Itu karena ibadahnya tidak dilaksanakan secara kaffah
(menyeluruh).

Sesungguhnya seluruh hidup adalah ibadah. Untuk
mengabdi kepada Allah.

Dalam beribadah, kita harus mematuhi semua larangan
seperti tidak boleh mencuri atau korupsi. Di ten
commandments setahu saya ada pasal "Thou shalt not
steal". Atau ada berbagai perintah menyantuni fakir
miskin dan menolong sesama.

Nah itu dilaksakanan apa tidak? Kalau cuma ibadah
ritual seperti sholat, apalagi dishoot TV, sementara
hal di atas tidak dilakukan, sepertinya itu cuma show
off (riya) belaka.


--- Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Makasih Mbah. Memang ibadah ritual tsb belum
> berhasil ...
> Mungkin saja ibadah ritual tsb dilakukan karena
> takut gak disayang 
> mertua...:-), jadi bukan karena-Nya. Cuma simbol.
> 
> Kalau orang betul2 melakukan ibadah ritualnya
> karenaNya, mikir dua 
> kali Mbah diberi jabatan. Gak langsung mabok. Lha ya
> mikir dong, ini 
> bidang saya bukan ya?..Mampu gak ya?
> 
> Memang dah jungkir balik.
> 
> wassalam,
> --- In [email protected], "RM Danardono
> HADINOTO" 
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > --- In [email protected], "Lina Dahlan"
> <[EMAIL PROTECTED]> 
> > wrote:
> > 
> > 
> > > makanya, rakyat kecil harus lebih banyak lagi
> beribadah daripada 
> > > pemimpin negara ini...hue..he..he...
> > > 
> > > Pemimpin negara ini dah merasa merdeka secara
> moral karena 
> mereka 
> > > berfikir mereka bekerja untuk rakyat, jadi
> ibadahnya (amalnya) 
> > > buanyak. Pernah dengar gak cerita bahwa pemimpin
> negara itu gak 
> > > perlu sholat (boleh meninggalkan sholat) karena
> apa yang mereka 
> > > kerjakan (meeting penting) merupakan pekerjaan
> yang lebih 
> penting, 
> > > untuk rakyat.
> > > 
> > --------------
> > 
> > Mbak, ini ada srtikel yang cespleng dalam thema
> ini.
> > Saya kutip dahulu, kalimat akhir yang sangat
> membuat kita me-
> renung 
> > renung:
> > 
> > "Tujuan sebuah ritual, dalam perspektif seperti
> ini, dinilai telah 
> > tercapai seiring dengan tuntas dilakukannya ritual
> dan seremoni 
> > tersebut. Padahal, sebenarnya tidak demikian.
> Akibatnya, yang 
> > terbentuk kemudian adalah manusia beragama yang
> berdimensi 
> paradoks: 
> > secara ritual mereka saleh, namun tidak secara
> sosial-
> kemanusiaan..."
> > 
> > 
> > Lengkapnya:
> >  
> > 
> > 
> > Agama, Depag dan Moral-Etik Kekuasaan 
> > 
> > Muhammad Ja'far 
> > 
> > ERKUAKNYA indikasi terjadinya tindakan
> penyimpangan dana sisa 
> > penyelenggaraan haji merupakan persoalan yang
> layak menjadi bahan 
> > evaluasi kita terhadap pola pikir dan sikap
> keberagamaan kita 
> selama 
> > ini. Karena bagaimanapun, kasus ini jelas
> merupakan implementasi 
> > tindakan yang jelas bertentangan dengan prinsip
> dan nilai 
> > keberagamaan itu sendiri. 
> > 
> > Apa yang menjadi penyebab terjadi
> tindakan-tindakan penyelewengan 
> > demikian, tentu harus menjadi fokus kita. Apalagi
> hal itu terjadi 
> > pada sebuah lembaga kenegaraan yang pada dasarnya
> selalu 
> diharapkan 
> > memainkan peran penting sebagai pilar penegakan
> moralitas dan 
> etika 
> > berkekuasaan. 
> > 
> > Secara umum, terjadinya tindakan penyelewengan
> dana atau dalam 
> skala 
> > yang lebih besar korupsi pada Departemen Agama
> (Depag), tak dapat 
> > dilepaskan dari konteks persoalan global yang
> dihadapi juga oleh 
> > berbagai lembaga dan institusi kenegaraan di
> Indonesia saat ini. 
> > Tindakan korupsi, merupakan salah satu problem
> mendasar negara 
> ini. 
> > 
> > Dan, pengungkapan kasus serupa di Depag, merupakan
> salah satu 
> bagian 
> > dari realisasi agenda pemerintah untuk melakukan
> pemberantasan 
> > tindakan korupsi. Terkuaknya kasus demikian yang
> terjadi di Depag, 
> > harus ditempatkan dan dipahami dalam konteks ini. 
> > 
> > Walaupun, tentu sesuatu yang amat disayangkan
> bahwa praktik yang 
> > terjadi di beberapa institusi negara ini, juga
> terjadi pada sebuah 
> > lembaga kenegaraan yang mewenangi persoalan agama,
> yang notabene 
> > tentu tidak dapat dilepaskan dari persoalan
> moralitas dan etika 
> > kekuasaan. 
> > 
> > Salah satunya dalam memikul dan menjalankan
> politik kekuasaan yang 
> > tak lain merupakan tanggung jawab yang diamanatkan
> pada para wakil 
> > rakyat. 
> > 
> > Disimak dari perspektif ini, tentu sangat
> disayangkan bahwa 
> lembaga 
> > Depag juga dililit oleh problem penyalahgunaan
> kekuasaan. Sebab, 
> > justru lembaga inilah yang diharapkan mampu
> memberikan contoh dan 
> > menjadi profile positif 'sehatnya' sebuah lembaga
> kenegaraan. 
> > 
> > Namun, hal ini tidak lantas membolehkan kita untuk
> melakukan 
> > penilaian secara parsial dan sentimentil dalam
> menanggapi masalah 
> > ini. Sebab secara umum, ini terkait dengan
> fenomena kenegaraan 
> secara 
> > umum, serta pola pikir sikap keberagamaan
> masyarakat umumnya. 
> > 
> > 
> > Pola Pikir Mayoritas
> > 
> > Dalam konteks yang lebih luas, selain terkait
> dengan kondisi 
> politik 
> > kenegaraan Indonesia secara umum, persoalan ini
> erat terkait 
> dengan 
> > pola pikir mayoritas masyarakat kita yang masih
> terpaku pada pola 
> > pikir keagamaan yang menekankan pada aspek
> formalistik-legalistik. 
> > 
> > Akibatnya, dimensi sosial sebuah agama, menjadi
> terbaikan. 
> Padahal, 
> > kita tahu bahwa segenap ritual dan seremoni
> keagamaan selalu 
> memiliki 
> > paralelisme dengan élan vital sosial-kemanusiaan.
> Bahkan, jika 
> kita 
> > mengacu pada makna dasar agama itu sendiri, tentu
> yang menjadi 
> > orientasi utama dari kelahiran agama itu tak lain
> adalah dimensi 
> > sosial-kemanusiaan. 
> > 
> > Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, agama
> kemudian menggunakan 
> > dimensi ritual dan seremonial sebagai medianya.
> Dua hal itu 
> > diharapkan mampu menjadi media yang dapat mengasah
> aspek kognitif 
> dan 
> > spiritual para penganutnya. Dengan menjalankan
> ritual dan seremoni 
> > keagamaan, kesadaran manusia diharapkan mampu
> menembus makna di 
> > baliknya, serta tujuan yang hendak diraihnya. 
> > 
> > Di sisi lain, dua hal itu diharapkan mampu menjadi
> pisau pengasah 
> > dimensi spiritulitas diri individu. Sebab dalam
> perspektif agama, 
> 
=== message truncated ===


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke