Pak, Om, atau Mbah...
Maaf nyela sekali ini aja. Janji nggak ikutan lagi.
--- In [email protected], "Yopie Peranginangin" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Mbak, Pak atau siapapun anda...
>
> Saya memang aktif di milis ini terhitung sekitar 4 hari....
>
> Terlepas bahwa apa yang saya sampaikan pernah didiskusikan sebelumnya,
> tanggapan yang saya buat hanya ditujukan untuk menjawab komentar
dari Pak
> DG. Semoga anda paham dengan pernyataan saya.
> Saya sedikit berkomentar atas pendapat anda dan mudah-mudahan tidak
> mengulang perdebatan yang sudah ada, demi efisiensi (kapitalis
banget.....:)
Efisiensi = kapitalis?
Pertamina harus efisien ---> Pertamina menjadi kapitalis?
Pemerintah harus efisien ---> menjadi kapitalis?
Terima kasih buat memberitahu saya norma baru ini.
> Cross-countries investment adalah hal yang wajar dalam persfektif
> Globalisasi atau neoliberalisme, tapi kemudian menimbulkan pertanyaan
> lanjutan dalam konteks penguatan industri nasional atau bisa disebut
juga
> sebagai program industrialisasi nasional. Seberapa kuat
industri-industri
> pertambangan nasional menahan guncangan dalam pusaran Pasar Bebas dengan
> hukum rimbanya? Apakah harapan mengubah PERTAMINA menjadi World Class
> Company disandarkan pada pundak maskapai-maskapai pertambangan seperti
> EMOI??? Dengan harapan akan terjadi proses transformasi pengelolaan???
> Mungkin harapan tersebut bisa terealisasi di Acara "MIMPI KALI YEE"
di TV.
>
Itulah kalau anda tidak membaca posting2 sebelumnya (sebab anda kurang
kapitalis... j/k), anda tidak mengerti konteks saya menulis bahwa
Pertamina itu perlu bersikap profesional. Apakah profesional pasti
sama dg pemodal besar? Saya nggak pernah bilang begitu.
Saya cuma mau menunjukkan bahwa tidaklah aneh suatu SOE tidak
mendominasi eksploitasi dalam negerinya (contohnya Petronas dan
Pertamina) dan juga tidak aneh kalau suatu SOE (atau oil co.)
beroperasi di negara2 diluar HQnya. Jadi ya wajar kalau ada perusahaan
asing di Indonesia, sewajar Petronas dan Pertamina yang juga
beroperasi di negara2 lain. Kutipan tsb karena anda berdua sebelumnya
berdebat soal posisi/peran Petronas dan Pertamina, (kayaknya) nggak
ada hubungan (langsung) dg negosiasi Cepu ini.
Saya kutipkan Pertamina's New Paradigm (sumber: Pertamina):
- business policy is focused in domestic and overseas
- contributed with internal and external financing
Atau pemerintah Iraq dan Vietnam juga harus menasionalisasi Pertamina
karena membiarkan asing merampok kekayaan alamnya?
Ok, saya keluar dari perdebatan anda dg Mas Bagong. (walau saya
bingung, sebenarnya apa sih yang sekarang diperdebatkan? Cepu itu
harus dikasih ke Pertamina? atau Pertamina itu harus didukung habis?
atau harus menendang keluar semua perusahaan asing?.. yo wis..
silahkan lanjut). Sorry deh kalau ada kata yang salah..
salam,
fau (cewe banget)
*silent mode on
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/