terimakasih buat tanggapan lagi dari mba fau, juga
tanggapan dari mas ari. pendapat saya lebih dekat
dengan pendapat mba fau:
(*) kelihatannya yang disampaikan mas ari adalah
situasi tahun 1980-1990 an, jamannya pak Habibie
gencar mengirim SDM dengan beasiswa dari pemerintah
RI (biasanya diambil dari dana pinjaman).
(*) kalau saya ambil contoh negara tujuan
sekolah seperti di jerman, situasinya
sekarang sudah sangat berbeda. Seperti
dikatakan mba fau, sekarang sudah sangat
sedikit beasiswa dari pemerintah RI seperti
jaman pak Habibie dulu. Sekarang instansi-2
(termasuk perguruan tinggi) hanya mengirimkan
orang yang menjadi stafnya saja = dengan
ekspektansi bahwa staf tsb. akan pulang
dan bekerja kembali di instansi tsb.
( beasiswa DAAD jerman sebagian besar juga
untuk staf yang sudah mempunyai ikatan
seperti itu ).
Tetapi sekarang ada pula beasiwa-2 dari
perusahaan-2 Multinasional yang sama sekali
tidak mensyaratkan ikatan dinas. Jadi
status penerima beasiswa bisa freelance.
Kalau saya amati yang di jerman saat ini,
hanya sebagian kecil yang statusnya dikirim
oleh instansi pemerintah di Indonesia. Juga
ada beberapa yang menerima beasiswa model
* freelance * seperti di atas. Sementara,
sisanya, sebagian besar statusnya adalah
* swasta *, ini artinya bisa dibeayai oleh
orang tua mereka, atau berdikari/dengan bekerja
part-time, atau 50% - 50%.
Untuk yang freelance serta yang 'swasta' semacam
ini tentu saja mereka bebas menentukan masa depan
mereka.
***
Sama dengan pertanyaan mba fau, saya juga kurang
memahami statement mas Ari bahwa *hanya mahasiswa
dari kalangan Indonesia saja* yang cenderung tidak
mau pulang dan ingin bekerja di LN. Apa engga kebalik? :)
Justeru kesan saya mahasiswa-2 China, India, Vietnam
ini yang sejak dulu semangat ber emigrasinya tinggi.
Kalo orang Melayu kan malah terkenal 'mangan-ora-mangan
ngumpul ...' :). Baru agak akhir-2 ini saja mulai banyak
mahasiswa asal Indonesia yang bekerja di LN setelah selesai
studi, meskipun ini juga hanya untuk beberapa tahun. Relatif
sedikit yang berniat tinggal di LN untuk selama-lamanya ...
Seperti dikatakan mba Fau, India dan China lah yang level
"diaspora" nya sudah tinggi. Indonesia masih relatif kecil.
kecuali jika fenomena TKI juga dipandang sebagai bagian
dari the *Melayu Diaspora* ... :)
Menurut laporan sebuah majalah kajian strategi:
< http://www.foreignpolicy.com >
edisi tahun 2004, orang bahkan sekarang sudah bisa menghitung
berapa $ juta USD sumbangan ekonomi para perantau, baik
Indian diaspora maupun Chinese diaspora pertahunnya saat
ini ke negara mereka masing-masing.
***
Hal lain yang saya amati di jerman, mungkin juga kondisi
nya serupa, adalah mulai kelihatan "menggeliat" nya
spirit perantau-2 Afrika (the Black Africans) untuk
sedikit banyak membantu ekonomi negeranya masing-2.
Banyak yang membuka Wartelnet (utk. telepon dan internet)
sambil berjualan produk-2 Afrika: pisang, bumbu, kerajinan
tangan, tekstil, dan makanan kalengan/botolan produk
mereka. Ada yang bilang, hingga saat ini sebetulnya
negara-2 Afrika masih 'semi dijajah' oleh eropa; katanya
Afrika masih sulit memasarkan produknya langsung ke pasar
global ... somehow, musti harus lewat eropa dulu < ? >.
Hal seperti ini di kalangan orang Indonesia di eropa masih
sangat jarang di jumpai. Kalau orang cari bumbu-2 / bahan
makanan Indonesia di jerman, biasanya pergi ke 'toko Asia',
pemiliknya biasanya orang Thailand/Vietnam. Entah kalau di
Belanda ...
===( ihm )================================================
note: subject posting ini seharusnya adalah
the 'Indonesian diaspora', tetapi saya
memilih menggunakan kata 'Melayu diaspora'
mungkin supaya lebih 'menggigit' ... :)
> -----------------
> Ari Condro" wrote:
> -----------------
> > Sayangnya, anak Indo yang dapat beasiswa suka
> > 'ngemplang'. Ada yang terus jadi illegal imigrant,
> > ada yang kabur ke negara lain dan banyak diantara
> > teman-teman saya yang dari pegawai negeri balik ke
> > Indo gak bisa pake ilmunya ......Cina juga maju pesat
> > dan mulai merajai bisnis dan industri. Makanya saya
> > tidak heran kalau mereka dapat jatah yang besar
> > untuk beasiswa, karena memang mereka warganya rajin
> > (ngga seperti masyarakat Melayu yang hobinya shopping
> > dan foto-foto sambil arisan), penerima beasiswanya
> > di dukung dan bisa mengimplementasikan ilmunya (tidak
> > dihambat birokrasi kepegawaian, senioritas dll) dan
> > posisi Cina sendiri yang menjadi macan Asia.
> > -------------
> > Mau sedikit komentar soal hal ini...ada benarnya juga
> > bahwa banyak mahasiswa Indonesia yang setelah dapat
> > beasiswa, terus lihat negeri tuan rumah lebih enak,
> > setelah lulus banyak yang enggan pulang.
> >
> > Berbagai cara dicoba supaya tetap tinggal dengan
> > satu tujuan:
> >
> > memperoleh pekerjaan. Fenomena ini jarang saya
> > lihat untuk mahasiswa dari negara Asia lain seperti
> > Filipina, India, Vietnam dan Cina.
> >
---------------
fauziah swasono:
----------------
> Apa bukannya mahasiswa Cina dan India yang lebih
> hebat brain drainnya? Indonesia kalau dihitung kecil
> persentasenya. Dan setahu saya jarang banget yg
> menjadi illegal immigrant, biasanya legal, lewat
> postdoc atau kerja dg memegang visa kerja.
> Ini saya ambil dari
>
> http://www.asiapacific.ca/analysis/pubs/28jun00-shanghai.html
> -----------------------
> Between 1979 and 1998, only about a third of all
> Chinese students sent overseas by their government
> have returned to China. The return rate is lowest
> for students going to the United States, at around 19
> percent (Canada's rate is around 50 percent).
> -----------------------
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/