http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/13/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Menimbang Pemimpin Daerah dari Pengusaha Sukses
 

Fathullah 

PEMILIHAN kepala daerah (pilkada) secara langsung yang sudah dimulai di 
beberapa daerah pada hakikatnya adalah memilih pemimpin yang terbaik bagi 
daerah, yaitu pemimpin yang memajukan daerah dan mampu menyejahterakan 
warganya. Pemimpin seperti itu merupakan aset dan investasi daerah, bukan 
sebaliknya menjadi beban yang hanya memberatkan daerah. 

Sebagaimana aset dan investasi daerah, Ia sangat dibutuhkan, baik untuk 
menjawab persoalan yang sedang dihadapi maupun tantangan ke depan yang semakin 
nyata dan semakin berat. 

Dengan beragamnya persoalan yang kini dihadapi daerah, tentu hal itu 
membutuhkan kemampuan yang handal bagi pemimpin daerah, di samping juga 
kewibawaan yang terlahir dari keteladanan dan kejujuran pribadi, serta didukung 
dengan tingginya tingkat kepercayaan (legitimasi) masyarakatnya. Pemimpin 
daerah harus memenuhi kriteria yang standar, bahkan dituntut untuk dapat lebih 
ideal. 

Menyadari bahwa figur pemimpin daerah yang ideal, sebagaimana diharapkan tidak 
mudah untuk didapatkan, apalagi bagi daerah yang melangsungkan pilkada bulan 
Juni 2005 ini, waktunya sangat singkat dengan kriteria persyaratan yang sangat 
rendah, serta sistem rekrutmennya yang hanya menggunakan satu pintu, yaitu 
hanya melalui partai politik dan gabungan partai politik. 

Sehingga, tampaknya untuk mendapatkan figur pemimpin daerah yang ideal masih 
membutuhkan waktu yang cukup panjang lagi, dan harus mengubah persyaratan calon 
dan sistem rekrutmen pemilihan yang lebih baik dan lebih terbuka lagi. Artinya, 
dari sisi persyaratan ada kriteria pendidikan calon yang lebih tinggi dari SLTA 
seperti yang ada sekarang, ditambah pengalaman dan pengetahuan standar, serta 
persentase perolehan suara yang standar di atas 50 persen. 


Pintu 

Sedangkan untuk rekrutmen pemilunya, pintu pencalonannya harus dibuka lebih 
lebar dan lebih banyak pintu lagi, tidak hanya satu pintu oleh partai politik 
dan gabungan partai politik saja, tapi juga dibuka dari calon perorangan atau 
organisasi-organisasi di luar partai politik. 

Sebab, dengan satu pintu partai politik atau gabungan partai politik 
mengondisikan terjadinya korupsi, yaitu dengan menjadikan proyek pencalonan dan 
penjaringannya sebagai barang dagangan politik oleh sejumlah partai politik di 
daerah. 

Misalnya, ada partai politik di daerah yang menawarkan jabatan bupati harus 
menyediakan Rp 30 miliar. Akibatnya, kalau dia terpilih, pertama-tama masa 
jabatannya berpikir bagaimana mengembalikan modalnya itu. Atau, kalau bupati 
itu disponsori pihak sponsor dana, dia juga harus memberikan berbagai 
kompensasi proyek dan sebagainya. 

Menyadari berbagai kekurangan dan kelemahan itu, figur pemimpin daerah yang 
dilahirkan dalam pilkada, terutama yang bulan Juni 2005 ini, paling tinggi kita 
bisa berharap dapat melahirkan pemimpin-pemimpin daerah yang terbaik, belum 
yang ideal sebagaimana ada di negara-negara maju. 

Realitasnya bahwa sistem pemilihan kepala daerah kita masih dikondisikan di 
bawah standar negara maju itu, yaitu tidak lebih dari kondisi negara berkembang 
yang segalanya masih apa adanya. Sehingga, pemimpin yang dilahirkan dari 
pemilihannya juga mencerminkan lazimnya pemimpin di negara berkembang yang 
lebih banyak apa adanya, sedikit sekali atau hanya kebetulan saja mendapatkan 
pemimpin terbaik. 

Oleh sebab itu, peluang yang sedikit untuk mendapatkan pemimpin daerah yang 
terbaik itu harus benar-benar dimanfaatkan dan dikondisikan secara optimal. 
Paling tidak, dengan figur pemimpin daerah terbaik itu, ke depan bisa 
mengantarkan daerah itu mendapatkan pemimpin yang lebih terbaik lagi atau 
pemimpin ideal. 

Untuk mengetahui secara konkret figur pemimpin daerah yang terbaik, di 
antaranya adalah dengan mengetahui apakah calon pemimpin itu mempunyai visi, 
misi dan program yang jelas, berorientasi kepada kepentingan dan kesejahteraan 
rakyat dan memajukan daerah dengan agenda-agenda perubahan, meningkatkan daya 
saing SDM dan unggulan daerah. 

Semua itu bisa direalisasikan dan dipertanggungjawabkan kepada publik di 
daerah. 



Jadi visi, misi dan program itu tidak hanya sekadar memenuhi persyaratan 
administrasi ketika menjadi calon kepala daerah, tapi juga merupakan komitmen 
kepemimpinannya yang sangat kuat, dibuktikan dan dipertanggungjawabkan secara 
konkret apabila ia terpilih sebagai pemimpin daerah. 

Belajar dari pengalaman bagaimana karakter seorang pemimpin di daerah sejak 
tahun 1999 hingga 2004 lalu, yang kita saksikan banyak terjadi anomali dan 
distorsi-distorsi kepemimpinan daerah. Mereka menjadikan kesempatan berkuasa 
itu untuk memperkaya diri, keluarga, dan kroninya. Sedikit sekali di antara 
pemimpin daerah itu yang mempunyai komitmen untuk membangun dan menyejahterakan 
rakyat daerah yang dipimpinnya. 

Keadaan itu, sangat ironis sekali, bahkan bisa dikatakan primitif, apabila 
misalnya kita membandingkannya dengan karakter seorang pemimpin, apakah di 
daerah atau di pusat, di negara-negara maju yang pemimpinnya itu sudah masuk 
pada level mencari aktualisasi diri, kehormatan diri, dan oleh sebab itu 
menjadi kebanggaan diri yang tinggi dalam hidupnya, bukan lagi mencari kekayaan 
atau kesempatan untuk kaya, mumpung berkuasa. 

Apabila dicermati, penyebab utama karakter pemimpin daerah yang buruk itu, 
ternyata lebih disebabkan karena mereka merasa ada kesempatan berkuasa untuk 
mengembalikan modal pada saat pencalonan dan pemilihannya, yang disinyalir 
berbagai pihak sarat money politic itu. Bahkan kesempatan itu juga dimanfaatkan 
sebesar-besarnya untuk melipatgandakan modalnya itu untuk persiapan pemilihan 
lagi atau kalau tidak terpilih untuk modal usaha masa pensiun dan sebagainya. 

Bagi para pemimpin daerah seperti ini, jabatan identik dengan kesempatan 
"menyalurkan dendamnya", karena selama belum berkuasa tidak banyak yang bisa 
dilakukannya untuk korupsi. Sehingga tidak aneh, begitu ada kesempatan, 
kerakusannya memperkaya diri ini lebih menonjol ketimbang kewajibannya 
membangun daerah. Ibarat sifat monyet ketemu makanan, kalau pun sudah kenyang, 
dia masih saja mencadangkan makanan itu sebanyak-banyaknya di kantong leher, 
kedua tangan dan kakinya. 


Pengusaha 

Lain halnya dengan figur pemimpin daerah yang benar-benar menyadari bahwa 
kepemimpinan itu adalah amanah rakyat, dan oleh karenanya harus 
dipertanggungjawabkan kepada rakyat pula. 

Tidak ada kesempatan di hatinya untuk mencuri dan merampok uang rakyat, sekali 
pun banyak kesempatan dan godaan setan dan iblis melalui bujuk rayunya dari 
berbagai sudut dan cara untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, sebagaimana 
lazimnya cara yang paling jitu adalah melalui orang yang terdekat dan terkasih, 
yaitu keluarganya sendiri. 

Pemimpin daerah yang punya karakter seperti ini dilihat dari latar belakang 
karirnya adalah sangat berpotensi dari kalangan pengusaha tulen yang sukses, 
dan dengan kesuksesannya itu, sebagai makhluk politik, ia merasa terobsesi dan 
terpanggil untuk mengabdikan karirnya di dunia politik sebagai pemimpin daerah, 
yaitu untuk melakukan perubahan-perubahan demi kemajuan daerahnya. 

Dengan bermodalkan kekuasaan dan kekayaan yang dimilikinya, ia lebih nyata bisa 
berbuat banyak menjalankan visi, misi dan program kepemimpinannya tersebut. 

Kepemimpinan daerah dari yang berlatarbelakang pengusaha sukses itu secara 
logika memang punya alasan objektif yang relatif lebih baik dibandingkan dengan 
pemimpin daerah yang tidak berlatar belakang pengusaha sukses. Sebab, 
kesuksesannya sebagai pengusaha telah memberikan pengalamannya yang sangat 
berharga untuk memimpin daerah. 

Tentu saja di dukung dengan integritas atau moralitas yang baik, serta 
kapasitas SDM-nya yang bisa diandalkan sebagai pemimpin daerah. Di samping itu, 
kelebihan yang lain dari seorang yang berlatar belakang pengusaha sukses adalah 
keterbukaannya menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan mitra 
usaha, dan pendekatannya kepada para konsumen yang selalu dijaga dengan penuh 
konsisten. 

Bahkan, juga sikap disiplin dan profesionalitas yang tinggi yang diteladankan 
kepada staf karyawannya. Hal itu sangat mempengaruhi kesuksesannya dalam 
memimpin daerah. Karena sebagai pemimpin daerah, dia harus punya disiplin dan 
profesionalitas yang tinggi untuk menjadi tauladan bagi rakyatnya. 

Di samping itu, sesuai dengan tuntutan zaman yang semakin berkembang maju, maka 
gaya dan sistem kepe- mimpinan daerah pun ke depan akan semakin mengalami 
perubahan-perubahan yang pesat. Gaya dan sistem pemerintahan daerah dituntut 
untuk bisa diwirausahakan, kendati tidak sepenuhnya seperti dalam perusahaan 
murni. 

Akan tetapi tata kelola pemerintahan daerah yang selama ini terlalu birokratis, 
tidak efisien dan menjadi sarangnya korupsi, akan dilakukan perubahan yang 
signifikan. Perubahan seperti itu telah lama dipraktikkan di negara-negara maju 
seperti Amerika Serikat, yaitu sekitar tahun delapan puluhan. 

Seorang Wali kota Indianapolis, William Hudnut, dalam sebuah pidatonya tahun 
1986 menegaskan, beberapa kelebihan menerapkan pemerintahan wira usaha ini 
adalah, bahwa: dalam pemerintahan bergaya "wira usaha" akan mencari cara yang 
lebih efektif dan efisien untuk mengelola pemerintahan. 

Menurutnya, pemerintah wira usaha bersedia meninggalkan program dan metode 
lama. Ia bersifat inovatif, imajinatif, dan kreatif, serta berani mengambil 
risiko. Ia juga mengubah beberapa fungsi kota menjadi sarana penghasil uang, 
ketimbang penguras anggaran, menjauhkan diri dari alternatif tradisional yang 
hanya memberikan sistem penopang hidup. 

Ia bekerja sama dengan sektor swasta, menggunakan pengertian bisnis yang 
mendalam, menswastakan diri, mendirikan berbagai perusahaan dan mengadakan 
berbagai usaha yang menghasilkan laba. Ia berorientasi pasar, memusatkan pada 
ukuran kinerja, memberi penghargaan terhadap jasa. 

Ia pun mengatakan, "Mari kita selesaikan pekerjaan ini", dan tidak takut untuk 
memimpikan hal-hal besar (Mewirausahakan Birokrasi, David Osborne dan Ted 
Gaebler, PPm, 1991). 

Kesimpulannya, untuk bisa dengan mudah mempraktikkan pemerintahan daerah 
bergaya dan bersistem wira usaha dalam batasan-batasan tertentu ini hanyalah 
mereka yang mempunyai latar belakang dari figur pengusaha sukses, yang dengan 
keinginan dan kesadarannya sendiri mengabdikan dirinya untuk menjadi pimpinan 
daerah. 

Ide-ide perubahan dan komitmen menjalankan visi, misi dan program pemerintahan 
daerah berorientasi wira usaha ini akan sangat kental dalam jiwa seorang 
pengusaha sukses yang akan membawa suksesnya pula pemerintahan daerah itu. * 


Penulis adalah Direktur Eksekutif Center for Information and Development 
Studies (CIDES) 


Last modified: 13/6/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke