http://www2.rnw.nl/rnw/id/news/gemawarta/#4458720
Jakarta Harus Memilih: Ada Partai-Partai Politik Bagi Aceh Atau Helsinki Gagal Pasca putaran keempat, menjadi jelas, pembicaraan perdamaian Aceh di Helsinki kini memasuki tahap kritis yang menentukan. Bill Clinton pernah memperingatkan lawan politiknya dengan kata-kata yang masyhur: It's the economy, stupid! Sekarang, Helsinki membawa pesan serupa bagi Jakarta: It's the political participation, stupid! Jakarta harus menentukan pilihan di tengah dilema: membuka peluang bagi partisipasi partai-partai politik lokal di Aceh, atau membuat proses Helsinki, gagal. Ulasan rekan Aboeprijadi Santoso dari Helsinki Musibah tsunami akhirnya membawa ujian berat bagi Indonesia. Tidak hanya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang harus sukses, tapi Jakarta juga harus membuka halaman politik baru bagi Aceh. Musibah yang memacu proses perdamaian Helsinki sejak Januari yang lalu itu, kini menghasilkan tantangan baru. Pada putaran kedua Helsinki, Februari lalu, pihak Gerakan Aceh Merdeka GAM tampil dengan terobosan: yaitu menanggalkan tuntutan kemerdekaan. Dengan demikian, perundingan dapat dipastikan tidak sia-sia dan dapat berjalan terus dan memang demikianlah kenyataannya. Tapi sekarang, pada putaran keempat, tiba saatnya Jakarta harus membayar konsesi GAM itu, dengan konsesi pula. Tapi sejauh proses yang telah berjalan lima bulan ini, konsesi Jakarta belum juga tampak. Sofyan Djalil, anggota delegasi RI, mengatakan, "imbalannya, ya perdamaian itulah!" Sebaliknya, anggota delegasi GAM Nur Djuli mengelak, "tentang soal itu, kita lihat nantilah, kan perundingan masih berjalan," katanya. Pendekatan Ketua CMI Crisis Management Initiative, Martti Ahtisaari, yang menjadi penengah, bisa membuat proses ini menjadi dramatis. Soalnya, Ahtisaari memilih pendekatan "nothing is agreed until everything is agreed" artinya, tidak ada kesepakatan sebelum semua hal disepakati. Yang berarti "all or nothing," meraih persetujuan, atau sama sekali tidak. Nah putaran kelima Juli mendatang akan memberi gambaran yang jelas. Ahtisaari akan menulis dokumen dasar yang akan dikirim sebelum kedua pihak datang untuk putaran terakhir itu, dan di situ RI dan GAM harus mematangkan dokumen tersebut menjadi suatu memorandum persetujuan. Kalau ini gagal, maka rekonstruksi pasca-tsunami dapat terancam dan konflik dapat berkepanjangan. Banyak masalah memang telah dipahami sebagai titik-titik temu, terutama soal bagi hasil sumber ekonomi, cara menggelar pemerintahan daerah, amnesti dan reintegrasi anggota GAM dan soal monitoring. Ada juga soal soal yang belum mulus, seperti soal pengaturan keamanan, pilkada dan pemilu daerah. Tetapi, di antara soal-soal prinsipil yang tersisa, paling kunci, adalah soal partisipasi politik. Jakarta mengira GAM ingin tampil sebagai partai politik di Aceh dan serta merta menampik kemungkinan itu. Khususnya DPR, mungkin juga kalangan mabes Cilangkap dan sebagian opini publik, berpendapat, membuka kemungkinan adanya partai-partai politik lokal sama saja dengan memacu potensi potensi primordial yang di masa orde baru disebut SARA, khususnya sentimen sentimen etnik dan kedaerahan, yang dikhawatirkan dapat mengancam negara kesatuan. Di lain pihak, ini menyangkut Aceh, daerah yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia tapi merasa terlampau lama dizalimi dan kini ingin mandiri. Selain itu, kalau Aceh sekarang mau berdamai di bawah NKRI, maka peluang pun harus diberikan asalkan meninggalkan cara-cara kekerasan. Dengan kata lain, ini menyangkut soal prinsip demokrasi yang universal. Di mana pun juga, demokrasi harus menyediakan wadah politik bagi aspirasi warganya. Tetapi karena partai partai yang ada harus mencakup skala nasional, yaitu hadir di 22 dari 30an propinsi, maka jelas partai-partai seperti Golkar, PDIP dll, tidak mungkin mewadahi aspirasi-aspirasi yang ada di Aceh. Jadi, keberadaan partai politik lokal menjadi soal prinsip bagi demokrasi Aceh. Yang menarik, penengah mantan presiden Finlandia Martti Ahtisaari tampak sangat memahami ini pula. Bahkan dia secara jelas menduga, kalau tidak ditemukan solusinya, soal ini bisa membuat proses Helsinki gagal. Martti Ahtisaari: We have to find a way so that anyone who wants to participate in the political life will have a chance to do that. There are a lot of complications under the present legislation for that. We are trying to look for ways and means. I can't give you the answer how that may be solved. But I think there is an understanding that if we can't solve the issue, very candid with you, I don't think that we can have the settlement either, because if the only option would be to joint the existing political parties, that's not the real options. At the same time, when one understands the basic philosophy of the Indonesian legislation to try to keep the enormously vast territory together with the present legislation, we'll have to see how that issue can be solved. But I think the principle is understood that it would be highly unlikely that we would have an agreement if the GAM couldn't participate like any other political groups under whatever name, not necessarily GAM, in the political process. I think if I recall correctly, the first elections are for the governor of Aceh and later there are going to be elections for local government as well. But that's definitely an issue that we need a solution. Terjemahan: Kita harus menemukan jalan sehingga siapa saja yang ingin ikut serta dalam kehidupan politik akan memperoleh kesempatan. Untuk itu keadaannya sangat rumit dalam undang-undang sekarang. Kami berupaya mencari jalan dan cara. Saya tidak bisa menjawab bagaimana masalah ini akan dipecahkan. Tetapi saya kira ada pemahaman bahwa kalau kita tidak bisa memecahkan masalah ini, saya berterung terang ini, maka tidak akan ada penyelesaian juga, karena kalau satu-satunya pilihan hanya bergabung dalam partai politik yang ada, maka itu bukanlah pilihan yang sebenarnya. Pada saat yang sama, kalau seseorang paham falsafah hukum Indonesia yaitu berupaya mempersatukan negara yang begitu luas, maka harus dilihat bagaimana masalah ini bisa dipecahkan. Tetapi saya kira dasarnya dipahami bahwa akan sangat sulit dicapai persetujuan kalau GAM tidak bisa ikut dalam kelompok politik manapun juga, dengan nama apapun, tidak harus GAM dalam proses politik di Aceh. Kalau tidak salah pemilihan daerah pertama adalah pemilihan gubernur Aceh dan sesudah itu pemilhan pemerintah daerah. Jelas ini merupakan masalah yang harus diselesaikan. Demikian penengah perundingan, Ketua CMI Martti Ahtisaari. Walhasil, kini jelas, CMI, GAM dan terutama Jakarta, harus kreatif dan imajinatif untuk menemukan cara yang tepat di tengah dilema antara demokrasi dan negara kesatuan. Artinya membuka peluang partai politik lokal tanpa mengancam kesatuan Indonesia. Ingat, politik adalah sebuah seni kreatif. Dan, seperti kata Clinton, soal Helsinki adalah "soal partisipasi politik, bego!" | Ke atas | Pers | Internasional | Belanda | Indonesia | Soal Partisipasi Politik dan Monitoring Jadi Masalah Kunci Perdamaian Aceh Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, selaku ketua CMI, Crisis Management Initiative, Selasa kemarin mengumumkan bahwa CMI, lembaganya akan menyusun dokumen dasar bagi persetujuan yang akan dibahas pada pembicaraan terakhir 12 Juli yang akan datang di Helsinki. Apabila kesimpulan-kesimpulan dalam dokumen dasar itu disetujui, maka dokumen itu akan menjadi persetujuan yang akan ditandatagani kemungkinan besar Agustus. Kepada Radio Nederland Ahtisaari membenarkan bahwa kalau tercapai persetujuan maka sebagian tentara Indonesia dan brimob akan ditarik mundur dan diadakan perlucutan senjata dan gerilya GAM dan milisi-milisi yang ada. Lebih jauh laporan Aboeprijadi Santoso dari Helsinki. Mantan Presiden Martti Ahtisaari dalam penutup putaran keempat ini mengungkap berbagai masalah, dari soal pemerintahan sendiri, partisipasi politik, bagi hasil ekonomi, amnesti dan reintegrasi anggota GAM ke dalam masyarakat, masalah hak-hak azasi manusia dan keadilan, sampai pengaturan keamanan dan monitoring. Ahtisaari juga mengungkap bahwa keprihatinannya tentang kekerasan di lapangan, telah mendorong dirinya untuk berkunjung ke Jakarta pada 11 sampai 18 Mei yang lalu untuk menemui Presiden Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan Panglima TNI dan juga Dutabesar Uni Eropa di Jakarta. Memang belum ada komitmen Uni Eropa untuk mengirim misi pemantauan, tetapi, demikian Ketua CMI Ahtisaari, jika persetujuan tercapai, monitoring Eropa dan ASEAN itu perlu untuk mengawasi pelaksaaan persetujuan kelak. Martti Ahtisaari: They are not peace keeping forces, I emphazise they are not peace keeping forces, they are monitors that are supposed to be monitoring the undertakings in the agreement. Yes, there is going to be, if the agreement in reached, it has to include the decommissioning of the arms of GAM, and also the militias that have been established there, plus the withdrawal of the national forces and police. And we need to discuss then how this is interlinked. That is the subject for our discussion later on. Terjemahan: Mereka bukanlah pasukan perdamaian, saya tekankan lagi mereka bukanlah pasukan perdamaian. Mereka adalah pemonitor yang akan mengawasi hal-hal yang telah disepakati dalam perjanjian. Kalau nanti dicapai persetujuan maka itu akan harus mencakup perlucutan senjata GAM dan pelbagai milisia lain yang sudah dibentuk di sana. Termasuk penarikan mundur pasukan dan polisi nasional. Kita masih harus merundingkan bagaimana ini berkaitan. Itulah pokok pembicaraan kita berikutnya. Jadi, demikian penengah CMI tersebut, tim-tim pemantau itu bukan pasukan perdamaian, dan, untuk itu, satuan-satuan bersenjata Indonesia harus ditarik dan satuan gerilya dan milisi dilucuti, katanya. Demikian Martti Ahtisaari kepada Radio Nederland. Sementara itu, ketua delegasi Jakarta Hamid Awaluddin bersuara lebih optimistis. Putaran berikut harus menjadi putaran terakhir, katanya. Dia pun menyatakan puas atas suasana dan hasil pembicaraan kali ini. Sangat friendly, sangat terbuka dan konsisten sejak Januari, katanya. Hamid Awaluddin: Artinya ada kesinambungan sehingga kami optimis setelah empat kali berunding, pada akhirnya nanti kita mencapai kesepakatan. Sebab tiap tahap perundingan agendanya sama, yang berbeda adalah penajamannya kemudian pendekatannya. Ya, jadi tidak ada agenda baru yang muncul. Kalau sebelumnya Hamid mengimbau agar DPR memahami perlunya proses Helsinki, karena konflik Aceh amat mendalam, sekarang, tentang penarikan tentara dan perlucutan gerilya dan milisi, Hamid hanya berkata datar dan umum saja. Hamid Awaluddin: Ya itu adalah bagian dari penyelesaian nanti. Meski pun tetap optimistis dan berhati-hati, namun jurubicara GAM Bachtiar Abdullah menyebutkan ada tiga hal yang tampak mengganjalnya. Yaitu soal pemilihan gubernur dan kepala daerah, soal partai-partai lokal, dan soal undang-undang pemerintahan daerah. Jadi, jelas, soal pemerintahan sendiri, dan terutama bentuk partisipasi masyarakat Aceh dalam partai-partai politik, ada benturan pandangan RI dan GAM. Penasehat GAM Damien Kingsbury menjelaskan, kalau benar-benar mau demokrasi, maka harus ada sarana pengungkapan suara, yaitu partai-partai politik lokal bagi masyarakat Aceh. Ini soal yang universal dan soal hakiki. Jadi itulah bottom line-nya, atau batasan bagi kami, katanya. Sebab, partai tingkat nasional tidak mungkin menyuarakan aspirasi rakyat, demikian jelas anggota delegasi GAM, Nur Djuli. Nur Djuli: Sangat penting bagi kami di Aceh untuk mempunyai hak membentuk partai politik lokal, karena dari komposisi penduduk tidak mungkin untuk orang Aceh membentuk sebuah partai politik secara demokrasi yang meliputi lebih daripada setengah propinsi di Aceh. Katakanlah berapa, saya pikir, dalam sekitar 22 propinsi, itu tidak mungkin. Itulah sebab penting, mengapa mesti ada partai politik lokal di Aceh. Karena itulah satu-satunya cara untuk orang Aceh hidup secara demokrasi dengan memilih pemimpin sendiri dan memerintah diri sendiri. Demikian Nur Djuli dan demikian pula laporan Aboeprijadi Santoso dari Helsinki. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Does he tell you he loves you when he's hitting you? Abuse. Narrated by Halle Berry. http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

