http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/02/daerah/1790654.htm

 
Penanganan Busung Lapar di NTB Masih Sebatas Kegiatan Seremonial 


Mataram, Kompas - Meski upaya menekan jumlah penderita gizi buruk atau busung 
lapar mulai tampak, namun jajaran Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan 
pemerintah kabupaten/kota umumnya belum membuat langkah konkret di lapangan. 
Mereka masih berkutat dengan rapat, pertemuan, dan kegiatan seremonial yang 
membahas soal sumber dana maupun rencana penanganan kasus tersebut.

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, misalnya, mengadakan rapat dengan sejumlah 
instansi dan para camat, Selasa (31/5) di Desa Giri Menang. Rapat yang dipimpin 
H Hamdan, Asisten II Pemkab Lombok Barat, didampingi Kepala Dinas Kesehatan 
Lombok Barat Lalu Duarne itu antara lain memutuskan akan menyediakan paket 
santunan makanan bergizi untuk keperluan 3-4 bulan bagi anak balita gizi buruk.

Juga terkait dengan agenda pekan penimbangan balita, dibentuk tim kerja Sistem 
Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) serta mendata kantong gizi buruk. Untuk itu 
diperlukan koordinasi antarinstansi terkait meski sumber dana belum tersedia.

Kabupaten Lombok Tengah malah belum menentukan aksi nyata di lapangan. "Kami 
lihat ada undangan rapat besok (Rabu kemarin-Red)," ujar Amat, Kepala Subbagian 
Pemberitaan Bagian Informasi dan Komunikasi Pemkab Lombok Tengah.

Hal yang sama disampaikan Abdurrahim, staf protokol Pemkab Dompu, Pulau 
Sumbawa. Dia mengatakan, rapat tindak lanjut penanganan gizi buruk baru 
dilaksanakan Rabu. Sementara HM Amin, Pelaksana Tugas Humas Pemkab Lombok 
Timur, menyebutkan belum tahu langkah penanganan gizi buruk. Amin meminta agar 
Kompas menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur Hafid, yang ternyata 
sedang menghadiri pertemuan dengan DPRD Lombok Timur.

Memang ada sejumlah puskesmas yang berinisiatif melakukan pendataan dan 
menggelar penimbangan anak balita. Selebihnya, aparat instansi bersikap 
menunggu dengan alasan tidak punya dana. Padahal, jumlah anak balita busung 
lapar bertambah terus tiap hari.

Selasa lalu ada tiga anak balita dirawat inap di Rumah Sakit Umum Mataram. 
Mereka adalah Hamdani (1) asal Dusun Medas, Desa Gunung Sari, Lombok Barat; 
Hardiansyah (2,3), asal Desa Bagik Polak, Lombok Barat; Saprudin (3), warga 
Lingkungan Kamasan, Kota Mataram.

Menurut dr Hananto Wiryo, pegawai RSU Mataram, para anak balita itu dirawat 
inap karena mengalami busung lapar (marasmus kwarsiorkor). Dengan demikian, 
periode Januari hingga 31 Mei 2005, sebanyak 70 anak balita dirawat di RSU itu, 
delapan di antaranya meninggal. Saat ini tinggal enam anak yang masih dalam 
perawatan petugas RSU Mataram.

Bahkan di Kabupaten Sumbawa Barat ditemukan dua kasus busung lapar. Satu di 
antaranya Andika (3), warga Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang, meninggal hari 
Minggu. Menurut laporan yang diterima Dinas Kesehatan NTB, Andika meninggal 
karena kelainan bawaan, tetapi saat dirujuk diduga menderita busung lapar.

Wakil Kepala Dinas Kesehatan NTB dr IK Gerudug menyebutkan, implementasi 
kegiatan lapangan guna menekan kasus busung lapar yang sudah dinyatakan sebagai 
kejadian luar biasa (KLB) diserahkan ke masing-masing kabupaten/kota seperti 
pekan penimbangan balita. Sebelum melakukan langkah intervensi, perlu 
diintensifkan SKPG. Sistem ini khusus menjaring informasi awal atau deteksi 
dini sebagai bahan melakukan kegiatan intervensi.

KLB

Gubernur NTB Lalu Serinata menginstruksikan beberapa puskesmas menindaklanjuti 
keputusan itu dengan menggelar pekan imunisasi seperti Puskesmas Karang Pule, 
Kota Mataram. Namun, jajaran pemerintah kabupaten/kota belum semuanya merespons 
imbauan itu secara nyata. Kalaupun ada, masih sebatas membahas rencana 
operasional, selebihnya penanganan kasus busung lapar kurang mendapat perhatian.

Reaksi itu terlihat dari pantauan Kompas di sejumlah puskesmas di Lombok Tengah 
dan Lombok Timur. Misalnya, di Puskesmas Pangadang, Desa Pengadang, Lombok 
Tengah, yang petugasnya hanya menjalankan tugas dan pelayanan rutin. Mereka 
mengatakan belum mendapat instruksi dari Bupati Lombok Tengah soal langkah 
lebih intensif guna menekan jumlah kasus gizi buruk. Mereka hanya terpaku pada 
aktivitas rutin, seperti penimbangan bayi di posyandu sekali sebulan.

KEP

Meski kasus gizi buruk tidak terjadi di desa itu, tetapi diakui banyak anak 
balita yang terindikasi kekurangan asupan makanan bergizi (kekurangan energi 
protein atau KEP), yang ditunjukkan bawah garis merah (BGM) dalam kartu menuju 
sehat (KMS). Kondisi gizi anak balita itu diketahui dari kunjungan ke lokasi 
penimbangan. Hanya jumlah anak balita yang ditimbang (D/S) belum memenuhi 
target.

Izala Aoham SKM, Koordinator Sistem Informasi Kesehatan Puskesmas Pengadang, 
menyebutkan, anak balita yang datang dan ditimbang pada Januari 2005 sebanyak 
1.947 orang atau 62,64 persen dari sasaran, 3.108 orang. Februari anak balita 
yang datang 2.149, Maret 1.961, dan April 1.893 anak balita, lebih rendah dari 
sasaran, 3.108 orang. D/S di puskesmas itu merupakan angka rata-rata di seluruh 
NTB.

Dari jumlah yang datang menimbang, selalu ditemukan anak balita kekurangan 
gizi. Pada Januari 2005 tercatat 20 anak balita yang gizinya berada pada BGM, 
Februari 26 orang, Maret 20 orang, dan April 26 orang.

Pihak puskesmas khawatir persentase kedatangan anak balita yang ditimbang akan 
menurun. "Kalau ada program makanan tambahan atau pembagian makanan pendamping 
air susu ibu, banyak ibu datang nimbang bayinya. Sebaliknya, kini kalau cuma 
nimbang, para ibu malas ke posyandu," ucap Hj Baiq Rosida, bidan Puskesmas 
Pengadang.

Upaya yang dilakukan pemerintah setempat adalah membuat pos komando di tiap 
desa dan kecamatan, diperkuat sejumlah petugas yang selain menyediakan susu dan 
makanan bergizi dan berprotein, juga memantau kantong-kantong anak balita gizi 
buruk. Strategi itu ditempuh karena bukan mustahil mereka yang dinyatakan 
sembuh dari busung lapar akan kembali dirujuk dan dirawat inap akibat rendahnya 
daya beli masyarakat.

Hadi Faesal, anggota DPRD NTB, menegaskan, untuk memperbaiki kesehatan anak 
balita tidak sebatas dalam bentuk seremonial, tetapi harus diikuti dengan aksi 
sehingga menjadi gerakan massal. (RUL/COK/CAL)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke