http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=1359
Politikus Dilanda Penyakit DBD
(Catatan Menjelang Pilkadal)
Oleh Ruslan Ismail Mage
Oleh admin padek 1
Kamis, 16-Juni-2005, 10:24:450 klik
Dosa apa yang telah diperbuat bangsa ini, sehingga bencana tidak pernah
berhenti menyerang kita. Penyakit DBD (demam berdarah) yang ditularkan nyamuk
aides eiggipty setiap tahun, telah melewati ambang batas dengan merenggut
ratusan nyawa.
Walaupun dapat dideteksi kemunculannya bersamaan dengan musim hujan, tetapi
tetap saja selalu memakan korban. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa,
dari si kaya sampai si miskin diserang semua tanpa kompromi.
Kalau serangan DBD yang ditularkan nyamuk aides ini tidak mengenal kompromi,
maka DBD yang satu ini justru cerdas memilih-memilih orang yang mau diserang.
Ia bergerak tak berwujud dan hanya menyerang para politikus, baik yang busuk
maupun yang masih mangaku dirinya bersih.
Bisa jadi DBD yang satu ini melihat para politikus tidak ada yang bisa
dipercaya lagi, kurang bermoral, dan hanya memetingkan dirinya sendiri.
Tidak percaya! Lihatlah para politikus saat PILKADA digelar nanti, hanpir semua
kalau tidak semuanya terserang penyakit DBD (Demen Berburuh Djabatan) dengan
menghalalkan segala macam cara. Fenomena DBD ini mulai menggila pasca
reformasi, bersamaan dengan proses pembangunan demokrasi di republik ini. Ada
beberapa alasan kenapa hampir semua politikus di republik ini terserang DBD.
Pertama, Indonesia adalah negara dalam proses transisi demokrasi yang
memungkinkan seorang pengangguran menjadi anggota dewan terhormat, dan juga
memberi peluang orang yang sama sekali tidak memahami politik menjadi pemimpin
di daerah.
Kedua, Indonesia adalah surga bagi pemimpin yang berjiwa koruptor. Ketiga,
Indonesia adalah negeri 1001 maling. Maksudnya mulai maling sandal jepit,
maling kambing, sampai maling triliunan rupiah ada semua bercokol di jamrud
khatulistiwa ini.
Gejala awal DBD di daerah-daerah sekarang sudah mulai terlihat menjelang
PILKADA. Seperti misalnya, politikus sudah gemar memberi janji-janji palsu,
membagikan baju kaos, sadar melanggar aturan kampanye yang telah disekapakati,
menggunakan fasilitas daerah dalam proses kampanye, membagi-bagikan uang kepada
rakyat yang masih buta politik, bahkan lebih menggelikan menempel foto dirinya
dalam kitab suci Alqur'an.
Gejala lain adalah seringnya para politikus saling mencemooh, saling
menyalahkan, saling menyerang, dan saling menjelek-jelekkan di atas panggung
politik, tanpa memberi solusi bagaimana membangun daerahnya menghadapi pasar
global. Semua itu dilakukan dengan hanya satu tujuan, memburuh jabatan dalam
lingkaran kekuasaan.
Dalam menyikapi politikus yang terinveksi virus DBD ini, ada beberapa hal yang
harus dilakukan sebagai rakyat yang lagi hangat-hangatnya dilamar oleh para
kandidat kepala daerah.
Pertama, rakyat harus menjadi pemilih yang kalkulatif. Maksudnya rakyat harus
pintar mengkalkulasi untung ruginya memilih salah satu kandidat kepala daerah.
Kedua, jangan pernah percaya bahasa kampanye para politikus, tetapi lihat
moralitasnya sebelum dan sesudah kampanye. Ketiga, lihat program yang
ditawarkan, apakah realistis sehingga benar bisa dilakukan ketika terpilih.
Keempat, jangan pernah terpengaruh dengan money politics.
Karena masa depan daerah dipertaruhkan dalam PILKADA nanti, maka rakyat jangan
pernah mau dibohongi lagi oleh politikus yang hanya demen berburuh jabatan.
Karena politikus seperti itu, hanya ingin memperkaya diri sendiri tanpa
berpihak kepada rakyat.
Lebih menyedihkan lagi politikus yang terjangkit virus DBD tidak ragu-ragu
menggadaikan daerahnya kepada kapitalisme otoriter dari luar untuk mencari
keuntungan sendiri dan kelompoknya. Kalau perlu jual semua asset daerah untuk
keperluan komunitasnya.
Belajar dari pengalaman, adalah kata bijak yang perlu direnungi rakyat di
daerah-daerah yang sedang menghadapi PILKADA. Maksudnya tidak ada salahnya
kalau rakyat bercermin pada pemilu presiden lalu. Coba kalkulasi sudah berapa
persenkah janji-janji politik presiden dan wakil presiden terpilih sudah
dipenuhi.
Kalau terasa kurang, maka jangan pilih pemimpin daerah yang hanya mengandalkan
kepopuleran dan uang, tetapi pililah kepala daerah yang mengedepankan
nilai-nilai moral dalam pengambilan kebijkasanaannya. Sebab hanya pemimpin yang
mengedepankan nilai-nilai moral yang berpihak kepada rakyat, lain tidak!
*Penulis adalah Direktur ADNaP (Analyst Democracy for National Peace)
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/