Menyedihkan. Mungkin kita hanya bisa menghimbau agar para dokter untuk lebih bermoral--karena kita tidak bisa mengharapkan kepada hukum dan aparatnya dinegara ini.
Bagaimana kita tidak berharap kepada dokter agar lebih bermoral, sementara kita sering dengar banyak 'permainan' antara sales obat dengan dokter, sehingga harga obat2an menjadi sangat mahal. Semoga ini hanya gosip. Juga kepada gossip akan obat-obatan or nutrisi yang sudah gak kepake di negara sono, dibeli disini... huuh saya jadi mikir, apa karena ini ya..jadi ditemukan anak2 sehabis imunisasi polio malahan sakit2 mencret, muntah dan keluar darah dari hidung? Negara ini betul2 telah menjadi negara sampah. Segala sampah ditampung disini. Dah tau cara menanggulangi sampah yang udah ada aja gak bisa!!!. Masih ingat kejadian rumah yang ketiban sampah, Batam yang menerima limbah dari Singapore, dan baru2 ini banjir di daerah Ps. Kramat Jati karena tertumpuknya sampah di kali... Percuma aja kalo dikantor2 diterapkan ISO 14001 (?) kalo pemerintah juga gak care sama sampah! Kalo sampah obat diterima juga, rasanya kok kebangeten ya? oooh my God... wassalam, --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > MEDIA INDONESIA > Senin, 06 Juni 2005 > > > 'Banyak Dokter Langgar Penggunaan Obat' > > > > JAKARTA (Media): Pelanggaran penggunaan obat di kalangan tenaga medis masih banyak ditemukan. Akibatnya, biaya obat tinggi dan penyembuhan cukup lama. > > Demikian dikemukakan Prof Dr dr Rianto Setiabudy SpFK dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar tetap dalam ilmu farmakologi FKUI, Sabtu (4/6), di Kampus Salemba, Jakarta. > Pidato Rianto diberi judul Pengembangan Ilmu Farmakologi Klinik di Indonesia untuk Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan di Masa Depan. > > > Dalam pidatonya, ia mengungkapkan banyak dokter yang sengaja atau tidak sengaja memberikan resep kepada pasien berupa obat yang sama sekali tidak ada manfaatnya untuk penyakit pasien. > "Penggunaan obat yang tidak rasional dapat bermanifestasi dalam berbagai bentuk, antara lain pemberian terlalu banyak macam obat atau indikasinya tidak tepat atau tidak ada," kata Rianto. > > Bahkan, ada dokter yang memberikan obat terlalu lama atau dosis yang tidak tepat. Dari hasil penelitian Rianto, ada dokter yang memberikan suntikan tidak perlu, penggunaan obat bersifat toksis atau mahal, padahal banyak obat lebih murah dengan khasiat sama. > > "Banyak pula ditemukan pemberian resep berupa obat-obatan yang tidak jelas efektivitasnya," tuturnya. > Rianto yang juga Ketua Kelompok Kerja Uji Klinik Indonesia (CTGW/The Indonesian Clinical Trial Working Group) memaparkan beberapa contoh yang terlihat sehari-hari di Indonesia. > > Contohnya, pemberian antibiotik untuk influenza. > "Padahal, penyebab flu ialah virus dan tidak bisa dimatikan dengan antibiotik. Namun, ini banyak ditemukan di masyarakat sehari-hari." > > Pelanggaran lain yang ditemukan ialah dokter memberikan terlalu banyak macam obat dalam satu resep (pengobatan polifarmasi). > > "Saya pernah menemukan seorang penderita HIV/AIDS yang dirawat inap di suatu rumah sakit mendapat 57 macam obat sekaligus pada saat bersamaan." > > Menurut dia, cara penggunaan obat seperti ini memprihatinkan karena telah diketahui interaksi obat antiretroviral merupakan masalah serius, kompleks, dan dapat mengancam jiwa penderita. > > Anggota Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI Wilayah DKI Jakarta ini menjelaskan penggunaan obat yang tidak rasional akan berdampak pada menurunnya efektivitas pengobatan, menurunnya kepatuhan pasien untuk berobat, dan pemborosan biaya. (Nda/H-5) > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Ever feel sad or cry for no reason at all? Depression. Narrated by Kate Hudson. http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

