Benar sekali. Ini masukan yg sangat benar adanya. Dalam bahasa yg lebih sederhana, islam dikenal sebagai "ad dien wad daulah" --- jalan hidup dan memimpin negeri --- atau yg lebih moderat, menyatakan islam sebagai "ad dien wal ummah" --- jalan hidup dan mengelola komunitas ---
--- In [email protected], "A Nizami" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Islam yang sejati memang mencakup semuanya: way of life yang tentu > saja bertentangan dgn budaya Barat. Makanya oleh Samuel Huntington, > diramalkan bisa terjadi perang antara peradaban Barat dgn Islam. > > Pada zaman Nabi, dgn lingkup kekuasaan di sekitar jazirah Arab, Nabi > bukan cuma pemimpin agama, tapi juga pemimpin negara dan pemimpin > perang. Begitu pula dgn para sahabat yang jadi khalifah, di mana > lingkup negaranya meliputi negara2 Arab Saudi, Yaman, Siria, Iraq, > Mesir, dsb, Islam merupakan agama dan sistem kenegaraan yang > berlandaskan agama. > > 2 Superpower dunia saat itu, "Barat" (Byzantium) dan Persia, keok di > tangan Islam...:) > > --- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Yang membuat saya selalu bingung terhadap artikel2 begini adalah: > > mengapa Islam selalu dibandingkan dengan Barat, Jepang, dll. > > Kayaknya kok gak paralel gitu. Kalo mau membandingkan ya Timur > > dengan Barat, Jepang dengan Amerika, Indonesia dengan Jepang. > Atau: > > Islam dengan Kristen, Islam dengan Hindu, Islam dengan Budha, > > Kristen dgn Budha. Atau lagi Pengarau Ajaran > > Islam/Kristen/Budha/Hindu terhadap kemajuan suatu Bangsa.... > > > > Atau memang telah diakui didunia, tanpa disadari, bahwa Islam itu > > bukan sekedar agama...:-) yang bisa di 'sanctuary' kan??? > > > > wassalam, > > Lina > > --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Mengapa Kita Perlu Meniru Barat? > > > Oleh Ulil Abshar-Abdalla > > > 31/05/2005 > > > Solusi yang harus ditempuh oleh umat Islam sudah dicontohkan > oleh > > Jepang, yaitu meniru Barat, menerapkan rasionalisasi atas > kehidupan, > > dan memodernisir teknik; agama sebaiknya ditempatkan > > dalam "sanctuary" yang namanya ruang privat. Bahwa Barat harus > > ditiru secara kritis itu sudah merupakan kebenaran dalam dirinya > > (truisme). Jepang pun meniru Barat dengan kritis pula. > > > > > > Tantangan umat Islam sekarang ini persis seperti yang dihadapi > > Jepang pada abad 18 dulu. Ketika itu, intelektual Jepang > dihadapkan > > pada pilihan yang sulit: apakah menerima dan meniru Barat atau > tetap > > berpegang pada warisan Tokugawa yang menutup diri total dari > > pengaruh asing. Hashim Saleh pernah menulis mengenai hal ini di > > harian Al Hayat. Jepang menempuh jalur "nekad" yang ternyata > benar: > > tirulah Barat. Sebagian besar intelektual Muslim selama peralihan > > abad 20 mengusulkan opsi serupa, "tirulah Barat, karena di sana > > terdapat hal-hal yang menjadi rahasia kemajuan umat manusia." > Kalau > > kita baca "Arabic Thought in Liberal Age" karya Albert Hourani, > akan > > tampak bahwa semangat rasionalisme dan keinginan meniru Barat > begitu > > menonjol dalam kesadaran intelektual Islam pada abad 19 dan awal > > abad 20. > > > Arusnya kemudian berbalik pada tahun 70-an, terutama dimulai > dari > > Timur Tengah, yaitu ketika terjadi pengalaman pahit "Perang Tujuh > > Hari" (dikenal sebagai "an nakbah") di tahun 1967 di mana negara- > > negara Arab kalah perang terhadap Israel. Rezim-rezim otoriter di > > Timteng yang kebanyakan mendukung opsi "tirulah Barat" gagal > > memenuhi harapan publik, sehingga datanglah kaum Ikhwan dengan > > jargon besar yang menipu, "Al Islam huwal badil". Semboyan Ikhwan > > itu memupus warisan penting yang ditinggalkan oleh orang-orang > > semacam Rifa'ah Tahtawi, yaitu warisan rasionalisme. Dengan > semboyan > > itu, dikesankan seolah-olah Islam adalah sistem alternatif yang > sama > > sekali bertolak belakang dengan Barat yang --menurut mereka-- > > "dekaden" secara moral. Islam, dengan demikian, ditampilkan > sebagai > > agama yang memusuhi hasil-hasil penting dari rasionalisme Barat, > > seperti sistem demokrasi. Mengusulkan Islam sebagai "al badil" > > adalah kekalahan kedua setelah kekalahan bangsa Arab terhadap > Israel. > > > > > > Memang problem besar yang dihadapi oleh bangsa Arab adalah > warisan > > institusi negara di sana yang begitu raksasa. Kekuatan-kekuatan > > alternatif dalam masyarakat sulit berkembang, seluruh potensi ke > > arah pembangkangan diberangus. Hasilnya: negara yang begitu kuat, > > tetapi sekaligus tak terkontrol. Korban dari "negara kontrol" ini > > bukan saja kaum oposisi sekuler, tetapi lebih-lebih adalah kaum > > oposisi Islam. Inilah pengalaman pahit yang dialami oleh kaum > > Islamis di Mesir, Al Jazair, Siria, Irak, dan lebih parah lagi > Saudi > > Arabia. Paradoks di dunia Arab adalah bahwa keinginan untuk meniru > > Barat dan rasionalisme justru diselenggarakan melalui "negara > > kontrol" yang represif. Sudah bisa diduga jika hasil dari semua > ini > > adalah kekecewan besar masyarakat Arab. Kekecewaan itu makin dalam > > ketika bangsa Arab melihat kenyataan lain, yaitu berdirinya negara > > Israel. Masalahnya menjadi lebih parah lagi karena berdirinya > negara > > Isreal itu tejadi karena sokongan negeri-negeri Barat terutama AS. > > Ujung dari semua ini sudah bisa diduga: menolak Barat berikut > > rasionalisme yang terkandung di dalamnya. Manakala Barat ditolak, > > sudah tentu alternatif harus diajukan. Ditemukanlah "lampu Aladin" > > baru, yaitu Islam. > > > > > > Perkembangan di Arab itu juga mengimbas ke kawasan-kawasan lain. > > Jargon "Islam adalah solusi" juga kemudian ditiru di mana-mana. > Lalu > > muncullah ilusi bahwa Islam akan dapat menjadi sistem alternatif > > yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat > > Islam. Yang patut disayangkan adalah bahwa kata "Islam" dalam > jargon > > itu dimengerti sebagai suatu sistem tertutup yang seolah-olah khas > > pemberian Tuhan, sudah lengkap dalam dirinya, sudah siap pakai, > > pasti sesuai untuk segala zaman dan tempat. Islam juga dimengerti > > dalam tafsiran yang justru berlawanan dengan kehendak zaman itu > > sendiri, bahkan terkesan anti-rasionalisme dan intelektualisme. > Saya > > dapat mengatakan dari sejak mula, proyek "Islam adalah solusi" > > kemungkinan besar akan menemui kegagalan pula. > > > > > > Solusi yang harus ditempuh oleh umat Islam sudah dicontohkan > oleh > > Jepang, yaitu meniru Barat, menerapkan rasionalisasi atas > kehidupan, > > dan memodernisir teknik; agama sebaiknya ditempatkan > > dalam "sanctuary" yang namanya ruang privat. Bahwa Barat harus > > ditiru secara kritis itu sudah merupakan kebenaran dalam dirinya > > (truisme). Jepang pun meniru Barat dengan kritis pula. Apa yang > > dibutuhkan umat Islam sekarang ini adalah melakukan rasionalisasi > > atas dua bidang sekaligus. Pertama, rasionalisasi atas pengelolaan > > kehidupan sosial-politik. Wujudnya adalah sistem demokrasi dengan > > seluruh kerangka kelembagaan dan kebudayaan yang ada di dalamnya: > > partai yang kuat, parlemen yang berwibawa, lembaga peradilan yang > > independen, pers bebas, masyarakat sipil yang "vibrant", serta > > kultur sipil yang mapan. Yang kedua, rasionalisasi atas > pengelolaan > > alam. Wujudnya adalah teknologi. Bagi saya, rasionalisasi dalam > dua > > bidang itu sekaligus merupakan hal niscaya kalau umat Islam hendak > > meraih kemajuan seperti yang diperoleh Barat. Bangsa-bangsa lain > di > > Asia yang sudah mulai "catch up with the wagon" dan mampu > meletakkan > > diri sejajar dengan Barat, kurang lebih menempuah jalur semacam > itu. > > > > > > Sebagian umat Islam ada yang membuat pembedaan antara sistem > > sosial dan teknik. Dalam lapangan pertama, umat Islam harus > > menciptakan sistem sosial sendiri yang "asli" Islam, sementara > dalam > > lapangan kedua Barat bolehlah ditiru. Artinya: rasionalisasi dalam > > sistem sosial tidak dihindari; rasionalisasi hanya dimungkinkan > > dalam segi teknik. Taqiyyuddin An Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir, > > membedakan antara "madaniyyah" dan "hadlarah". Madaniyyah adalah > > peradaban yang meliputi teknik; hadlarah adalah kerangka normatif > > dan sistem sosial yang mengatur kehidupan masyarakat.. Barat bisa > > diterima pada level "madaniyyah", bukan pada level "hadlarah". > Bagi > > saya, pembedaan semacam ini adalah pembedaan yang kurang perlu. > Bagi > > saya, rasionalisasi justru lebih mendesak dalam bidang pengelolaan > > kehidupan sosial. Apa gunanya umat Islam menguasai teknik, > kemudian > > teknik itu diterapkan dalam kerangka sistem sosial yang otoriter. > > Osama bin Laden menguasai teknologi komunikasi Barat yang paling > > mutakhir, memanfaatkannya, tetapi dia mengajukan visi tentang > sistem > > sosial Islam yang sama sekali tidak rasional, yaitu sistem sosial > > yang eksklusif, anti-demokrasi. > > > > > > Saya tidak mempunyai harapan pada dunia Arab. Sistem sosial di > > sana begitu busuknya, sehingga amat susah membayangkan adanya > > perubahan dan reformasi dalam waktu dekat. Halangan terbesar > > kemajuan Islam via jalan rasionalisasi di Timur Tengah adalah > > kekuasaan dua rezim" sekaligus: rezim politik yang bengis, dan > rezim > > agama yang tak kalah bengisnya. Kedua rezim itu saling > bergandengan > > tangan dan menolak segala kemungkinan perubahan. Saya > > mengharapkan "light at the end of tunnel" di kawasan Asia > Tenggara, > > dengan tulang punggungnya Malaysia dan Indonesia. Jalan kemajuan > > Islam sudah terang benderang: modernisasi di bidang sistem sosial > > dan teknik. Kendala utama proyek ini adalah ide-ide irrasional > > semacam negara Islam, sistem Islam, dan yang serupa dengan itu. > > > > > > Kembali pada pokok soal: rasionalisasi dan menempuh kemajuan > > seperti yang pernah ditempuh oleh Barat. Itulah kunci kemajuan > dunia > > Islam Melayu. Yang amat saya sayangkan adalah bahwa "anti- > Baratisme" > > sekarang ini berkembang luas, entah yang atas nama anti- > globalisasi, > > poskolonialisme, dan sebagainya. Teman-teman saya yang sedang > getol > > menggeluti teor-teori baru dalam "Cultural Studies" begitu > terlelap > > dalam keterpukauan atas segala hal yang bersifat lokal dan > hibridal: > > hal-hal yang memang menjanjikan eksotisme. Nasihat saya: tundalah > > dulu kehendak untuk menikmati eksotisme, dan pikirkan nasib jutaan > > umat Islam di kawasan Melayu yang terpuruk dalam kemunduran, dan > > karena itu begitu mudah menjadi santapan "ideologis" bagi kaum > > Jama'ah Islamiyah. Bagi saya, modernisasi di dunia Islam sekarang > > ini belum tuntas. Solusi atas modernisasi yang setengah hati ini > > sudah tentu bukan kembali kepada agama, tetapi justru dengan cara > > menyempurnakan tahap-tahap modernisasi yang sudah tertunda > (Catatan: > > harap modernisasi di sini dimengerti bukan dalam > pengertian "proyek > > modernisasi" atau "developmentalisme" tahun 60-an yang digalakkan > > oleh Amerika untuk menghadapi Komunisme; tetapi modernisasi > seperti > > makna asal kata itu: yaitu proses modernisasi kehidupan sosial dan > > teknik dengan cara rasionalisasi, pengertian yang lebih dominan di > > Eropa). [] > > > > > > ^ Kembali ke atas > > > Referensi: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=825 > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Does he tell you he loves you when he's hitting you? Abuse. Narrated by Halle Berry. http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

