> Persoalan monopoli, tidak adanya pembangunan fasilitas transportasi dan
> ragam persoalan yang muncul --manakala PERTAMINA menjadi pihak
> pengelola-nya-- tersebut menjadi titik pembenahan. Bukan lantas menyerahkan
> pengelolaannya ke tangan Perusahaan asing.....
> 
DG: Lho bukannya anda yang menekankan dalam email terdahulu anda bahwa
perusahaan asing yang tidak memberikan nilai lebih? Saya memberi
contoh untuk menunjukkan bahwa dipegang pertamina ternyata juga tak
lebih baik bahkan lebih parah... Lalu apa yang anda harapkan? Ibu peri
datang di malam hari dan merubah sistem pertamina atau perusahaan
pelat merah dalam waktu semalam?

> 200 juta orang populasi penduduk Indonesia merupakan sebuah potensi untuk
> melakukan perubahan, bukan malah mengkhawatirkan nasib-nya. Daripada melihat
> sekitar 150 juta orang hidup dibawah garis kemiskinan sementara kekayaan
> alamnya dibawa lari keluar negeri oleh perusahaan-perusahaan asing. Anda
> bisa bayangkan busung lapar menyerang Riau yang memiliki kekayaan alam
> sangat besar. Ironis kan??? Kemana hasil eksploitasi minyak Riau kalau tidak
> dibawa ke negeri Paman Sam????

DG: Kalau masalah busung lapar bukan salah orang amerika atau inggris
atau yahudi bin zionis... Itu eksalahan bangsa kita sendiri karena
lebih suka ABS karena prestasi dilihat dari angka-angka yang
dilaporkan ke dinas atau kanwil... Lucu anda menyalahkan orang lain...
Coba anda lihat kabupaten Boyolali di Jawa Tengah yang tidak punya
tambang, kok tidak terdengar adanya busung lapar ya?
Apa anda yakin bahwa kalau tambang dikuasai perusahaan pelat merah
terus yang 150 juta itu turun menjadi 1 atau 2 juta? Saya katakan
sekali lagi mas, sepanjang sistem ini belum anda rubah, jangan terlalu
mengharap lebih, sakit hati jadinya....

> > Saya sudah saksikan sendiri bagaimana tingkat kerusakan ekologi yang
> dilakukan perusahaan pertambangan PT.KEM dan KPC (anak perusahaan Rio Tinto)
> di Kalimantan Timur. Begitu juga yang terjadi di Kalimantan Selatan oleh
> beberapa perusahaan pertambangan milik Indonesia. Tidak ada beda sama
> sekali! Tapi catatan untuk Kalsel (mengkonfrontir pernyataan anda) :
> Sebagian besar perusahaan pertambangan yang beroperasi adalah anak
> perusahaan Maskapai-maskapai pertambangan raksasa seperti Rio Tinto,
> Indomuro Kencana (100% saham dimiliki oleh Aurora Gold dari Australia),  PT
> Arutmin (sahamnya dikuasai oleh BHP - Broken Hill Propetiery - asal
> Australia). Semua perusahaan-perusahaan diatas mempunyai deretan dosa
> ekologi dan konflik dengan masyarakat sekitar pertambangan. Saya punya
> data-data dosa perusahaan tersebut.
> Anda seolah-olah mau mengatakan bahwa pengelolaan pertambangan oleh
> perusahaan asing lebih ramah lingkungan dan mampu mendongkrak tingkat
> kesejahteraan rakyat. NONSEN bung!
> 
DG: Sudah anda bandingkan belum kerusakan yang terjadi (plus dengan
jumlah yang mati akibat kecelakaan kerja) dengan pertambangan yang
dikelola pelat merah? Bung lihat juga tambang yang 'katanya' milik
rakyat juga dong...

> 
> Untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat sekitar pertambangan bukan dengan
> cara pembukaan lapangan kerja yang berbasis skill. Mereka tidak mempunyai
> skill. Gak bisa dong! Itu satu problem terbesar dari beroperasinya
> pertambangan. Karena akan merubah corak produksi masyarakat, misalnya dari
> bertani ke pekerja teknis diareal-areal pertambangan. Bukan juga dengan cara
> menyusun program Community Development yang memaksa masyarakat secara halus
> untuk memuluskan proses eksploitasi. Tapi mau kah perusahaan tambang
> mengelokasikasi sekian persen kepemilikan saham-nya ke masyarakat sekitar
> pertambangan??? Kepemilikan saham yang bersifat kolektif bukan individu ini
> yang sejatinya dapat mendongkrak kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
> 
DG: Bung Yopie... Katanya memanfaat tenaga lokal sebanyak-banyaknya...
kalau nanti mereka disuruh nakok balam lagi katanya tidak
menguntungkan... BTW, sudahkah anda ke Timika? Sekarang saat
keuntungan yang 1% langsung diserahkan kepada suatu yayasan yang
diawasi perusahaan ternyata justru mampu membuat RS Mitra
Masyarakat... Padahal, sejak tahun 70-an saat royalti dan lainnya
diberikan via pemerintah tak ada RS di Timika...
Silakan anda bandingkan dengan perusahaan besar termasuk PT Timah
sekalipun..., Masuk RS Tembagapura gratis, demikian pula dengan klinik
EMOI di Lhok SUkon, bagaimana dengan RS pertamina? masuk langsung
ditagih tiga hari pembayaran di muka....
> Inilah salah satu problem beroperasinya pertambangan, yang merombak
> nilai-nilai sosial dan kultural masyarakat disekitar lokasi pertambangan.
> Misalnya, maraknya prostitusi, kawin kontrak, menyebarnya virus HIV dll.
> Saya sudah saksikan sendiri dibeberapa tempat, misalnya Soroako, Pomalaa,
> Meratus dan beberapa tempat di Kaltim... termasuk di buyat dan NTB...

DG: Nah, berarti khan tidak hanya perusahaan asing yang merusak
tatanan masyarakat? Kalau bicara AIDS, di Merauke itu daerah merah lho
mas! Padahal nggak ada perusahaan asing di sana... Kalau bicara kawin
kontrak di Bogor juga banyak tuh pengungsi dari Arab itu yang kawin
dengan perempuan lokal (sempat juga diangkat masalah ini oleh
Kompas...)
Jadi kesimpulan saya, kalau mau mendapatkan keuntungan dari sumber
daya alam kita, tata sistem kita secara menyeluruh dan fundamental
mulai dari sistem eksekutif hingga swastanya.... Pertanyaannya, adalah
mau kah? karena ini berarti periuk nasi orang mulai banyak yang
hilang....
DG


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke