31.05.2005
Perancis dan referendum UE
Oleh: Bernd Riegert
Perancis yang dulunya paling gigih memperjuangkan
kerjasama dan integrasi Eropa, kini justru
mendatangkan krisis dengan menolak konstitusi UE.
Tetapi walaupun konstitusi itu mungkin tidak dapat
diselamatkan lagi, bukanlah berarti bahwa UE juga akan
tamat riwayatnya. Lembaga ini hanya harus melakukan
instrospeksi dan mengurangi laju kecepatan dalam soal
intensifikasi dan perluasan keanggotaan. Mungkin
inilah segi positif dari referendum di Perancis.
Penolakan Perancis sudah dapat diduga. Sejak
berminggu-minggu sudah jelas, konsep konstitusi itu
tidak didukung suara mayoritas di Perancis. Tetapi
para politisi Eropa tidak mau tahu. Mereka tidak punya
alternatif bila muncul penolakan. Ketua Dewan Eropa
sekarang ini, Jean Claude Juncker dan ketua Komisi UE,
Jose Manuel Barroso di Br�ssel hanya dapat memberikan
keterangan yang tidak memuaskan. Semboyan mereka,
jalan terus! Tapi kemana? Ratifikasi konstitusi itu
akan dilanjutkan sampai musim gugur 2006. Baru
kemudian para kepala negara dan kepala pemerintahan UE
akan membuat evaluasi. Lalu?
Seandainya saja bila semua negara UE kecuali Perancis
menyetujui konstitusi itu, �hal mana sangat mustahil�,
kiranya tidak pada tempatnya untuk menyelenggarakan
terus referendum sampai hasilnya sesuai dengan yang
diinginkan. Untuk melakukan perubahan pada teks
konstitusi itu, juga mustahil, karena berarti
menggelar kembali permasalahannya. Semua negara akan
mengajukan keinginan masing-masing. Dampaknya adalah
tawar-menawar yang tidak ada akhirnya.
Dalam hal ini, slogan untuk maju terus tidak akan
membantu. Naskah konstitusi itu sudah tamat
riwayatnya. Tanpa Perancis konstitusi itu tidak dapat
diterima. Referendum selanjutnya, seperti di Belanda,
sebenarnya sudah tidak perlu diselenggarakan.
Jadi, apakah di Eropa sekarang muncul krisis? Kacau?
Semua itu diramalkan oleh para pendukung konstitusi,
bila ada penolakan. Tetapi perlu diragukan, apakah
memang akan timbul bencana. Karena dengan perjanjian
di Nice, sudah ada kerangka dan peraturan yang jelas.
Situasi sekarang mungkin dapat pula membawa hikmah.
Demikian prakiraan komisaris UE dari Jerman, G�nter
Verheugen. Karena sekarang para pemegang peranan harus
membuktikan, bahwa Eropa juga dapat menangani pukulan
yang terjadi, tetapi juga terus maju. UE akan terus
bekerja dan tidak akan bubar. Perancis juga tidak akan
keluar sebagai anggota.
Mula-mula diperlukan introspeksi mengenai kecepatan
integrasi dan gelombang perluasan keanggotaan.
Tenggang waktu ini akan berjalan beberapa tahun. Baru
kemudian "proyek konstitusi" tsb, yakni pelangsingan
dan demokratisasi dalam proses pengambilan keputusan
akan jalan lagi. Dapat saja kalau ada kelompok negara
yang terus mendalami beberapa bidang politik di luar
perjanjian-perjanjian yang sudah ada. Beberapa hal
tertentu juga dapat dilaksanakan tanpa konstitusi,
seperti misalnya pengangkatan seorang menlu bersama.
Tetapi tidak boleh terlalu banyak hal dikeluarkan dari
konsep konstitusi itu, karena berarti meremehkan
keinginan para pemilih di Perancis.
Yang pasti menjadi tema adalah keanggotaan Turki.
Patut dipertanyakan, apakah perembukannya akan
benar-benar dimulai tanggal 3 Oktober, dan apakah
sasarannya akan benar-benar keanggotaan penuh.
Presiden Perancis yang melemah posisinya karena
referendum itu dan kanselir Jerman yang di dalam
negeri juga terpukul posisinya, merupakan yang paling
gigih memperjuangkan keanggotaan Turki.
Apakah penolakan Perancis juga akan berdampak bagi
Rumania dan Bulgaria yang sudah menanda-tangani
perjanjian penerimaan? Saat ini sulit diramalkan.
UE akan harus lebih menggeluti tantangan sosial,
menghadapi kesenjangan ekonomi antara barat dan timur,
yang selama ini salah ditafsirkan. Juga mengurangi
kecepatan dalam soal intensifikasi dan perluasan
keanggotaan. Hal mana pada akhirnya mungkin sama
sekali tidak buruk.
Jajaran UE di Brussel jengkel terhadap presiden
Perancis, karena Jacques Chirac sebenarnya dapat hanya
meminta parlemen untuk meratifikasi konstitusi itu
daripada rakyatnya. Ia memilih jalan referendum atas
alasan politik dalam negeri, dan sekarang Eropa lah
yang harus menyelesaikan dampaknya. Kalau dulu ada Uni
Sovyet, kini yang ada adalah Semi-Uni Eropa.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site
http://smallbusiness.yahoo.com/resources/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/