http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/02/utama/1790955.htm

 
Kasus Bom di Poso
Dua Orang Terus Diburu, 13 Sudah Ditangkap 

Poso, Kompas - Empat hari pascapeledakan bom di Tentena, Kabupaten Poso, 
Sulawesi Tengah, aparat kepolisian sudah menangkap 13 orang yang diduga kuat 
terlibat kasus yang mengakibatkan 21 orang tewas tersebut. Dua orang yang 
diduga sebagai pelaku utama, yakni E dan AT, saat ini sedang diburu polisi. 
Mereka semua juga diduga terlibat serangkaian kasus lain di Poso dan 
sekitarnya, Ambon, serta Seram.

Kepala Kepolisian Negara RI (Polri) Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar bersama 
sejumlah petinggi Polri, Rabu (1/6) kemarin, mengunjungi Poso untuk mendengar 
langsung hasil yang sudah diperoleh aparat kepolisian di lapangan berkaitan 
dengan upaya pengungkapan kasus peledakan bom di Tentena. Kepala Polri juga 
mengunjungi para korban luka yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit.

"Saat ini sudah 13 orang yang ditangkap petugas. Mereka adalah orang-orang yang 
terlibat serangkaian kasus di Poso dan sekitarnya, Ambon, serta Seram, Maluku. 
Saat ini aparat masih mencari dua orang yang diduga kuat sebagai pelaku utama, 
yakni E dan AT," ujar Da'i dan Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah 
(Sulteng) Brigjen (Pol) Ariyanto Sutadi kepada wartawan di Poso kemarin.

Dari 13 orang yang sudah ditangkap itu, pihak kepolisian baru mengungkapkan 
inisial delapan orang, yakni Hsm, Jf, Sup, AKS, Is, Iw, Her, dan AY. Sejauh ini 
polisi juga belum mengungkapkan motif peledakan bom tersebut. Kemarin tujuh 
dari 13 orang itu sudah berada di Markas Polda Sulteng di Palu, sedangkan enam 
orang lainnya sedang dijemput di Pendolo, ibu kota Kecamatan Pamona Selatan.

TNT dan florat

Kepala Polri mengemukakan, selain keterangan saksi-saksi dan bukti-bukti yang 
ditemukan petugas forensik di lokasi kejadian, polisi juga menemukan bukti baru 
yang makin menguatkan keterlibatan ke-13 orang tersebut. Di antara bukti itu 
adalah bahan trinitrotoluena (TNT) dan florat yang ditemukan di mobil milik AKS.

Di salah satu mobil milik AKS, yaitu mobil Isuzu berpelat merah dengan nomor 
polisi DN 302, polisi menemukan bahan TNT dan florat seperti yang terdapat di 
lokasi bekas ledakan bom di Tentena Sabtu pekan lalu. "Dari keterangan saksi 
dan temuan forensik misalnya, di mobil itu ada indikasi TNT dan florat yang 
memiliki kesamaan dengan bahan-bahan atau bukti yang ditemukan di TKP (tempat 
kejadian perkara-Red)," kata Da'i.

Tersangka pelaku yang masih diburu, lanjutnya, ada indikasi kuat terkait dengan 
peristiwa serupa di Ambon dan Seram, Maluku. Saat ini polisi melakukan 
pengejaran ke berbagai wilayah di Sulteng, di antaranya Kabupaten Tojo Una-Una, 
Parigi Moutong, Poso dan sekitarnya, hingga ke Palu dan semua daerah perbatasan 
yang diperkirakan dijadikan basis kelompok-kelompok yang dicurigai. "Jadi 
memang ada orang-orang yang ditengarai berada di TKP saat kejadian, tapi 
setelah dicari ke tempatnya sudah tidak ada," kata Da'i menjelaskan.

Terkait dengan keterlibatan Kepala Rumah Tahanan Poso Hsm (bukan kepala lembaga 
pemasyarakatan seperti berita sebelumnya), yang saat ini juga sudah ditetapkan 
sebagai tersangka, Selasa lalu polisi menggeledah rutan tersebut. Di tempat itu 
aparat menemukan sepucuk senjata api, sarung senjata api, tabung berwarna 
putih, pipa besi, dan beberapa potong besi.

Sejak peledakan bom Sabtu lalu, penjagaan terhadap rumah-rumah ibadah terus 
ditingkatkan. Di Palu, ibu kota Sulteng, semua rumah ibadah mendapat pengawalan 
baik dari aparat keamanan (polisi dan TNI) maupun keamanan internal (satpam).

"Sebetulnya sudah dilakukan pengawalan sejak Desember tahun lalu, tetapi dengan 
(kasus-Red) bom Tentena ini pengamanan semakin diintensifkan," ujar pengurus 
Badan Kerja Sama Gereja Se-Kota Palu, Pendeta Dharma Sallata.

Ia mengatakan, setiap gereja mendapat pengawalan dua personel, ditambah petugas 
satpam, dan sejumlah anak muda. "Memang kami meminta anak-anak kawula muda 
melakukan penjagaan, jadi mereka bergiliran. Rata-rata setiap malam dijaga 8-10 
orang. Pokoknya minimal enam orang yang menjaga. Ini dilakukan agar kita tidak 
seperti pemadam kebakaran," kata Pendeta Dharma.

Dua saksi lagi

Di Jakarta Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Soenarko D Ardanto 
kemarin mengungkapkan dua nama baru yang diperiksa sebagai saksi dalam kasus 
peledakan bom di Tentena. Dua orang yang diperiksa selama 7 x 24 jam itu adalah 
TF dan Wis. Tidak dijelaskan apakah TF dan Wis termasuk di antara 13 orang yang 
sudah ditahan di Palu. Namun, kedua nama itu belum pernah diungkapkan oleh 
Polda Sulteng.

Soenarko juga menyebutkan nama orang-orang yang diduga terkait dengan peristiwa 
Tentena, antara lain Hsm, Jf, Sup, AKS, Is, TF, dan Wis. Hsm bakal dijerat 
dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1951 tentang Keadaan Darurat. Sebab, Senin 
lalu saat polisi menyisir lokasi, di dalam mobilnya ditemukan senjata api dan 
senjata tajam.

"Sedangkan Jf, Sup, dan TF ikut diperiksa intensif karena saat sweeping mereka 
berada di dalam mobil Hsm. AKS ditangkap Senin malam, yang disusul dengan 
penangkapan Wis dan Is," papar Soenarko yang didampingi Kepala Bidang 
Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Zainuri Lubis.

DPD kirim tim ke Poso

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) akan mengirimkan tim dari Panitia Ad Hoc (PAH) 
III terkait dengan peledakan bom di Tentena. Tim yang terdiri atas Ali Warsito, 
Faisal Mahmud, dan Ishak Pamumbu Lambe tersebut berangkat Kamis ini untuk 
mencari data yang menyangkut pemetaan wilayah konflik dan solusi yang tepat 
untuk menyelesaikan persoalan di Poso.

Dalam jumpa pers di Jakarta kemarin Faisal mengatakan, tim akan bertemu dengan 
para korban ledakan di Tentena, pemuka masyarakat, serta otoritas setempat. 
Prinsipnya, tim DPD mengharapkan percepatan pemulihan dan harmonisasi 
masyarakat Poso, termasuk di antaranya penanganan pengungsi dan pengamanan 
sarana-prasarana umum di wilayah itu.

Mereka juga berharap agar polisi bisa segera menangkap pelaku sekaligus 
mengungkap tuntas teror yang terjadi di Poso.

Lambe menyebutkan, pasca-Deklarasi Malino sebenarnya sudah ada perbaikan di 
Poso. Rekonsiliasi dan rehabilitasi mulai berjalan sekalipun masih ada 
kekurangan, salah satunya terlihat dari masih adanya teror oleh pihak yang 
tidak bertanggung jawab. (REN/SSD/ADP/dik)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke