama menyatakan bertekad memberantas korupsi. Soekarno, sekalipun pada zamannya korupsi belum meruyak seperti sekarang, sudah berteriak-teriak ingin memberantasnya, tapi gagal. Soeharto, yang selama 32 tahun memerintah telah membentuk beberapa tim pemberantasan korupsi, hasilnya idem dito alias sami mawon. SBY baru saja mulai, semoga saja presiden keenam RI ini berhasil. > > Sengaja judul itu saya pilih karena semakin kuat diyakini bahwa korupsi telah menjadi budaya bangsa Indonesia. Budaya dalam pengertian luas, yakni nilai-nilai yang mempengaruhi cara pandang dan perilaku dalam segala bidang kehidupan, ya politik, ekonomi, dan sosial. Karena itu, cara pemberantasan korupsi banyak diusulkan harus melalui pendekatan budaya. Nah, kalau bicara soal budaya, karena jumlah penduduknya yang besar dan perjalanan sejarahnya, orang Jawa menjadi faktor dominan dalam menentukan perikehidupan di negeri ini. Ini tentu saja termasuk dalam hal berkorupsi dan upaya pemberantasannya. > > Dominasi budaya Jawa kuat tercermin dalam lambang negara, rumusan serta penjelasan tentang dasar negara Pancasila, dan lebih- lebih lagi dalam butir-butir manusia Pancasila yang disajikan dalam penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dalam era Orba. Masih ada cerminan lainnya, antara lain dalam slogan/moto, bahasa pergaulan di lingkungan birokrasi pemerintahan, arsitektur bangunan-bangunan pemerintah pusat dan daerah, serta nama-nama yang dipakai. Bahkan struktur organisasi pemerintahan pun mengacu pada hierarki kerajaan Jawa (mulai bupati sampai lurah). > > Yang menonjol dari perilaku orang Jawa adalah tidak mau menonjol, "sak madyo" (tengah-tengah, secukupnya). Tapi, dalam hal korupsi bisa lain. Orang Jawa sangat mendambakan keselarasan hidup, karena itu sikapnya sangat toleran. Tidak suka konflik dan suka mengalah. Itu kelihatannya, tapi dalam hatinya orang Jawa tetap saja berharap akan menang pada akhirnya. Perilaku atau sikap hidup itu merupakan cerminan dari ungkapan-ungkapan falsafati orang Jawa, seperti "tepo seliro" (toleran) dan "wani ngalah luhur wekasane" (berani mengalah akan luhur atau menang pada akhirnya). > > Saya selalu berusaha untuk percaya bahwa ungkapan-ungkapan itu diciptakan guna mewujudkan sesuatu yang diyakini "adiluhung" atau luhur, bahkan transendental. Tapi, dalam prakteknya, yang terjadi adalah kebalikannya. Bisa jadi, itu akibat pemahaman dan pemaknaan yang keliru. Atau, karena begitu "agung"-nya ungkapan itu sehingga tidak terjangkau oleh manusia biasa. Singkat kata, telah terjadi "gap" atau jurang pemaknaan. > > Ambigu, Gagu, Ragu > > "NGONO ya ngono, ning aja ngono" adalah contoh ungkapan lain yang membingungkan. Arti harfiahnya: begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Kedengaran sangat ambigu, tidak jelas, dan lebih-lebih lagi tidak tegas. Membingungkan, membuat orang ragu! Kalau ditanya, lalu bagaimana? Orang bisa gagu untuk menjawabnya. Paling-paling, setelah berputar-putar, jawabannya bisa: "Ya, pikir sendirilah!" Seakan penilaian, pemahaman, dan pengamalan ungkapan falsafati itu diserahkan kepada masing-masing orang tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi. > > Fleksibel memang, tapi sekali lagi membingungkan! Coba, kalau ungkapan falsafati itu dipakai sebagai landasan untuk memberantas korupsi, kan repot! Lebih membingungkan lagi jika ungkapan itu diterjemahkan dan diucapkan dalam bahasa Inggris: "yes but, no but". Ini dapat membuat mitra atau lawan bicara kita, yang orang asing, tobat! > > Sikap tepo seliro dengan mudah dapat dituduh sebagai tidak mendukung gerakan memberantas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Mengapa? Bagaimana seseorang yang dirinya sendiri melakukan korupsi akan memberantas korupsi di lingkungannya atau bawahannya? Kalaupun ia akan memberantas korupsi, kemungkinan alasannya ada dua. Pertama, ia sudah tobat, dan kedua, ia melakukan "pembenaran diri" atas tindakannya yang korup, tapi ingin menindak orang lain. Jika yang kedua ini yang menjadi alasan, maka orang itu telah bertindak sebagai ditaktor dalam memberi makna tepo seliro. Ia bertindak diskriminatif: untuk diriya sendiri boleh melakukan korupsi, untuk orang lain melarang. Yang terjadi adalah hegemoni makna. > > Ada lelucon mengenai hal ini. Seorang kakek Jawa yang kaya raya memberi nasihat kepada orang-orang muda untuk bertindak mengikuti petuah "sugih tanpo bondo" atau kaya tanpa harta. Karena terkesan akan penampilan dan gaya bicara sang kakek, hampir semua anak muda setuju. Tandanya, mereka "manggut-manggut" (mengangguk- anggukan kepala). Kecuali seorang anak yang berpikir kritis dan bertanya: "Nasihat itu bagus, Kek. Tetapi kenapa Kakek kok kaya?". Apa jawab si kakek? Dengan tenangnya ia berkata: "Nasihat ini memang untuk kalian yang masih muda. Saya tidak perlu lagi nasihat itu karena sudah tua." Sejatinya, nasihat itu bermakna luhur bahwa seseorang dapat merasa kaya bukan karena terutama memiliki harta, melainkan karena banyak teman yang bersedia membantu dalam kesulitan. > > Ada satu contoh tepo seliro yang membuat orang tahu sama tahu dan akhirya tidak mengambil tindakan apa pun karena sama-sama korup. Ini melibatkan wartawan, korps saya, dan sebuah instansi yang petugasnya terkenal suka melakukan pungli. Dalam sebuah penataran yang diselenggarakan instansi itu, saya minta para peserta menulis daftar keluhan terhadap perilaku wartawan. Dengan semangat tinggi, mereka menulis bahwa wartawan suka memeras, bertindak arogan, mau menang sendiri dan beroperasi dalam kelompok, dan sebagainya. Ada 18 keluhan. Ketika kemudian saya minta mereka menulis daftar keluhan masyarakat yang diwakili wartawan atas pelayanan instansi itu, mereka terkejut dan dengan senyum kecut menulis daftar keluhan yang sama. Karena sama-sama korup, jarang ada liputan pers yang negatif tentang instansi itu, kecuali ada wartawan baru yang masih idealis atau setoran untuk wartawan tidak dipenuhi. > > Menghibur Diri > > SAYA pikir, korupsi punya akar dalam kebiasaan memberi sesuatu sebagai ungkapan terima kasih atas pertolongan atau tanda kesalahan dan kekalahan. Saya belum pernah menemukan lakon wayang kulit (yang sering dianggap merepresentasikan budaya Jawa secara lengkap) berkisah tentang tindakan seorang raja terhadap koruptor. > > Tentu, ungkapan-ungkapan falsafati Jawa sangat bermakna dan berdaya guna, jika dipahami dan diamalkan sesuai dengan nilai luhur yang diinginkan penciptanya. Untuk mereka yang pragmatis ada juga gunanya, terutama bagi mereka yang mendambakan keselarasan atau ketenangan hidup (sekalipun dalam kekalahan, kemiskinan, dan keterbelakangan). Juga untuk para penguasa yang memegang hegemoni makna atas ungkapan-ungkapan itu untuk kepentingan mereka sendiri. Masih ada juga manfaat lainnya, yakni untuk menghibur diri pada waktu kalah. > > Terserah penilaian Anda, secara jujur saya pesimistis upaya yang dilakukan pemerintah sekarang dalam memberantas korupsi akan berhasil, jika pendekatan budaya yang dipakai adalah budaya Jawa dengan pemaknaan yang keliru atas ungkapan-ungkapan falsafati itu. > > Lalu, cara memberantas korupsi berdasarkan budaya Jawa dengan makna yang benar seperti apa? Jawabannya klasik seperti Anda sudah tahu juga, yakni mulai dari diri sendiri, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat luas. Ini dapat merupakan perwujudan ungkapan tepo seliro dengan makna yang benar. Jika Anda tahu akibat korupsi itu menyengsarakan orang lain, termasuk keluarga Anda, maka Anda jangan korupsi. Ini lagi-lagi cuma gampang untuk diomongkan daripada dilaksanakan. > > Berbagai slogan/moto, gerakan, gebrakan, dan langkah untuk memberantas korupsi telah dicanangkan dan dilancarkan oleh presiden sebelum SBY. Hasilnya? Anda tahu sendiri: korupsi tambah marak di seluruh persada Indonesia. Jika Anda juga pesimistis, saya senang, karena itu berarti Anda peduli dengan nasib bangsa ini. Minimal, Anda tidak bersikap masa bodoh dan apalagi malah ikut-ikutan berkorupsi. Apakah korupsi hanya dilakukan orang Jawa dan telah menjadi bagian budaya Jawa saja? Oh, jelas tidak. Anda sudah tahu jawabannya. > > Nah, apakah SBY menerapkan falsafah budaya Jawa --yang dimaknai secara keliru-- dalam memberantas korupsi? Saya berdoa tidak. Ia harus melaksanakan ungkapan Jawa "sabdo pandhito ratu". Apa yang sudah diucapkan harus dilaksanakan, tidak boleh ragu-ragu alias harus konsekuen. Sekalipun pesimistis, masih tersisa harapan upaya kali ini berhasil. Minimal, nama tim yang diumumkan SBY pada 2 Mei lalu bernuansa budaya gado-gado, yakni "Tim Tas Tipikor", sebuah akronim, yang bagi kebanyakan orang Jawa di desa agak susah untuk melafalkannya. Jika SBY juga gagal memberantas korupsi, saya khawatir judul tulisan ini akan dipelesetkan orang menjadi "Orang Jawa kok memberantas korupsi" (Orang lain juga belum tentu bisa). > > Parni Hadi > Wartawan ([EMAIL PROTECTED]) > [Kolom, Gatra Nomor 28 Beredar Senin, 23 Mei 2005] > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

