Rekans LISI dan semua kaum intelektual Indonesia,

Ya jelas aja buku kita minim. Karena, maaf, guru besarnya pun termasuk dosen
utama/senior dan para doktor sibuk berpolitik atau berbirokrasi (karena
masih kekurangan gaji untuk mempertahankan gaya hidup). Apalagi masyarakat
yang tidak terkespose dengan kebiasaan baik membaca, menulis dan membagi
buku.  Juga buku yang kita buat capek-capek dihargai berapa sih? (yang ini
jangan sampai melemahkan semangat, karena saya juga lagi bikin buku..)Maaf
agak sinis, sesinis cuplikan tulisan saya tahun 2003 di Sinar Harapan.

"........ berbagai jabatan susulan juga akan bermunculan. Yang paling sering
adalah tawaran menjadi komisaris di puluhan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
atau perusahaan swasta. Menjadi komisaris, biasanya sang dosen akan terbuai
dengan berbagai fasilitas yang memang "enak tenan" yang bisa melupakan
mahasiswa atau rencana untuk menerbitkan buku teks kuliah......"

Lengkapnya ada di link berikut (maaf bagi yang udah pernah buka/baca):
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0301/11/opi01.html 

Wassalam,


Ir. Eddy Satriya, MA
Email: [EMAIL PROTECTED] 
Website: www.geocities.com/satriyaeddy ; 
Blog:  eddysatriya.blogspot.com , spaces.msn.com/members/kritikaku
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of bayu
krisnamurthi
Sent: Wednesday, June 15, 2005 5:00 AM
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [LISI] Fwrd: Tragedi Nol Buku

   Date: Tue, 14 Jun 2005 11:12:15 +0700
   From: [EMAIL PROTECTED]
Subject: TRAGEDI NOL BUKU, TRAGEDI KITA BERSAMA


Yth. Bapak dan Ibu IPBstaf netters

Saya ingin berbagi informasi. Bagi pustakawan yang hadir di Rapat kerja
pusat IPI di Pekanbaru beberapa hari yang lalu, informasi ini bukan
informasi baru. Judul Tragedi Nol Buku, Tragedi Kita Bersama adalah pidato
kunci pada Rakerpus IPI oleh Taufiq Ismail (penyair yang alumni IPB).


Wassalam
Abdul R. Saleh


Isi pidato tersebut adalah sebagai berikut:


TRAGEDI NOL BUKU, TRAGEDI KITA BERSAMA

Taufiq Ismail

APA KATA MEREKA TENTANG BUKU?

Buku adalah pengusung peradaban
Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam,
sains lumpuh, pemikiran macet.
Buku adalah mesin perubahan,
jendela dunia,
"mercu suar" seperti kata seorang penyair,
"yang dipancangkan di samudera waktu".
[Barbara Tuchman, 1989]

Buku adalah jendela
Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini
Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela
[Henry Ward Beecher, 1870]

Buku itu seperti taman
Yang bisa dimasukkan ke dalam kantong
[Pepatah Tiongkok]

Buku adalah benda luar biasa
Buku itu seperti taman indah penuh dengan bunga aneka-warna,
Seperti permadani terbang
Yang sanggup melayangkan kita
Ke negeri-negeri tak dikenal sebelumnya
[Frank Gruber, 1944]

Buku menghirup udara dan menghembuskan minyak wangi
[Eugene Field, 1896]

Buku harus menjadi kampak
Untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri kita.
[Franz Kafka, 1883-1924, cerpenis dan novelis Austria]

Tanpa buku Tuhan diam,
Keadilan terbenam
Sains alam macet,
Sastra bisu,
Dan seluruhnya dirundung kegelapan
[Thomas V. Bartholin, 1672]

Buku adalah teman paling pendiam dan selalu siap di tempat.
Penasehat yang paling mudah ditemui dan paling bijaksana,
Serta guru yang luar biasa sabar
[Charles W. Eliot, 1896]

Saya tidak membaca buku:
Saya berbicara dengan pengarangnya
[Elbert Hubbard, 1927]

Buku berfikir untuk saya
[Charles Lamb]

Buku itu cermin
Kalau keledai bercermin disitu,
Tak akan muncul wajah ulama
[G.C. Lichtenberg]

Buku sebenarnya bukanlah yang kita baca,
Tapi buku yang membaca kita
[W.H. Auden, 1973]

Wanita piaraan saya
Buku
[S.J. Adair Fitzgerald]

Kalau ada uang sedikit, saya beli buku,
Kalau masih ada sisanya,
Saya beli makanan dan pakaian
[Desiderius Erasmus]

Biarlah saya jadi orang miskin,
Tinggal di gubuk tapi punya buku banyak
Daripada jadi raja tapi tak suka membaca
[Thomas B. Macaulay, 1876]

Banyak orang seperti saya
Orang yang perlu buku, seperti mereka perlu udara
[Richard Marek, 1987]

Saya tak bisa hidup tanpa buku
[Thomas Jefferson, 1815]

Duduk sendirian dibawah sinar lampu,
Buku terkembang di depan,
Bercakap-cakap secara akrab dengan manusia dari generasi yang tak tampak.
Sungguh suatu kenikmatan yang tak bertara
[Yoshida Kenko, 1688]
Kebiasaan membaca itu satu-satunya kenikmatan yang murni
Ketika kenikmatan lain pudar, kenikmatan membaca tetap bertahan
[Anthony Trollope]

Orang mana bisa tahu tentang waktu yang dihabiskan
Dan susah payahnya belajar membaca (buku)
Saya sudah 80 tahun berusaha,
Belum juga mencapai tujuan
[Goethe]

Seseorang kehilangan kontak dengan kenyataan
Bila tidak dikelilingi buku-bukunya
[Francois Mitterand, Presiden Perancis, 1982]

Seperti daging untuk jasmani, begitulah bacaan untuk jiwa
[Seneca]

Membaca buku bagus
Seperti bercakap-cakap dengan orang hebat
Dari abad-abad terdahulu
[Rene Descartes, 1617]

Orang dapat memperoleh pendidikan kelas atas
Dari rak buku sepanjang lima kaki
[Charles William Eliot, Rektor Universitas Harvard]

Universitas sejati hari ini
Adalah sebuah kumpulan buku
[Thomas Carlyle]

Saya akan menyudahi pendahuluan ini dengan mengutip ucapan Jorge Luis Borge,
penyair, cerpenis dan esais Argentina (1899 - 1986), Direktur Perpustakaan
Nasional Argentina (1955 - 1973) tentang perpustakaan yang mengatakan,

Saya selalu membayangkan Sorga itu
Seperti semacam perpustakaan.


KENAPA ORANG INDONESIA (SEDIKIT, SANGAT SEDIKIT, LUAR BIASA SEDIKIT) MEMBACA
BUKU?

Kenapa di gerbong kereta api Jakarta-Surabaya pasasir Indonesia tidak
membaca novel, tapi menguap dan tertidur miring? Kenapa di bus Pekanbaru -
Bukittinggi penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi mengisap rokok?
Kenapa di halaman kampus yang berpohon rindang mahasiswa tidak membaca buku
teks kuliahnya tapi main gaple? Kenapa di kapal Makassar - Banda Naira
penumpang tidak membaca buku kumpulan puisi, tapi main domino? Kenapa di
ruang tunggu dokter spesialis penyakit jantung di Manado pengantar pasien
tidak membaca buku drama tapi asyik main sms? Ada 4 - 5 teori kuno yang
mencoba menjelaskan sebab defisiensi budaya yang sudah luar biasa parah ini,
dan sudah berlangsung 55 tahun lamanya, tapi saya jemu dan tidak akan
mengulanginya.
Etiologi dari epidemi ini, sebab utama penyakit kronis ini terletak sejak
dari hulu sampai hilir aliran sungai lembaga pendidikan kita, yaitu
TERLANTARNYA KEWAJIBAN MEMBACA BUKU SASTRA DI SEKOLAH-SEKOLAH KITA. Mari
kita teropong masalah ini, dengan mempertajam fokus lensa pengamatan ke SMA.
Agar diperoleh perbandingan yang menguntungkan, kita luaskan pandangan ke
SMA 13 negara, sebagai berikut ini.


Antara Juli-Oktober 1997 saya melakukan serangkaian wawancara dengan tamatan
SMA 13 negara. Saya bertanya tentang 1) kewajiban membaca buku, 2)
tersedianya buku wajib di perpustakaan sekolah, 3) bimbingan menulis dan 4)
pengajaran sastra di tempat mereka. Berikut ini tabel jumlah buku sastra
yang wajib dibaca selama di SMA bersangkutan (3 atau 4 tahun), yang
tercantum di kurikulum, disediakan di perpustakaan sekolah, dibaca tamat
lalu siswa menulis mengenainya, dan diuji:


Buku Sastra Wajib di SMA 13 Negara

NO      ASAL SEKOLAH    BUKU    NAMA SMA        TAHUN
               WAJIB   / KOTA
1       SMA Thailand Selatan    5 judul Narathiwat      1986-1991
2       SMA Malaysia            6 judul Kuala Kangsar   1976-1980
3       SMA Singapura           6 judul Stamford College        1982-1983
4       SMA Brunei Darussalam   7 judul SM Melayu I     1966-1969
5       SMA Rusia Sovyet        12 judul        Uva     1980-an
6       SMA Kanada              13 judul        Canterbury      1992-1994
7       SMA Jepang              15 judul        Urawa   1969-1972
8       SMA Internasional, Swiss15 judul        Jenewa  1991-1994
9       SMA Jerman Barat        22 judul        Wanne- Eickel   1966-1975
10      SMA Perancis            30 judul        Pontoise        1967-1970
11      SMA Belanda             30 judul        Middleburg      1970-1973
12      SMA Amerika Serikat     32 judul        Forest Hills    1987-1989
13      AMS Hindia Belanda-A    25 judul        Yogyakarta      1939-1942
       AMS Hindia Betarida-B   15 judul        Malang  1929-1932
       SMA Indonesia            0 judul        Di Mana Saja    1943-2005


Catatan: Angka di atas hanya berlaku untuk SMA responden (bukan nasiona;),
dan pada tahun-tahun dia bersekolah di situ (bukan permanen). Tapi sebagai
pemotretan sesaat, angka perbandingan di atas cukup layak untuk direnungkan
bersama. Apabila buku sastra 1) tak disebut di kurikulum, 2) dibaca Cuma
ringkasannya, 3) siswa tak menu lis mengenainya, 4) tidak ada di
perpustakaan sekolah, dan 5} tidak diujikan, dianggap no!. Angka not buku
untuk SMA Indonesia sudah berlaku 62 tahun lamanya, dengan kekecualian
luarbiasa sedikit pada beberapa SMA saja.

Sebagai tamatan SMA Indonesia, mari kita ingat-ingat berapa buku sastra yang
wajib baca selama 3 tahun di sekolah kita dulu (yang disediakan di
perpustakaan, dibaca tamat, kita menulis mengenainya dan lalu diujikan?).
Nol buku. Tapi kita tahu 3 puisi Chairil Anwar (" Aku", "Krawang-Bekasi",
"Senja di Pelabuhan Kecil"), kenal jalan cerita novel Layar Terkembang, dan
pernah dengar-dengar Rendra lahir di kota mana gerangan. Dengan kriteria di
atas, kita seharusnya tamat 72 puisi dan 7 prosa Chairil (bukunya
Derai-derai Cemara setebal 132 halaman), baca tamat Layar Terkembang (bukan
tahu plotnya karena baca sinopsisnya), dan baca tamat kumpulan puisi Balada
Orang Tercinta.
Di SD kita diberi tahu tentang awalan, sisipan dan akhiran. Di SMP kita
dilatih menggunakan awalan, sisipan dan akhiran. Di SMA kita diperiksa
menggunakan awalan, sisipan dan akhiran. Sastra diajarkan dalam
definisi-definisi, seperti ilmu fisika, dalam rumus-rumus, mirip ilmu kimia.
Latihan mengarang mendekati Nol Karangan. Rejim Linguistik menguasai
pelajaran bahasa dan sastra lebih dari setengah abad lamanya. Siswa tidak
diberi kesempatan berenang di danau kesusastraan dengan nikmatnya.

Siswa AMS wajib menulis karangan, 1 karangan seminggu. Karangan disetor,
diperiksa guru, diberi angka. Panjang karangan satu halaman. Jumlahnya 36
karangan setahun, 108 karangan 3 tahun. Ketika mereka masuk universitas,
tugas menulis makalah dan skripsi dilaksanakan dengan merdu dan lancar.
Kewajiban menulis karangan di SMA kini antara 1 kali setahun (mirip shalat
Idulfitri) sampai 5 kali setahun (pastilah di SMA favorit yang mahal itu).
Dibanding dengan AMS, yah, sekitar 5,2 persen. Ratusan ribu siswa pasti
pernah menulis karangan dengan judul"Cita-citaku" dan "Berlibur di Rumah
Nenek."

Tragedi Nol Buku ini hampir tidak masuk akal bila kita mendapatkan fakta
bahwa siswa Algemene Middelbare School (SMA zaman Belanda dulu) Yogya wajib
baca 25 buku sastra dalam waktu 3 tahun, tak jauh di bawah SMA Forest Hills
(New York), di atas SMA Wanne-Eickel (Jerman Barat) hari ini. Superioritas
AMS Hindia Belanda itu jadi luar biasa karena 25 buku itu dalam 4 bahasa,
yaitu Belanda, Inggeris, Jerman dan Perancis (responden Rosihan Anwar,
1997).
Tragedi Nol Buku ini berlangsung pada awal 1950. Ketika seluruh aparat
pemerintahan sudah sepenuhnya di tangan sendiri, demi mengejar
ketertinggalan sebagai bekas negara jajahan, yang mesti membangun jalan
raya, bangunan, rumah sakit, jembatan, pertanian, perkebunan, kesehatan,
perekonomian, maka yang diunggulkan dan disanjung adalah jurusan eksakta
(teknik, kedokteran, pertanian, farmasi), ekonomi dan hukum. Wajib baca 25
buku sastra digunting habis, karena dipandang tidak perlu. Ini kesalahan
peradaban luar biasa besar. Ketika saya perlihatkan hasil observasi (dalam
tabel) itu kepada Menteri Wardiman Djojonegoro (1997), beliau terkejut.
"Sudah demikian burukkah keadaannya?" tanyanya. "Ya," jawab saya.
Mari kita kilas batik ke tahun 1942-1945, dan kita dengar apa kata Asrul
Sani (1999):

Kelompok sastrawan masa itu (pendudukan Jepang) gila membaca. Buku-buku
orang Belanda, yang diinternir Jepang, banyak diloakkan di Pasar Senen,
sehingga asal rajin ke sana, banyak bisa memperoleh karya sastra dunia, di
samping buku-buku sastra Belanda. Rivai Apin, Idrus juga tukang baca. Idrus
fanatik pada IIya Ehrenburg ...
Di ]alan ]uanda dulu ada dua toko buku. Toko buku van Dorp, yang sekarang
jadi kantor Astra, dan toko buku Kolff. Koleksinya luar biasa. Saya dan
Chairil Anwar suka juga mencuri buku di sana.


Tapi kewajiban baca 25 buku itu tidak bertujuan agar siswa jadi sastrawan.
Tidak. Sastra cuma medium tempat lewat. Sastra mengasah dan menumbuhkan
budaya baea buku secara umum.
Seorang Anak Baru Gede di tahun 1919 masuk sekolah SMA dagang menengah Prins
Hendrik School di Batavia. Wajib baca buku sastra menyebabkannya ketagihan
membaca, tapi dia lebih suka ekonomi. Dia melangkah ke samping, lalu jadi
ekonom dan ahli koperasi. Namanya Hatta. Seorang siswa yang sepantaran dia,
di AMS Surabaya, juga adiksi buku. Kasur, kursi dan lantai kamarnya ditebari
buku. Tapi dia lebih suka iImu politik, sosial dan nasionalisme. Dia
melangkah ke samping dan jadi politikus. Namanya Soekarno.

Sastra menanamkan rasa ketagihan membaca buku, yang berlangsung sampai siswa
jadi dewasa. Rosihan Anwar (kini 83) tetap membaca 2 buku seminggu. Buku apa
saja. "Jiwa saya merasa haus kalau saya tak baca buku," kata beliau.
Demikianlah rasa adiksi yang positif itu bertahan lebih dari setengah abad,
bahkan seumur hidup.
Tragedi Nol Buku ini, yang sudah berlangsung 55 tahun lamanya, dengan mudah
dapat dijelaskan kini akibatnya. Tamatan SMA Nol Buku sejak 1950 (saya tak
sempat menghitung dengan teliti tapi pastilah meliputi beberapa juta orang);
mereka inilah yang kini jadi warga Indonesia terpelajar serta memegang
posisi menentukan arah negara dan bangsa hari ini, dengan rentang umur
antara 35 - 70 tahun.
MEREKA INI, DENGAN SEDIKIT KEKECUALlAN, HAMPIR SEMUA BERBEKAL NOL BUKU
KETIKA BERSEKOLAH, TIDAK MENDAPAT KESEMPATAN UNTUK DITANAMKAN RASA KETAGIHAN
MEMBACA BUKU, KECINTAAN PADA BUKU, KEINGINAN BERTANYA KEPADA BUKU DALAM
SEMUA ASPEK KEHIDUPAN DAN KEBIASAAN MENGUNJUNGI PERPUST AKAAN SEBAGAI TEMPAT
MERUJUK SUMBER ILMU PENGETAHUAN.

Tentulah etiologi penyakit budaya ini mesti disembuhkan. Kita perbaiki
bersama pengajaran membaca dan menulis di sekolah-sekolah kita, sejak SD,
sampai SMP dan SMA. Komponen luar biasa penting dalam ikhtiar perbaikan ini
adalah perpustakaan.

Ketika masih siswa SMA di Pekalongan, pada tahun 1955 dan 1956, saya pernah
menjadi penjaga perpustakaan pelajar, yang diamanatkan Djawatan Pendidikan
Masjarakat kepada organisasi Peladjar Islam Indonesia. Perpustakaan kami
dibuka sekali sepekan, pada hari Minggu saja, di beranda rumah orangtua
saya, Jalan Bandung 60. Jumlah buku sekitar 300 judul. Saya dan sahabat saya
S.N. Ratmana menjadi administraturnya: mencatat lalu-lintas buku, menagih
yang terlambat mengembalikan, menjaga kebersihan, mengatur keuangan. Anggota
kami siswa SMP, SMA dan PGA. Sebagai pemegang kunci perpustakan, sebagai
"bos" saya bebas membaca tanpa biaya. Demikianlah saya kenyang membaca semua
novel Karl May tentang Winnetou, Pudjangga Baru, Angkatan 45, sampai juga
buku tuntunan bertanam anggrek karangan Sutan Sanif dan buku cara mengecor
beton bertulang Prof. Ir. Rooseno. Kecil-kedlan di kalangan siswa SMA
Pekalongan dulu saya adalah seorang "pustakawan.lI


Sebagai penutup saya menyampaikan harapan, marilah kita jadikan perpustakaan
bukan saja rujukan utama ilmu pengetahuan, tapi tempat yang sejuk dan teduh
bagi manusia Indonesia (sedikit di bawah sorga yang diimpikan Jorge Luis
Borge), berumur 5 sampai 85 tahun, yang memberikan pencerahan pada akal dan
sukma kita, menuju peradaban Indonesia yang mendapat naungan Tuhan Yang Maha
Rahim dan Rahman. Al11in. * * *

Jakarta, 30 Mei 2005.

KUPU-KUPU DI DALAM BUKU
Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,
di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,


Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,


Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,


Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya, kemudian katanya,
"tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,"
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,


Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.


Taufiq Ismail, 1996.


BIODATA


Taufiq Ismail lahir di Bukit Tinggi, 25 Juni 1935, dibesarkan di Pekalongan,
Semarang dan Yogyakarta. Salah seorang pendiri majalah sastra Hodson (1966),
redaktur senior sampai kini. Alumnus IPB (Fakultas Kedokteran Hewan &
Peternakan), 1963. Penyair tamu di University of  Iowa, Iowa City (1971-1972
dan 1991-1992). Kuliah di American University in Cairo, 1990, terhenti
karena Perang Teluk. Penulis tamu di Dewan Bahasa & Pustaka, Kuala Lumpur,
1994. Menulis dan menghimpun antologi 15 judul buku, a.1. kumpulan puisi
Tirani dan Benteng dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia.
Tergugah oleh merosotnya budaya baca buku dan menulis karangan, Taufiq
Ismail bersama-sama sastrawan di majalah Hodson menggerakkan enam butir
kegiatan gerakan sastra, dengan sasaran dunia pendidikan, yang bertujuan
meningkatkan: budaya membaca buku, kemampuan mengarang, dan apresiasi
sastra.


NO      KEGIATAN        SASARAN        PENDANAAN
1       Sisipan Kakilangit      Siswa dan Guru  Majalah Sastra Horison
2       Pelatihan MMAS  Guru    Depdiknas
3       Kegiatan SBSB   Siswa dan Guru  The Ford Foundation
4       Kegiatan SBMM   Mahasiswa       The Ford Foundation
5       LMKS dan LMCP   Guru    Depdiknas       I
6       SSSI    Siswa   The Ford Foundation



Sisipan Kakilangit ditujukan untuk siswa SMA dan sederajat, dilaksanakan
sejak 1996. Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) selama 7
hari untuk guru bahasa dan sastra SMA se-Indonesia, 1999-2004, diikuti 1.700
guru di 11 kota. Kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya)
mendatangkatl sa~trawan ke SMA dan Pondok Pesantren, membacakan karya dan
berdiskusi dengan siswa serta guru. Dalamrentang masa 2000-2004 telah
dikunjungi 205 sekolah di 133 kota, 26 provinsi, 97.180 siswa danguru, oleh
70 sastrawan. Mahasiswa Fakultas Sastra dan Fakultas Bahasa & Seni menjadi
sasaran kegiatan SBMM (Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca), 2000-2002 di 9
universitas, dengan mendatangkan 18 sastrawan yang berbicara tentang
bukunya. Guru distimulasi mengarang dengan Lomba Mengulas Karya Sastra dan
Lomba Menulis Cerita Pendek, 2000-2004, diikuti oleh sekitar 300 guru setiap
tahunnya. Untuk menampung energi kegiatan sastra siswa dibentuk 12 Sanggar
Sastra Siswa Indonesia (SSSI) di 12 kota (2002), dan tahun 2005 akan
dibentuk 10 lagi sanggar di kota-kota lain.

Sebagai penghargaan atas kegiatan yang digerakkannya ini, Taufiq Ismail
dianugerahi gelar Doktor Kehormatan dalam pendidikan sastra oleh Universitas
Negeri Yogyakarta, 8 Februari 2003. * * *









======================================================================
Lingkar Ilmuwan Sosial Indonesia (LISI) adalah forum untuk menggagas dan
mempertukarkan ide baru serta mengembangkan ilmu pengetahuan sosial. Dalam
LISI, topik-topik diskusi ditinjau dan dianalisis dari beragam perspektif
yang memungkinkan proses pendidikan dan pembelajaran kolektif yang mendukung
kemajuan anggota dan masyarakat Indonesia umumnya.
======================================================================
1. Untuk berhenti berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
   [EMAIL PROTECTED]
2. Untuk berlangganan, kirimkan e-mail kosong ke:
   [EMAIL PROTECTED]
3. Untuk menghindari penyebaran virus, pengiriman attachment file 
   tidak dimungkinkan, kecuali via moderator.
4. Bahasa Resmi dalam LISI: Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
5. Netters LISI diminta sebisa mungkin menghindari "posting a la chating".  
Yahoo! Groups Links



 










***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke