Dear Mas Ari,

thanks for the info..it surely a very good information...


Rgds,
Carla




                                                                           
             "Ari Condro"                                                  
             <[EMAIL PROTECTED]                                             
             >                                                          To 
             Sent by:                  <[email protected]>          
             [EMAIL PROTECTED]                                          cc 
             ups.com                                                       
                                                                   Subject 
                                       Re: Peradaban Islam - Re:           
             06/07/2005 05:22          [ppiindia] Re: Mengapa Kita Perlu   
             PM                        Meniru Barat?                       
                                                                           
                                                                           
             Please respond to                                             
             [EMAIL PROTECTED]                                             
                  ups.com                                                  
                                                                           
                                                                           




Mbak Fauziah dan Mbak Carla,

Ada yang pernah mengakses penelitian Hofstede tentang
crosscultural management gak ?  Di dalam penelitian
itu ada disebutkan tentang 4 kecenderungan kebudayaan,
dan untuk faktor kerja keras ada sisi maskulinitas yang
mempengaruhi cara berkerja keras dan mencapai tujuan tersebut.

Faktor ini dibangsa Indonesia nilai rendah, di bangsa
Jepang, korea, Eropa dan Amerika nilainya tinggi.
Ada tabel angkanya tapi kalo diforward berantakan ...

Berikut saya forward sedikit :



            Adapun elemen-elemen dari Hofstede's cultural dimensions
adalah:
(1) power distance, (2) uncertainty avoidance, (3) individualism, dan (4)
masculinity



4.4.1.1. Power Distance (PDI)

                Hofstede menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan power
distance adalah kondisi dimana individu-individu yang memiliki power
ataupun
kedudukan yang lebih rendah dalam struktur suatu masyarakat ataupun
organisasi menerima keadaan dimana kekuasaan didistribusikan secara tidak
merata.  Hal dapat ditangkap dari pendapat yang dilontarkan oleh Hofstede
(1984:419):

The extent to which less powerful members of institutions and organizations
accept that power is distributed unequally (Hofstede, 1984:419).



            Pada negara-negara dimana power distance rendah ditemukan
kepercayaan bahwa setiap orang adalah sederajat dan harus memiliki hak sama
serta memiliki kesempatan yang sama untuk merubah status sosialnya di
masyarakat.

            Manajemen yang efektif pada masyarakat dengan power distance
yang tinggi adalah dengan hierarkhi yang jelas, pengambilan keputusan yang
sentralistis dan kepemimpinan yang otoriter.  Hal ini seperti yang diungkap
oleh Punnett dan Ricks(1992:158):

            Effective management in countries with high PDI indexes
incorporates a well-defined hierarchy, centralized decision making, and
authoritarian leadership.  In countries with low PDI indexes, the reverse
is
true; flatter organizations with fewer levels of management, fewer
supervisors, and democratic leadership are more successful.



            Di sisi lain, lanjut Punnett dan Ricks, struktur organisasi
yang
mendatar dengan hierarki yang lebih sedikit, lebih sedikit pengawas dan
gaya
kepemimpinan yang demokratis akan lebih efektif jika diterapkan pada
negara-negara dengan power distance rendah.



4.4.1.2. Uncertainty Avoidance (UAI)

                Karakteristik dimensi budaya kedua yang diamati oleh
Hofstede adalah uncertainty avoidance.  Dimensi ini adalah istilah yang
menggambarkan perasaan tidak nyaman yang dimiliki oleh suatu masyarakat
didalam menyikapi situasi yang penuh ketidakpastian dan ketidakjelasan
serta
berusaha untuk menghindari situasi seperti ini.

Uncertainty Avoidance refers to the degree to which the society is willing
to accept and deal with uncertainty (Punnett and Ricks, 1992:158).





            Masyarakat dengan tingkat UAI yang tinggi mengharapkan
kepastian
dan rasa aman serta menghindari ketidakpastian.  Sementara pada masyarakat
dengan tingkat UAI yang rendah menunjukkan bahwa masyarakat tersebut merasa
nyaman pada kondisi yang penuh ketidakpastian.  Banyak masyarakat yang
memandang kepastian sebagai suatu kebutuhan sehingga masyarakat tersebut
dapat melakukan fungsinya  tanpa khawatir dengan akibat-akibat dari
ketidakpastian, namun juga terdapat masyarakat yang memandang
ketidakpastian
sebagai suatu tantangan dan kesempatan bagi munculnya inovasi dan
perubahan.

            Menurut Punnett dan Ricks manajemen yang efektif pada
negara-negara dengan skor UAI tinggi adalah dengan memenuhi job security,
wewenang dan tanggungjawab yang jelas, dan berusaha mengurangi
ketidakpastian sedangkan kebalikannya pada negara-negara dengan UAI yang
rendah maka job security tidak terlalu mendapat perhatian, risks taking
didukung dan didorong, keputusan diambil dalam waktu relatif singkat dan
dengan informasi yang relatif sedikit.

Effective management in countries with high UAI indexes provides job
security, a well-defined work role, and opportunities to decrease
uncertainty through consensus building.  In countries with low UAI indexes,
the reverse is true; job security is not stressed, risk taking is
encouraged, and decisions are often made quickly and with relatively little
information (Punnett and Ricks, 1992: 158).





4.4.1.3. Individualism (IDV)

                Individualisme adalah dimensi budaya ketiga yang dipilih
Hofstede untuk menggambarkan ciri suatu budaya.  Individualisme adalah
kriteria yang menggambarkan longgarnya ikatan antar anggota suatu
masyarakat
dimana seseorang hanya memikirkan dirinya atau keluarga dekatnya semata
sedangkan sebaliknya kolektivisme lebih menekankan pada kekohesivan
kelompok. ITIM (homepage: 5) dalam hal ini menggambarkan individualisme
sebagai berikut:

Individualism pertains to societies in which the ties between individuals
are loose: everyone is expected to look after himself or herself and his or
her immediate family.  The opposite is collectivism, which pertains to
societies in which people from birth onwards are integrated into strong,
cohesive in-group, which throughout people's lifetime continue to protect
them in exchange for unquestioning loyalty.





Hofstede mengukur dimensi budaya ketiga ini secara kontinum dengan
individualisme pada satu sisi dan kolektivisme di sisi lainnya.

            Punnett dan Ricks menyarankan manajemen yang efektif pada
negara
dengan budaya individualis adalah merancang kebijakan dan prosedur dimana
seseorang dapat mengambil berinisiatif, mengambil keputusan dan
menyelesaikan pekerjaannya sendiri.  Pada negara-negara yang kolektivis
maka
sebaliknya; keputusan kelompok, aktivitas kelompok, dan pekerjaan kelompok.

Effective management in high IDV countries incorporates policies,
practices,
and procedures that allow for individuals to take initiative, make
decisions, and work on their own.  In low IDV countries, the reverse is
appropriate; group decisions, group action, and group work are preferred
(Punnett and Ricks, 1992:158).





4.4.1.4. Masculinity (MAS)

                Dimensi terakhir yang diajukan Hofstede berbentuk kontinum
dimana masculinity berada pada sebuah ujung sedangkan femininity pada ujung
lain.  Definisi dari  masculinity menurut Punnett dan Ricks adalah sebagai
berikut:

            Masculinity refers to the degree to which traditional male
values (assertiveness, performance, ambition, achievement, and material
possesions) are important to a society.



Maskulinitas dalam hal ini mengacu dan menekankan pada nilai-nilai seperti
assertif, ambisi, kinerja, pencapaian dan materi.  Sedangkan feminim lebih
menekankan pada kualitas hidup dan kepedulian terhadap lingkungan.

...........have predominately feminine values (focus on quality of life and
the environment as well as nurture and concern for the less fortune)
(Punnett and Ricks, 1992: 158).



Pada masyarakat dengan maskulinitas yang rendah, baik wanita maupun pria,
diharapkan untuk sederhana, berperilaku halus dan peduli terhadap kualitas
hidup.

            Punnett dan Ricks menyarankan manajemen yang efektif pada
masyarakat MAS tinggi adalah memberikan deskripsi pekerjaan dan
tanggungjawab, menekankan pada pencapaian dan memberikan reward dalam
bentuk
uang pada yang berprestasi baik.  Pada masyarakat dengan MAS rendah maka
tekankan pada hal-hal yang mendukung kualitas pekerjaan seperti lingkungan
pekerjaan yang kondusif dan akrab serta mendasarkan reward selain dari
faktor kinerja semata.

Effective management in a society with a high MAS index differentiates work
roles, stresses achievement, and rewards high performers with money.  A low
MAS index indicates accepted sex equity, emphasis on quality of work life,
and less tangible rewards that are based on factors other than performance
alone (Punnett and Ricks, 1992:158).



            Pada kertas karya utama ini pembahasan akan difokuskan pada dua
dimensi yaitu dimensi individualism dan masculinity.

            Berdasarkan skor keempat dimensi budaya, posisi dari
negara-negara yang diteliti oleh Hofstede ini dapat dilihat dalam tabel 4.1
dan tabel 4.2. serta gambar 4.2 hingga 4.5  Dari tabel dan gambar-gambar
ini
dapat dipahami bagaimana beragamnya pandangan masyarakat di negara-negara
yang berbeda tentang nilai.

            Selain Hofstede, peneliti lain yang meneliti tentang
keberagaman
budaya negara-negara adalah Trompenaars (1994). Penelitian Trompenaars
(1994) ini melibatkan 15000 pekerja di limapuluh negara dan telah dibukukan
dengan judul "Riding the Waves of Culture".  Hasil penelitian Trompenaars
(1994) ini mirip dengan hasil penelitian Hofstede sehingga secara umum
kedua
penelitian ini saling mendukung satu sama lainnya.




----- Original Message -----
From: "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED]>

Kalau orang Barat teman2 saya disini cenderung open, to the point,
tidak terlalu kerja keras dibanding org Jepang/Korea, individualis
dalam bekerja, dan punya strong leadership dan komitmen yg kuat.





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links










***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke