SUARA KARYA


            N250 dan Kebijakan Teknologi Nasional
            Oleh Poempida Hidayatulloh 


            Senin, 20 Juni 2005
            Sangatlah sulit bagi kita untuk dapat mengategorikan posisi Negara 
Republik Indonesia dalam hal "implementasi teknologi" pada saat ini. Jika 
dianggap sebagai "negara agraris" , produk sektor pertanian kita belum 
mencukupi kebutuhan domestik dan masih cenderung menggunakan pendekatan 
teknologi klasik. 

            Di bidang industri, sangat terasa kurangnya riset dan pengembangan 
(R&D - Research and Development) yang aplikatif, sehingga laju inovasi baru di 
sektor tersebut pun tidak seperti yang diharapkan. Hal ini membuat persepsi 
dunia akan kemajuan teknologi di Republik ini masih terbelakang. 

            Negara-negara maju selalu berorientasi pada pasar dalam hal 
pengembangan teknologi di berbagai bidang. Sederhananya, teknologi secanggih 
apa pun jika tidak dapat dimanfaatkan oleh rakyat banyak tentunya hanya akan 
merupakan suatu penemuan di bidang ilmu pengetahuan. 

            Dengan besarnya jumlah penduduk dan luasnya wilayah Indonesia, 
tidak diragukan lagi bahwa Indonesia mempunyai potensi pasar yang sangat besar 
untuk implementasi teknologi di sektor apa pun. Namun demikian diperlukan 
strategi positioning yang tepat untuk dapat mengembangkan dan memanfaatkan 
suatu teknologi yang tepat secara optimal. Hal ini dikarenakan pendayagunaan 
suatu teknologi apa pun akan memerlukan kapital. Semakin besar skala 
pendayagunaan teknologi tersebut, semakin besar pula kapital yang diperlukan. 
Dan, dengan demikian, akan semakin besar risiko yang terkait dengan kegiatan 
tersebut. 

            Kita semua tahu bahwa keadaan keuangan negara kita tercinta ini 
belum dalam keadaan sehat. Lalu, apakah pengembangan teknologi harus menjadi 
prioritas terakhir? 

            Akan sangat disayangkan jika memang demikian. Karena opportunity 
loss yang dihadapi bangsa ini ke depan akan menjadi sangat besar. Prinsip utama 
R&D, tidak mengenal waktu dan tempat. 

            Penulis sangat bergembira dengan rencana dihidupkannya kembali 
proyek pesawat N250 di PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dengan positioning yang 
baru tanpa memakai teknologi fly by wire yang sangat mahal, merupakan langkah 
yang tepat. Hal ini menunjukkan PTDI telah mempunyai suatu upaya yang mengacu 
kepada pasar. 

            Sederhananya, jika ongkos produksi murah, maka harga jual produk, 
dalam hal ini pesawat N250 akan menjadi kompetitif. Dan, jika memang pasar bisa 
menerima pesawat tersebut dengan harga yang kompetitif, maka versi "upgrade" 
yang menggunakan teknologi fly by wire kemudian dapat dipertimbangkan untuk 
ditawarkan. 

            Strategi positioning PTDI yang baik belum tentu menjadi strategi 
yang jitu. Mengapa demikian? 

            Dengan mencopot teknologi fly by wire memberikan persepsi adanya 
proses downgrade dari design awal yang agak dipaksakan. Hal ini tentunya akan 
menimbulkan berbagai pertanyaan konsumen. Terutama dalam hal kenyamanan dan 
keselamatan terbang. Dalam hal ini, PTDI membutuhkan suatu program sosialisasi 
yang intensif dengan konsumen. 

            Selain itu, dengan semakin murahnya harga tiket domestik, dan 
semakin dahsyatnya persaingan antara maskapai penerbangan lokal, maka PTDI 
perlu mengkaji secara seksama life cycle cost dari pesawat N250. Walaupun harga 
jual produk tersebut murah, jika biaya pemeliharaannya mahal maka hal tersebut 
akan menjadi poin minus. 

            Penulis berpendapat, pemerintah perlu mendukung dihidupkannya 
kembali proyek N250 ini. Tentunya dengan beberapa catatan sebagai berikut: 

            Program tersebut harus memberikan multiplier effects untuk 
perekonomian nasional, terutama di bidang industri dan perhubungan. 

            - Pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator dan tidak 
menjadikan proyek tersebut "anak emas", sehingga proyek tersebut menjadi proyek 
yang self-sustained dan bukan proyek "mercu suar". 

            Proyek tersebut harus dapat menjadi leader dari bangkitnya inovasi 
teknologi Indonesia. 

            Spesifikasi


            Menurut informasi dari Airliners.net, Industri Pesawat Terbang 
Nasional (IPTN) mengumumkan pengembangan pesawat penumpang N250 di arena Paris 
Airshow tahun 1989. Konstruksi prototipe awal diperkenalkan tahun 1992 dengan 
rancangan pesawat untuk 50 tempat duduk. Namun kemudian IPTN memutuskan untuk 
membuat pesawat Tipe N250100 yang lebih besar dengan kapasitas 64-68 penumpang. 
Praktis hanya prototipe pertama pesawat N250 yang memiliki kapasitas 50 
penumpang. Selanjutnya yang dikembangkan adalah pesawat yang lebih besar dan 
lebih luas, Tipe M250100. 

            Powerplants (pembangkit listrik): Menggunakan dua Allison AE 2100C 
turboprops (motor turbo) driving six blade constant speed Dowty Rotol 
propellers; berkemampuan 2439 kW (3271 shp). 

            Kecepatan jelajah maksimum 610 km/jam (330 kt), kecepatan jelajah 
ekonomis 555 km/jam (300 kt) dengan rata-rata ketinggian awal minimal 1970 kaki 
dan maksimal 25.000 kaki. Jarak tempuh dengan 50 penumpang dan bahan bakar 
standar, 1.480 km (800 nm); jarak tempuh dengan 50 penumpang dan bahan bakar 
fakultatif, 2.040 km (1.100 nm). 

            Berat kosong untuk Tipe N25050 adalah 13.665 kg (30,125 lb), berat 
maksimum take off 22.000 kg (48,500 lb). Untuk Tipe N250100 berat kosong 15.700 
kg (34,612 lb) dengan maksimum take off 24.800 kg (54,675 lb). 

            Rentang sayap 28,00 m (91 kaki, 11 inci), panjang 26,30 m (86 kaki, 
41 inci), tinggi 8,37 m (27 kaki, 6 inci). Luas area sayap 65,0 m2 (700sq ft). 
Khusus untuk N250100, sama dengan N25050 kecuali panjang sayap 28,12 m (92 
kaki, 3 inci), tinggi 8,78 m (28 kaki, 10 inci). 

            Selain untuk awak pesawat 2 orang, kapasitas N25050: 50-54 
penumpang. Khusus Tipe N250100 berkapasitas 62-64 penumpang dengan empat baris, 
plus kargo ekstra. 

            Sejak diproduksi akhir 1998 telah menerima order sebanyak 30 
pesawat. *** 

            (DR Poempida Hidayatulloh, Wakil Bendahara Dewan Pimpinan Pusat 
Partai Golkar).  
     

--------------------------------------------------------------------
           
     


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke