Kutipan Dari Milis Sebelah
======================================================================
Bertengkar Itu Indah ....

Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, punya Niat untuk nikah. Bertengkar 
adalah 
phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau 
ada
seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri 
saya !" 
Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah 
berdusta. 
Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, 
sebagaimana
lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu 
sebenarnya 
sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi 
tingkat 
tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk 
hikmah, 
betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap
mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan 
desakan 
energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna 
ketimbang basa basi tanpa emosi.


Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala 
kita 
bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang 
mematangkannya,
tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun 
harus 
bertengkar, maka : 

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah. 
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal 
nada
tinggi harus   menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah 
pantang 
berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika 
ia
marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran 
saya ! Saya 
harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam 
hati : 
"kamu makin cantik kalau marah,makin energik ...." Dan dengan diam 
itupun
saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi  
tersalurkannya 
luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih ... bicaralah 
terus, 
kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka 
dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ...."

Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot 
muka",saya 
menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung 
adalah 
sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak
berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini  
giliran 
dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus untuk 
marah,
memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik 
untuk 
dilakukan secara berjama'ah selain marah :) 

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah 
terlipat 
masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab 
masa 
silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. 
Siapapun
tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang 
mulai
hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga 
harapan, 
bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di  antara orang yang masih
mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay,  sedang pertengkaran dua 
hati 
yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian 
mahal 
dibangunnya. 

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas 
keterlambatan 
itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang keras". 
Tapi bila
itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan 
kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. 

Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), 
sepedas 
apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih 
tinggi". 
Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari 
lewat, 
plus  tuduhan  "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya 
telah 
menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa 
lalu, ups
saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau cintanya 
mati, saya 
juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya 
tidak
hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini ..... 

3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga ! 
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan 
ibu dan 
bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga 
ia dan
kakak serta pamannya.  Dan konsep Quran, seseorang itu tidak 
menanggung 
kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).

Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi 
kalau 
ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya 
menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini 
selain
dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal 
cinta 
yang panas ini". 

Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu 
banyak". 
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya dari 
pada
ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..".  Dunia sudah 
diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi 
mertua!

4. Kalau marah jangan di depan anak anak ! 
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan  
kebencian. Dia 
tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka  
harus 
menonton komedi liar rumah kita.

Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak 
siapa. 
Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ' kan bapak 
saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :* Ibu : "Saya ini cape, 
saya 
bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang  main suruh begitu, 
emang saya
ini babu ?!!!" 
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan 
aku 
harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak  ada, 
emang
saya ini kuda ????!!!! * Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak 
saya 
kuda .... terus saya ini apa ?" 

Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak 
datang, 
lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada 
tawanya
ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata 
basi hati 
kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat ! 
Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa
'ibaadilahissholiihiin" Ya  Allah damai atas kami, demikian juga atas 
hamba 
hambamu  yg sholeh .... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, 
setelah 
salam  kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah 
mendustai Nya, 
padahal nyawamu ditangan Nya.

OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti 
lho itu 
janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat 
waktu
dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....??? 
Nnngg....... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya 
memang 
tidak bertengkar ... :) 

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan (Hikmah 
yang ini 
saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film). 
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar 
hanyalah "proses 
belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih setia 
dengan 
kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa'at, "Dengan
ucapan syahadat itu berarti  kita menyatakan diri untuk bersedia 
dibatasi". 
Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia 
pintar. 

Semoga bermanfaat .....
 
 
rgds,
::dYNa k pitna::


Get your Free E-mail at http://balita.zzn.com
___________________________________________________________
Get your own Web-based E-mail Service at http://www.zzn.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke