Saya lebih sedih waktu membaca  komentar bang Togi "kecian deh lu 
perempuan.Hihihihihi...." dari pada waktu membaca kepedihan seorang perempuan 
yg menderita dalam perkawinannya. Janganlah tertawa diatas kepedihan orang 
lain. Kepedihan itu milik semua orang juga milik bang Togi.

Saya punya teman laki2 WNA ( suku Jawa) yg married dengan wanita bule 
(Prancis). Mereka menikah di Prancis karena teman saya ini katakanlah namanya 
Amir menyelesaikan pendidikan sarjana tehniknya di sana. Dia mengawini Anne ( 
samaran) setelah mereka berpacaran 1 th. Amir dan Anne punya 1 anak perempuan 
Sari (samaran ) mereka milih nama Indonesia untuk anak mereka. Setelah Sari 
berusia 3 th Amir berniat mengajak keluarganya kembali ke Indonesia dan berniat 
menetap di Indonesia. Tapi sayangnya Anne menolak ajakan suaminya dengan alasan 
tidak cocok dengan udara Indonesia yg panas kotor dan tidak aman. Sejuta cara 
amir membujuk Anne untuk mau ikut tinggal di Jakarta paling tidak mencoba dulu 
2 atau 3 bulan tinggal di Jakarta. Tapi Anne juga dengan sejuta alasan menolak 
ajakan suaminya dan memilih bercerai daripada harus ikut suaminya tinggal di 
Jakarta. Semula Amir mencoba menuruti kemauan istrinya untuk tetap tinggal di 
Prancis tapi malang tidak dapat dihindari, ayah Amir meninggal
 dunia karena kecelakaan dan Amir terpaksa harus kembali ke Jakarta untuk 
menghadiri pemakaman ayahanda tercintanya. Ringkas ceritanya Amir harus 
meneruskan roda perusahaan ayahnya karena memang itulah permintaan terakhir 
ayahnya. Sementara itu Anne sang istri tetap kukuh tidak mau pindah ke Jakarta. 
2 th kemudian mereka bercerai karena tidak memungkinkan untuk Amir harus mondar 
mandir Jakarta Prancis tiap 2-3 bulan sekali. Amir sekarang sudah menikah lagi 
dengan sepupu saya setelah menduda 5 th. "Siapa bilang duka perkawinan campur 
itu cuma milik kaum perempuan" Duka perkawinan itu milik semua orang. Duka itu 
ada dimana mana bukan cuma dalam perkawinan campur dalam perkawinan 1 suku pun 
tidak luput dari duka dan cobaan.

Untuk Marcellina jangan putus asa, anda masih muda, smart dan pasti juga masih 
cantik. Percayalah derita yg kamu pikul itu tidak selama jadi milik kamu. Tuhan 
tidak akan menurunkan cobaan melebihi kekuatan umatnya. Kata2 itu bukan klise. 
Serahkan semua urusan kamu pada Tuhan karena cuma DIAah yg Maha Tau Maha 
Pengasih dan penyayang juga Maha pengampun. Kamu harus tau bahwa derita 
perkawinan kamu itu bukan cuma terjadi dalam perkawinan campuran tapi juga bisa 
terjadi dalam perkawinan 1 suku. Jangan berkecil hati sayangku perjalanan kamu 
masih panjang jangan bicara masalah mati.Karena cuma DIA yg tau.

Salam kenal untuk bang Togi dan Marcellina

AniDj

 

 



partogi samosir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: derita ini hanya berlaku bagi wanita 
indonesia yang menikah dengan pria WNA (tidak hanya bule). Derita ini tidak 
berlaku bagi pria Indonesia yang menikah dengan wanita WNA.
Enaknya jadi pria Indonesia. Kecian deh kalian perempuan2. hihihi
togi

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.indomedia.com/bpost/062005/22/depan/utama10.htm
>
> Derita Perempuan Bersuami Bule
> Tahu Begini, Mending Tak Menikah
>
> MENIKAH dengan pria/wanita bule yang selama ini menjadi trend di kota 
> Metropolitan, khususunya di kalangan artis, ternyata tak seindah yang 
> dibayangkan. Banyak kendala hukum yang akan menghadang dalam perjalanan 
> berumah tangga beda negara ini.
>
> Sedemikian ruwetnya, seorang Marcellina Tanuhandaru (32), pelaku kawin 
> campur antar bangsa ini, akhirnya menyimpulkan lebih baik tak menikah dari 
> pada menikah dengan bule. "Kalau tahu ruwet begini, mending dulu tak 
> menikah," cetusnya jengkel.
>
> Perempuan berkulit putih kelahiran Surabaya ini ditemui saat membagikan 
> selebaran pamflet advokasi untuk perubahan RUU Kewarganegaraan di teras 
> depan ruang Rapat Paripurna Gedung DPR/MPR, kemarin (21/6).
>
> Rambutnya dicat kuning, pakaiannya berupa rok terusan berwarna ungu, 
> dipadu selendang warna merah menyala tampak seperti perempuan bule. 
> Marcellina berkebangsaan Indonesia menikah dengan pria warga Amerika 
> Serikat, Tom Mustric, Juni 2001 silam di Colombus, Ohia, Amerika Serikat.
>
> "Kita bertemu di sana saat sedang ada konferensi pendidikan. Kebetulan 
> kita sama-sama pengajar," ujar perempuan yang jadi pemilik sekaligus 
> pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Labora, Jakarta ini.
>
> Meski berbeda bangsa dan berselisih usia hampir 30 tahun, toh perkenalan 
> terus berlanjut pada jenjang pernikahan. Pasangan berbeda kewarganegaraan 
> ini untuk sementara waktu menetap di negeri Paman Sam. Mereka pun 
> dikaruniai dua anak, masing-masing bernama Sonya dan Julian. Marcellina 
> mengaku happy saat kedua anaknya lahir. Tak pernah sedikit pun terlintas 
> dalam benaknya bakal ada segunung permasalahan menghadangnya kelak.
>
> Akhirnya, prahara terjadi di rumah tangganya. Pada 29 Maret 2003, dengan 
> memboyong kedua anaknya, ia kabur meninggalkan sang suami dari rumah 
> mereka di Colombus. Pangkalnya, adanya kekerasaan rumah tangga (domestik 
> violence).
>
> Selama dua bulan ia berlindung di shelter perlindungan di Colombus Ohio. 
> Niatnya untuk pulang ke tanah air semakin menguat dengan memboyong kedua 
> putri tercinta. Dengan akta lahir WNA, kedua anaknya sulit untuk bisa 
> dibawa serta ke Indonesia. Terlebih ia bisa terkait tuduhan penculikan 
> anak.
>
> Berkat bantuan KBRI Washington, ia mendapat Surat Perjalanan Laksana 
> Paspor (SPLP) yang membawa dirinya dan dua anaknya ke tanah air. Surat 
> khusus itu bertajuk "alasan kemanusiaan yang diberikan Deplu RI melalui 
> Kedubes Indonesia di Amerika".
>
> Akhir Juli 2003, Marcel dan kedua anaknya tiba di tanah air. Dikira 
> permasalah kawin dengan bule berakhir. Permasalahan belum selesai, 
> rambu-rambu hukum terus menelikungi hidupnya. Sesuai UU no.62 tahun 1958 
> tentang kewarganegaraan, Sonya dan Julian, otomatis mengikuti 
> kewarganegaraan ayahnya.
>
> Dengan kata lain, Marcel tak bisa memberikan status WNI bagi kedua darah 
> dagingnya tersebut. Selain itu, sesuai peraturan untuk mendapatkan hak 
> mengasuh darah dagingnya di Indonesia, ia harus meminta ijin dari sejumlah 
> menteri terkait. Setiap tahun, ia pun harus mengurus visa tinggal untuk 
> Sonya dan Yulian.
>
> "Birokrasinya panjang banget Mas, selain itu mahal," ujar perempuan yang 
> kerap bicara dengan nada cepat ini.
>
> Birokrasi yang harus ditempuhnya adalah Marcel harus melapor ke 
> kepolisian, kelurahan, kecamatan, kabupaten, serta ke dinas kependudukan 
> propinsi. Terakhir, ia resah dengan masa depan kedua anaknya. Baik Sonya 
> maupun Yulian tak bisa menempuh pendidikan di sekolah negeri. Saat ini, 
> tuturnya, Sonya sudah masuk Play Group (Pra Taman kanak-kanak). "Nantinya, 
> secara tak langsung oleh dinas terkait, ia disarankan masuk sekolah 
> internasional. Itu biayanya mahal sekali Mas," keluhnya.
>
> Kedua anak blasteran inipun tak mempunyai hak waris tanah (properti) milik 
> ibunya. "Setelah lewat usia 18 tahun, kedua anak saya baru bisa memilih 
> kewarganegaraan. Tapi, apa jadinya kalau saya meninggal sebelum mereka 
> dewasa? Siapa yang akan mengurus mereka," ujarnya dengan mata 
> sendu.JBP/den/bie
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke