KOMPAS: Makan siang Pamusuk Eneste Ngupi-ngupi yuk! Jari jemari dan otak saya rasanya 'gatal' ingin menanggapi tulisan Bapak Pamusuk Eneste di rubrik BAHASA: "Sebelum Makan Siang" (Kompas, 11 Juni 2005 halaman 12). Sekilas apa yang diungkapkannya benar, namun kurang tepat karena amat subyektif. Apa yang ia uarkan, dari mulai janji makan siang, tukang gado-gado, hingga istilah 'lumayan', menurut saya perlu dikoreksi karena tak sesuai dengan kenyataan. Apa yang ia tuliskan sama sekali tak ada kaitannya dengan ulah sebagian orang Indonesia yang ia sebut suka ungkapan samar-samar. Agaknya, Pamusuk tak menelisik lebih jauh asal muasal kemunculan istilah itu. Saya awali saja dari janji bertemu: sebelum atau sesudah makan siang. Istilah ini sebenarnya masuk kategori perbincangan bisnis alias obrolan orang kantoran, jarang dipakai oleh ibu-ibu rumah tangga, mahasiswa, kalangan PRT dan profesi lainnya yang tak terikat jam kerja kantor. Pasalnya, tiap kantor punya peraturan jam makan siang yang berlaku secara internasional (umumnya antara pukul 12.00 hingga 13.00) -- orang bule menyebutnya 'lunch time'. Semisal saya ingin bertemu dengan pemimpin redaksi KOMPAS Suryopratomo, lalu ia bilang: "Oke, kita ketemu sesudah makan siang." Apa yang ia utarakan sudah benar adanya. Cuma, kemudian berlanjut dengan penetapan waktu, apakah jam 1 atau jam 2 siang, dan tempat bertemunya dimana. Kalau ia bilang" "Oke, kita ketemu sebelum makan siang", artinya ya antara pukul 10.30 WIB hingga 11.30 - tak bisa lewat dari jam itu.
Sebagai catatan, antara pukul 8.00 hingga 10.00 tak bisa disebut sebelum makan siang, begitu pula pukul 15.00 - 17.00 tak bisa disebut sesudah makan siang. Perlu diketahui, patokan waktu ini berlaku secara internasional, sama sekali bukan rekaan orang Indonesia, juga tak ada hubungannya dengan jam karet. Orang bule menyebutnya 'before lunch' dan 'after lunch'. Di balik istilah itu tersirat makna bahwa orang yang akan kita temui tidak mau diganggu jam makan siangnya. Kecuali kalau ia bilang, "Ayo, kita ketemu pas makan siang." Artinya, kita bisa berbincang-bincang soal bisnis sembari santap siang. Tempat bertemunya tentu saja bukan di kantornya, alias saya tak bakal makan 'serantang berdua' jatah kateringnya Suryopratomo, tetapi bersantap di luar kantor. Dalam posisi seperti itu, kita juga tak perlu lagi bertanya, "Siapa yang akan bayar?" Kalau ia mengajak ngobrolin bisnis sambil makan siang, artinya dia yang akan mentraktir kita - kecuali ada kesepakatan lain. Orang bule bilang, "Let's have lunch together!" Siapa sudi menolak ditraktir makan siang gratis? Apalagi kalau buntutnya dapat kontrak bisnis? Pamusuk juga jangan kaget kalau sekarang lagi ngetrend istilah "ngupi-ngupi yuk". Ini masuk kategori bahasa gaul yang umumnya dipakai oleh eksekutif muda. Nah, kalau istilah ini baru ciptaan 'urang awak' di tengah maraknya kedai-kedai kopi bergengsi semacam Excelso, Oh La La, Twilite, Starbuck dan yang lainnya. Namun budaya membincangkan bisnis sembari minum kopi -- ditemani cemilan -- sebetulnya sudah berusia ratusan tahun lamanya, kemungkinan besar awalnya berasal dari Amerika, seperti mereka bilang, "Let's have a cup of coffee together." Itu artinya kita bincang-bincang bisnis sembari minum kopi plus kadang disela dengan obrolan pribadi dengan secuil selingan 'ngrasani' orang lain. Waktunya? Sebenarnya tak ada patokan waktu, tetapi umumnya setelah jam bubaran kantor. Orang bule bilang, "After office hours". Nah, lagi-lagi itu semua bukan budaya kita, tetapi caplokan dari negeri manca. Ulekan gado-gado Pamusuk menulis: Senyampang bicara mengenai makan siang, ceritanya lebih seru lagi di warung gado-gado. Si tukang ulek lazim bertanya kepada pembeli atau pelanggannya: "Gado-gadonya pedas apa enggak?" Pedas apa enggak itu menyangkut jumlah cabai yang akan diulek si tukang gado-gado. Jawaban yang terdengar dari pembeli biasanya tiga macam: pedas, sedang, dan tidak pedas. Tanggapan dari saya: Pak Pamusuk agaknya kurang menghargai profesi tukang gado-gado ulek dan kurang mengeksplorasi lebih jauh soal cabai. Mereka bukanlah orang bodoh yang bakal menjerumuskan para pelanggannya. Apa yang ia tanyakan kepada para pelanggannya sudah benar. Tak mungkin ia bertanya, "Mau berapa cabainya?" Itu pertanyaan dari tukang gado-gado 'jadi-jadian'. Sama halnya dengan pertanyaan pramusaji di sebuah resto kala kita pesan bistik (beef steak): "rare"/"medium" atau "well done"? Kalau kita pesan "well done" tetapi daging bakar yang disajikan masih kemerah-merahan, kita bisa komplain, minta ditukar atau dibakar ulang. Tak mungkin pramusaji itu bertanya kepada pelanggannya: "Dagingnya mau dibakar berapa lama? Mau dibakar dengan ukuran berapa derajat celcius?" Itu sungguh pertanyaan yang bodoh dari pelayan resto. Begitu ya pak Pamusuk. Kembali ke tukang gado-gado. Kini soal cabai. Mereka sudah tahu soal tingkat kepedasan cabai. Jadi tak perlu lagi menghitung berapa jumlah cabai musti ia ulek, karena ia sudah paham takarannya. Di pagi hari, kala ia belanja ke pasar, ia sudah tahu asal muasal cabai yang dijual oleh para pedagang sayuran. Cabai dari Jawa Barat dan Jawa Tengah, misalnya, tingkat kepedasannya berbeda dengan cabai dari Madura, Aceh, Makassar, dan daerah lainnya. Kalau kita bersantap di kedai Coto Makassar, mereka menyediakan 'cabai gila'. Ukurannya sungguh super mini, tapi pedasnya bukan main. Tak heran usai mengunyah cabai tersebut, orang-orang akan bilang, "Gila gila gila..gila bener pedasnya." Akhir kata, saya turut berduka cita atas wafatnya Ibunda tercinta: thahir asmadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Berduka cita. Kamis pagi 9 Juni telah wafat ibunda dari anggota FBMM/guyubbahasa Pamusuk Eneste di RS Carolus Jakarta. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Mertilang IC/KA 8/11 Bintaro Jaya sektor 9 Oondok Pucung. Jumat pagi akan tditerbangkan ke Medan. Atas nama FBMM saya turut berduka cita dengan wafatnya ibunda Sdr.Pamusuk. Semoga dia tabah menghadapi cobaan ini. TDA Tak lupa mohon maaf bilamana ada rangkaian kata yang kurang berkenan. Mengutip kalimat penutup dari tulisan Pamusuk: "Agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tulisan ini pun harus disudahi sampai disini" Salam, Radityo Djadjoeri email: [EMAIL PROTECTED] =========================================================== Oleh PAMUSUK ENESTE Editor Sebuah Penerbit di Jakarta http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0506/11/Bahasa/1797336.htm =============================================== PERNAHKAH Anda mendengar dua orang-si A dan si B-berjanji untuk bertemu sebelum makan siang atau sesudah makan siang? Jika kita lebih cermat, sebetulnya kedua frasa ini tidak begitu jelas maknanya. Ada dua hal yang tidak jelas: makan siang dan makan siang siapa. Makan siang itu pukul berapa? Jawabannya: tidak tentu. Orang makan siang pada jam yang tidak sama: pukul 11.00, 11.30, atau pukul 12.00. Jangan salah. Ada juga orang makan siang sesudah pukul 12.00, misalnya pukul 12.30 atau pukul 13.00. Pertanyaan selanjutnya: makan siapa yang dimaksud? Makan siang si A atau si B? Lebih jauh kita dapat bertanya: apakah mungkin dua orang bertemu sebelum makan siang kalau jam makan siang kedua orang yang berjanji tidak sama? Hal yang sama berlaku dengan frasa setelah makan siang. Makan siang siapa yang menjadi acuan: makan siang pihak pertama (si A) atau pihak kedua (si B)? Bagaimana mungkin dua pihak bertemu setelah makan siang jika tidak jelas makan siang siapa yang dijadikan acuan? Ada cara yang lebih mudah sebetulnya untuk membuat janji bertemu. Kita bisa mengacu pada titik waktu tertentu. Kita bisa bertemu pukul 10.30, 11.00, atau 11.30 alih-alih sebelum makan siang. Kita pun bisa mengatakan pertemuan sebaiknya diadakan pukul 14.00, 14.30, atau 15.00 alih-alih sesudah makan siang. Konsep waktu bagi sebagian orang Indonesia memang sering terasa longgar alias tidak jelas. Serbasamar atau memang sengaja disamarkan. Mungkin itu salah satu sebab mengapa sebagian orang Indonesia dikenal sangat intim dengan jam karet. Senyampang bicara mengenai makan siang, ceritanya lebih seru lagi di warung gado-gado. Si tukang ulek lazim bertanya kepada pembeli atau pelanggannya, "Gado-gadonya pedas apa enggak?" Pedas apa enggak itu menyangkut jumlah cabai yang akan diulek si tukang gado-gado. Jawaban yang terdengar dari pembeli biasanya tiga macam: pedas, sedang, dan tidak pedas. Adakah kesepakatan mengenai pedas, sedang, atau tidak pedas? Pasti tidak ada. Pedas bagi si pengulek gado-gado belum tentu pedas bagi si pembeli. Pedas bagi orang Manado atau orang Batak belum tentu pedas bagi orang Jawa atau orang Sunda. Jadi, sebutan pedas, sedang, dan tidak pedas itu sangat relatif. Sebetulnya, akan lebih mudah bila kita sebutkan jumlah cabai yang kita inginkan: satu, dua, tiga, dan seterusnya. Bukankah ini lebih jelas bagi si pengulek gado-gado? Sebaliknya, si pengulek gado-gado pun bisa bertanya, "Cabainya berapa?" alih-alih "Pedas apa enggak?" Dengan demikian, mau tidak mau, si pembeli akan menjawab berapa cabai yang dikehendakinya. Kita juga sering mendengar komentar orang mengenai makanan, kecantikan seseorang, tontonan-sinetron, film, atau drama-dengan predikat lumayan. Apa artinya lumayan? Untuk makanan, lumayan itu berarti 'enak tidak, tidak enak juga tidak'. Jadi, 'antara enak dan tidak enak'. Menyangkut kecantikan seseorang, lumayan artinya 'tidak cantik, tetapi jelek juga tidak'. Jadi, 'antara cantik dan jelek'. Begitu pula untuk tontonan, lumayan artinya 'antara bagus dan jelek'. Jadi, lumayan itu bolehlah disamakan dengan sedang. Ini dibenarkan kamus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), salah satu makna lumayan adalah 'sedang' (halaman 688). Memang dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau frasa yang maknanya samar atau tidak jelas. Betapa sering pejabat Indonesia mengatakan, "Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bla bla bla...." Tidak diinginkan oleh siapa? Tidak jelas. Apa hal-hal yang tidak diinginkan itu? Juga tidak jelas. Konon sebagian orang Indonesia memang lebih suka menggunakan kata yang samar-samar. Dengan cara itu, orang bisa berkelit kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "Ah, bukan itu maksud saya. Anda salah tangkap," kata orang berdalih. Jangan heran pula pejabat sering berkata kepada wartawan, "Saya tidak mengatakan begitu. Itu tafsiran Anda." Agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, tulisan ini pun harus disudahi sampai di sini. thahir asmadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Berduka cita. Kamis pagi 9 Juni telah wafat ibunda dari anggota FBMM/guyubbahasa Pamusuk Eneste di RS Carolus Jakarta. Jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Mertilang IC/KA 8/11 Bintaro Jaya sektor 9 Oondok Pucung. Jumat pagi akan tditerbangkan ke Medan. Atas nama FBMM saya turut berduka cita dengan wafatnya ibunda Sdr.Pamusuk. Semoga dia tabah menghadapi cobaan ini. TDA Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com --------------------------------- Discover Yahoo! Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out! [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

