Untuk dapat terus menguras kekayaan alam negara2
berkembang, negara AS (lewat berbagai foundation yang
dapat dana dari MNC mereka) memberi bea siswa kepada
putra2 terbaik bangsa Indonesia untuk belajar di AS.
Di sana mereka diajar ekonomi neoklasik. Begitu
pulang, mereka akan jadi agen propaganda bagi
penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh AS lewat
MNC-nya.

Para "ekonom" yang jadi agen propaganda penjajahan
ekonomi ini akhirnya akan menganjurkan Indonesia untuk
terus berhutang, menjual BUMN yang profit, serta
menyerahkan kekayaan alam Indonesia ke MNC asing
dengan alasan BUMN kita tidak mampu atau korup.
Padahal seandainya karyawan BUMN kita gajinya Rp 7
juta, kemudian korupsi Rp 20 juta per bulan, maka cuma
menghabiskan Rp 27 juta per bulan. Beda dengan
karyawan asing yang "tidak korup" tapi gajinya Rp 70
juta atau lebih!

Jadi kita memang punya sekelompok ekonom didikan AS
yang membela kepentingan AS.

> Tetapi para ekonom Indonesia, karena terkungkung
> oleh ajaran ekonomi neoklasik, kehilangan kepekaan
> dan kemampuan mereka untuk melakukan koreksi.
> Alih-alih melakukan koreksi, mereka justru cenderung
> menjadi kaki tangan neokolonialisme untuk
> melestarikan struktur ekonomi kolonial di negeri
> mereka sendiri.

--- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> REPUBLIKA
> Senin, 27 Juni 2005
> 
> 
> Ekonom Terjajah 
> 
> Oleh : Revrisond Baswir 
> 
> 
> Baru-baru ini saya membaca dua buku kecil yang
> sangat menarik mengenai pemikiran ekonomi dan
> perekonomian Indonesia. Buku pertama, ditulis oleh
> Sri-Edi Swasono, berjudul Ekspose Ekonomika:
> Mewaspadai Globalisme dan Pasar Bebas. Sedangkan
> buku kedua, ditulis oleh Mubyarto (almarhum),
> berjudul Ekonomi Terjajah.
> 
> Buku Ekspose Ekonomika (Pusat Studi Ekonomi
> Pancasila UGM, 2005), berisi gugatan terhadap
> kompetensi para ekonom Indonesia. Sebagaimana
> dikupas secara panjang lebar dalam buku ini,
> setidak-tidaknya terdapat tiga alasan pokok mengapa
> kompetensi para ekonom Indonesia perlu digugat. 
> 
> Pertama, para ekonom Indonesia disinyalir telah
> terkungkung oleh ajaran ekonomi neoklasik.
> Keterkungkungan terhadap ajaran ekonomi neoklasik
> yang bersifat liberal-kapitalistik dan
> individualistik itu, tentu sangat berbahaya bagi
> kelangsungan cita-cita proklamasi, ideologi negara,
> dan masa depan perekonomian Indonesia.
> 
> Sesuai dengan cita-cita proklamasi, perekonomian
> Indonesia merdeka seharusnya dibangun sebagai
> koreksi terhadap struktur perekonomian kolonial.
> Dalam bahasa konstitusi, perekonomian Indonesia
> merdeka seharusnya dibangun berdasarkan demokrasi
> ekonomi, yaitu dengan meletakkan kemakmuran bersama
> di atas kemakmuran orang seorang. 
> 
> Tetapi para ekonom Indonesia, karena terkungkung
> oleh ajaran ekonomi neoklasik, kehilangan kepekaan
> dan kemampuan mereka untuk melakukan koreksi.
> Alih-alih melakukan koreksi, mereka justru cenderung
> menjadi kaki tangan neokolonialisme untuk
> melestarikan struktur ekonomi kolonial di negeri
> mereka sendiri.
> 
> Kedua, para ekonom Indonesia diduga terlalu
> terpesona oleh globalisasi. Keterpesonaan yang
> berlebihan terhadap globalisasi itu tentu sangat
> berbahaya bagi masa depan perekonomian rakyat,
> ketahanan ekonomi nasional, dan bahkan bagi keutuhan
> Indonesia sebagai sebuah bangsa.
> 
> Sebagai sebuah bangsa merdeka dan berdaulat, bangsa
> Indonesia sangat mendukung pergaulan dunia. Tetapi
> sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang
> menentang segala bentuk penjajahan, setiap warga
> negara Indonesia, termasuk para ekonom, seharusnya
> dengan sadar membangun sikap kritis dalam memandang
> globalisasi. 
> 
> Tetapi alih-alih bersikap kritis, kebanyakan ekonom
> Indonesia lebih suka menutup mata dan mata hati
> mereka terhadap bahaya neoimperialisme tersebut.
> Bahkan, ''karya Nobel Laureate seperti Stiglitz pun,
> yang secara khusus menguraikan mengenai
> globalisation and its discontents secara panjang
> lebar, tidak menyentak para pengagum globalisasi
> dari kelengahan akademnis-kulturalnya ini'' (hlm
> 119).
> 
> Ketiga, karena terkungkung oleh ajaran ekonomi
> neoklasik dan terpesona oleh globalisasi, para
> ekonom Indonesia juga diduga telah kehilangan
> kepekaan mereka terhadap makna kemandirian ekonomi
> dan kesejahteraan sosial. Ketidakmampuan para ekonom
> Indonesia dalam memahami makna kedua hal tersebut,
> tentu sangat berbahaya bagi tegaknya martabat
> Indonesia sebagai sebuah bangsa. 
> 
> Padahal, sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD
> 1945, pelaksanaan pembangunan ekonomi Indonesia
> mustahil dapat dipisahkan dari tujuan untuk
> menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan
> sosial. Sebab itu, pelaksanaan pembangunan ekonomi
> Indonesia mustahil dilakukan tanpa pemihakan yang
> jelas terhadap penguatan ekonomi rakyat. 
> 
> Tetapi alih-alih berusaha membangun dan memperkuat
> ekonomi rakyat, kebanyakan ekonom Indonesia lebih
> suka berdebat mengenai makna kata ''rakyat''. Dengan
> sikap seperti itu, mudah dimengerti bila kebanyakan
> ekonom Indonesia juga mengalami kesulitan dalam
> memahami makna kata ''merdeka''. 
> 
> Menyimak ketiga kelemahan tersebut, dapat disaksikan
> betapa buku Ekspose Ekonomika telah menghunjam
> langsung ke jantung permasalahan yang sedang
> dihadapi bangsa ini. Kekurangan buku Ekspose
> Ekonomika, terletak pada tidak adanya penjelasan
> mengenai penyebab keterpurukan para ekonom Indonesia
> itu. Artinya, secara struktural, faktor apakah yang
> memicu terjadinya kelengahan akademis-kultural para
> ekonom Indonesia tersebut?
> 
> Tetapi persis pada titik itulah buku Ekonomi
> Terjajah (Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM, 2005),
> yang terbit sepekan setelah kepergian Mubyarto,
> muncul memberi jawaban. Dalam buku yang
> dipersiapkannya untuk menyongsong hari kelahiran
> Pancasila tersebut, Mubyarto secara gamblang
> memaparkan kelengahan pelaksanaan pembangunan
> ekonomi Indonesia dalam era Orde Baru.
> 
> Dalam ungkapan Mubyarto, pelaksanaan pembangunan
> ekonomi Orde Baru, walaupun ditandai oleh tingkat
> pertumbuhan yang tinggi, ternyata sama sekali gagal
> dalam mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945 untuk
> mengisi kemerdekaan dengan menegakkan keadilan.
> Alih-alih mematuhi amanat Pembukaan UUD 1945,
> pelaksanaan pembangunan ekonomi Orde Baru justru
> bermuara pada penjerumusan perekonomian Indonesia ke
> dalam perangkap neokolonialisme.
> 
> Mengutip Perkins, seorang ''preman ekonomi'' Amerika
> yang membuat pengakuan dosa mengenai peranannya
> dalam menjerumuskan negara-negara sedang berkembang
> ke dalam perangkap utang, Mubyarto secara jelas
> menyatakan betapa pelaksanaan pembangunan Orde Baru
> dijebak oleh corporatocracy untuk lebih mengutamakan
> kepentingan global empire daripada mengoreksi
> struktur ekonomi kolonial (hlm 28). 
> 
> Akibatnya, setelah 60 tahun merdeka, kondisi
> perekonomian rakyat Indonesia tidak banyak berubah.
> Bahkan, jika dibandingkan dengan Belanda, secara
> relatif, PDB per kapita Indonesia cenderung merosot.
> Pada 1820, PDB per kapita Indonesia terhadap Belanda
> meliputi 39 persen. Pada 1950 merosot menjadi 15
> persen. Pada 1992, setelah 47 merdeka, hanya
> meningkat sedikit menjadi 16 persen. Apa kesimpulan
> yang dapat kita tarik dari kedua buku kecil yang
> saling melengkapi tersebut? Hemat saya,
> jangan-jangan yang terjajah selama ini tidak hanya
> perekonomian Indonesia, tetapi termasuk di dalamnya
> para ekonom Indonesia?
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke