ANGKASA ANGSA LIAR
[16]
TEMU SASTRAWAN BORNEO- KALIMANTAN DI SANDAKAN [1].
Pada tanggal 2-5 Juli 2005 mendatang, di Sandakan,Sabah, Malaysia, akan
dilangsungkan temu sastrawan Borneo-Kalimantan yang ke-VIII. Karena belum
mendapat informasi yang memadai tentang sejarah kelahiran kegiatan ini hingga
sekarang mencapai temu yang ke delapan kalinya, maka saya tidak bisa bercerita
banyak. Tapi adanya berita ini yang disampaikan kepada saya oleh Aminudin Rifai
Wangsitalaja dari Jaring Penulis Kalimantan Timur, mengusik rasa ingin tahu
untuk lebih lanjut. Saya juga tidak tahu, siapa-siapa yang akan hadir dari
Borneo, Brunei dan Kalimantan. Apakah wakil-wakil sastrawan dari Kalimantan
Selatan, Tengah dan Barat akan hadir, saya pun tidak tahu, walau pun saya tahu
benar di daerah-daerah itu terdapat organisasi-sastrawan dan para sastrawan
yang layak diajak jika konsekwen menggunakan istilah Kalimantan dan ingin
pertemuan jadi representatif dan bukan hanya memajangkan nama Kalimantan
sebagai suatu iklan. Di Kalimantan Selatan misalnya ada nama Almin, yang sudah
menerbitkan karya-karya tulisnya dan Ken Zuraida Hamid, dari Kalbar ada nama
Nico, dari Kalteng ada nama M.Anwar MH, Titin Nafsiah Rafles, Aliemha, dan
lain-lain nama lagi. Dari Kaltim, selain Aminudin, terdapat sederetan nama
penulis lain seperti Korrie Layun Rampan, Harsanti dan Atik. Tapi yang saya
ketahui akan hadir adalah utusan dari Jaring Penulis Kaltim yang diwakili oleh
sekretarisnya Aminudin Rifai Wangitalaja, seorang pejabat. Siapa yang
menyelenggarakannya pun saya belum mendapat kejelasan.
Dengan pengetahuan minim begini maka saya hanya mungkin menyorot arti penting
Temu Sastrawan Borneo-Kalimantan ke-VIII.
Perlukah pertemuan sastrawan antar Borneo-Kalimantan ini? Untuk apa ia
diperlukan?
Borneo-Kalimantan secara fisik memang adalah satu pulau, pulau ketiga atau
paling tidak keempat terbesar di dunia dan oleh proses sejarah dibagi jadi tiga
negara: Brunei, Malaysia dan Indonesia. Pembagian administratif politik ini
tidak sama dengan perasaan yang hidup di hati penduduk, terutama di kalangan
penduduk Dayak yang sebagian keluarga mereka terdapat di ketiga negara berbeda
itu. Di hati mereka tidak ada perbatasan negara, tanpa usah merinci
bukti-buktinya. Potensi ekonomi pulau raksasa ini pun besar, walau pun sampai
sekarang belum maksimal digunakan untuk kepentingan pulau dan lebih menjurut ke
pulau hisapan dan perasan. Kesenjangan ini membuat ketidakpuasan dan selalu
ditekan. Pada zaman kolonialisme nasionalisme Borneo memang sempat tumbuh dan
sejak janin ia ditekan. Dalam kesenian, nasionalisme Borneo ini dicatat oleh
lagu "Borneo Tanahairku", "Selamat Jalan O Kalimantan", dan lain-lain, yang
semuanya sekarang barangkali sudah mnjadi busa lenyap di pasir ingatan oleh
kebutaan pada sejarah.
Pada zaman sekarang ketidakpuasan atas kesenjangan pendapatan antara pusat dan
daerah tercetus dalam ide "Dayak Merdeka" atau "Borneo Merdeka"yang masih
mengendap di dasar harapan, kurang muncul di permukaan ketika ide federasi
dipegang sebagai jalan mundur terakhir menyelamatkan Republik Indonesia sambil
menguji coba pelaksanaan otonomi daerah.
Dengan mengingatkan masalah-masalah di atas, saya hanya bermaksud menunjukkan
bahwa ada masalah Borneo dan ada masalah Kalimantan yang patut tidak diabaikan
oleh pemegang kekuasaan politik di ketiga negara, lebih-lebih dengan mulai
dilaksanakannya proyek jalan kereta-api yang menyambung seluruh pulau dibarengi
oleh proyek jalan trans-Borneo. Pada saat terujudnya proyek raksasa ini kelak
maka kerjasama dan kesatuan pulau [tanpa mengobah perbatasan negara] akan
mempunyai dampak di segala sektor, termasuk bidang kebudayaan [cq.sastra-seni].
Hal ini barangkali oleh penduduk tiga negara di pulau raya itu masih belum
diresapi benar.
Dilihat dari perspektif ini maka saya kira, Temu Sastrawan Borneo-Kalimantan
mempunyai urgensi dan suatu urgensi yang patut disadari benar bukan dari segi
daerahisme, pulauisme apalagi ethnosentrisme atau nasionalisme pulau. Isme-isme
ini kukira hanyalah alur pikir yang menjuru ke jalan buntu dan tidak tanggap
zaman serta tidak aspiratif. Jika kita menumpu kegiatan di suatu pulau atau
daerah, saya melihat dasar argumennya kita kita perlu punya pijakan kongkret
dalam mewujudkan mimpi: "berdiri di kampung-halaman memandang tanahair
merangkul bumi untuk memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat,secara
bersolidaritas" sesuai konsep budaya dasar Dayak "rengan tingang nyanak jata"
[anak enggang putera-puteri naga]. Konsep yang oleh Paul Ricoeur, filosof
Perancis dirumuskan: "kebudayaan itu majemuk tapi kemanusiaan itu tunggal".
Apabila kita sepakat bahwa sastra-seni pada hakekatnya menangani
masalah-masalah yang bersifat pemikiran, konsepsional dan mentalitas, hal dasar
pada manusia, maka Temu Sastrawan Borneo-Kalimantan selayaknya menangangi
masalah ini dan bukan hanya membahas soaly-soal tekhnis bersastra yang hampa
wawasan. Temu Sastrawan Borneo-Kalimantan selayaknya mempertanyakan dasar
filosofis budaya untuk seluruh pulau. Laporan-laporan penyampaian tentang
perkembangan sastra di daerah masing-masing pun kiranya bukan sebatas potret
permukaan tapi patut dijuruskan ke arah yang lebih hakiki.Apa yang didapatkan
dari laporan permukaan yang dangkal tidak hakiki dan kesibukan bersastra yang
ini pun tidak bisa dituntaskan dalam tiga hari? Jika Temu Sastrawan
Borneo-Kalimantan asyik dengan cara ini kukira pertemuan demikian tidak lebih
dari mubazir dan berhura-hura para penggembira para puber sekalipun sudah tidak
puber lagi. Jika mau membahas karya, mengapa pembahasan tidak dilakukan ke
jurusan ini?
Di sini yang saya persoalkan adalah arah. Orientasi dan enggagement Temu Sastra
Borneo-Kalimantan. Quo vadis? Mau ke mana dan mau apa dan bagaimana untuk ke
mana? Seperti dikatakan oleh editorialis harian La Croix, Paris: "sejarah saja
tidak cukup, sekarang yang penting adalah hari ini dan haridepan". Apakah para
sastrawan mesti menutup mata akan masalah sejarah, hari dan haridepan dan
berasyik-asyik dengan kegenitan membaca puisi dan kegiatan sejenis? Menyukai
kemandulan berpikir?
Jika mengambil acuan Komunitas Eropa [KE] yang dari enam negara sekarang
berkembang menjadi 25 negara, maka di kalangan KE, sastrawan-sastrawan dan
cendekiawan bertemu dalam seminar atau konfrensi selalu mempermasalahkan dasar
budaya KE. Barangkali pengalaman dari KE ini bisa dijadikan pertimbangan oleh
Temu Sastrawan Borneo-Kalimantan, juga yang ke-VIII ini. Saya kira di sinilah
terletak masalah yang paling hakiki dan Temu Sastrawan ini. Jika demikian maka
masalahnya yang diperbincangkan akan jauh dari permasalah daerahisme,
pulauisme, etnisitas dan dan separatisme.Entah kalau memang di kalangan
sastrawan kita terjadi pemandulan pikiran dan kemalasan berpikir dan asyik
dengan diri sendiri dan berhura-hura pubertas.
[Bersambung...]
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/