Wawancara Ulil Abshar-Abdalla dengan M. Ihcsan Loulembah, anggota Dewan
Perwakilan Daerah (DPD-RI) mewakili Sulawesi Tengah di bawah ini saya
kopi dari milis Jaringan Islam Liberal (JIL). Walaupun apa yang
dikemukakan M. Ihcsan Loulembah mengenai hubungan antara penganut Islam
dan Kristen di Sulteng sebenarnya tidak terlalu luar biasa, karena di
manapun sebenarnya di kalangan akar rumput di Indonesia hubungan
penganut kedua agama itu baik-baik saja. Selang tahun 1985 – 1988 saya
pernah bekerja pada sebuah Proyek infrastruktur di Sulsel dan Sulut dan
hampir 3 bulan berkelana di kota-kota kecamatan di Minahasa dan
Sangihe-Talaud (sampai ke Lirung), selalu diperlakukan dengan baik.
Demikian pula, anak-anak perempuan Batak yang dulu bersekolah di sekolah
Normal (SGA/SPG) di kota kelahiranku Padang Panjang di tahun empatpulhan
diperlakukan sebagai anak-anak sendiri oleh keluaga Minang tempat mereka
kos. Salah seorang di antara mereka pernah menceritakan hal itu di
Harian Kompas.
Eniwe, karena as a matter of fact, bahwa sejak tahun 1998 hubungan kedua
umat ini di beberapa temapat sering berdarah-darah, saya setuju dengan
komentar Luthfi Assyaukani yang mempostingkan wawancara tersebut sebagai
“wawancara tentang pengalaman keagamaan yang sangat inspiring......”
Wassalam, Darwin
================================================================
M. Ichsan Loulembah:
Beragama dan Bertoleransi adalah Satu Paket
13/06/2005
Sikap toleran, selain dapat ditempa lewat pergaulan lintasagama (aspek
pengalaman), juga dapat tumbuh dari penghayatan atas doktrin-
doktrin agama (aspek permenungan). Itulah sebagian dari isi perbincangan
Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (2/6) lalu,
dengan M. Ihcsan Loulembah, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI)
mewakili Sulawesi Tengah. Berikut petikannya.
Menjadi alim atau taat dalam beragama, mestinya tidak membuat kaku di
dalam beragama dan mengabaikan pentingnya toleransi dalam relasi
antaragama. Sikap toleran, selain dapat ditempa lewat pergaulan
lintasagama (aspek pengalaman), juga dapat tumbuh dari penghayatan atas
doktrin-doktrin agama (aspek permenungan). Itulah sebagian dari isi
perbincangan Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal (JIL),
Kamis (2/6) lalu, dengan M. Ihcsan Loulembah, anggota Dewan Perwakilan
Daerah (DPD-RI) mewakili Sulawesi Tengah. Berikut petikannya.
ULIL ABSHAR ABDALLA (UAA): Bung Ichsan, bagaimana latar belakang
keluarga dan pendidikan agama Anda?
M. IHCSAN LOULEMBAH (MIL): Saya kebetulan dari Palu, Sulawesi Tengah
(Sulteng), tapi saudara saya banyak yang di Poso. Salah satu kakek saya
pernah menjadi bupati pertama Poso, dan paman saya juga pernah menjadi
bupati di sana. Jadi ada hubungan kuat antara saya dengan orang-orang
Poso. Saya juga dekat dengan lingkungan Pesantren al-Khairat dan pernah
juga menjadi Ketua HMI Cabang Palu (1989-1990).
UAA: Apa pernah sekolah formal di Pesantren al-Khairat?
MIL: Hanya adik saya yang sekolah formal di Pesantren al-Khairat.
Sebagai anak pertama, saya pernah ditawarkan orangtua masuk di sana,
tapi saya menolak. Saya menganggap, lebih baik adik saya saja yang ke
sana, bukan saya. Waktu itu saya membayangkan, kalau masuk al-Khairat,
saya tidak bisa lagi keluyuran. Tapi rupanya adik saya yang kedua dan
seterusnya juga menolak masuk pesantren. Adik saya yang keenam baru mau
masuk al-Khairat.
Tapi memang, ada kebanggaan di keluarga bila salah satu anaknya belajar
di pesantren yang sangat dihormati dan berpengaruh itu. Al-Khairat
memang pesantren yang sangat besar di Indonesia Timur, dan cabangnya
sampai ke Fakfak dan Papua. Jadi, secara formal saya tidak sekolah di
al-Khairat, tapi pergaulan sosial dan sosialisasi masa kecil saya sangat
dipengaruhi suasana al-Khairat.
UAA: Bung Ichsan, bisa digambarkan komposisi Islam-Kristen di Sulawesi
Tengah?
MIL: Kalau di Poso, komposisinya hampir seimbang. Di Palu, sekitar 70%
orang Islam dan 30% Kristen. Tapi hampir di semua daerah selalu ada
Islam dan Kristen. Saudara jauh saya banyak juga yang masih Kristen,
baik sejak lahirnya begitu ataupun melalui proses kawin-mawin.
UAA: Bagaimana hubungan Islam-Kristen sebelum meletusnya konflik Poso
sekitar 6 tahun lalu?
MIL: Sebetulnya hubungan Islam-Kristen itu banyak yang menggelikan dan
lucu-lucu. Makanya, ketika sekarang terjadi konflik, kita sering ketawa
dan bertanya-tanya, "Kok bisa begini, ya?" Waktu masih kecil, saya
sendiri bergaul akrab dengan orang-orang Kristen. Di belakang rumah ada
gereja besar bernama Gereja Imanuel. Berjarak 50 meter dari gereja,
tepatnya di Kampung Lolu, ada masjid besar, Masjid Raya. Saya ingat,
pada hari-hari yang tidak adanya kebaktiannya, kami lari-larian dan
sering memainkan piano gereja. Pada hari lainnya, teman-teman Kristen
dan Islam pergi ke masjid yang punya kolam wudhu yang besar sekali.
Biasanya, di hari Selasa atau Rabu air kolam diganti untuk salat Jumat.
Ketika itulah kami mandi bersama karena airnya masih jernih. Padahal, di
hari Jumat air itu dipakai berwudu. Kenakalan-kenakalan seperti
sebetulnya indah juga kalau dikenang lagi.
UAA: Artinya, di masa kecil Anda, hubungan Islam-Kristen itu cair saja?
MIL: Ya. Malahan Natal dan Idulfitri kita anggap sama saja. Kedua-duanya
bisa memberi peluang untuk dapat baju baru dan hagala (semacam angpau
atau bingkisan lebaran). Jadi kita ramai-ramai mendatangi rumah-rumah
yang sedang bergembira dengan rombongan gabungan antara anak Kristen dan
Islam. Ketika itu, predikat-predikat dan sekat-sekat antaragama bagi
kami seperti tak ada. Bahkan sampai masa saya SMP, masih banyak
keluarga-keluarga yang bapak-ibunya beda agama, isteri ikut agama suami,
atau sebaliknya. Keluarga-keluarga yang beda agama itu, tetap saling
kunjung satu sama lain, dan tidak mempermasalahkan apa-apa.
UAA: Praktik pernikahan antaragama juga banyak, ya?
MIL: Tentu saja. Sistem sosial di Palu dan Sulteng umumnya memang sangat
terbuka, jauh lebih terbuka dari Sulawesi Selatan. Selain itu, di
Sulteng juga tidak ada bahasa daerah yang dominan. Kalau ke Poso, Palu,
Parigi, Ampana, atau Luwuk, kita bisa pakai dialek Arab dengan idiom
ane- ente dengan biasa saja. Semua orang akan paham dan itu juga
dilakukan orang-orang Kristen. Bahkan kita sering juga memakai
idiom-idiom saudara kita kalangan Tionghoa. Kita bisa pakai logat
Manado, dan sesekali logat Makassar. Banyak orang yang paham dan semua
lebur saja.
UAA: Jadi sebetulnya masyarakat Sulteng itu sangat terbuka dan
multikultural, ya?
MIL: Sangat terbuka dan siap menerima posisinya sebagai melting pot atau
titik perjumpaan pelbagai kultur. Buktinya, Islam datang di sana dari
berbagai jurusan. Ada yang dari Minangkabau lewat Sulsel; dari Kerajaan
Ternate yang masuk ke Luwuk dan Poso; dan sebagian dibawa langsung
tokoh-tokoh Muhammadiyah. Pesisir Tojo Ona-ona, sebagian masih terlihat
terpengaruh HOS Cokroaminoto. Jadi, corak Islam di sana sudah begitu
banyak walau yang paling besar adalah al-Khairat yang mirip NU dalam
tata ibadah dan aktivitas lainnya. Kesepahaman antar tokoh-tokoh Islam
selama ini selalu ada. Kalau Muhammadiyah sudah masuk Donggala, maka
al-Khairat tidak akan masuk lagi. Jadi, tidak ada rivalitas di
lingkungan internal agama. Antaragama bahkan juga begitu. Dari dulu,
semua orang tahu bahwa Tentena adalah tempatnya para misionaris asing,
dan itu tidak ada masalah.
UAA: Jadi di Palu, Anda tidak pernah mendapatkan pengajaran Islam yang
membenci Kristen, ya?
MIL: Tidak sama sekali. Paling tinggi, saya hanya mengaji dengan
teman-teman satu kompleks. Kalau tidak mengaji, kami akan dihukum,
dimarahi, dicambuk atau dicubit. Adik saya memang sekolah agama secara
khusus. Sementara saya pergi ke Bandung dan bersekolah di sana lebih
kurang 2,5 tahun setelah lulus SMP. Tapi kemudian saya dipulangkan lagi
ke Palu karena sempat disidak (inspeksi mendadak) salah seorang paman
saya yang waktu itu tidak menemukan saya di sekolah. Saya memang sering
bolos, jalan-jalan ke Jakarta, atau main dengan para mahasiswa sambil
memantau aktivitas mereka. Saya dipaksa pulang dan disuruh melanjutkan
kuliah di Palu pada tahun 1984.
Ketika masih SMA, saya memang banyak dipengaruhi pergerakan mahasiswa,
karena di kos hanya ada dua orang yang SMA, yaitu saya dan teman lain
dari Palu. Selebihnya mahasiswa ITB, Itenas, Unpad, Unpar, dan
lain-lain. Karena itu, saya banyak mengecap "pendidikan politik" dari
kalangan aktivis mahasiswa waktu itu. Saya sering diberi
selebaran-selebaran yang waktu itu tidak saya tahu artinya. Setelah
kuliah, saya terlibat dalam aktivisme kemahasiwaan. Saya menjadi aktivis
kampus, walau di SMP dan SMA saya lebih banyak menjadi aktivis kantin.
UAA: Ketika kuliah, Anda berubah menjadi aktivis HMI?
MIL: Belum. Tapi kemudian saya dilirik beberapa senior HMI yang selalu
memantau dan mencari bakat yuniornya. Akhirnya saya diajak aktif di HMI,
meski tidak pernah terlibat sebelumnya. Setelah masa perpeloncoan, saya
ikut LK (Latihan Kader) HMI. Dari sanalah saya dianggap cukup pemberang,
dan berani memrotes aturan-aturan di dalam training. Dari situ,
teman-teman mulai memercayai saya menjadi pemimpin formal intrakampus.
Saya tidak tahu, tiba-tiba saya harus menjadi Sekretaris Senat
Mahasiswa, padahal saya baru semester dua. Sesuatu yang kurang lazim
waktu itu.
UAA: Bung Ichsan, Orde Baru tahun 1984 tentu semangat-semangatnya
mengampanyekan asas tunggal Pancasila. Bagaimana perdebatan di internal
HMI ketika itu?
MIL: Sebelum saya masuk, khususnya pada Kongres HMI di Medan (1983),
pemerintah memang tidak bisa memaksakan asas tunggal lewat sejumlah
tokohnya. Tapi setelah Kongres Medan, tepatnya di Kongres Padang (1985),
HMI menerima asas tunggal. Sebetulnya, di tahun 1983 memang sudah ada
janji dari beberapa pengurus HMI yang akan demisioner bahwa mereka akan
menerima asas tunggal. Tapi seluruh forum di kongres tidak menerima.
Tapi itu di tingkat nasional.
Di berbagai daerah, soal asas tunggal juga memunculkan pergulatan luar
biasa. Di lingkungan aktivis HMI Palu, ada dualisme pendapat yang
sama-sama kuat dalam menyikapi asas tunggal. Tapi ketika itu saya memang
masih hijau. Karena itu, kalau ada yang bependapat lebih
baik menerima asas tunggal sebagai siyasah, saya ikut; dan kalau ada
yang menolak dengan anggapan melawan akidah dan sebagainya, saya juga
dengarkan.
UAA: Ketika mulai aktif di HMI, apakah Anda sudah tertarik dengan wacana
keislaman?
MIL: Waktu kecil, saya sebenarnya sudah berkenalan dengan
pikiran-pikiran HOS Cokroaminoto lewat buku tua yang diberi kakek saya
secara tidak sengaja. Saya lupa judulnya. Kalau tidak salah tentang
Islam dan sosialisme. Yang jelas, buku itu sudah tidak bersampul lagi.
Dari buku saya mendapat kesan bahwa, Islam pada akhirnya harus mengurus
dunia. Artiannya, selain mengejar akhirat, kita juga harus menyelesaikan
urusan dunia. Pekerjaan dunia yang juga penting adalah
soal mencari materi, karena ada dalil (haidis) bahwa "kemiskinan bisa
mengantarkan kita pada kekufuran." Itulah dalil yang saya pegang betul
sejak dulu, sehingga saya merasa bahwa jiwa enterpreneurship atau
wirausaha itu harus muncul pada diri kita.
UAA: Selain pemikiran Cokro, apa lagi buku yang mempengaruhi Anda?
MIL: Tentu saja buku yang diberikan senior saya, yaitu Pergolakan
Pemikiran Ahmad Wahib. Saya juga membaca buku-buku kiri, kanan, dan
lainnya, karena saya kuliah di sosiologi. Soal buku Wahid saya ingat,
dulu kita hanya bisa dapat buku-buku seperti itu secara
sembunyi-sembunyi. Selain membaca Wahib, saya juga membaca buku-buku Ali
Syariati, meskipun saya lebih oleh Wahib. Saya tahu, buku itu pernah
dilarang Kejaksaan Agung dan saya sudah membacanya berkali-kali. Tapi
ada beberapa hal dari buku itu yang sering saya cek lagi. Saya misalnya
bertanya pada teman-teman IAIN yang lebih mengerti agama, "Kok, ada
pertanyaan-pertanyaan agama seperti itu, ya?" Bagi saya, terlalu banyak
pertanyaan luar biasa yang diajukan pemuda kerempeng dari Madura yang
mestinya religius itu.
Tapi saya sampai juga pada suatu kesimpulan bahwa, Islam itu adalah
agama yang mengagungkan akal. Sebab, orang yang tidak berakal, seperti
gila, justru dalam Islam dibebaskan dari beban agama. Kesimpulan saya:
orang yang beragama tanpa menggunakan akalnya, ia telah menurunkan nilai
keberagamaannya. Saya merasa akal itu perlu sekali untuk memandu kita di
dalam beragama. Artinya, ketika dihujani doktrin-doktrin agama
sekalipun, kita harus bereaksi dengan akal yang tentu berbeda level dari
satu orang ke orang lain.
UAA: Apakah buku Wahib ikut membentuk persepsi Anda dalam memandang
Islam dan agama lain?
MIL: Pada bab-bab toleransi, ia memang selalu memberi afirmasi. Itulah
yang meyakinkan saya bahwa apa yang diyakini Wahib tidak berbeda dengan
apa yang saya lakukan. Artinya, saya lalu merasa bahwa menjalankan agama
dengan baik serta bertoleransi pada agama lain adalah satu paket. Saya
jadi ingat pengalaman masa kecil saya ketika bermain dengan teman-teman
Kristen. Waktu itu, mereka tidak bisa bermain bersama kita karena kita
akan tarawih. Tapi kita justru
menyelundupkan mereka untuk ikutan tarawih. Mereka senang sekali.
Sesekali, saya dan teman-teman juga diajak main ke gereja. Ini adalah
bagian dari pengalaman masa kecil saya. Pengalaman itu membentuk pola
pandang bahwa beragama itu tidak mesti membuat kaku terhadap agama lain.
Bahwa dalam agama ada prinsip-prinsip tertentu, itu sudah pasti. Tapi
semua itu tidak harus menghalangi kita untuk bersikap dan bertindak
fleksibel.
UAA: Bung Ichsan, sekarang ada ketegangan antaragama di Poso dan
beberapa tempat lain. Selaku anggota DPD dari Sulteng, bagaimana Anda
melihat konflik di Poso?
MIL: Sebetulnya di masyarakat sudah tidak ada konflik lagi. Setelah
konflik Poso pertama, memang ada upaya-upaya menggunakan agama sebagai
label atau alat untuk membangun solidaritas kelompok. Tapi belakangan,
masyarakat sadar bahwa semua akan merugi dalam konflik. Yang memang jadi
arang, yang kalah jadi abu. Jadi, tidak ada yang bakal untung. Tapi
selalu ada tangan-tangan luar yang ikut main dan memperkeruh suasana.
Padahal, masyarakat sudah bergandeng tangan memprakarsai rekonsiliasi.
Proses rekonsiliasi itu bukan prakarsa pemerintah, tapi dirintis oleh
tokoh-tokoh masyarakat sendiri. Banyak hal yang sudah mereka lakukan
untuk mencairkan suasana. Itu semua berguna untuk mengembalikan sifat
dasar masyarakat Sulteng dan Poso yang plural.
UAA: Jadi kalau ada pergolakan baru, masyarakat Poso berpikir itu pasti
bersumber dari luar, ya?
MIL: Ya. Sekarang mereka merasa konflik Poso bukan lagi milik orang
Poso. Itulah kesadaran kolektif masyarkat di sana. Mereka sadar, pihak
dari luar hanya datang untuk bertikai, sementara yang menjadi puing
tetap saja rumah mereka. Mereka juga sadar, orang Kristen tidak mungkin
bisa membunuh seluruh orang Islam, begitu juga sebaliknya. Satu-satunya
jalan adalah membangun suasana rukun seperti dulu. Sekarang persoalannya
adalah: bagaimana mengelola sumber daya ekonomi, politik, birokrasi, dan
lain sebagainya. Formula-formula politik gabungan antara Islam dan
Kristen kini sudah mulai dibangun.
UAA: Kalau masyarakat sudah giat dalam rekonsiliasi, mengapa konflik
terus berlarut-larut?
MIL: Itu pertanyaan semua orang, dan bukan lagi menjadi tugas masyarakat
untuk menjawabnya. Tokoh-tokoh masyarakat, terutama pemuka agama, selalu
merasa diri mereka difungskan sebagai "pemadam kebakaran". Tiap ada
masalah baru, mereka diajak untuk menghimbau masyarakat agar tenang.
Padahal yang melakukan teror hanya satu-dua orang saja. Mestinya, itu
sudah menjadi tugas aparat untuk menangkap. Masyarakat sudah sadar bahwa
benturan tidak boleh terjadi lagi. Masyarakat sudah paham betul, yang
melakukan ini semua adalah teroris, orang luar, atau orang yang tidak
suka Poso berdamai.
UAA: Kalau merujuk pada masa kecil Anda, sebetulnya ketegangan
Islam-Kristen di Poso ini aneh sekali, ya?
MIL: Aneh sekali. Padahal di masa lebaran, orang Islam mengirim
tetangganya burasa atau nasi seperti lontong. Sebaliknya menjelang
Natal, teman-teman Kristen mengirim jaha atau nasi dalam bambu. Jadi,
konflik-konflik ini sebetulnya ahistoris dan tidak masuk akal karena
tidak ada presedennya. Dulu, guru-guru tua seperti Syekh Idris bin Salim
al-Jufri, banyak sekali memberi teladan soal toleransi. Dia tetap
melakukan dakwah, tapi dalam hal-hal tertentu juga menunjukkan sikap
toleran yang luar biasa. Dia tidak kaku dalam mengambil langkah dan
sikap dalam beragama.
UAA: Menurut Anda, apa yang perlu dilakukan untuk memperkokoh hubungan
antaragama?
MIL: Bagi saya, relasi antaragama juga sangat ditentukan oleh basis
material. Problem ekonomi-politik seringkali mempengaruhi hubungan
antaragama. Jadi kalau ingin memperbaiki relasi antaragama, antaretnis,
atau antarkelompok sosial, jangan lupa membenahi soal-soal
ekonomi-politik. Kalau kita mampu membenahi itu, artinya kita telah
menciptakan struktur sosial yang punya mainan lain selain agama dan etnis.
UAA: Itu tentu berkaitan dengan soal keadilan sosial juga, ya?
MIL: Ya. Kita harus bisa mematikan api tepat pada sumbunya. Kalau tidak,
dia akan menjalar ke mana-mana. Di Jakata, konflik antarkelompok yang
menggunakan asosiasi etnis juga selalu berkaitan dengan perebuaan porsi
sumber daya ekonomi. Di kota-kota yang heterogen, perebutan lahan
nafkah, parkir, dan lain sebagainya pasti terjadi. []
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/