http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/14/opi02.html



Mencari Format Dialog Antaragama
Oleh: M A K S U N 

Tulisan Ismatillah A Nuad (IAN) yang berjudul "Hans Kung, Etika Global, dan 
Pluralisme" (Sinar Harapan, 28/5), menarik untuk dicermati. Meski tidak ada 
yang baru, namun satu hal perlu dicatat bahwa IAN telah menampilkan sosok dan 
gagasan Hans Kung dengan cukup cerdas tentang etika global, pluralisme, dan 
dialog antaragama. Hanya saja kecerdasan itu tanpa mengeksplorasi dan 
mengelaborasi lebih jauh sekaligus kemungkinan implementasinya dalam konteks 
sekarang. 

Contohnya, ketika menyampaikan gagasan Kung tentang pentingnya dialog 
antaragama di tengah dunia yang kian menggelobal, IAN hanya mengutip orasi 
ilmiah Kung dalam Forum Parlemen Agama-Agama Dunia di Chicago, tanpa disertai 
penjelasan tentang bagaimana caranya membangun dialog antaragama di Tanah Air 
yang multietnis dan multiagama ini. 

Dialog antaragama proyek besar yang harus terus dikembangkan, tidak boleh 
ditunda-tunda lagi. Sesungguhnya religiusitas Nusantara adalah kekayaan tak 
terhingga demi mewujudkan dialog antaragama. 
Tetapi, mengapa konflik agama masih saja terjadi di Tanah Air, seperti kasus 
Ambon, Maluku, Poso, dan sebagainya? Dalam konteks inilah, mencari format dan 
model ideal dialog antaragama menjadi lebih signifikan dan relevan. 

Tiga Prinsip
Ada tiga prinsip dasar yang bisa dijadikan landasan dialog ketika sebuah 
keyakinan dan pemahaman akan kebenaran agama seseorang berinteraksi dengan 
keyakinan dan pemahaman akan kebenaran agama orang lain. 

Pertama, setiap umat beragama hendaknya mengakui adanya suatu logika yang 
menyatakan Yang Satu (Tuhan) bisa dipahami dan diyakini dengan berbagai cara 
dan bentuk interpretasi. Meski Tuhan Yang Maha Kuasa bisa dipahami oleh 
berbagai penganut agama secara berbeda-beda, namun semuanya tetap mengacu pada 
keyakinan ada Sesuatu Yang Maha Kuasa. Inilah yang disebut eidos dalam istilah 
Class J. Bleeker, sensus numinous dalam istilah Rudolf Otto, transcendental 
focus dalam istilah Ninian Smart, essence of religion dalam istilah Mercia 
Eliade, atau ultimite reality dalam istilah Joachim Wach.

Kedua, banyaknya penafsiran dan pemahaman mengenai Tuhan Yang Satu itu harus 
dipandang hanya sebagai 'jalan' menuju hakikat yang absolut. Ini sangat 
penting, karena di samping memberikan dasar atas pandangan bahwa pluralisme itu 
sebagai suatu keniscayaan, juga sebagai langkah preventif untuk mencegah adanya 
kemungkinan pemutlakan pada masing-masing bentuk keagamaan dan pemahaman. 

Intinya, wahyu, doktrin, dan aturan-aturan kebaikan dari berbagai agama, 
kesemuanya merupakan sarana untuk mencapai realitas yang transenden dan 
sekaligus dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas manusia dalam hubungannya 
dengan realitas empiris dalam menjalani tugas-tugas kemanusiaan.

Ketiga, karena keterbatasan dan sekaligus kebutuhan kita akan komitmen terhadap 
suatu pengalaman partikular mengenai realitas yang transenden dan absolut, maka 
pengalaman partikular kita masing-masing, meskipun terbatas, akan berfungsi 
dalam arti yang sepenuhnya sebagai kriteria yang mengabsahkan pengalaman 
keagamaan pribadi. Sikap ini tidak berarti membolehkan adanya pemaksaan 
terhadap orang lain untuk mengakui dan meyakini apa yang kita alami, melainkan 
harus tetap diiringi pengakuan bahwa pada orang lain pun ada suatu komitmen 
mutlak yang serupa terhadap pengalaman partikularnya. Maka seseorang diharapkan 
mampu menghormati komitmen sendiri dan sekaligus menghormati komitmen yang 
berbeda dari orang lain. 

Format Dialog
Ada beberapa format dan model dialog antaragama. 

Pertama, dialog parlementer, yakni dialog yang melibatkan ratusan peserta 
seperti yang dilakukan World's Parliament of Religions pada 1893 di Chicago. 
Dalam dasawarsa 1980-an dan 1990-an dialog parlementer dilakukan di bawah 
pengawasan organisasi-organisasi multiagama, seperti World Conference on 
Religion and Peacre (WCRP) dan The World Congress of Faiths (WCF). Dalam 
pertemuan parlementer ini, ratusan peserta cenderung memusatkan diri dalam 
penciptaan dan pengembangan kerja sama antaragama sekaligus menggalang 
perdamaian di antara pemeluk agama.

Kedua, dialog kelembagaan, yakni dialog di antara wakil-wakil institusi 
berbagai orgsnisasi agama. Dialog ini sering dilakukan untuk membicarakan dan 
memecahkan masalah-masalah mendesak yang dihadapi oleh umat yang berbeda agama. 
Biasanya dialog kelembagaan ini melibatkan majlis-majlis agama yang diakui 
pemerintah, seperti MUI, PGI, KWI, Walubi, dan lainnya. 

Ketiga, dialog teologis. Dialog ini mencakup berbagai pertemuan - baik reguler 
maupun tidak - untuk membahas persoalan-persoalan teologis dan filsafat. Dalam 
dialog semacam ini tema yang pernah diangkat, misalnya, pemahaman kaum Muslim 
dan Kristen tentang Tuhan, sifat wahyu Tuhan, dan sebagaianya. Dialog teologis 
sebenarnya juga bisa menjangkau hal-hal yang lebih luas, seperti makna tradisi 
keagamaan seseorang dalam konteks pluralisme agama.

Keempat, dialog dalam masyarakat dan dialog kehidupan. Dialog model ini umumnya 
berkonsentrasi pada penyelesaian 'hal-hal praktis' dan 'aktual' dalam 
kehidupan. Misalnya, hubungan antara agama dan negara, hak-hak kaum minoritas 
agama, penyebaran agama, perkawinan antaragama, dan sebagainya. 
Kelima, dialog spiritual. Dialog semacam ini bertujuan menyuburkan dan 
memperdalam kehidupan spiritual di antara berbagai agama. Dialog model ini 
tidak bisa dipisahkan dari 'dialog teologis', tetapi keduanya dapat dibedakan, 
karena orang-orang yang melibatkan diri dalam dialog spiritual lebih menekankan 
pendalaman kehidupan spiritual ketimbang artikulasi problem-problem teologis.

Dialog teologis-filosofis yang sarat dengan nuansa mistik dan spiritual dalam 
kenyataannya banyak dilakukan oleh para pemikir yang sangat akab dengan dunia 
mistisisme dan spiritualitas. Bagi mereka, dialog bertujuan bukan hanya untuk 
menjawab berbagai tantangan intelektual dan teologis serta tradisi dan budaya 
lain, tetapi juga untuk mencari makna terdalam bagi kehidupan manusia yang 
sangat berharga untuk memperkaya dan memperdalam pengalaman spiritualnya.
Dengan adanya dialog antaragama, kita semua akan menyadari betapa kebersamaan 
dalam hidup beragama dapat menjadi pendorong munculnya sikap-sikap kritis yang 
sejati, yang tidak terhalang oleh perbedaan, pluralitas, dan batas-batas 
formalisme agama. 

Jika dikatakan, setiap agama memiliki daya kritisnya sendiri dalam memahami 
realitas, serta dapat menjadi sumber moral bagi kehidupan yang lebih baik dan 
bermakna, maka setiap pemeluk agama memiliki alasan kuat untuk saling 
memberdayakan iman masing-masing menuju keberagamaan yang inklusif, toleran, 
dan sejati. 

Penulis adalah dosen Fakultas Syari'ah IAIN Walisongo Semarang
  
Copyright � Sinar Harapan 2003 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke