--- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kepada bung Danar, Fauziah, dan ibu Is Moritis,
> Memang koruptor adalah musuh bangsa. Meski demikian,
> kita juga tidak bisa menutup mata dengan musuh bangsa
> lainnya, yaitu penjajah ekonomi yang menguras kekayaan
> alam bangsa Indonesia.
>
DH: Tak menutup mata saja tak cukup mas. Jangan jual kekayaan bangsa
pada mereka. kalau mungkin
> Kita tidak boleh melupakan berapa ribu trilyun
> kekayaan alam kita berupa minyak, gas, emas, tembaga,
> dsb dikuras oleh Multi National Company.
>
DH: Dikuras? yang mengizinkan menguras siapa? Yang ikut kaya dalam
kuras menguras siapa?
> Sebagai contoh, cadangan minyak Cepu sebesar 2 milyar
> barrel atau sekitar Rp 1000 trilyun. Toh bukannya
> ditangani oleh bangsa sendiri seperti Pertamina,
> Medco, Star, dsb, diserahkan kepada MNC asing.
>
> Akibatnya kekayaan yang seharusnya dinikmati 100% oleh
> bangsa Indonesia, sebagian lari ke asing.
DH: Salah mas. 70% dinikmati asing. 30 % dinikmati pimpinan kita
sendiri, yang memparkir dana di LN. Lihatlah keluarga keluarga
milyarder kita. Darimana kerkayaan mereka, lha wongh mereka satu
generasi yang lalu, sama miskinnya dengan orang tua kita?
>
> Itu baru 1 lokasi pengeboran minyak. Belum di Rumbai,
> Bontang, Arun, Natuna, dsb.
>
> Seandainya ada Rp 1000 trilyun keuntungan bisa kita
> dapatkan. Tapi karena "diolah" dulu oleh MNC, akhirnya
> kita cuma dapat sekitar Rp 100 trilyun. Akibatnya
> bangsa kita jadi melarat. Segelintir orang yang punya
> kekuasaan akhirnya jadi korupsi.
DH: Yang segelintir ini yang menguasai bangsa dan negara.
>
> Jadi kita bukan cuma harus memerangi koruptor, tapi
> juga harus melawan penjajahan ekonomi (neo
> imperialisme kata Bung Karno) oleh asing. Kita harus
> bangkit dan mandiri mengelola kekayaan alam kita
> (mimpi kali ye?:).
DH: Mandiri? Mau keruk minyak dan gas pakai apa? Pakai pacul?
Lima juta balita katanya terancam
> busung lapar. Apa kita diam saja melihat para penjajah
> ekonomi menguras kekayaan alam kita?
DH: Mengapa pemimpin yang terpilih lewat pemilihan ikut diam?
>
> Ini bukan masalah agama, tapi masalah bangsa.
DH: Agama memang bukan masalah, tetapi taat beragama sambil menguras
dan memiskinkan rakyat, ini masalah.
Buat apa taat beragama? Buat apa ibadah? Mau kaya didunia, dan kalau
mati ke surga?
Salam
Danardono
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/