SBY ke BillGates
apa untungnya ?



--- In ITB
Teman teman, 
Perkenankan saya nimbrung disini. Sebagai lulusan Fisika, 
pernah mengambil kuliah fisika teori (Superstring),
Fisika Komputasi, kerja di bidang ekonomi (analisa 
kebutuhan energi Indonesia), dan kerja di Transportasi
dan sekarang di lembaga penelitian kanker, mungkin ada
sesuatu yang bisa saya bagi disini. Yang jelas lebih
dari 50 persen hidup saya di USA (New York).
 
Melihat usaha pak SBJ menemui BG (Microsoft) dan melihat
reaksi teman-teman disini mengingatkan pertemuan kami
Permias dengan Pak Habibie tahun 1982. Sangat antusias dan
begitu antusiasnya kita lupa the big picture.
 
Saya tidak tahu persis maksud kedatangan SBJ di kampus MS,
tetapi kalau itu hanya "semata-mata" atas keinginan untuk
mengundang MS membuka research center di Indonesia, saya 
kira itu kurang tepat.
 
Tulisan Ichad benar, yang pada intinya:

1) perlu diperbaiki mutu pendidikan Indonesia, bukan hanya 
bahasa Inggris dan kwalitas bahan perkuliahan, yang lebih
penting lagi (menurut pendapat saya) adalah cara berpikir 
yang runut dan baik. 
Ini pengalaman saya, dengan cara berpikir yang baik, kita bisa
kerja dimana saja. Untuk Universitas level S1 dan S2, kita
sering terpaku dan berkiblat ke Perguruan Tinggi di USA.
Ini tidak ada salahnya, apalagi kalau berkiblat ke MIT, 
Harvard, Caltech, dsb. Tetapi gap dana dan pembeayaan sangat 
besar. Kita seharusnya bisa belajar juga dari India dan China
bagaimana mereka bisa menggelar universitas gratis dan bermutu
internasional. Saya melihat tayangan TV di 60 Minutes CBS 
dan PBS tentang kwalitas IIT. Disebutkan bahkan putra rektor
IIT bahkan presiden (perdana menteri) India pun tidak digaransi
bisa masuk IIT. Bahkan banyak pelajar yang tidak di terima
di IIT, malah diterima di Stanford, Cambridge, MIT, 
Harvard,dsb. Begitu kompetitipnya IIT, keluarga India yang
mempunyai putra dan putri yang brillian sudah mulai training
anak mereka sejak di SD ... supaya bisa masuk slot di IIT yang
gratis itu.
 
2) Managerial skill. yang diungkapkan saudara Ichad benar
yaitu kita tidak bisa bilang "No" ke orang asing, terutama
kalau mereka itu Bule. Ini cilaka besar, karena kita di
jadikan bulan-bulanan, dan bisa dianggap kita tidak punya
kapasitas diskusi ilmiah, tetapi kita juga tidak bisa asal
bilang "No". Harus ada argument yang baik. Indonesia di 
dunia bisnis sangat notorius, karena "Membuat perjanjian
dengan Indonesia sangat gampang, lebih alot membuat deal
business dengan Korea atau China, tetapi begitu perjanjian
ditanda-tangani tindak lanjut dari pihak Indonesia tidak
ada atau lamban sekali (sebaliknya dengan China dan Korea)."
 
Tambahan dari saya yang lain ialah:
3) Kita juga perlu memikirkan "competitive advantage" 
Indonesia. Pintar tetapi tidak ada team-work tidak 
kondusip untuk research. Pintar tapi salary yang diminta
sangat tinggi juga tidak bisa melawan India dan China.
Saya kira harus ada kerja sama antar Universitas di Indonesia
dan Departemen Ristek untuk melihat bidang-bidang apa
di IT yang Indonesia masih berpeluang untuk mengembangkan
dan belum di ambil oleh China, India, dan Eropa Timur dan
Rusia.
 
4) Kita jangan hanya membatasi bidang IT saja. Kalau saya
membatasi diri saya dengan hobbi, bidang yang saya kembang
kan adalah akselerator nuklir. Tetapi kita harus melihat
kepentingan yang lebih global (terutama melihat banyaknya
pengangguran di Indonesia) ... pilihan jenis industri apa
yang bisa menampung anak cucu kita dan sekali gus tetap
di frontier. Ini akan terasa sulit kalau kita di level 
"decision maker". ITB harus mampu eksplor "all possibilities".
 
5) Kita (terutama ITB) seharusnya mempunyai database dari
lulusannya yang bekerja di negara maju baik mereka yang
masih kerja di technical atau sudah mempunyai posisi
"decision maker". Syukur kalau network dengan decision maker
ex ITB ini bisa dijalin, karena mereka inilah yang bisa
menciptakan projek bersama.
 
6) Saya membaca riset MS di China yang web situsnya dicantumkan 
di milis ini. Ada kecenderungan untuk mengomentari lemah
nya riset di China dan India dengan membandingkan di USA.
Saya kira ini kurang tepat. Riset di Industri (berdasarkan
pengalaman saya) sangat berbeda dengan riset di Universitas
atau Government Lab. Di Industri lebih terpakai, tulisan
nya lebih merupakan aplikasi teori atau algoritme yang sudah
ada untuk kasus-kasus tertentu. Sedangkan di Universitas lebih
substansial dan mendasar. Riset bilangan Cantor tidak akan ada
di industri, hanya ada di univerisitas. Juga Superstring.
Tetapi kalau kita melihat riset Universitas di India dan China
mereka tidak kalah jauh dari di Barat untuk hal hal yang
fundamental (sedangkan Indonesia bahkan kalah dibandingkan
dengan Vietnam).
 
7) Kembali kepada tujuan SBJ di MS. Kalau tujuannya untuk
mengundang Microsoft membuka riset center di Indonesia,
secara strategi bisnis kurang mengena. Penasehat SBJ seharusnya
menyarankan beliau untuk mengunjungi kompetitornya juga, supaya
ada "bargaining position". MS membuka research center di
China dan India tidak semata-mata disebabkan oleh kecanggihan
peneliti dan SDM di kedua negara tersebut, juga bukan
semata-mata karena SDM mereka murah. Ada faktor binis disitu.
Yaitu kompetitor MS juga membuka research Center disana (IBM,
Novell, Oracle, RedHat dsb) dan pemerintah India maupun China
(joint dengan Korea dan Jepang) mencoba membuat OS baru
yang dilandasi Linux untuk melepaskan ketergantungan mereka
pada Microsoft (baca USA) terutama dalam hal-hal pertahanan
nasional. Kita bisa bayangkan kalau kita simulasi nuklir
atau satelit dengan software Microsoft ... apa yang terjadi?
 
Itu saja tambahan dari saya.
 
salam
a 



<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sepertinya akses kita ke SBY perlu di perbaharui karena sepertinya 
kita,
Alumni ITB ini kedahuluan langkah dalam upaya-upaya terobosan ini.

Nah...mungkin ketua IA-ITB jakarta yang baru, Mas Tito bisa mencoba
berperan menjembatani ini dan usaha ini bisa dimulai dengan 
mengadakan
seminar mengenai IT ini.....

Wassallam,


Joefriz

-----Original Message-----
From:  On Behalf
Of Bas
Sent: Monday, May 30, 2005 9:26 PM
Re: Microsoft's Cultural Revolution

Maaf , bukan saya mau membela SBY ..
kebetulan saya cukup mengetahui latarbelakang SBY bertemu dgn boss 
MS ..
ada beberapa rangkaian yang mendasari , tapi menurut saya pribadi.. 
yang
paling mendasari langkah SBY adalah masalah EULA di MS yg 
mengganggu ,
dimana EULA punya problem besar dengan pengembangan IT di IND ..

Ceritanya cukup panjang , 
tapi ini ada hubungannnya dengan sweeping oleh BSA pada warnet warnet
dan kantor kantor dimana jelas jelas ini menimbulkan problem besar 
bagi
pengembangan IT di IND serta bagi pengembangan UKM ..

terima kasih
-bsd-


On Tue, 31 May 2005, simanoengkalit wrote:

> Maaf kalau komentar saya mengganggu. Sebetulnya belum jelas benar 
apa 
> yang melatarbelakangi langkah SBY bertemu (bukan menemui) dengan 
BG, 
> tetapi sudah ada yang berani 'menghakimi' langkah SBY tersebut 
kurang 
> profesional. Belum jelas benar pula apakah benar SBY 'grasa grusu 
> tanpa persiapan' untuk bertemu BC, tetapi sudah ada yang berani 
> menyimpulkan bahwa SBY melakukannya tanpa konsultasi.
> 
> Bila untuk bertemu seorang William Gates saja seorang kepala 
negara 
> harus melakukan 'konsultasi yang menyeluruh dengan SEMUA elemen IT 
> Indonesia' dan harus membuang waktunya melakukan browsing agar 
> langkahnya terlihat profesional, kita nggak membutuhkan seorang 
> presiden, cukup seorang CEO perusahaan multinasional yang senang 
> menghabiskan waktunya untuk 'browsing'.
> 





--- End forwarded message ---





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke