http://www.indomedia.com/bpost/062005/22/opini/opini1.htm

Pembalakan Hutan
Kacamata Yang Buram

Oleh: Budi Kurniawan

Pada awal masa jabatannya sebagai presiden, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 
gencar berbicara tentang pembalakan hutan. Kepada menteri dan pejabat yang 
terkait dengan sektor kehutanan pun SBY memerintahkan agar menegakkan hukum, 
menangkap cukong kayu, pelaku pembalakan hutan, memproses mereka di pengadilan 
dan menjebloskannya ke penjara. Usai perintah disampaikan, hampir di seluruh 
penjuru daerah di Indonesia aparat kepolisian juga kehutanan gencar melakukan 
operasi.

Minggu (22/5), misalnya, kembali aparat penegak hukum menangkap 24 pelaku 
pembalakan hutan di sekitar areal hutan produksi Asia Log, Jambi. Beserta 
mereka disita pula sebanyak sembilan truk yang digunakan untuk mengangkut kayu 
dan 18 mesin potong. Setelah ditahan, para pelaku itu mengaku beroperasi 
sendirian dan tak ada pihak yang turut membiayai kegiatan mereka.

Di Papua yang kini menjadi sasaran pelaku pembalakan hutan setelah Sumatera dan 
Kalimantan, aparat menangkap beberapa cukong --sebagian di antaranya adalah 
warga negara asing. Sementara di Kalimantan, aparat melakukan hal yang sama. 
Uniknya di Papua, ketika beberapa cukong pembalakan hutan ditangkap polisi, 
masyarakat lokal justru datang menjenguk, bahkan menangisi penangkapan itu. 
Mereka mungkin punya ikatan 'emosional' dengan para cukong itu.

Tak hanya itu, mereka mungkin punya ikatan 'ekonomi' dengan para cukong itu. 
Ini karena mereka merasakan manfaat ekonomi dari pembalakan hutan yang 
dilakukan. Rupanya, selama ini mereka tak punya pekerjaan lain selain menebang 
kayu dan kemudian menjualnya kepada cukong yang menjadi penadahnya. Dari hasil 
penjualan kayu yang kemudian diekspor secara ilegal itulah masyarakat lokal 
memperoleh pendapatan dan hidup.

Ikatan 'emosional' dan 'ekonomi' itu pula yang dirasakan sebagian besar 
masyarakat di Kalimantan --terutama Kalimantan Tengah. Berdasarkan data yang 
dilansir Center for International Forestry Research (CIFOR) dan Badan Planologi 
Departemen Kehutanan, pada akhir tahun lalu saja sudah 14,6 juta hektare hutan 
yang pohonya ditebangi. Luas itu setara dengan 1.232 kali luas kota Bogor, Jawa 
Barat.

Namun masyarakat sepertinya masih kurang paham dengan luas hasil pembalakan 
hutan itu. Itu terjadi karena mereka tak punya pilihan. Mereka tak punya 
pekerjaan. Pemerintah pusat di Jakarta sepertinya melihat soal pembalakan hutan 
itu dengan kacamata yang buram. Hanya melihatnya dari satu sisi: kerusakan 
lingkungan. Sementara sisi lain yang melekat bak sisi mata uang: pekerjaan dan 
penghasilan yang tetap, masih belum dilihat dan dicari penyelesaiannya oleh 
pemerintah pusat di Jakarta.

Memang kearifan tradisional di kalangan masyarakat Dayak di pedalaman masih 
tersisa. Masyarakat Dayak, misalnya, masih melakukan tebang pilih pada beberapa 
jenis pohon yang memiliki manfaat langsung dan berpengaruh pada kehidupan 
mereka. Orang Dayak, sejak beratus tahun silam tidak akan menebang pohon yang 
punya 'nyawa' dan kekuatan magis lainnya.

Pohon Damar, misalnya, termasuk jenis pohon yang tidak akan pernah mereka 
tebang. Alasannya, sebenarnya sederhana. Di pohon jenis ini lebah biasanya 
senang bersarang. Madu yang dihasilkan makhluk ini sangat bermanfaat buat 
kesehatan manusia. Madu pastilah lebih bermanfaat langsung bagi manusia 
ketimbang kayu.

Pada saat berladang pun, orang Dayak tak semena-mena menebang pohon. Mereka 
punya cara memelihara hutannya. Mereka memang sering berpindah-pindah kala 
berladang. Tapi mereka hanya akan menebang pohon di lahan yang ditanami padi 
dan berbagai jenis palawija lainnya. Di luar lahan itu, pohon tak akan mereka 
sentuh sedikit pun.

Usai panen pun lahan itu ditinggal dan mereka akan datang lagi beberapa bulan 
--bahkan bertahun-tahun- kemudian membuka ladang yang sama di lahan yang mereka 
tinggalkan tadi. Dengan kearifan tradisional itu, orang Dayak di pedalaman 
sukses melestarikan hutan yang menjadi jantung kehidupan mereka.

Dengan kearifan tradisional semacam itu, pastilah terlalu berlebihan menuding 
orang Dayak sebagai biang kerok pembalakan hutan. Kalau pun mereka terlibat, 
pastilah itu untuk kepentingan perut semata. Nah, yang menjadi pertanyaan 
kemudian adalah, bagaimana pemerintah (Jakarta) memperhatikan mereka dalam 
bentuk menyediakan pekerjaan melalui industri atau investasi yang ditanamkan di 
daerah. Jika itu dilakukan, niscaya pembalakan hutan bisa diatasi dengan 
sistematik, komprehensif, tidak instan dan berkelanjutan.

Mengatasi pembalakan hutan bukanlah dengan cara seperti yang sekarang 
dilakukan, yaitu dengan (hanya) menangkap lalu menjebloskan pelakunya ke dalam 
bui. Cara itu mungkin bisa ampuh, tapi pasti hanya sesaat. Bukankah kejutan 
listrik yang dihunjamkan ke tubuh hanya mengakibatkan kelumpuhan sesaat? Lalu 
setelahnya orang akan sehat kembali dan bisa melakukan aktivitasnya seperti 
biasa.

Karena itu, cukup sudah melihat pembalakan hutan hanya dari kacamata Jakarta. 
Karena sesungguhnya yang terjadi di pedalaman sana, tempat orang-orang dengan 
kearifan tradisional hidup bersahaja, jauh berbeda dengan kacamata Jakarta yang 
kadang buram sehingga susah melihat persoalan dengan baik, objektif dan jelas. 
Maka, belajarlah dari kearifan tradisional yang sesungguhnya memang sudah 
menjadi milik kita bersama yang diwariskan para pendahulu dari berabad-abad 
silam.

Alumnus FISIP Unlam, tinggal di Jakarta
e-mail: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke