SUARA PEMBARUAN DAILY 

Layanan Kesehatan Gratis Baru Sebatas Angan
Mak Inah (40) hanya bisa pasrah. Sawah garapan satu-satunya, tempat Ia dan 
keluarga menggantungkan harapan, harus rela digadaikannya. Semua itu bermula 
dari sakitnya anak bungsunya akibat terkena demam berdarah dengue (DBD), 
membuat janda miskin yang berprofesi sebagai petani itu kehilangan lahan bagi 
mata pencahariannya. Inah tidak berhasil mendapatkan kartu jaminan kesehatan 
bagi perawatan medis buah hatinya itu. 

 

Pembaruan/Jurnasyanto Sukarno 

PUSKESMAS KELILING - Para pengungsi korban banjir antre mendapatkan pengobatan 
gratis dari puskesmas keliling di tempat pengungsian di Jalan Kampung Melayu, 
Jakarta Timur, baru-baru ini. Para pengungsi saat itu banyak yang menderita 
demam tinggi karena terendam air sepanjang malam. 



KARTU jaminan kesehatan itu seharusnya menjadi hak Inah. Karena nyatanya, ia 
tak sanggup menanggung biaya pengobatan anaknya ke rumah sakit, yang totalnya 
mencapai sekitar Rp 1,7 juta. 

Dengan penghasilan pas-pasan sebagai buruh tani di kampungnya di Kecamatan 
Tamansari, Bogor, ia harus menanggung sepenuhnya kebutuhan sehari-hari 
keluarganya sejak ia hidup menjanda. Kini Puskesmas tak bisa lagi mengeluarkan 
jaminan kesehatan bagi masyarakat karena hal itu sudah menjadi wewenang PT 
Askes. 

Saat Inah menempuh prosedur mendapatkan kartu asuransi kesehatan (askes), 
prosesnya cenderung berbelit-belit. Padahal pihak rumah sakit meminta biaya 
pengobatan anaknya dibayarkan segera. 

Persoalan menjadi kian runyam karena pada kenyataannya, tidak semua rakyat 
miskin di Bogor bisa mendapatkan jaminan kesehatan PT Askes tersebut. Kartu 
asuransi kesehatan di Kabupaten Bogor cuma-cuma hanya disediakan bagi 453.350 
jiwa warga miskin. 

Hal itu sangat tidak mencukupi. Sebab, berdasarkan dari Dinas Kependudukan, 
jumlah warga miskin di Kabupaten Bogor mencapai 1.185.000 jiwa, atau lebih dari 
seperempat keseluruhan penduduk kabupaten itu. 

Dengan kata lain, pemerintah pusat hanya mampu menangani bantuan kesehatan bagi 
45 persen keluarga miskin (gakin) di Kabupaten Bogor. Sedangkan sebanyak 55 
persen gakin lainnya hingga saat ini masih belum jelas nasib kesehatannya 
apakah terlayani bantuan pemerintah atau tidak. 

Di Kota Bogor, kondisinya ternyata sami mawon. Dari 390.000 warga Kota Bogor 
yang dikategorikan miskin, hanya 60.000 orang yang akan mendapatkan bantuan 
kesehatan yang merupakan kompensasi kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tersebut. 
Persentasenya jauh lebih rendah dibandingkan Kabupaten Bogor yakni sekitar 15 
persen saja. 

Padahal, pemerintah sudah terlanjur gembar-gembor bahwa kenaikan harga BBM yang 
dirasakan rakyat saat ini, dananya akan dialihkan bagi subsidi langsung 
terhadap rakyat miskin. 

Realitasnya di lapangan, seperti di Jawa Barat, rakyat miskin yang mendapat 
subsidi langsung sebagai kompensasi kenaikan BBM yang mereka rasakan, jumlahnya 
kurang dari separuhnya. 

Padahal dengan keyakinan tinggi, tim ekonomi pemerintah memastikan bahwa dana 
kompensasi BBM mampu meretas persoalan kesehatan bagi rakyat miskin. Faktanya, 
untuk membiayai kesehatan rakyat miskin hingga 50 persen saja, pemerintah tak 
sanggup. 

Persoalan pun belum selesai pada taraf penyebutan angka-angka seperti di atas. 
Dalam pelaksanaan di lapangan pun masih rawan terja-dinya penyimpangan. 

Kondisi tersebut juga membuka peluang bagi apa-rat pemda hingga pemerintahan 
desa untuk tidak serius mendistribusikan kartu askes kepada yang berhak. Bisa 
saja setiap ada warga yang mengurus kartu askes, aparat mengatakan sudah habis. 
Padahal, mereka belum menyalurkan dengan benar atau malah menyalurkannya pada 
orang-orang tertentu. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan yang ketat 
terhadap penyaluran dana Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM) 
tersebut. 


Tak Sanggup 

Agar tidak kehilangan muka, pemerintah pusat pun meminta pemerintah provinsi 
dan kabupaten/kota untuk ikut membiayai dana kesehatan bagi rakyat miskin. 

Harapan masyarakat miskin Bogor cukup berbunga-bunga karena pemerintah provinsi 
menggulirkan program raksa desa bidang kesehatan. Meski tidak ada kaitannya 
dengan kenaikan harga BBM, meski hanya ditujukan bagi ibu hamil dan bayi 
berisiko tinggi, program raksa desa tersebut tak urung memanen harapan tinggi 
dari rakyat. 

Namun sayangnya, konsep mulia pengentasan persoalan kesehatan rakyat miskin itu 
tak dijalankan secara professional di lapangan. Meminjam istilah Ketua DPW PKS 
Jabar, Yudi Widiana Adia, aparat di lapangan tak punya motivasi kuat untuk 
menyukseskan tugas mereka dalam layanan publik. 

Minimnya motivasi tersebut dengan jelas terlihat dari tidak adanya sosialisasi 
yang maksimal agar program ini diketahui publik secara luas. "Banyak rakyat 
miskin yang membutuhkan tidak tahu sama sekali program ini," ujar Yudi. 

Aparat terkesan bekerja secara minimalis untuk memberitahu warganya, bahwa 
biaya kesehatan mereka ditanggung pemerintah. Hal kedua yang menandai minimnya 
motivasi aparat adalah tidak adanya mekanisme evaluasi yang transparan agar 
diketahui publik baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. 

Padahal, ide mulia ini berasal dari gubernur yang ingin meningkatkan Indeks 
Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Barat. Sebagai program unggulan bagi Jabar, 
raksa desa seharusnya digulirkan secara transparan agar seluruh rakyat ikut 
mendukung program ini. 

"Yang terjadi, aparat bekerja dengan semangat minimalis, mekanisme evaluasi pun 
tak diketahui publik," papar Yudi. 

Sinyalemen yang diungkapkan Yudi dibenarkan oleh aktifis Koalisi Bogor Sehat, 
Masnur. Hal itu terlihat dari belum disalurkannya dana raksa desa di Kabupaten 
dan Kota Bogor hingga saat ini. 

Berdasarkan SK Gubernur Jabar No 53/2003, Kabupaten Bogor dan Kota Bogor 
masing-masing memperoleh alokasi anggaran Rp 1,9 miliar lebih dan Rp 225 juta 
lebih. Sejak dicairkan bulan Oktober 2004 lalu hingga akhir April 2005, belum 
sepeser pun dana tersebut disalurkan kepada rakyat miskin. 

"Persoalannya, jika memang ada kendala, Pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor 
tidak pernah menjelaskannya kepada publik," ujar Masnur. 


Dipakai DPRD 

Dari Cibinong, beredar kuat isu dugaan penggunaan dana raksa oleh Anak Bupati 
Bogor, FPN, untuk kepentingan bisnisnya. Ketua Badan Kontrol Sosial Masyarakat 
(BKSM) M Sinwani, sangat menyesalkan jika isu tersebut benar dan terbukti. 

Terlebih lagi, FPN merupakan Anggota Komisi B DPRD Kabupaten Bogor yang 
tugasnya justru mengawasi penggunaan anggaran oleh eksekutif. "Sangat 
disayangkan orang yang seharusnya paling terdepan dalam melakukan layanan 
publik, justru menggunakan dana warga miskin untuk kepentingannya," tutur 
Sinwani. 

Carut-marutnya pengelolaan dana kesehatan bagi kaum miskin di Bogor pada 
akhirnya hanya memberikan kepedihan bagi rakyatnya. Di tengah ketidakberdayaan 
secara ekonomi akibat melambungnya biaya hidup termasuk biaya kesehatan, dana 
yang seharusnya mereka nikmati tidak disalurkan secara benar oleh aparat 
terkait. 

Terlepas dari adanya unsur kesengajaan atau tidak, atau benar tidaknya 
digunakan untuk kepentingan lain, kondisi tersebut sangat mengoyak-ngoyak rasa 
keadilan kaum papa. 

Dan itu terjadi di wilayah yang berjarak kurang dari 50 km dari Ibukota RI. 
Terlalu gitu loh! 


Pembaruan/Setia Lesmana 


Last modified: 11/6/05 

http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/11/index.html

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke