Karena ada salah satu kerjaan setan adalah memberi imaje positif 
pada hal-hal yang telah jelas bathil, saya jadi inget ustadz yang 
memberi pengajian. Dengan bahasanya yang beda dia mengatakan setan 
itu pandai menghias perbuatan maksiat menjadi indah (seolah-olah 
bener). Misalkan istilah "pelacur" menjadi "wts" dan kmd 
menjadi "psk"...lama-lama bisa dibilang pelacur itu gak haram karena 
darurat...ha..ha...

Sedang saya teringat obrolan saya sama temen soal "Night Club". Kalo 
saya bilang itu "tempat mesum" kalo temen saya bilang belum tentu 
mesum, itu sekedar "tempat hiburan"..:-).

Hal begini pula yang lama-lama menjungkirbalikkan ttg perundangan 
pernikahan sesama hom n lez, pluralisme, etc...

Awalnya hitam dan putih itu dah jelas bedanya. Tapi setan datang 
dengan bawa "abu-abu" atau menjadi daerah samar (syubhat)....
Ada nasihat baik buat umat untuk meninggalkan hal-hal yang syubhat...
atau hal yang meragukan termasuk hal yang masih "mistery"...:-)

Memang kebanyakan kita berkelakuan seperti iblis (kemungkinan itu 
mungkin ada juga dalam diri saya) yang mengakui Tuhan itu Esa, Maha 
Suci, Maha Perkasa, etc...tetapi kenyataannya masih memohon 
pertolongan kepada yang selainNya kalo dah ketiban masalah. Masih 
ada "tapi-tapi"nya dalam mengimani Keesaan Tuhan, padahal seharusnya 
kita mengimani KeesaanNya secara totalitas, gak ada tapi-tapi dalam 
konsep maupun dalam praktek hidup. Tinggal mau atau tidak.
Kata cak Huttaqi, tau belum kenal, kenal belum dekat, dekat belum 
akrab, akrab belum kasih, kasih belum cinta...he..he..cinta diatas 
cinta...puanjang ya perjalanan cinta itu...

hmmh..kok jadi pengen malu ya?

wassalam,
 
--- In [email protected], "kk_heru" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> "Diabolisme Intelektual"  
> 
> DiƔbolos adalah 'iblis. Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan 
> dihalau karena menolak perintah Tuhan dan bersujud kepada Adam. 
Tapi 
> dia bukan atheist atau ragu pada Tuhan 
> 
> Oleh Dr. Syamsuddin Arif * 
> 
> DiƔbolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery 
> dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur'an, cetakan Baroda 
> 1938, hlm. 48. Maka istilah "diabolisme" berarti pemikiran, watak 
dan 
> perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-
> Qur'an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang 
> diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk 
dan 
> dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. 
> Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis 
tidak 
> mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun 
> ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan 
percaya 
> seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut 'kafir'? Di 
> sinilah letak persoalannya. 
> 
> Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak 
> cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan 
tahu 
> persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, 
sebagaimana 
> orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama 
> ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam. 
> 
> Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus 
> disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan 
> kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan 
> perintah. "Knowledge and recognition should be followed by 
> acknowledgement and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas. 
> 
> Kesalahan Iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. 
> Kesalahannya karena ia membangkang (aba, QS 2:34, 15:31, 20:116), 
> menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2:34, 38:73, 38:75), dan 
> melawan perintah Tuhan (fasaqa ?an amri rabbihi, QS 18:50). Dalam 
hal 
> ini, Iblis tidak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil 
direkrut 
> sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang 
> dicontohkannya. 
> 
> Iblis adalah 'prototype' intelektual 'keblinger'. Sebagaimana 
> dikisahkan dalam al-Qur'an, sejurus setelah ia divonis, Iblis 
mohon 
> agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk 
sementara 
> waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, 
dengan 
> segala cara. 
> 
> "Hasutlah siapa saja yang kau bisa dari kalangan mereka dengan 
> seruanmu. Kerahkan seluruh pasukanmu, kavalri maupun infantri. 
> Menyusuplah dalam urusan keuangan dan keluarga mereka. Janjikan 
> mereka [kenikmatan dan keselamatan]!" Demikian difirmankan kepada 
> Iblis (QS 17:64). 
> 
> Maka Iblis pun bertekad: "Sungguh akan kuhalangi mereka dari jalan-
Mu 
> yang lurus. Akan kudatangi mereka dari arah depan dan belakang, 
dari 
> sebelah kanan dan kiri mereka!" (QS 7:16-17). Maksudnya, menurut 
> Ibnu ?Abbas ra, Iblis bertekad untuk menyesatkan orang dengan 
menebar 
> keraguan, membuat orang ragu dan lupa pada akhirat, alergi dan 
anti 
> terhadap kebaikan dan kebenaran, gandrung dan tergila-gila pada 
> dunia, hobi dan cuek berbuat dosa, ragu dan bingung soal agama 
> (Lihat: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-?Az?im, cetakan Beirut, al-
> Maktabah al-?As?riyyah, 1995, vol. 2, hlm. 190). 
> 
> Tidak sulit untuk mengidentifikasi cendekiawan bermental Iblis. 
> Sebab, ciri-cirinya telah cukup diterangkan dalam al-Qur'an 
sebagai 
> berikut. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). 
Meskipun 
> ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima 
> kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, 
zulman 
> wa 'uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan 
meyakini 
> (wa istayqanat-ha anfusuhum). 
> 
> Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak 
kebenaran 
> demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan 
> kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu 
> mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan 
> tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada 
> cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti 
> itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan 
> dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya. 
> 
> Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini 
disebut 
> juga al-'inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-
> Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id, dalam Majmu? min Muhimmat al-
> Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).
> 
> Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, 
> congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis 
> Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong 
ialah 
> menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq 
wa 
> ghamtu n-nas)". 
> 
> Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan 
> dalam al-Qur'an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, 
literalis, 
> logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya. 
> 
> Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan 
relativistik 
> dan skeptis, menghujat al-Qur'an maupun Hadis, meragukan dan 
menolak 
> kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, 
reformis 
> dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental 
> Iblis. 
> 
> Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka 
> menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh 
dan 
> dungu (sufaha'). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah 
dalam 
> al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran 
> itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, 
> tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat 
> jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika 
> melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (7:146). 
> 
> Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran 
> (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu 
> mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja 
memutarbalikkan 
> data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa 
> sehingga nampak seolah-olah haq. 
> 
> Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan 
> seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak 
jelas 
> lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini 
> memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan 
terkecoh. 
> 
> Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan 
> inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-
> Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, 
untuk 
> mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks 
siyaq, 
> sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat 
tersebut. 
> 
> Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian 
> mereka terhadap al-Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan 
> membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah 
> jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) 
sumber-
> sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat 
> kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah 
> dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-
> haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat 
> mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang 
> zahirnya Muslim.              
> 
> Karena watak dan peran yang dilakoninya itu, Iblis disebut juga 
Setan 
> (syaytan), kemungkinan dari bahasa Ibrani 'syatan', yang artinya 
> lawan atau musuh (Lihat: W. Gesenius, Lexicon Manuale Hebraicum et 
> Chaldaicum in Veteris Testamenti Libros). Dalam al-Qur'an memang 
> ditegaskan bahwa setan adalah musuh nyata manusia (12:5, 17:53 dan 
> 35:6). Selain pembangkang ('asiyy), setan berwatak jahat, liar, 
dan 
> kurang ajar (marid dan marid). Untuk menggelincirkan (istazalla), 
> menjerumuskan (yughwi) dan menyesatkan (yudillu) orang, setan juga 
> memakai strategi. Caranya dengan menyusup dan mempengaruhi 
> (yatakhabbat), merasuk dan merusak (yanzagh), menaklukkan 
(istahwa) 
> dan menguasai (istah'wadza), menghalang-halangi (yasudd) dan 
menakut-
> nakuti (yukhawwif), merekomendasi (sawwala) dan menggiring 
(ta'uzz), 
> menyeru (yad'u) dan menjebak (yaftin), menciptakan imej positif 
untuk 
> kebatilan (zayyana lahum a'malahum), membisikkan hal-hal negatif 
ke 
> dalam hati dan pikiran seseorang (yuwaswis), menjanjikan dan 
> memberikan iming-iming (ya'iduhum wa yumannihim), memperdaya 
dengan 
> tipu muslihat (dalla bi-ghurur), membuat orang lupa dan lalai 
> (yunsi), menyulut konflik dan kebencian (yuqi'u l-'adawah wa l-
> baghda'), menganjurkan perbuatan maksiat dan amoral (ya'mur bi l-
> fahsya' wa l-munkar) serta menyuruh orang supaya kafir (qala li l-
> insani-kfur). 
> 
> Nah, trik-trik inilah yang juga dipraktekan oleh antek-antek dan 
> konco-konconya dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka 
disebut 
> awliya' al-syaytan (4:76), ikhwan al-syaytan (3:175), hizb al-
syaytan 
> (58:19) dan junudu Iblis (26:94). Mereka menikam agama dan 
> mempropagandakan pemikiran liar atas nama hak asasi manusia (HAM), 
> kebebasan berekspresi, demokrasi, pembaharuan, pencerahan ataupun 
> penyegaran. 
> 
> Semua ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru atau pertama kali 
> terjadi, seperti segera diketahui oleh setiap orang yang membaca 
> sejarah pemikiran Islam. Semuanya merupakan repetisi dan 
reproduksi 
> belaka. History repeats itself, kata pepatah bule. Hanya 
pelakonnya 
> yang beda, namun karakter dan perannya sama saja. Ada Fir'aun dan 
ada 
> Musa as. Muncul Suhrawardi al-Maqtul, tetapi ada Ibn Taymiyyah. 
Lalu 
> lahir Hamzah Fansuri,  namun datang ar-Raniri, dan seterusnya. 
> 
> Al-Qur'an pun telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang 
> kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu, dan 
menjadi 
> pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa 
> saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan 
olehnya 
> dan dibimbingnya ke neraka" (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan 
> agar senantiasa menyadari bahwa "sesungguhnya setan-setan itu 
> mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam 
> pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang 
> musyrik" (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau 
> berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. 
> Wallahu a'lam.  
> 
> *Penulis adalah peneliti INSISTS, kini menempuh program doktor 
> keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke