________________________________________________________
BISIK-BISIK MEDIA: Ada apa di balik keriuhan media massa?
Racikan Selasa, 7 Juni, 2005
 
 
HIMBAUAN:
"Bacalah, dengarlah, tontonlah. Tapi gunakan nalar dan akal sehat Anda: 
Jangan percaya 100% pada media massa. Simak baik-baik, jangan telan 
mentah-mentah apa yang tersaji. Kunyahlah, saringlah, dan cermatilah 
dengan bijak."
 
SOROT MEDIA
Abdurrachman Mas'ud, anggota KPID Jateng:
Harus diwaspadai media massa yang 'kongkalingkong' dengan para calon
kepala daerah yang ingin memenangi pemilihan. Jika media massa 
dimanfaatkan, akibatnya informasi yang disampaikan tidak seimbang dan 
cenderung mengangkat atau menjatuhkan salah satu calon.
 
Budyatna, guru besar Komunikasi UI:
Peran media massa Indonesia hingga kini masih kurang menunjukkan keberpihakannya
kepada publik. Bahkan, terkadang media massa justru digunakan sebagai
corong dari penguasa. Akibatnya, fungsi pendidikan bagi masyarakat tidak
berjalan dengan maksimal. Kurangnya kepedulian media massa kepada 
masyarakat tersebut berkaitan dengan sejarah otoriter yang dibangun
pada masa pemerintahan Soeharto.
_________________________________________________________
EKSPOS - magazine
jujur! berani! independen!
Rp 9,800 (harga promosi)
Jl Cikajang no 51, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12710
t: (021) 739-2629
f: (021) 739-3209
 
EKSPOS mengklaim dirinya sebagai majalah investigasi. Edisi perdana mengupas 
tuntas dibalik kematian Munir.
Wawancara khusus dengan pentolah BIN Muchdi PR yang bilang bahwa Munir di luar 
target
operasi intelijen BIN, soalnya dia bukan teroris dan separatis. 
 
Betulkah ada "penghijauan" di BUMN? Beberapa kalangan mensinyalir terjadi
"Islamisasi" di BUMN. Tudingan itu muncul gara-gara beberapa komisaris
dan direksi BUMN yang diangkat belakangan ini banyak yang berasal dari
kelompok Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Siapa saja mereka?
 
Artikel menarik lainnya adalah kisah seorang pegawai LNG Bontang yang melaporkan
kasus korupsi di kantornya ke DPR. Namun saat komputernya 'digeledah',
ditemukan milis yang berbau SARA. Kini ia mendekam di penjara gara-gara 
kasus pencemaran agama. Wah, lagi-lagi milis jadi perkara. Kasus 
korupsinya sendiri malah lenyap. Aneh juga. 

_________________________________________________________
OTOMOTIF - tabloid
Jl. Palmerah Selatan 22-28 lt. 1
t: (021) 536-0441, 536-0442 (direct line)
f: (021) 548-1341
 
OTOMOTIF termasuk tabloid milik KKG yang sukses di pasar. Seperti
halnya ELEX MEDIA, OTOMOTIF pun kini membentuk kelompok sendiri yang 
disebut OTOMOTIF GROUP. Produk yang ditelurkannya antara lain tabloid
OTOMOTIF, majalah MOTOR (walau bernama MOTOR, namun isinya melulu
soal mobil), tabloid MOTOR PLUS, majalah TOP GEAR, majalah JIP,
majalah AUTO BILD, majalah IMPORT, majalah CAR AUDIO, majalah VW TRENDS,
majalah OTOMOTIF EXTREME, dan majalah SUV. Saat ini mereka tentunya lagi 
menggodog proyek penerbitan media baru. 
 
_________________________________________________________
SAJI - tabloid dwi mingguan
masak apa, ya?
KKG
Rp 3,500
Jl. Panjang no 8A lt. 2, Kebon Jeruk, Jakarta 11530
t: (021) 533-0150, 533-0160, 533-0170 ext 32100-111
f: (021) 532-0480
 
Tabloid SAJI edisi 47 (Rabu, 1 Juni 2005) menggunakan istilah 'mikser' 
untuk 'mixer' (Bahasa Inggris). Lazimkah? Bagaimana kalau
'pengadon', yang rasanya lebih enak diucap dan dibaca? Kalau 'mikser' sepertinya
amat dipaksakan, mirip orang Malaysia menerjemahkan 'cake shop'
menjadi 'kedai kek' yang 'dodolannya' ya cuma cake saja. Sedangkan masyarakat 
Indonesia menyebutnya 'toko roti' - yang sebenarnya juga kurang tepat karena 
cake, roti, kue, snack dan juga 'gorengan' jelas berbeda (kadang beda tipis). 
Kala gencarnya kampanye
anti bahasa asing (khususnya bahasa Inggris), Holland Bakery lalu 
mengubah namanya jadi Holland Bakeri (malah jadi aneh, dan 'nanggung'). 
Bagaimana pendapat 'poro konco' di guyub bahasa dan Lembaga Bahasa?
 
gorengan = sebutan orang Jakarta untuk tempe, tahu, pisang, oncom, dan lainnya
yang dijajakan melalui proses penggorengan. Sedangkan kalau di daerah lain,
kalau kita menyebut 'gorengan', mungkin dikira alat penggoreng.
 
poro konco (Bahasa Jawa) = teman-teman
 
dodolannya  = jualannya
_________________________________________________________
TELSET
telematika . technology . society
Bumina Wahana
Rp 18,900
Jl. Riau 17-21, Menteng, Jakarta 10350
t: (021) 310-1173
f: (021) 319-27989
 
Merayakan HUT ke-5, TELSET bagi-bagi hadiah buat para pembacanya:
3 sepeda motor SANEX dan hadiah bulanan bernilai jutaan rupiah.  
Mau berlangganan? TELSET memberi diskon 25% lho!
_________________________________________________________
CAMPUR SARI
_________________________________________________________
FEBRY - majalah TRUST, Jakarta 
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Dear friends,

Boleh minta tolong? Saya butuh informasi tentang orang-orang yang 
bekerja secara 'officeless' alias tanpa kantor. Mereka 'running' 
bisnisnya hanya bermodalkan laptop dan nongkrong di cafe yang ada 
'hotspot'-nya. Kira-kira ada nggak ya yang seperti itu? Kalau ada, 
tolong dong kontak saya via japri di 0813-14521522. Saya mau 
menulis artikel tentang hal tersebut di majalah saya.
 
Jawaban:
Saya amati kok jarang ya, bahkan nyaris tak ada orang yang kerja tanpa kantor,
walau tiap hari nongkrong di cafe. Paling banter ya musti bermodal 
SOHO (Small Office Home): mereka tetap berkantor di rumah/apartemen yang 
merangkap sebagai tempat tinggal. Kalau lagi 'bete' atau ada meeting dengan 
klien, baru mereka nongkrong berjam-jam di cafe 
sembari bekerja di laptop dan gadget lainnya. Untuk kebutuhan stationary plus
teken kontrak dengan klien, walau bagaimanapun tetap butuh sebuah alamat
kantor, tak cuma nama usaha, nama orangnya plus no HP-nya saja. Bahkan
kadang klien minta nomer NPWP dan dokumen-dokumen lainnya segala. 
 
Pekerjaan seperti seniman, artist manager, pialang, dan computer programmer 
juga tetap butuh kantor, minimal 
SOHO. Kalau saban hari nongkrong dan kerja di cafe, apa nggak malah bete? 
Berat diongkos pula. Coba hitung ongkos transport pulang pergi rumah - cafe,
kalau nongkrong 5 jam di cafe paling tidak musti minum secangkir kopi panas,
segelas ice 2 cappucino, sepiring kudapan (snack), plus santap siap. 
Kalau di coffee shop hotel, lunch buffet minimal Rp 200,000/pax (tapi
tak ada hotspot). O ya, jangan lupa hitung berapa musti bayar parkir. Paling 
tidak dia musti keluar duit Rp 400,000 per hari cuma buat ngejar 'hotspot'
di cafe. Artinya, per bulan dia musti keluar duit Rp 12 juta cuma buat
mejeng di cafe.  Lha uang segitu mending buat sewa apartemen, di 
Kuningan misalnya, ada yang cuma Rp 3 juta/bulan. Kecuali kalau cafe 
itu punya dia sendiri.
 
Inget lho, bisnis bisa lancar kalau ada rasa saling percaya mempercayai. Trust, 
seperti
nama majalah Anda. Hmm, kecuali kalau 'bisnis gelap', 'bisnis extasy & 
shabu-shabu', atau 
'bisnis aurat', dan 'bisnis lendir' baru yang beginian tak perlu ngantor dan 
teken kontrak. 
Mereka bisa gaet 'klien' kanan kiri di pusat keramaian sembari nenteng
beragam gadgets. Tinggal kedip-kedip mata, atau pakai kode-kode tertentu, 
segalanya beres. Transaksinya pun 'cash and carry', 'no receipt', 'no tax 
deduction', dan tak kena 
pungutan pajak. Tak heran kalau itu semua disebut 'bisnis haram'. 

Narasumbernya bisa dari pakar dugem Moammar MK, mungkin. Tetapi apa TRUST mau 
nulis 
yang begituan? Jangan dong ah...nanti malah menyemarakkan bisnis haram. 
O ya, sebagai tambahan. Saya pernah dengar bahwa IBM dan beberapa perusahaan 
kelas
kakap lainnya punya program 'kerja di rumah' buat karyawannya. Berdasar
pemantauan, hasil kerja mereka malah lebih produktif. Selain itu bisa menghemat 
biaya 
transportasi plus menghindari waktu terbuang percuma di jalanan yang macet. 
Mereka menyambangi kantor kalau pas ada meeting saja. Mungkin yang beginian 
bisa digali lebih
dalam dan rinci. Jadi inti TOR-nya lebih tepat ke SOHO, bukan 'nongkrong
di cafe'. Saya perkirakan, lima tahun ke depan SOHO akan kian marak di
Indonesia, khususnya di Jakarta. Buntutnya, beberapa perusahaan akan mengurangi
lahan sewa ruang kantornya. Alhasil, gedung-gedung perkantoran di Segitiga
Emas bakal kian sepi. Sekarang saja trend pembangunan properti sudah
mengarah ke SOHO, lalu Setiabudi Building sudah mengubah konsep jadi
pusat jajan dan hiburan. 
 
_________________________________________________________
HENDRO D. LAKSONO - majalah MOSSAIK, Surabaya
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Tolong daftarkan email saya di milis MEDIACARE. Terima kasih.
 
Jawaban:
Terima kasih juga mau bergabung.
_________________________________________________________
IRMA NAZAR - Datascrip, Jakarta
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Dear all,
Please info media-media yang ada di Medan yah. Makasih..
 
Jawaban:
Irma, media di kota Medan cukup lengkap. Ada Medan Bisnis, Waspada,
Sinar Indonesia Baru (SIB), Analog, Harian Sumatera, Analisa, Pos Metro Medan, 
Sumut Pos (dulu Radar Medan), Medan Pos, Sumatera Inside, M Teens, 
Mediator, Mimbar Umum, Pro Aksi dan lain-lain yang belum ada di 
catatan saya.
 
Media terbitan Ibu Kota seperti Kompas, Bisnis Indonesia, The Jakarta Post, 
Investor Daily, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Media Indonesia, Koran Tempo, 
Suara Karya, Pilars, 
Tempo, Kontan, dan Gatra, juga punya perwakilan di Medan. 
 
Untuk radio station, selain RRI banyak juga radio stasiun swasta. 

Seluruh TV station yang berjubel di Jakarta juga punya perwakilan di 
Medan, plus ada tv lokal bernama TV Deli. Di Medan mungkin ada juga
beberapa 'free magazine', maaf saya belum punya datanya. O ya, jangan lupa 
undang kantor
berita ANTARA dan Detik.Com. Kalau boleh tahu, Datascript mau 
meluncurkan produk apa di Medan?
 
_________________________________________________________
ANTHONY RAY INDRA - Jakarta
e: [EMAIL PROTECTED] 
 
Sungguh amat disayangkan, SWA terbaru menabalkan Anne Ahira sebagai 
salah seorang penerima 'Young Marketers Award'. Sering sekali saya 
menemukan beberapa media yang mengelu-elukan seseorang atau suatu 
bisnis yang ternyata ujung-ujungnya berantakan. Dulu QSAR, G-Cosmos, dan 
Probest juga sempat jadi "bintang" di berbagai media. Bahkan ada majalah 
yang menganjurkan untuk berinvestasi di proyek agribisnis unggulan. 

Waktu itu ada seseorang yang diwawancara dan mengatakan telah menanamkan modal
dari seluruh tabungannya, uang keluarga, dan uang teman-temannya di
proyek itu. Dengan bangga ia mengatakan, "Saya untung terus, nggak ada 
matinya". 
Hmmm.. berapa banyak orang yang ikut-ikutan 'kejeblos' gara-gara artikel 
itu ya? Kalau sekarang, rasanya semua sedang mengelu-elukan pembangunan 
mal dan apartemen. Paling sebentar lagi juga akan meletus 'bubble'-nya.
 
Tanggapan dari Harry Surjadi
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Saya mau menanggapi soal Anne Ahira. Sepemahaman saya, dari penjelasan Anne, ia 
memang menjual jasa 
marketing di internet bagi siapa saja yang ingin berjualan di dunia
maya. Produknya bisa apa saja, misalnya e-book. Menurut Anne, yang 
paling dia suka adalah memasarkan e-book karena cepat dapat uangnya. 

Dia akan menarik komisi dari jumlah e-book yang di-download dari hasil 
pemasaran yang dilakukan oleh timnya. Produk yang bisa dipasarkan tidak 
terbatas pada e-book tetapi 
bisa juga mebel atau produk kerajinan. Memang kalau ditanya, apa yang 
dijual Anne adalah jasa memasarkan produk. Dia punya sistem dan program untuk 
memasarkan produk apa saja di 
Internet. Coba lihat website pribadinya di:
http://www.anneahira.com/
Tapi mungkin Anda sependapat dengan rekan-rekan di
http://id-gmail.info/wpmu/cronos/index.php?p=10
 
Komentar:
Saya baru saja baca koran Pikiran Rakyat edisi Minggu, 5 Juni 2005.
Ada artikel bertajuk 'hati-hati money game'. Sayangnya, yang dimuat
malah wawancara dengan Anne Ahira yang memberi tips-tips tentang
'internet marketing'. Plus link www.asianbrains.com, dimana Anne mengaku
sebagai CEO-nya. Mustinya petugas pajak mengecek ke rumah Anne Ahira, karena dia
dan jaringannya, Elite Team, mengklaim punya penghasilan miliaran 
rupiah. Di bank mana uang itu disimpan: dalam negeri atau luar negeri?

Apakah ia sudah bayar pajak? Kalau iya, berapa yang sudah 
ia setorkan ke kantor pajak? Kalau Anne yang menurut berita di media massa 
sering 
'wira-wiri' ke luar negeri, tetapi tak pernah setor pajak, bahkan ternyata
tak punya NPWP, ia wajib dikerangkeng, dan jejaringnya wajib digulung. 
Mudah kok menjerat Anne. PR buat para wartawan yang mau mewawancarai 
Anne, tolong tanyakan: "Anne, apa kamu rutin setor pajak penghasilan?" 
Kalau dia jawab 'iya', tolong tanyakan berapa jumlahnya?

Kalau ia cuma senyum-senyum saja, segera laporkan ke aparat setempat. 
Oh, kalau begitu, Anne yang menerima berbagai award ternyata bukan warga 
negara yang patut jadi panutan.
 
_________________________________________________________
ZAINUL MUCHTADIEN - Hotline Ad, Jakarta
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Mohon informasi kalau ada stasiun radio FM di Jakarta yang akan dijual.
Terima kasih.
 
Komentar:
Wah, Hotline mau ekspansi ke media nih.......
_________________________________________________________
SENJA PRANANTA  - majalah T3, Jakarta
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Perkenalkan, saya Senja Prananta, bekerja di majalah T3 Indonesia sebagai 
pembina usaha (account executive). Nah, rekan-rekan yang berminat memasang 
iklan atau 
bekerja sama dengan Majalah T3 Indonesia, jangan sungkan-sungkan untuk 
menghubungi saya. Terima kasih atas perhatiannya.
 
T3 INDONESIA - lifestyle technology magazine
Tomorrow's Technology Today
PT. TEKNOLOGI TRI TUNGGAL
Komp. Perkantoran Roxy Mas Blok C III No. 8, Jl. K.H. Hasyim Ashari No. 125 
Jakarta 10150
t: (021) 633-5627/28
f: (021) 633-5027
hp: 0816-616 073
_________________________________________________________
RISKI NIZAM - Nu Indo Komunika
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Ada yang punya data radio station? Gw mau dong buat promo album 
penyanyi baru bernama Bunga. Gw cari radio yang 
punya target pendengar dari umur 15-20 atau 20 -30, atau radio yang 
mempunyai segmen pada target market usia 15-30 tahun. Lalu radio itu punya 
program siaran musik Indonesia atau menjadikan musik Indonesia sebagai acara 
unggulan,
ataupun mempunyai pendengar berjiwa muda. Gw minta bantuannya ya, 
kalau bisa beserta alamat dan CP-nya. Thank's for your help.
 
Jawaban:
Di Jakarta ada I-Radio yang khusus memutar lagu-lagu Indonesia, kalau
Prambors campur ya. Di Bandung ada 99ers. Di Jogja ada Geronimo. Untuk 
yang lainnya, mungkin teman-teman bisa bantu? 
 
_________________________________________________________
ANNA MARIA
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Guys..gue butuh info 'print media' yang berhubungan dengan rumah, 
konstruksi dan pertukangan. Kalau bisa sekalian CP-nya. Thx.
 
Jawaban:
Asri, Home Bintang, Idea, Konstruksi, Laras, Properti Indonesia, 
Real Estate, Rumah, Good House Keeping, Interior. Lalu ada Estate -
majalah tren properti, bahan bangunan & gaya hidup - yang baru nongol 
10 edisi di Juni ini (t: 750-8889/765-1168). Coba kontak JDC atau 
Pusat Mebel Fatmawati, barangkali mereka  menerbitkan majalah 
ing-griya.
 
_________________________________________________________
FOSCOTE34 - Jakarta Free, Jakarta
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Job opportunity @ JAKARTA FREE, a free newspaper - AE (Account Executive) & 
Marketing, full time and freelance for first fast growing captive commuters' 
free newspaper in Indonesia. 
 
Based in Jakarta, candidates is expected to have a good network for 
advertising market. Please submit your full CV to: [EMAIL PROTECTED] 
 
_________________________________________________________
Dr. HENDRA Y. SpRad - Jakarta
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Saat ini tampaknya sedang demam free magazine/tabloid. 
Adakah di antara Bapak/Ibu yang mempunyai pengalaman di bidang ini dan 
berminat untuk mengembangkan suatu tabloid kesehatan bersama-sama 
dengan kami? Target market sudah sangat jelas dan potensial, sehingga 
penggarapannya harus agak serius. Kami harapkan dengan investasi yang 
sangat minimal, program ini dapat menampung banyak tenaga kerja dan 
dapat berkembang dengan baik. Informasi balik mungkin dapat melalui 
japri saja agar tidak mengganggu rekan yang lain. Terimakasih.
 
_________________________________________________________
SUMBO - Jakarta 
e: [EMAIL PROTECTED]
 
Menjawab pertanyaan mbak Ana di Bumiputera. Majalah KABARE JOGJA itu
milik Exiscom, sebuah biro iklan yang dimotori oleh Edi Purjanto.
 
Info tambahan:
Situsnya bisa diklik: www.kabarejogja.com
 
Buat yang di Ibu Kota, kalau mau berlangganan ini ada alamat 
perwakilan KABARE JOGJA di Jakarta:
Jl. Probolinggo no 1, Menteng, Jakarta Pusat 10350
t: (021) 707-40712
f: (021) 319-08936
Taman Alfa Indah Blok II no 20, Jakarta 12260
t: (021) 584-0602
f: (021) 584-0453
 
"Mengerti Jogja untuk semua"
_________________________________________________________
INFO
Anda punya info terbaru? Ingin kasih komentar tentang kiprah media 
massa dan komunikasi pemasaran, atau geliat para awaknya? 

Kirimkan ke: [EMAIL PROTECTED]
Klik: http://mediacare.blogspot.com
Milis: http://www.yahoogroups.com/mediacare/subscribe
Email: [EMAIL PROTECTED]
Moderator: [EMAIL PROTECTED]
Hotline: 0817-9802250
 
TERIMA KASIH

Terima kasih untuk moderator milis apakabar, bizzcomm, communications 
indonesia, fhm, fpk, guyub bahasa, iperhumas, jurnalisme, kritik-iklan, 
musyawarah burung, orangmedia, pasar opini, pr society indonesia, pr jakarta, 
sastra-pembebasan, tv watch indonesia, wartawan, 
wartawan gaul, wartawan indonesia, wartawan jakarta, dan lainnya yang 
tak dapat saya sebut satu persatu.
_________________________________________________________




Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke