Jual Minyak, Tanya Rakyat

Budiarto Shambazy

Belakangan ini banyak sekali perhatian ditujukan pada
sebuah buku karya John Perkins yang berjudul
Confessions of an Economic Hit Man (2004).

Perkins lewat karya best seller itu menceritakan
pengalaman dia selama sekitar 30 tahun menjadi ”ekonom
pembunuh bayaran” di lembaga intelijen Amerika
Serikat, National Security Agency (NSA), akhir tahun
1960-an.

Tugas utama Perkins adalah membantu AS ”berbuat
curang” terhadap negara-negara miskin. Caranya dengan
meminjamkan uang triliunan dollar AS, lalu menciptakan
utang yang takkan mampu dibayar oleh negara-negara
miskin itu, baru kemudian memeras ekonomi mereka.

Perkins menuturkan, dia dilatih untuk menyedot
sumber-sumber daya dari negara-negara lain yang
menjadikan AS sebagai sebuah kerajaan terbesar di
dunia. ”Dengan bantuan ekonom seperti saya, kerajaan
ini dibangun melalui manipulasi ekonomi, kecurangan,
penipuan, dan bujukan kepada semua orang agar
mengikuti gaya hidup kami,” kata Perkins.

Perkins mulai menulis bukunya sekitar 20 tahun lalu.
Ia pernah ditawari bayaran setengah juta dollar AS
oleh satu pihak tertentu agar menghentikan penulisan
buku tersebut karena dianggap mencederai citra
Pemerintah AS.

Sebagai chief economist di sebuah perusahaan di
Boston, Massachusetts, ia memberikan pinjaman kepada
negara-negara miskin dalam jumlah yang sangat besar
sehingga tak mungkin bisa dilunasi mereka.

Salah satu syarat pinjaman, misalnya senilai satu
miliar dollar AS kepada negara, seperti Indonesia atau
Ekuador, ialah negara itu akan menyalurkan 90 persen
dari nilai utang tersebut kepada perusahaan-perusahaan
AS, seperti Halliburton atau Bechtel, yang akan
membangun proyek-proyek infrastruktur raksasa di
negara-negara peminjam.

Proyek-proyek tersebut, antara lain pembangunan jalan
bebas hambatan atau pelabuhan yang hanya menguntungkan
keluarga penguasa negara itu. Rakyat miskin di negara
terkait menanggung utang luar negeri yang tidak akan
bisa dilunasi sampai tujuh turunan.

Perkins memberikan contoh bagaimana ia dan timnya
menggarap keluarga kerajaan Arab Saudi yang kaya
minyak, tak lama setelah krisis energi menghantam
dunia awal tahun 1970-an.

Cara kerja ekonom seperti Perkins mirip dengan
pembunuh bayaran. Menurut Perkins, Presiden Ekuador
Jaime Roldos dan Presiden Panama Omar Torrijos dibunuh
karena menentang rencana besar sang kerajaan itu.

Alur cerita yang mirip terjadi juga di sini. Jika Orde
Lama menentang skenario itu, Orde Baru menyerahkan
konsesi-konsesi kekayaan alam kita kepada rezim
Washington DC.

Utang luar negeri Orde Lama tak lebih dari lima miliar
dollar AS. Utang Orde Baru itu selalu lebih dari 20
kali lipat.

Akhirnya Indonesia terperangkap ke dalam lingkaran
setan yang tak pernah selesai. Kalau dalam istilah
populer, kita selalu gali lubang tutup lubang.

Sritua Arief, ekonom yang tiga tahun silam tutup usia,
paling rajin mengingatkan kita agar tidak terjebak ke
dalam dependencia (ketergantungan). Indonesia yang
alamnya kaya raya sering dibodohi, hidup dari utang
luar negeri, dan tak pernah berhasil mengembangkan
industri.

Kita cuma negara ”pinggiran” yang tergantung dari
kumpulan negara-negara di ”pusat”. Industri otomotif
enfant (bayi) terus meskipun telah dilahirkan pada
awal tahun 1970-an— lebih awal daripada Korea Selatan.

Di harian ini pada edisi 26 Juni di halaman pertama
ada berita tentang MOU perpanjangan Blok Cepu. Seorang
anggota DPR mengatakan kepada saya bahwa sebaiknya
kontrak itu jangan diperpanjang—cukup sampai tahun
2010.

Pertama, kontrak itu sejak awal mestinya sudah
dianulir setelah dijual Tommy Soeharto kepada
ExxonMobil Indonesia. Setelah diketahui Blok Cepu
menyimpan cadangan minyak ratusan juta barrel, siapa
yang tidak bernafsu?

Menurut sang anggota DPR, Presiden Megawati
Soekarnoputri tidak mau memperpanjang kontrak. Sudah
waktunya Pertamina mengeksploitasi sendiri Blok Cepu
secara profesional.

Masih banyak orang yang belum melupakan skandal
megakorupsi di Pertamina tahun 1970-an. Setelah itu
Pertamina menjadi ”sapi perah” dan sumber keborosan
negara.

Sampai sekarang mengurus stok BBM saja masih belum
becus. Tidak aneh jika perusahaan yang manajemennya
telanjur menggurita dan besar organisasinya ibarat
gajah itu menjadi lamban, malas, dan main jual.

Jangan sembarangan menjual minyak kita, tanya dulu
kepada rakyat. Itu lebih bijaksana. 
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/28/utama/1846498.htm

Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org


                
__________________________________ 
Discover Yahoo! 
Find restaurants, movies, travel and more fun for the weekend. Check it out! 
http://discover.yahoo.com/weekend.html 



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke