http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/09/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Titik Pandang
Otonomi Sekolah
Ratna Megawangi
SAAT ini sedang dikembangkan konsep pendidikan Kurikulum Berbasis Kompetensi
(KBK) 2004 melalui penerapan model "Pendidikan Holistik Berbasis Karakter".
Model pendidikan holistik ini adalah pendidikan yang secara eksplisit ditujukan
untuk mengembangkan seluruh dimensi manusia, yaitu aspek akademik (kognitif),
emosi, sosial, spiritual, motorik, dan kreativitas.
Konsep pendidikan ini sudah menjadi tren pembaruan sistem pendidikan yang
dianggap cocok untuk abad ke-21. Reformasi pendidikan di Jepang misalnya, ada
tiga kalimat kunci yang sering disebut, yaitu kokoro-no-kyoiku (pendidikan
untuk hati, jiwa, atau kedirian manusia), sogo-gakushyu (pembelajaran
holistik), dan tokushyoku, koseika (keunikan masing-masing sekolah dan
masing-masing individu).
Ministry of Education of British Columbia, Canada, pada tahun 2000 juga
mencanangkan tujuan pendidikan untuk mengembangkan aspek estetika dan kesenian,
emosi dan sosial, intelektual, fisik dan kesehatan, serta aspek tanggung jawab
sosial. Perubahan ini telah membawa iklim perubahan baik dari segi manajemen
sekolah (otonomi penuh), maupun kurikulum dan metode pembelajaran di kelas.
Sebetulnya, kalau kita serius menjalankan amanat Undang-Undang No 20 Tahun 2003
Pasal 3, konsep pendidikan yang harus dijalankan adalah holistik untuk
membangun karakter, karena "bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab". Kebijakan KBK 2004 sebenarnya
ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Revolusi
Untuk menjalankan KBK 2004 ini, diperlukan sebuah revolusi paradigma
pendidikan, karena memerlukan berbagai metode, strategi, dan teknik
pembelajaran yang berbeda dengan sistem pendidikan sebelumnya. Misalnya, kelas
yang sunyi di mana anak duduk pasif dengan menyimak dan mencatat selalu
dianggap sebagai suasana kelas yang baik. Padahal suasana kelas seperti itu
akan membuat anak bosan, dan proses belajar menjadi tidak efektif.
Menurut Vigotsky, proses belajar yang dapat meningkatkan semangat siswa adalah
dengan berdiskusi, banyak bertanya, bereksplorasi, dan bermain (fun learning),
sehingga kemampuan verbal dan motoriknya berkembang, termasuk juga kemampuan
berpikir kritisnya (higher order thinking).
Intinya, agar KBK 2004 berhasil, para pendidik dituntut untuk bersikap
profesional, kreatif dan fleksibel, agar terbentuk proses belajar yang efektif.
Untuk itu, otonomi sekolah mutlak diberikan, yaitu dengan payung Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS). MBS adalah sebuah konsep yang memberikan wewenang
kepada sekolah (bersama masyarakat sekitar), untuk mengambil
keputusan-keputusan konkret dalam mengelola pendidikan, memperbaiki kurikulum
sehingga mutunya meningkat.
Nah, inilah masalah yang sering kami hadapi di Indonesia Heritage Foundation,
ketika melatih para guru untuk mengubah metode pembelajaran di kelas agar
tujuan membangun manusia holistik yang berkarakter dapat tercapai, yaitu berupa
ketakutan dan keengganan para guru untuk memperbaiki metode pembelajaran di
kelas agar sesuai dengan teori-teori yang berlaku (misalnya, Piaget, Erik
Erikson, Vigotsky, dan lain-lain).
Alasannya, mereka takut dengan para penilik sekolah dan para birokrat dari
dinas pendidikan setempat yang kerap datang ke sekolah dan menanyakan hal-hal
yang sudah baku. Pernah ada sebuah sekolah TK di daerah yang para gurunya
disponsori oleh sebuah perusahaan minyak untuk mengikuti training di Jakarta,
dan meninjau beberapa sekolah yang bagus di Jakarta.
Ketika kembali ke daerahnya, para guru tersebut begitu antusias untuk
menerapkan ilmu yang diperolehnya, dan mengubah setting kelas dan menyediakan
fasilitas eksplorasi di alam terbuka. Ketika seorang penilik datang untuk
inspeksi, semuanya menjadi buyar, karena penilik tersebut tidak suka dengan
"wajah" baru sekolah tersebut. Tempat bermain pasir dan fasilitas agar anak
dapat bereksplorasi di alam terbuka dilarang diadakan, karena menurutnya semua
kegiatan belajar harus dilakukan di dalam kelas.
Karena ingin menunjukkan "gigi" kekuasaannya, para penilik sering tidak mau
mendengar alasan yang dikemukakan oleh para guru yang sudah tercerahkan. Baik
kepala sekolah maupun guru, apalagi yang pegawai negeri, biasanya takut untuk
melakukan hal yang bertentangan dengan para penilik sekolah, karena ancamannya
mutasi, atau dipersulit urusan kenaikan pangkatnya.
Sikap Birokrat
Kami pernah mengira para penilik tidak setuju dengan perubahan karena mereka
belum mengetahui, dan berharap apabila mereka diundang dalam training kami,
mereka pun akan setuju. Ternyata setiap kami mengundang para birokrat dari
dinas setempat, jarang yang mau ikut sampai selesai, tetapi hanya pada
pembukaan saja.
Sering kejadian ketika saya memberikan seminar berharap agar ada para birokrat
yang mau duduk mendengarkan seminar saya sampai selesai, namun kerap melihat
mereka meninggalkan acara setelah memberikan kata sambutan. Padahal sebagai
birokrat wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin
terselenggaranya pendidikan yang bermutu sesuai UU No 20/2003 Pasal 11.
Bagaimana mereka dapat memberikan yang terbaik, apabila mereka tidak mau
meningkatkan pengetahuan mereka tentang metode pendidikan yang efektif?
Reformasi pendidikan di Jepang untuk membangun manusia holistik dilakukan
dengan memberikan otonomi penuh kepada sekolah, bahkan dalam revisi kurikulum
tahun 1998 isi kurikulum yang dikurangi 70 persen dari standar sebelumnya,
serta jumlah hari belajar menjadi lima hari.
Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih fleksibel, dan
menyenangkan, serta sekolah lebih mempunyai otonomi, sehingga mutu SDM Jepang
meningkat. Seperti yang diungkapkan dalam International Review of Curriculum
and Assessment Frameworks (2003), "The new course of study is intended to give
teachers more control over their teaching, foster more children-centered and
creative learning through individual instruction and group work, increase the
importance of learning a foreign language, and emphasis experiential
problem-solving learning activities throughout the school curriculum. The
revised course of study for elementary education also calls for education to
produce citizens who are creative and considerate and for a unique system of
education, which will foster children's willingness to learn in a relaxed
environment".
Korea juga telah merevisi sistem pendidikannya yang sekarang disebut the
Seventh National Curriculum yang tujuannya adalah: "To loosen the rigid and
centralized curriculum framework. Specifically, teachers are encouraged to be
directly and actively involved in the decision and planning process for the
curriculum".
Bahkan Korea juga mengurangi jam mata pelajaran wajib dan menambah mata
pelajaran pilihan, yang alasannya adalah: "In preparation for the 21st Century,
the development of creativity in children should be given high priority"
(Presidential Commission of Education Reform).
Kurikulum pendidikan di Korea sudah sejak lama diubah dari yang sistem lama
(menghafal dan latihan soal-drilling) ke arah yang lebih meningkatkan daya
berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah kehidupan. Sehingga anak-anak
SD sudah dapat mempunyai kompetensi bagaimana bisa hidup dengan bijak (wise
life-disciplined life), cerdas (proper life, intelligent life), dan bahagia
(happy life-pleasant life).
Buruknya sekolah-sekolah negeri di AS sudah disadari sejak tahun 1980-an karena
terlalu ketatnya sistem birokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada para
penilik sekolah (superintendent), sehingga sekolah tidak berkutik dalam
melakukan perubahan.
Ketika William Bennett (mantan menteri pendidikan AS) pada tahun 1988
mengumumkan kota Chicago sebagai kota yang sekolahnya terburuk di AS,
pemerintah Illinois langsung mengeluarkan peraturan baru yang memberikan
otonomi penuh kepada sekolah, yang tujuannya: "to free them from the shackles
of the massive, top-down bureaucracy of the superintendent's central office".
Hasil studi yang dilaporkan oleh William G Ouchi, Making Schools Work: A
Revolutionary Plan to Get Your Children the Education They Need (Simon &
Schuster, 2003), ternyata sekolah-sekolah yang tadinya mempunyai reputasi buruk
di Illinois, setelah diberikan hak otonomi penuh, telah berubah menjadi jauh
lebih baik, bahkan sekolah Goudy Elementary School, berubah dari "the worst
school in America become one of the best".
Sekarang ribuan Charter School di AS telah diberikan ijin untuk beroperasi,
yaitu sekolah-sekolah yang diberikan kebebasan dari ketentuan dan regulasi,
sehingga bisa mengadopsi kurikulum dari planet mana pun, asalkan berhasil
mencapai tujuan pendidikan.
Di Indonesia sebetulnya sudah dijamin oleh undang-undang mengenai otonomi
sekolah dan hak masyarakat untuk ikut berperan dalam perencanaan, pelaksanaan,
pengawasan, dan evaluasi program pendidikan (Pasal 8).
Apabila ada birokrat yang menghalangi ini, kita bisa menuntut mereka karena
melanggar undang-undang. Maka, para pendidik dan masyarakat luas perlu
menyadari hak dan kewajiban mereka. Kalau tidak, kualitas pendidikan kita tidak
akan berubah. *
Last modified: 9/6/05
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/