http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/21/02.htm



Dana Abadi Umat Simalakama Bagi Umat 


  --Sampai di mana lembaga-lembaga keagamaan yang ada di negeri ini benar-benar 
diselenggarakan sesuai dengan nilai-nilai luhur agama itu sendiri?

MEMANG masih dalam proses, tapi kasus dugaan penyelewengan dana penyelenggaraan 
haji yang merugikan negara senilai Rp 700 miliar cukup menyengat. Dua mantan 
petinggi di Departemen Agama, termasuk mantan Menteri Agama, sudah dinyatakan 
sebagai tersangka. Omongan masyarakat tentang korupsi di departemen yang 
mestinya menjadi penyangga dan penjaga nilai-nilai moral dan etika ini sudah 
lama terdengar. Meskipun demikian, banyak yang percaya memang demikianlah yang 
sebenarnya. Masalahnya, karena belum terungkap secara resmi, persoalan pun 
dengan sendirinya menjadi kabur.

Sekarang, setelah dua orang dinyatakan sebagai tersangka, rangkaiannya pun 
mulai terurai. Proses penyalahgunaan yang sekarang sedang diperiksa baru yang 
terjadi antara tahun 2001-2005. Apakah sebelumnya tidak ada penyelewengan? 
Penasihat hukum mantan Menteri Agama yang berstatus tersangka bahkan sejak 
pagi-pagi sudah menganjurkan agar mantan Menteri Agama sebelumnya pun ikut 
diperiksa. Apakah masalah ini akan mengalir sampai jauh?

Dana yang terhimpun sebagai keuntungan dari penyelenggaraan ibadah haji 
disimpan dalam rekening yang namanya amat bagus, Dana Abadi Umat (DAU). Karena 
namanya seperti itu, menjadi persoalan yang sangat menggoda untuk 
mempertanyakan ke mana saja DAU itu disalurkan? Yang menarik, pihak 
Muhammadiyah sudah mengakui pernah beberapa kali menerima bagian. Bagaimana 
dengan pihak-pihak yang lainnya?

Karena menyebut-nyebut nama umat, dengan sendirinya di samping persoalan hukum 
yang dihadapinya sekarang, secara etika pun pemakaian DAU harus 
dipertanggungjawabkan kepada umat. Apalagi dananya dikumpulkan dari 
penyelenggaraan haji yang notabene merupakan ritual ibadah. Bukan dana yang 
dihimpun lewat cara lain. Hal seperti ini sangat bertentangan dengan sifat 
dasar Islam itu sendiri yang menganjurkan ibadah diselenggarakan tanpa harus 
memberatkan bagi yang melaksanakannya.

Secara sederhana, DAU yang memiliki dana abadi yang jumlahnya cukup besar, 
seharusnya persoalan-persoalan yang dirasakan oleh umat tidak dibiarkan 
terbengkalai seperti saat ini. Mestinya, paling tidak dalam urusan pendidikan 
dan kesehatan kondisi umat sudah jauh lebih baik. Mengapa hanya soal pendidikan 
dan kesehatan yang kita tekankan di sini? Karena kita setuju dengan pengakuan 
SBY bahwa penyebab terpuruknya kesejahteraan rakyat seperti sekarang karena 
rakyat masih bodoh dan miskin. Yang layak lebih ditekankan lagi, sebagian besar 
dari rakyat yang terbengkalai itu adalah umat Muslim.

Inilah ironi paling menyakitkan dari kasus penyalahgunaan DAU yang berpangkal 
di Departemen Agama itu. Pada dasarnya umat sendiri akan setuju dan mendukung 
niat menghimpun dana bagi kepentingan umat yang lebih luas. Bahkan pemberiannya 
pun akan dilaksanakan secara sukarela. Selama bertahun-tahun proses 
penyelenggaraan haji dilaksanakan tanpa mengindahkan protes atau keluhan dari 
umat itu sendiri. Ongkos yang mahal tapi pelayanan yang minim menjadi salah 
satu persoalan yang paling banyak mengemuka. Tapi sampai sejauh ini, 
persoalan-persoalan seperti itu belum ditanggapi secara positif.

Kini yang muncul justru aroma yang lebih tidak sedap. Bagi umat, ini ibaratnya 
buah simalakama. Dalam tataran yang lebih sederhana makin santer dipertanyakan, 
sampai di mana lembaga-lembaga keagamaan yang ada di negeri ini benar-benar 
diselenggarakan sesuai dengan nilai-nilai luhur agama itu sendiri? Dengan kasus 
yang menguak sekarang, nama Departemen Agama jelas sudah tidak bermartabat 
lagi. Dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama ke depan jangan kaget kalau 
lembaga ini dihapus dalam kabinet. Memang sudah dari sono-nya, lembaga-lembaga 
seperti ini, karena diposisikan sebagai bagian tidak terpisahkan dari proses 
kehidupan beragama, ada kesan semacam sakralisasi terhadapnya. Santri di 
desa-desa merasa sangat berharga kalau bekerja di Departemen Agama, umat 
menempatkan menteri agama tidak sekadar sebagai menteri dalam kabinet. 

Yang berkembang sebagai arus baru justru sebaliknya. Terjadi proses 
desakralisasi yang sangat terencana. Umat akan dihadapkan pada tantangan yang 
sangat pelik. Simalakama sejenis ini mestinya dihadapi secara konsepsional. Di 
samping masalah DAU harus diungkap sejelas-jelasnya, persoalan umat pun harus 
diutamakan.***


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke