Tak lama lagi (Juli 2005) akan terbit buku dengan judul yang sensasionil 
"Bisnis Seks di Singapura" (Pustaka Primatama, 2005,  xvi+232 hal, 12,5 x 19 
cm, beberapa puluh foto b/w dan 16 hal foto berwarna), terjemahan dari "No 
Money No Honey" yang isinya tentang kehidupan pelacur-pelacur Singapura,  mulai 
dari klas pinggir jalan (eh ada lho pelacur pinggir jalanan di Singapore) 
hingga wanita piaraan termasuk bujang-bujang Cina atau Euroasia yang menjadi 
langganan tante-tante Singapura (dan mungkin juga tante Indonesia). 
 
Tentu saja ada juga pelacur Indonesia yang mengadu nasib di sana, tapi, seperti 
juga TKW-nya, nasibnya paling merana di antara pelacur kebangsaan lainnya. 
Maklum, mereka tak bisa Inglis!  Dibahas dari a sampai z, nama dan latar 
belakangnya, lokasinya, tarifnya. Buku ini juga bercerita tentang perubahan 
nilai moral yang dihadapi warga Singapura. Bayangkan, salah seorang mahasiswi 
bersetubuh dengan 251 orang berturut-turut demi memenangkan kontes! Tapi jangan 
salah, ini bukan buku mesum setengah nyata setengah fiksi. Ini buku tentang 
eksplorasi jurnalistik!  Ditulis oleh reporter Inggris yang tinggal di 
Singapura, David Brazil.
 
Mestinya, beginilah wartawan Indonesia itu kalau mau menulis tentang sesuatu 
(bukan hanya tentang sex-for-sale): thorough, tuntas!
 
Berikut Kata Pengantar dari Bondan Winarno: 
 
... Lalu ia (David Brazil- si penulis) menulis buku. Judulnya: No Money, No 
Honey! Judul kecilnya: a candid look at sex-for-sale in Singapore. Buku itu 
laku keras. Dicetak ulang belasan kali, orang mulai yakin bahwa itulah buku 
yang paling laris dalam sejarah perbukuan di Singapura. 

            Sebagai penulis yang banyak menyumbangkan tulisan untuk majalah FHM 
Singapura, ia tentu saja agak paham tentang dunia hiburan dan kehidupan malam 
di Singapura. David membawa konsep jurnalisme investigatif untuk menelusuri 
kehidupan para pekerja seks di Singapura.
 
            Unsur inilah ? bahwa buku ini merupakan pekerjaan jurnalisme 
investigatif ? yang sebetulnya membuat saya akhirnya bersetuju untuk menulis 
kata pengantar ini. Maaf, soal sex-for-sale memang bukan keahlian saya. ...
 
 
... Laporan David ? berbeda dengan tulisan para penulis Indonesia yang 
melaporkan ?bisnis? yang sama ? memang menunjukkan kelas dan kualitas yang 
unggul. David tidak terjebak untuk menulis hal-hal yang seronok tentang dunia 
pelacuran, tetapi secara matter of factly menuliskannya sebagai sebuah laporan 
jurnalistik. Ia tahu benar bahwa dalam menulis laporannya ini ia harus 
menyingkirkan imajinasi seksual jauh-jauh....
 
Bagi teman-teman media yang mau menulis resensinya silakan kontak ke: [EMAIL 
PROTECTED]
 
 

sender: pandu ganesa <[EMAIL PROTECTED]



Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Stay in touch with email, IM, photo sharing & more. Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke