http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=177347
Jumat, 24 Juni 2005,
Korupsi di Depag
Oleh Zuly Qodir*
Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tim Tastipikor) menetapkan pejabat
tinggi, salah satu Dirjen di Depag dan mantan Menteri Agama Said Agil
Al-Munawar, menjadi tersangka dalam dugaan korupsi pengelolaan dana
penyelenggaraan haji di Depag RI.
Jika Tim Tastipikor benar-benar melakukan penyidikan serius, akan banyak orang
di lingkungan Depag yang bakal dijemput untuk pindah rumah karena terjerat
kasus korupsi.
Kita bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan kaum religius ini? Di manakah
letak kesalahannya, pada kaum agamawan dalam mengajarkan agama kepada umatnya,
ataukah memang sudah jadi tabiat bangsa ini, sehingga siapa pun yang melihat
duit merasa bersalah jika tidak mengorupnya?
Depag Korupsi
Pada saat Komisi Pemilihan Umum (KPU) tengah ramai menjadi sorotan publik
karena ada dugaan kasus korupsi yang kemudian menyeret Nazaruddin Sjamsuddin
dan Mulyana W. Kusuma Ðbisa jadi terus bertambahÐ sehingga seluruh pejabat dan
anggota KPU harus "kos" di Rutan Salemba, publik kembali dikejutkan dengan
dugaan korupsi di Depag, khususnya urusan penyelenggaraan haji, seperti
diberitakan koran ini beberapa waktu lalu (koran ini 25/05/2005).
Tentu saja, kita menjadi risi, bahkan tidak habis pikir, sebuah lembaga negara
yang bisa dibilang memiliki "hubungan dengan Tuhan" saja, para pejabatnya
melakukan tindak pidana korupsi.
Bagaimana dengan lembaga-lembaga negara lainnya, apakah tidak lebih bobrok dan
korup? Tentu saja, ini pertanyaan yang menyakitkan, namun saya tidak bermaksud
menuduh seluruh lembaga negara di Indonesia orang-orangnya korup.
Lama telah kita dengar bahwa Depag itu memang korup. Namun, kali ini
benar-benar mengerikan jika nanti sungguh-sungguh terbukti bahwa para pejabat
di lingkungan Depag (urusan haji) secara jamaah melakukan korupsi. Dana haji
yang disetorkan masyarakat muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah saja
dikorup, apalagi yang tidak untuk ibadah.
Haji kita ketahui adalah salah satu kewajiban orang Islam bagi yang mampu.
Tetapi, kita juga harus tahu bahwa banyak dari masyarakat kita yang ingin
berangkat haji dengan menjual sawah-ladang, sapi, kerbau, dan seluruh
tabungannya dikuras demi menjalankan perintah Tuhan agar sempurna dalam
beragama, sekalipun biayanya sangat mahal.
Ironisnya, mahalnya biaya haji itu disebabkan para pengelola urusan haji
mengorup sebagian setoran haji. Sungguh, hal ini merupakan kejahatan terbesar.
Sebab, mereka bukan hanya melakukan tindak kriminal kepada sesama manusia,
tetapi sekaligus kepada Tuhan.
Pernah suatu ketika kita dengar pernyataan bahwa di negeri ini lembaga paling
korup adalah Depag, Diknas, dan Depkes. Kemudian, Anwar Nasution, deputi senior
Bank Indonesia, menyatakan bahwa BI adalah "sarang penyamun". Artinya, di
negeri ini, sekurang-kurangnya lembaga yang penuh dengan "siluman" ada empat
institusi terpenting.
Depag sebagai institusi pembinaan mental-spiritual terkontaminasi oleh
sifat-sifat buruk para petinggi dan stafnya. Oleh karena itu, sangat sulit
berharap pembinaan mental-spiritual dari Depag karena juga akan dikorup. Dan
persis di sinilah tempatnya, dana haji juga dikorup. Pejabat dan pegawai Depag
berani melakukan korupsi dari rumah Tuhan.
Diknas demikian pula. Lembaga yang berkewajiban dan bertugas mendidik
mentalitas anak-anak bangsa sebagai generasi penerus juga terkoyak oleh adanya
skandal kasus megakorupsi para pejabatnya. Sungguh ironi yang mahadahsyat, di
mana pembinaan generasi muda tidak lagi bersih dari kekuatan nafsu serakah para
pejabat dan pegawai Diknas.
Dengan itu, berharap kepada pendidikan yang mampu mendorong pada pencegahan
terjadinya korupsi menjadi semakin kecil peluangnya. Sebab, yang terjadi adalah
sebaliknya.
Depkes juga tidak berbeda dengan dua institusi negara di atas. Sebuah institusi
yang berkewajiban memberikan perlindungan kesehatan dan perawatan kepada
masyarakat agar sehat jiwa raganya ternyata juga korup.
Saya khawatir, jangan-jangan semakin mahalnya biaya berobat di rumah sakit,
puskesmas, atau balai-balai pengobatan karena sebagain besar pejabat rumah
sakit atau puskesmas yang berada di bawah Depkes juga mengorup uang berobat
pasien.
Lengkap sudah penderitaan masyarakat kita. Institusi yang dipercaya memberikan
bimbingan mental-spiritual korup, institusi yang dipercaya memberikan bimbingan
untuk meraih masa depan yang lebih jelas korup, masih disertai institusi yang
dipercaya memberikan pelayanan kesehatan ragawi juga korup. Oleh sebab itu,
seakan tidak ada lagi harapan untuk hidup tanpa terjadi korupsi di Indonesia.
Korupsi benar-benar telah terjadi seperti kata pepatah "dimulai dari WC hingga
rumah ibadah/rumah Tuhan". Korupsi telah terjadi dari tempat yang dianggap
paling kotor, jorok, dan tidak sopan, sampai tempat yang diangap paling suci
dan diagungkan. Koruptor ternyata tidak memandang tempat.
Dalam konteks peribahasa itulah, Depag saat ini tampak terlihat boroknya.
Penyelewengan dana penyelenggaraan haji adalah bukti paling sempurna betapa
lembaga yang berurusan dengan Tuhan saja melakukan tindak korupsi. Demikian
pula tiga lembaga yang saya sebut di atas, tentu saja tidak bisa imun dari
tindakan korupsi.
Siapa Yang Salah?
Dalam kaitannya dengan Depag, jangan-jangan, yang salah adalah para agamawan
itu sendiri yang mengajarkan kepada umatnya tentang nilai-nilai agama, tetapi
tidak pernah memberikan teladan kepada jamaah agar berbuat yang tidak
bertentangan dengan ajaran agama.
Agama diajarkan tetapi sebatas formalitas ajarannya, bukan bagaimana pemeluk
agama itu menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari (everyday
life) dengan ajaran agamanya.
Disebabkan para agamawan mengajarkan agama hanya formalitas, maka tatkala
terjadi anomali-anomali, dikatakan sebagai sesuatu yang normal saja sebagai
manusia biasa yang tidak lupa dari dosa dan khilaf. Orang beragama pun akhirnya
hanya diajari memaafkan dan mendoakan kepada mereka yang berbuat kejahatan agar
tidak mengulangi di kemudian hari.
Tetapi, orang beragama tidak pernah diajarkan agar mencontoh perbuatan dari
dalam dirinya dan masyarakatnya yang tidak korup dan santun dengan semua orang.
Dimensi kemanusiaan dan sosial hambar dari pengajaran agama di negeri ini.
Sebab, yang terjadi adalah indoktrinasi yang penuh dengan ancaman dan
pengampunan dari Tuhan.
* Zuly Qodir, peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM Jogjakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/