--- In [email protected], free share <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Pak RM (Rumah Makan atau Raden Mas ya?), 
>  

DH: kalau "Rumah Makan", saya akan isi milis ini dengan resep resep 
hik hik..mbok Berek gitu lho..
>  
----------------------------

> sekilas saya membaca sinopsis buku manifesto kalifatulah karya si 
aki ini. dia menggangap manusia baik dan beragama (bahkan detilnya 
seorang mukmin dan muslim) sebagai wakil tuhan di muka bumi ini. 
hanya manusia demikian saja, menurutnya, yang pantas megaku wakil 
tuhan di dunia ini. sementara, orang lain dari itu, bukan wakil tuhan 
tapi wakil setan. 
>  
> dasar pemikiran seperti itu sah-sah, sepanjang dia pun menyadari 
tentang kenyataan kehidupan di dunia ini yang tidak melulu urusan 
agama. dia akan terbentur masalah besar ketika berhadapan dengan 
kemajuan teknologi yang tidak punya sangkut paut sama sekali dengan 
agama, bahkan kadangkala bisa bersifat bertolakan dengan agama. jika 
dia bilang, hanya manusia beragama (islam-red?) saja yang pantas 
diaku sebagai khalifatulah, maka bagaimana dengan mereka yang tidak 
beragama (sekularis)., apakah mereka adalah kalifah setan (wakil 
setan)?. padahal mereka kebanyakan menghasilkan produk teknologi yang 
bermanfaat bagi manusia lain. apakah produk teknologi juga merupakan 
produk setan?.
>  
> FS  

DH: Setuju sekali,mas.

Kalau anda telaah karangan bapak satu ini, yang keluar ditahun 49, di 
era Poejangga Baroe, maka nafas tulisannya sangat berbeda.
Bapak ini juga turut mendirikan LEKRA, Lembaga Kebudayaan dfiozaman 
bung Karno, yang dinilai cukup kiri.

Kini, bapak ini belok kanan tajam, macam bajajj yang belok tiba tiba..

Melihat hidup sebagai urusan agama, adalah terlalu one-sided, dan 
kurang sesuai dengankenyataan kehidupan se-hari hari yang 
multidimensional ini.

Pandangan sekular, yang tak automatis berarti tak beragama, namun 
sekedar memisahkan akidah dari kehidupan se-hari hari (misalnya agar 
tak berbenturan dengan sesama warga yang berbudaya dan kepercayaan 
lain), bukanlah dikotomi terhadap kehidupan beragama.

Yang ajaib sekali, bapak kita ini, menggabungkan pengakuan terhadap 
Pancasila dan anti sekularisme. Padahal, Pancasila, kalau bapak kita 
ini masih ingat sejarahnya (bulan bulan Mei Juni 1945), adalah upaya 
kompromi anggauta Badan Persiapan Kemerdekaan untuk mengakomodasi 
aspirasi putera putera bangsa, dari sabang sampai ke Merauke. Jadi 
justeru sekular.

Tetapi, apakah bapak kita ini menentang atau tidak, kafilah tetap 
berjalan, seperti ucapan bung Karno, bapak Pancasila...

Salam kafilah yang berlalu

Danardono







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke