Setuju, hanya titik pandang ..., simak nasihat berikut:

***Memandang Takdir ***

Kita boleh berencana dan berharap tentang apa yang akan kita miliki, 
kita rasakan dan kita raih dalam hidup ini. Harapan dan rencana yang 
indah, menyenangkan bahkan muluk. Tak apa, itu memang hak kita.

Satu hal yang harus diingat dalam merenda harapan adalah bahwa 
harapan itu bisa saja terwujud dan adakalanya pula pupus tak 
berbekas. Ingat pula, bahwa sesungguhnya Dia lah Allah yang 
menentukan segalanya. Manusia berencana, berusaha dan berharap, 
Allah lah yang menjatuhkan takdir.

Perkara takdir memang hak mutlak Sang Pencipta. Tugas kita cuma 
bagaimana menyikapi takdir dengan sebenar-benar sikap, selurus-lurus 
perilaku. Apapun yang menimpa kita: baik atau buruk, sesuatu yang 
menyenangkan atau menyedihkan.

Benarkah ada takdir buruk dan takdir baik? Sebenarnya ini cuma sudut 
pandang. Apa yang di mata kita buruk, misalnya harapan yang tidak 
tercapai, sebenarnya adalah sesuatu yang baik jika disikapi dengan 
benar. Dan sebaliknya, sesuatu yang dalam pandangan kita baik, bisa 
jadi sebenarnya mengandung hal-hal yang membahayakan buat diri.

Ada kisah seorang ibu yang merasa kecewa saat anaknya yang selama 
ini bertabur prestasi, ternyata tidak lulus UMPTN. Kuliah swasta? ia 
bukan dari kalangan berduit. Harapan memiliki seorang anak bertitel 
dokter kandas sudah. Sang anak pun sebenarnya mengalami kekecewaan 
serupa, namun mencoba tetap bersabar.

Di tengah situasi sulit, ada tawaran menjadi pengajar Taman Kanak-
Kanak (sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diharapkan). Karier 
sebagai guru TK dijalaninya dengan ulet hingga ia benar-benar 
menjiwai perkerjaan tersebut. Di sela waktu mengajar, ia mengambil 
pendidikan keguruan. Dasar anaknya cerdas dan tekun, makin lama ia 
makin eksis di dunianya. Kini, ia menjadi salah satu pengajar 
favorit yang berpengalaman di sebuah TK ternama. Ia masih ingat 
dengan cita-cita dan harapan "menjadi dokter" tapi ia lebih 
berbahagia dengan keadaannya sekarang.

Mengapa ia bisa "nyeni" menyikapi takdir? Kuncinya terletak pada 
kemampuan menyikapi takdir. Pertama, dengan kesabaran yaitu keluasan 
hati untuk 'ridho' menerima realita takdir. Allah apa adanya, tanpa 
prasangka, tanpa keluh kesah (wong memang Ia yang punya kuasa, kok). 
Kedua, dengan kemampuan memetik hikmah di balik takdir. Inilah yang 
diatas disebut sebagai 'masalah sudut pandang'. Pandanglah takdir 
dengan meminjam kacamataNya, niscaya kita akan mendapati hikmah 
bertaburan di baliknya. Bukankah Allah tak pernah mendzalimi 
hambaNya, membebaninya dengan sesuatu yang tak sanggup dipikulnya?

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan 
boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. 
ALLAH Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui," KAta Allah dalam 
Al Baqoroh ayat 216.

Sayangnya, banyak manusia yang tak memiliki kemampuan ini. Sedikit 
sekali manusia yang bisa bersabar, bisa ridho, dengan apapun takdir 
yang menimpanya, sedikit pula manusia yang mampu membaca takdir 
dengan kacamataNya. Maka kita pun sering mendengar cerita tentang 
orang-orang yang frustasi, depresi bahkan sakit jiwa manakala 
menghadapi takdir yang dianggapnya buruk, semisal harapan dan cita-
cita yang kandas.

YA ALLAH, hanya kepadaMu kami menggantungkan harapan, berharap-harap 
agar harapan itu terkabulkan. NAmun YA ALLAH, berilah kami kekuatan 
jiwa manakala Engkau ingin menguji kami dengan harapan yang belum 
Kau kabulkan.... 

wassalam,


--- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
> -----------------
> 
> Menurut pengamatan saya selama ini, kata ini, dipakai dalam 
> menerangkan masalah "nasib" oleh berbagai agama atau kepercayaan 
> sesuai dengan dimensi yang mereka gunakan untuk meniliknya.
> 
> Dimensi ini bergerak dari titik "konstante", yang tak dapat 
dirubah, 
> sampai "variabel", yang dapat diubah sepenuhnya.
> 
> Dari titik tolak yang mana yang diambil, maka sikap manusia 
terhadap 
> nasib juga sangat berbeda.
> 
> Kita hanya dapat memilih titik pandang mana yang kita anggap 
sesuai 
> dengan nurani kita: a) hidup ini sudah ditentukan, tinggal kita 
> terima, atau b) apapun dalam hayat ini, adalah akibat dari apa 
yang 
> kita lakukan (konsep kausalitas).
> 
> Sering kita dengar orang berkata: " wah, si Panjul nasibnya buruk 
> ya?". Benarkah ini? Ataukah dia tak mampu me-manage hidupnya 
secara 
> optimal, hingga hidupnya demikian? Ataukah, batas sudah ditetapkan 
> hingga si Panjul takkan mampu meraih bintang dilangit?
> 
> Mungkin kita hanya mungkin menanyakannya pada rumput yang 
bergoyang?
> 
> Salam
> 
> danardono




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke