http://www.sinarharapan.co.id/berita/0505/25/sh05.html
Mengenang Prof. Dr. Mubyarto Perhatikan Ekonomi Rakyat, Bukan Konglomerat YOGYAKARTA-Kini, tak ada lagi ilmuwan bidang ekonomi yang lantang menyuarakan sistem ekonomi Pancasila. Sosok yang biasanya begitu gigih menyuarakan agar Indonesia mengacu pada sistem ekonomi Pancasila yang berasaskan kerakyatan dan bukan liberalisme, telah tiada. Prof. Dr. Mubyarto, tokoh yang selalu tampil sederhana itu telah menghadap Sang Khalik untuk selama-lamanya. Ia berpulang pada pukul 13.45 di RS Sardjito Yogyakarta, Selasa (24/5) di usianya yang ke-66, setelah dirawat sejak Kamis lalu karena serangan jantung dan penyakit paru-paru basah. Kebesaran namanya dan kesederhanaannya itulah yang membuat Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tengah berada di Yogyakarta menyempatkan diri melayat di rumah duka di kompleks Sawitsari. "Banyak konsepnya yang sudah dilakukan pemerintah seperti pemerataan pembangunan ekonomi dan pembangunan masyarakat pedesaan," kata Wapres. "Beliau sangat konsisten dengan pendiriannya. Idenya seperti membangun desa tertinggal sangat memberikan hasil yang baik bagi pemerataan kesejahteraan rakyat dalam ekonomi kita," lanjut Kalla. Konsisten dalam pemikiran. Itulah Mubyarto. Dalam berbagai kesempatan, diskusi ataupun seminar, Mubyarto selalu dengan lantang membicarakan ekonomi Pancasila yang diyakini bisa membangkitkan ekonomi sekaligus menyejahterakan rakyat. Menurut Muby--demikian panggilan akrabnya--ekonomi Pancasila bukanlah sistem ekonomi baru yang hendak diciptakan untuk mengganti sistem ekonomi yang kini dianut bangsa ini. Bibit sistem ekonomi Pancasila sudah ada dan sudah dilaksanakan sebagian masyarakat Indonesia, terutama masyarakat pedesaan dalam bentuk usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Menurut Muby, ketika berbicara dalam seminar "Meluruskan Jalan Reformasi" yang diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu, dalam kehidupan riil kegiatan ekonomi rakyat yang mengacu pada sistem ekonomi Pancasila terseok-seok. "Alasannya jelas, karena politik ekonomi yang dijalankan pemerintah bersifat liberal dan memihak pada konglomerat," tegasnya. Contoh jelas, pemerintah Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 secara murni dan konsekuen gagal mewujudkan pemerataan pembangunan yang berkeadilan sosial, karena strategi pembangunan dan politik ekonomi yang dikembangkan didasarkan pada liberalisme. Dalam persaingan pasar liberal yang kuat (konglomerat) akan selalu menang. Belum Terlambat Muby memang identik dengan ekonom yang lebih berpijak kepada rakyat, apalagi ekonomi rakyat sering lebih berdaya tahan. Ia lantas mencontohkan, ketika krisis moneter terjadi, yang sanggup bertahan dan menggelinding justru para pengusaha kecil yang selama ini kurang diperhatikan pemerintah. Karenanya tak heran jika Muby mengingatkan pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, bahwa hendaknya program 100 hari itu hanya diarahkan pada pemulihan ekonomi. Yakni bagaimana berusaha memenuhi berbagai persyaratan makro ekonomi agar sifat ekonomi Indonesia tidak menjadi seperti sebelum krisis, yaitu kondisi perekonomian tahun-tahun 1996-1997 yang tumbuh rata-rata 7% per tahun tetapi distribusinya timpang. Almarhum sangat berharap terjadi revolusi paradigma, sehingga memunculkan paradigma baru yang penerapannya benar-benar berpihak pada ekonomi rakyat. Muby, yang lahir di Yogyakarta, 3 September 1938, sangat berharap agar pemerintah tidak lagi mengulang keinginan mencapai pertumbuhan tinggi, melainkan harus lebih menonjolkan asas keadilan dan pemerataan. Dalam pandangannya keadaan belum terlambat untuk menyadari berbagai ketelanjuran strategi dan kebijakan ekonomi yang memihak konglomerat dan sekaligus mengabaikan kepentingan ekonomi rakyat, karena mengacu pada teori-teori ekonomi yang salah. "Sekadar reformasi jelas tidak memadai. Paradigma ekonomi neoklasik harus diubah radikal, direvolusi, diubah menjadi ekonomi Pancasila," tegas Muby. Tak hanya itu, Muby juga menegaskan, para pemikir yang berada di lingkungan pemerintah agar menyadari urgensi untuk mengembangkan program-program aksi dari bawah (bottom up programme), yang diolah bersama rakyat untuk memenuhi aspirasi rakyat. "Bukan program yang disusun di belakang meja kerja atau di komputer, dari teori-teori/konsep-konsep yang berasal dari buku-buku teks Barat," katanya lagi. Di samping lantang mengingatkan dan mengritik pemerintah, Muby juga menyerukan ditingkatkannya kekompakan masyarakat kampus sebagai kekuatan moral untuk "menggugat" lemahnya kepemimpinan kolektif bangsa. "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (harus) dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat," demikian kerap dikatakan Muby. Sehingga dia sering bertanya mengapa amanat UUD ini ditundukkan pada kepentingan pemodal asing yang selalu dianggap sebagai "dewa penolong". "Bukti-bukti kini makin jelas menunjukkan merosotnya semangat nasionalisme yang menomorduakan kepentingan nasional dan menomorsatukan kepentingan asing karena takut dilanda gelombang globalisasi," tuturnya ketika itu. Kini Muby telah tiada. Indonesia, khususnya UGM, kehilangan seorang pemikir ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil. "Kami merasa kehilangan sekali. Sulit mencari pengganti beliau," komentar Rektor UGM, Prof. Dr. Sofian Effendi. (SH/yuyuk sugarman) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Ever feel sad or cry for no reason at all? Depression. Narrated by Kate Hudson. http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

