Dear Friends;
Berita yang dikirimkan oleh Haris Munandar ini sungguh mewakili seluruh derita
bangsa kita, sekali gus begitu menggugah rasa persaudaraan kita, rasa gotong
royong kita, sebuah laporan sederhana yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan
yang sungguh tinggi! Karenanya saya merasa laporan sederhana ini pantas untuk
dinobatkan sebagai The News of the Year tahun ini!
Inilah sebuah laporan tentang "silent tsunami" yang sedang berlangsung di
negeri kita, Indonesia tercinta. Silahkan disimak.
Ikra.-
From: Haris Munandar
Sent: 08 Juni 2005 9:17
To: All SKI-Pengurus Pusat
Subject: FW: [buah-hatiku] Fw: pemulung naik krl untuk mengubur anaknya
Dear Ikwan wa ahwat, sebagai bahan renungan dan evaluasi kita.....
Salemba, Warta Kota
PEJABAT JAKARTA SEPERTI DITAMPAR.
Seorang warganya harus menggendong mayat
anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.
Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger
Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38
thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.
Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke
kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor
polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber.
Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM
untuk diautopsi.
Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang
muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan
Setiabudi.
"Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk
membawanya lagi ke puskesmas,
meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol
plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari ", ujar bapak 2 anak
yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit
Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn),
untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring
digerobak ayahnya.
Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas
terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang
kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang
bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp
6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil
dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring
di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak berisikan
mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan
anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan
bantuan dari sesama pemulung.
Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang
tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si
kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak
tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung
yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL
jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan
menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono
bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL
yang mendengar penjelasan Supriono langsung
berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh
agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.
Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia
hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari
RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang sudah terbujur kaku.
Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah
meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang
tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat
tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans,
Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung
sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang
sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.
Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono
dan Muriski di perjalanan.
Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena
masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap
sesama.
"Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab
untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak
memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan
tamparan untuk bangsa Indonesia," ujarnya.
Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu
seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi
orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi
kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin, kata Wardah.
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/