Bukan ibadah, agama, busana, penampilan yang menmbedakan manusia
secara hakiki. Namun tindak amaliahnya, tindak welas asihnya.
Kemuliaan, bukanlah berlabel agama, bangsa, derajad ataupun
sejenisnya. namun adalah pancaran dari kita yang ingin berdharma
secara nyata. membebaskan diri dari keAKUan (anatta).
Ini sebuah contoh:
Bunda Teresa
Yang menerjemahkan kasih Tuhan
Bunda Teresa, barangkali, sosok yang tak pernah tahu siapa dirinya.
Atau, jika pun dia tahu, tak pernah selintas pun dia mau membicarakan
dirinya. Dan begitulah. Ketika dalam konferensi pers di USA, sewaktu
dia melawat untuk menceritakan kehidupan kaum miskin di Calcuta,
untuk kesekian kali dia ditanyakan tentang sejarah hidupnya, dia tak
menjawab. Bahkan, ketika pertanyaan itu diubah wartawan, menanyakan
perekembangan di dalam gereja, masalah emansipasi wanita, juga
kerohanian dunia Barat, serta cara pewartaan Injil, dia bergeming.
"Sungguh, saya tak tahu apa-apa tentang hal itu," katanya,
tenang.Tapi, ketika wartawan bertanya apa visinya untuk hidup bersama
kaum miskin, Bunda meradang. "Kalau Anda melakukan pekerjaan ini
untuk mencapai kemuliaan diri, Anda hanya akan bertahan satu tahun,
tidak lebih.
Hanya jika Anda melakukan itu untuk Allah, Anda akan maju terus, apa
pun rintangannya."
Ya, Bunda Teresa adalah yang maju terus. Ia pergi kemana pun, dan
bicara tentang pelayanan kasih. Ia tidak menumpuk uang untuk
tarekatnya, tapi menyalurkan kepada orang-orang kecil, hina dan papa,
dan melayaninya, dengan kesungguhan hati. Ia tak pernah memakai
metode apa pun untuk mendekati kaum papa; yang ia selalu pakai adalah
bahasa hati, kata-kata kasih. Ia selalu berbicara pelan, sederhana,
hampir terbata, namun secara jelas mewartakan empati pada
kemiskinan. Ia selalu memulai pekerjaannya, dengan sebuah niat yang
lepas dari diri sendiri: "Kami berbuat karena Yesus, untuk Yesus, dan
bersama Yesus.
Sesuatu yang indah selalu untuk Tuhan, memberi meskipun diri sendiri
menderita karena-Nya,
melayani-Nya dalam orang-orang yang menderita dan terbuang."Jika usai
berbicara, dan banyak yang tersentuh, dan bertanya pada Bunda
Teresa, apa yang dapat mereka lakukan, bibirnya itu akan tersenyum,
dan berkatalah ia dengan kalimat yang nyaris selalu sama, j awaban
yang memperjelas visinya, yang bergerak dengan yakin, perlahan tapi
pasti: "Mulailah, pelan saja, satu, satu, satu...." Lalu, ia akan
segera menyambung dengan kalimat lain, "Mulailah di rumah dengan
mengatakan yang baik pada anak-anakmu, kepada suamimu, atau istrimu.
Mulailah dengan melakukan apa saja, sekecil apa pun, sesuatu yang
indah sebagai pelayanan pada Allah."Jika ditanya, apakah pelayanannya
pada kaum papa itu sebagai kritik, Bunda akan tersenyum. pengikutnya
akan selalu berkata, "Tak ada kritik di sini, seperti juga tak pernah
ada perintah. Kami hanya melayani..."
Memilih bekerja Bunda Teresa dilahirkan di Skopje, Yugoslavia, dengan
nama Agnes Boyakhul, 26 Agustus 1910. Ia masuk biara Toretto di
Irlandia 1928. Setahun sesudahnya, ia dikirim ke India untuk
menjalankan novisiatnya di sana dan memulai karya sebagai guru,
mengajar di SMP St. Mary Calcuta.
Ia mengajar di sana hampir 20 tahun. Pada 1946, dalam perjalanan
menuju retret tahunannya, ia berkata, "Aku mendengar bisikan, untuk
meninggalkan segalanya. Aku mendengar bisikan untuk mengikuti Dia ke
lorong-lorong kumuh dan melayani orang-orang miskin dan terlantar."
Bisikan itu menggugahnya. Bunda pun mengajukan permohonan kepada
pimpinan Biara Loretto, dan pada tahun 1984 ia meninggalkan biara
Loretto. Dalam ketaatan pada Uskup Agung Calcuta, ia memulai hidup di
tengah-tengah orang-orang miskin, mendirikan sekolah di daerah kumuh
itu dan mulai mengajari anak-anak miskin di situ. Ia juga belajar
obat-obatan sederhana dari para suster Biarawati Karya Kesehatan
(BKK) dan mulai mengunjungi rumah-rumah orang sakit dan merawat
mereka. Perhatian dan pelayanan Bunda ini menggugah banyak gadis
alumni Sekolah St. Mary, dan memilih bergabung dengan Bunda, menjadi
pelayan bagi orang-orang yang menderita itu.
Tahun 1952, Bunda bertemu dengan wanita dua yang dibuang, sekarat di
pinggir jalan, badannya penuh dengan semut dan sebagian digerogoti
tikus. Ia mengangkat wanita itu dan membawanya ke rumah sakit. Tapi,
Bunda harus menangis, karena tak ada rumah sakit yang mau melayani.
Sambil terisak, Bunda membawa ibu sekarat tadi ke walikota, dan
meminta pertolongan untuk melayani orang-orang miskin itu, agar hidup
mereka terselamatkan.
Tapi, tetap saja bukan ke rumah sakit. Petugas kesehatan membawa
Bunda ke sebuah gedung tua, dekat sebuah kuil Hindu. Gedung itu tak
terpakai, hanya emperannya yang dijadikan inapan para pengunjung
kuil. Petugas kesehatan menawarkan gedung itu pada Bunda. Dan hanya
sehari, gedung itu hampir penuh oleh kaum hina dan sakit
dari Calcuta. Sekarang, gedung yang bernama Kalighat itu
masih berfungsi sama, sebagai tempat kaum miskin mendapat harap.
Bertahun-tahun Bunda mengembangkan pelayanan itu. Ia melayani hampir
setiap penderita yang dia jumpai, memberi perlindungan, memelihara
anak yatim-piatu, memberi makan yang lapar, memberi pakaian bagi yang
telanjang, membuka klinik keluarga berencana, dan memberi asa bagi
penderita lepra. Ia mendirikan Tarekat Misionaris Cintakasih, yang
kini beranggotakan lebih dari 3000 anggota, yang tersebar, dan
bekerja di 52 negara. Pengikutnya ini selalu berpegang teguh pada
kaul keempatnya, "Dengan segenap hati dan seluruh diri, memberikan
pelayanan bebas kepada mereka yang paling miskin".
Dalam iklim dunia, ketika religiusitas kian menipis, suster
Misionaris Cintakasih ini malah tumbuh subur. Untuk memahami hal itu,
Bunda punya penjelasan yang sederhana. "Ada banyak wanita, dan hanya
pekerjaan seperti ini yang dapat memberi suatu kehidupan: doa,
kemiskinan, dan pengorbanan."
Pelayanan Bunda diakui dunia, dan ia terkenal, dipuji, dan Nobel
Perdamaian pun singgah padanya, tahun 1979. Namun, kemasyuran ini tak
membawa dampak apa-apa padanya, ia tetap saja lugu, dan gembira di
tengah kaum miskin papa di Calcuta. Ia berjalan dengan kaki
telanjang, dan tidur dari satu rumah ke rumah lain di lokasi
penampungan, ia makan apa yang mereka makan, dan hanya punya dua
buah baju, selalu begitu, mencucinya sendiri.
Ia tahu, banyak yang mendatangi, mengunjunginya, tapi melihat
pelayanannya hanya sebagai wisata. Bunda tak hirau. Ia tetap saja
menyisiri sendiri rambut gadis India yang terlantar, ia memadamkan
listrik saat ekaristi, atau ketika doa, atau di kapel tak lagi butuh
lampu untuk membaca. Ini cara dia untuk dapat hidup dalam
kesederhanaan.
Tak ada uang yang diberikan kepada orang miskin, adalah pemborosan
jika kita membiarkan listrik menyala tanpa diperlukan," jelasnya.
Berpuluh tahun melayani, ia tak pernah tampak lelah, selalu gembira,
ceria, karena itulah unsur yang paling penting dalam suster
Misionaris Cintakasih. "Buatilah apa yang kau mau buat, tapi dengan
gembira, dan hiasi hari dengan hati penuh cinta," demikianlah dia
menasehati suster-susternya.
Beberapa orang yang pernah berjumpa dan bicara dengannya, selalu
berkata, Bunda adalah karunia terbesar di zaman ini. Tapi, pujian
itu, justru dia cela. "Kenapa terlalu banyak kata-kata, bukan kerja.
Biarkanlah mereka berkata apa saja tentang pelayanan kita...."
katanya, yang tetap memilih meninggal, di tengah keluarganya, kaum
hina papa, di Calcuta, India. (Aulia A Muhammad)
---------------
Salam
Danardono
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/