Dalam menilai Soeharto, saya pikir subyektifitas harus ditaruh 
diurutan belakang, kita harus  lebih melihat realita yg ada dan telah 
terjadi. 

Kita tidak bisa melihat hal ini dari aspek hukum semata, tapi aspek 
politis yg musti kita dahulukan. Mencari keadilan dan mendifinisikan 
kebenaran dalam hukum akan relative mudah (meski tidak gampang juga) 
tapi mencari keadilan dan kebenaran dalam politik adalah hal yg yang 
bastrak dan sangat 'tidak mungkin'.

Sementara, dosa2 dan jasa2 Soeharto erat kaitannya dgn sepak terjang 
politik beliau, kalkulasi disini akan sangat rentan dgn kepentingan 
pihak2 yg mengevaluasinya (subyektif), meski benar adanya sepak 
terjang Soeharto dalam politik telah banyak melakukan pelanggaran 
hukum, tapi tetap saja alasan utama (pelanggaran hukum tadi) adalah 
demi kepentingan politik beliau.

Manakala kita telah melegitimasi politik Soeharto (terbukti dgn 
kekuasaan yg mencapai 32 tahun), itu artinya kita 
telah 'melegitimasi' dosa2 pelanggaran hukum Soeharto juga. Dgn kata 
lain, dosa2 soeharto saat dia berpolitik yg telah dilegitimasi oleh 
rakyat lewat DPR/MPR sama artinya dgn dosa2 rakyat juga.

Adanya PETRUS itu dulu untuk siapa? apakah itu bukan bentuk 
pelanggran HAM juga? tapi kok rakyat malah mendukungnya? Pembersihan 
PKI dan ormas2nya itu untuk siapa? kok mayoritas rakyat juga 
mendukungnya? 

Politik dimana mana akan memerlukan cost, dan cost itulah yg 
dibutuhkan Soeharto demi politik beliau YG DILEGlTIMASI mayoritas 
rakyat.

Karena dari semula sudah jelas duduk perkaranya, yaitu masalah 
politik, maka untuk mengurai benang kusut itu juga harus dgn melalui 
jalan politis, yg mana itu artinya kita harus mengesampingkan aspek 
hukumnya, sebab bila aspek ini yg kita jadikan acuan untuk 
rekonsiliasi, maka konflik ini nggak akan pernah selesai, sebab 
seperti yg telah saya kemukakan diatas, dalam hukum musti JELAS 
antara salah dan benar, adil dan tidak adil, sementara, dalam politik 
hal itu TIDAK BERLAKU, yg ada adalah win win solution.

Sebab dasar utama politik adalah KEPENTINGAN, dimana yg namanya salah 
dan benar, adil dan tidak adil bukalah masalah prinsip disini, tapi 
itu tadi win win solution dan keiklasan menerima kepahitan dan 
sekaligus melupakan keindahan yg pernah dirasakan guna MEMBANGUN MASA 
DEPAN.

Selama masih ada dendam dan kebencian, maka rekonsiliasi nggak pernah 
akan ada, tidak sekarang tidak juga 1 dekade mendatang, sebab 
kehidupan manusia itu dinamis dan progresive, masalah hari lalu yg 
belum selesai sudah ditambah masalah hari ini dan kemudian diatmbah 
lagi masalah esok hari.

Start dari zero dan belajar melupakan dendam antar bangsa, lalu 
bersama2 membangun negeri ini, baru harapan hidup layak dimasa depan 
bisa kita miliki.

Salam
King
(jutaan rakyat yg pernah sakit hati sama soeharto mending urut dada 
dan iklaskan semua yg pernah terjadi, anggap itu sumbang sih buat ibu 
pertiwi, nothing to loose to forgive)


--- In [email protected], Robertus Budiarto 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mr. King of Tort,
>  
> Betul bahwa realitas memang begitu, masih ada jutaan yg menganggap 
Suharto sbg pahlawan. Tetapi bukankah kita juga mesti fair pada 
jutaan rakyat yg lain yang menderita dan mendendam pada Suharto?
>  
> Kalau fair hanya pada jutaan pihak lain, bukankah itu tidak fair 
namanya?!!
>  
> Opini Dr. Asvi Marwan Adam tampaknya perlu dipertimbangkan. Topik 
Suharto sampai sekarang masih kontroversial, karena memang Cendana 
Connection masih terlalu powerfulllll.
>  
> Betul sekali bahwa banyak penjilat-penjilat Suharto, yg sekarang 
berlagak reformis. Tapi dengan kenyataan ini jangan sampai kita 
membutakan realitas yg lain bahwa jutaan yg lain benar-benar 
mengalami penderitaan.
>  
> Rekonsiliasi sesungguhnya mungkin masih memerlukan 1 dekade lagi, 
mungkin...
>  
> Saya pribadi beropini bahwa Suharto lebih banyak kesalahan daripada 
jasanya. Ini dapat kita lihat dengan mudah jika kita menengok 
Malaysia, ya mulai membangun lebih lambat dari Indonesia, bahkan 
dikatakan Petronas saja dulunya belajar dari Pertamina, tapi sekarang 
Indonesia cuman jadi supplier tenaga kasar bagi Malaysia. ...  Maaf 
buat saya mengatakan Suharto berjasa...  , merupakan pengingkaran 
akal waras yang sangat mencolok mata... 
>  
> Salam
> Bobby B
> 
> 
> king_of_tort <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Bangsa Indonesia harus membuka matanya dan berani menerima realita, 
> betapapun, kita nggak akan mungkin bisa set back dan mencoba 
> membenahi segala sesuatunya dari situ.
> 
> Soeharto telah 'menulis' sejarahnya bersama sejarah Indonesia itu 
> sekaligus, bukan saja dgn tinta darah, tapi juga dgn tinta emas.
> 
> Buku Robert Erward Elson itu saya kira sangat patut untuk kita 
> jadikan acuan guna rekonsiliasi nasional. Para oportunis yg dulu 
> menjilat Soeharto dan sekarang mau mengadili Soeharto itulah justru 
> pengkhianat2 bangsa dan pengkhianat nurani.
> 
> Moga buku itu segera dipasarkan di Indonesia dan bisa di 'konsumsi' 
> oleh semua lapisan masyarakat, biar dendam dan kebencian yg selama 
> ini masih di genggam bangsa ini (sebagian) dan ingin melampiaskan 
> kesumatnya itu bisa merenungkan kembali komitmennya. Tanpa adanya 
> iktikad baik dari SELURUH bangsa Indonesia untuk melupakan segala 
> kejahatan2 kemanusiaan Soeharto, maka kondisi bangsa ini nggak akan 
> pernah berhenti dari terror dan civil war yg terus menjadi trend.
> 
> Betapapun, masih ada jutaan rakyat Indonesia yg masih mencintai 
> Soeharto dan menganggap Beliau adalah Pahlawan bangsa, realita itu 
> tidak bisa di abaikan begitu saja, karena sangat mungkin kekuatan 
> inilah yg mendominasi kekuatan rakyat.
> 
> Chico 
> 
> --- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/10/opini/1803054.htm
> > 
> >  
> > Pengamat Asing tentang Soeharto 
> > 
> > Oleh Asvi Warman Adam
> > 
> > 
> > 
> > TANGGAL 8 Juni 2005 Soeharto merayakan ulang tahun ke-84. Meski 
> dikatakan sakit, ia masih tampak sehat. Ia juga sempat melayat 
ketika 
> salah seorang menterinya pada masa Orde Baru, Radius Prawiro, 
> meninggal beberapa waktu lalu.
> > 
> > Di tengah tuntutan untuk mengadili dan memaafkan Soeharto, 
mungkin 
> timbul pertanyaan, bagaimana perannya dalam sejarah Indonesia.
> > 
> > Setelah Soeharto berhenti menjadi presiden tahun 1998, arus 
sejarah 
> cenderung menanggalkan atribut kebesaran yang telah dilekatkan dan 
> disandangnya selama puluhan tahun. Kehebatannya yang telah 
difilmkan 
> dan ditulis dalam buku pelajaran sejarah di sekolah kini 
> dipertanyakan. Bahkan, ia pun dikaitkan dengan G30S, sebagai orang 
> yang paling diuntungkan dalam proses kudeta merangkak terhadap 
> Presiden Soekarno.
> > 
> > Sebab itu, ada baiknya menyimak pandangan pengamat asing tentang 
> Soeharto. Tahun 2001 terbit buku tentang biografi Soeharto yang 
> ditulis oleh seorang akademisi Australia. Bagaimana tanggapan 
> pengamat lain di berbagai negara tentang buku itu? Dari perdebatan 
> ini barangkali kita dapat menyimpulkan sesuatu.
> > 
> > Tokoh penting Asia?
> > 
> > Buku Robert Edward Elson, Soeharto, Political Biography, 
> diterbitkan oleh Cambridge UP, Oktober 2001. Elson yang kini 
menjadi 
> profesor di Griffith University, Brisbane, sebelumnya menulis 
> disertasi Javanese peasant and the colonial sugar history: impact 
and 
> change in an east Java residency, 1830-1940 (Oxford UP, 1984). 
Tahun 
> 1997 ia menerbitkan buku The end of the peasantry in Southeast 
Asia: 
> a social and economic history of peasant livehood, 1800-1900 
> (Maxmillan). Entah mengapa ia tertarik kepada Presiden Soeharto, 
> barangkali karena Soeharto anak petani dan bergaya petani ketika 
> berkuasa.
> > 
> > Menurut Elson, Indonesia agaknya ingin melupakan Soeharto, karya-
> karyanya, dan menganggap Orde Baru sebagai penyimpangan dalam 
> perkembangan sejarah negeri ini. Sikap ini dapat dipahami, tetapi 
> dianggap Elson "dangkal".
> > 
> > Padahal, "Soeharto merupakan tokoh amat penting selama abad ke-20 
> di Asia", tulis Elson. "Secara bertahap, serba hati-hati dan 
> terencana, ia telah membangun Indonesia yang sama sekali baru". 
Pada 
> bab terakhir dikatakan, Indonesia baru yang diciptakan melalui 
tahap-
> tahap pembangunan berencana telah melahirkan kekuatan baru yang 
> menginginkan "reformasi total".
> > 
> > Bab pertama sampai bab lima buku ini berupa kronologi pengalaman 
> Soeharto dari masa kecil, menjadi tentara semasa revolusi, komandan 
> militer di Jawa Tengah, tugas penting tahun 1960-1965, percobaan 
> kudeta. Bab 6 sampai dengan bab 11 membahas usaha meraih kekuasaan 
> (1965-1968), legitimasi dan konsolidasi (1968-1973), berbagai 
masalah 
> Orde Baru (1973-1980), ekonomi, politik, dan pembangunan (1980-
1988), 
> puncak kejayaan (1988-1993), kemerosotan (1993-1998).
> > 
> > Mengenai peristiwa 3 Juli 1946 (Soeharto membocorkan ke Istana 
> rencana "kudeta" Mayor Jenderal Sudarsono dan kawan-kawan) 
> disimpulkan, itu merupakan kualitas Soeharto yang menjadi 
karakternya 
> di kemudian hari, yaitu caution, coolness, calculated decisiveness 
> when the time was right.
> > 
> > Namun, dari sisi lain bukankah kejadian itu dapat dianggap 
> pengkhianatan terhadap atasannya sendiri (Mayor Jenderal Sudarsono) 
> atau tujuan menghalalkan segala cara.
> > 
> > 
> > Penilaian yang berlawanan
> > 
> > Puji-pujian datang dari Australia dan Selandia Baru. John 
Monfries 
> (Australian Book Review, Maret 2002) mengatakan karya Elson 
> berkualitas tinggi. Menurut Monfries, Soeharto menjalankan dua 
jenis 
> ekonomi secara simultan, yaitu ekonomi pasar modern dan ekonomi non-
> budgeter (lewat jalan belakang, pencari rente, dan seterusnya). 
> Anehnya sistem ini berjalan cukup lama dengan hasil spektakuler. 
> Kelemahan Soeharto adalah tidak bisa membedakan antara keuntungan 
> pribadi dan kepentingan umum.
> > 
> > David Reeve dari University of New South Wales beranggapan 
biografi 
> Soeharto ini "mendalam, jelas, dan cerdas". Terlepas dari asal-usul 
> Soeharto yang gelap, keberuntungan adalah salah satu kunci 
suksesnya. 
> Tetapi Soeharto juga memiliki kemampuan pribadi yang hebat serta 
> penguasaan politik yang menghasilkan "pertumbuhan ekonomi luar 
> biasa". Terlepas dari itu, Reeve berkesimpulan, Soeharto adalah 
> pribadi yang sulit dipahami.
> > 
> > Robert Elson dalam wawancara dengan Radio Australia ABC, 6 Maret 
> 2002, mengatakan, dari segi horizon intelektual, Soeharto termasuk 
> manusia "satu dimensi". Ia tidak berusaha menemukan arah dan jalan 
> baru dalam pengetahuannya, tetapi menengok ke dalam dirinya atau 
> berdasarkan pengalaman sendiri. Soeharto tidak kreatif, namun lihai 
> memanfaatkan kesempatan dan mengarahkan menjadi keuntungan. Namun, 
> Soeharto seorang yang tak kenal ampun, musuhnya dibuat tidak 
berkutik.
> > 
> > Di Selandia Baru, ada tinjauan buku amat panjang yang ditulis 
> Nicholas Tarling, memuji karya Elson ini "lebih manusiawi" 
dan "jelas 
> obyektif".
> > 
> > Anthony L Smith dari Asia-Pacific Center for Security Studies, 
> Honolulu, berpendapat biografi ini dikerjakan serius bukan puja-
puji 
> seperti yang ditulis OG Roeder. Smith menyayangkan mengapa fokus 
> pembicaraan hanya politik yang terjadi di Jakarta, kurang membahas 
> konflik di Aceh dan Papua misalnya.
> > 
> > Kritik paling tajam dilontarkan dari Inggris oleh Peter Carey 
> (Asian Affairs, vol l, Oktober 2002), yang sulit menerima 
kesimpulan 
> Elson "tidak usah diragukan lagi bahwa warisan Soeharto adalah 
> pertumbuhan ekonomi yang luar biasa yang dihasilkan 
pemerintahannya".
> > 
> > Demikian pula dengan pernyataan "begitu besar yang telah 
dicapainya 
> sehingga kerusakan karena krisis keuangan 1997-1998 hanya sedikit 
> berpengaruh kepada keseluruhan rekornya". Peter Carey berpandangan, 
> jika diadakan survei ekonomi Indonesia terhadap lautan utang negara 
> dan swasta, bangkrutnya sistem perbankan nasional dan korupsi yang 
> sudah melembaga, maka penilaian di atas adalah sebaliknya.
> > 
> > Meski demikian, menurut Peter Carey, ada kesimpulan Elson yang 
> akurat seperti "ketika ia meninggalkan gelanggang, chaos membuat 
> negeri ini terlihat sulit untuk diurus, semangat Orde Baru tetap 
> langgeng. .Untuk mencapai tujuannya, negara melakukan kekerasan 
> terhadap warga secara periodik dan sistematis". Itulah warisan 
> Soeharto yang sesungguhnya.
> > 
> > Dari uraian itu tergambar betapa sulitnya menentukan peran 
> kesejarahan Soeharto sekarang. Ada penilaian yang bertolak belakang 
> di kalangan pengamat asing. Barangkali titik temu baru akan 
tercapai 
> satu dekade mendatang.
> > 
> > Asvi Warman Adam Ahli Peneliti Utama LIPI
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Discover Yahoo!
>  Get on-the-go sports scores, stock quotes, news & more. Check it 
out!
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke