http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/28/utama/1846498.htm


Jual Minyak, Tanya Rakyat

Budiarto Shambazy
Belakangan ini banyak sekali perhatian ditujukan pada sebuah buku karya John 
Perkins yang berjudul Confessions of an Economic Hit Man (2004).

Perkins lewat karya best seller itu menceritakan pengalaman dia selama sekitar 
30 tahun menjadi "ekonom pembunuh bayaran" di lembaga intelijen Amerika 
Serikat, National Security Agency (NSA), akhir tahun 1960-an.

Tugas utama Perkins adalah membantu AS "berbuat curang" terhadap negara-negara 
miskin. Caranya dengan meminjamkan uang triliunan dollar AS, lalu menciptakan 
utang yang takkan mampu dibayar oleh negara-negara miskin itu, baru kemudian 
memeras ekonomi mereka.

Perkins menuturkan, dia dilatih untuk menyedot sumber-sumber daya dari 
negara-negara lain yang menjadikan AS sebagai sebuah kerajaan terbesar di 
dunia. "Dengan bantuan ekonom seperti saya, kerajaan ini dibangun melalui 
manipulasi ekonomi, kecurangan, penipuan, dan bujukan kepada semua orang agar 
mengikuti gaya hidup kami," kata Perkins.

Perkins mulai menulis bukunya sekitar 20 tahun lalu. Ia pernah ditawari bayaran 
setengah juta dollar AS oleh satu pihak tertentu agar menghentikan penulisan 
buku tersebut karena dianggap mencederai citra Pemerintah AS.

Sebagai chief economist di sebuah perusahaan di Boston, Massachusetts, ia 
memberikan pinjaman kepada negara-negara miskin dalam jumlah yang sangat besar 
sehingga tak mungkin bisa dilunasi mereka.

Salah satu syarat pinjaman, misalnya senilai satu miliar dollar AS kepada 
negara, seperti Indonesia atau Ekuador, ialah negara itu akan menyalurkan 90 
persen dari nilai utang tersebut kepada perusahaan-perusahaan AS, seperti 
Halliburton atau Bechtel, yang akan membangun proyek-proyek infrastruktur 
raksasa di negara-negara peminjam.

Proyek-proyek tersebut, antara lain pembangunan jalan bebas hambatan atau 
pelabuhan yang hanya menguntungkan keluarga penguasa negara itu. Rakyat miskin 
di negara terkait menanggung utang luar negeri yang tidak akan bisa dilunasi 
sampai tujuh turunan.

Perkins memberikan contoh bagaimana ia dan timnya menggarap keluarga kerajaan 
Arab Saudi yang kaya minyak, tak lama setelah krisis energi menghantam dunia 
awal tahun 1970-an.

Cara kerja ekonom seperti Perkins mirip dengan pembunuh bayaran. Menurut 
Perkins, Presiden Ekuador Jaime Roldos dan Presiden Panama Omar Torrijos 
dibunuh karena menentang rencana besar sang kerajaan itu.

Alur cerita yang mirip terjadi juga di sini. Jika Orde Lama menentang skenario 
itu, Orde Baru menyerahkan konsesi-konsesi kekayaan alam kita kepada rezim 
Washington DC.

Utang luar negeri Orde Lama tak lebih dari lima miliar dollar AS. Utang Orde 
Baru itu selalu lebih dari 20 kali lipat.

Akhirnya Indonesia terperangkap ke dalam lingkaran setan yang tak pernah 
selesai. Kalau dalam istilah populer, kita selalu gali lubang tutup lubang.

Sritua Arief, ekonom yang tiga tahun silam tutup usia, paling rajin 
mengingatkan kita agar tidak terjebak ke dalam dependencia (ketergantungan). 
Indonesia yang alamnya kaya raya sering dibodohi, hidup dari utang luar negeri, 
dan tak pernah berhasil mengembangkan industri.

Kita cuma negara "pinggiran" yang tergantung dari kumpulan negara-negara di 
"pusat". Industri otomotif enfant (bayi) terus meskipun telah dilahirkan pada 
awal tahun 1970-an- lebih awal daripada Korea Selatan.

Di harian ini pada edisi 26 Juni di halaman pertama ada berita tentang MOU 
perpanjangan Blok Cepu. Seorang anggota DPR mengatakan kepada saya bahwa 
sebaiknya kontrak itu jangan diperpanjang-cukup sampai tahun 2010.

Pertama, kontrak itu sejak awal mestinya sudah dianulir setelah dijual Tommy 
Soeharto kepada ExxonMobil Indonesia. Setelah diketahui Blok Cepu menyimpan 
cadangan minyak ratusan juta barrel, siapa yang tidak bernafsu?

Menurut sang anggota DPR, Presiden Megawati Soekarnoputri tidak mau 
memperpanjang kontrak. Sudah waktunya Pertamina mengeksploitasi sendiri Blok 
Cepu secara profesional.

Masih banyak orang yang belum melupakan skandal megakorupsi di Pertamina tahun 
1970-an. Setelah itu Pertamina menjadi "sapi perah" dan sumber keborosan negara.

Sampai sekarang mengurus stok BBM saja masih belum becus. Tidak aneh jika 
perusahaan yang manajemennya telanjur menggurita dan besar organisasinya ibarat 
gajah itu menjadi lamban, malas, dan main jual.

Jangan sembarangan menjual minyak kita, tanya dulu kepada rakyat. Itu lebih 
bijaksana. ( e-mail: [EMAIL PROTECTED] )


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke