http://www.kaltimpost.web.id/berita/index.asp?Berita=Opini&id=120617
Kamis, 30 Juni 2005
Gelar Doktor Sama, Cuma Beda Nasib
Oleh: Syukri M. Nur
Doktor Bidang Agroklimatologi, IPB Tahun 2003
Masa-masa indah di bangku kuliah memacu saya menyelesaikan pendidikan doktor di
IPB, di bidang yang masih terbilang langka; Program Agroklimatologi namanya.
Bangga juga, karena satu almamater dengan Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
yang menjadi Presiden RI Masa Bakti 2004-2009.
KENDATI sama-sama mahasiswa pascasarjana kami berbeda program. Saya mengikuti
program doktor kelas reguler, Pak SBY di kelas eksekutif. Kami bersebelahan
ruangan dengan beliau, cuma ruang yang beda fungsi. Saya menggunakan
laboratorium hidrometeorologi untuk penulisan disertasi, Pak SBY menggunakan
ruangan kuliah pascasarjana kelas eksekutif.
Tak ada beda dalam belajar dan mengerjakan tugas. Namun, karena pendidikan
pascasarjana ini sudah dibuat dengan paradigma transportasi umum ala bis kota
maka jadi ada beda. Dua program itu dibedakan berdasarkan biaya kuliah "tution
fee". Program reguler hanya Rp5 juta/semester, sedangkan eksekutif Rp10
juta/semester. Ruang kuliah dengan pengaturan suhu, plus jadwal kuliah yang
teratur dengan peserta terbatas dan ruang istirahat bernuansa kafe sudah jadi
standar di kelas eksekutif. Di kelas reguler, jadwal perkuliahan tergantung
jadwal dari aktivitas Guru Besar dengan asistennya yang terkadang bergelar di
bawah doktor. Belum lagi antrian panjang mahasiswa di sekretariat pascasarjana
jika memerlukan bantuan administrasi dari pengelolanya.
Saya tidak menggugat gelar Doktor Pak SBY karena syah dan wajar, apalagi untuk
mengubah sistem pendidikan nasional. Tanpa tulisan ini pun prinsip "show must
go on" sudah diterapkan penyelenggara pendidikan kita dengan membuat kasta
berdasarkan indikator kaya versus miskin. Saya hanya membuka dialektika untuk
mencari tahu kenapa universitas, yang dulunya berfungsi sebagai "centre of
excelence" atas keilmuan dan ide, kini berubah menjadi "centre of duplicator"
atas penyakit masyarakat "Gila Gelar, Gelar Gila" yang diidentifikasi oleh Pak
Andi Hakim Nasution lima tahun lalu.
Sebutan Doktor atau Magister itu diberikan oleh Gilda yang dikini kenal sebagai
universitas, sebagai anugerah kepada mahasiswa yang telah menyelesaikan
kajiannya, lulus dari semua persyaratan ujian, dan diterima secara resmi
sebagai Gilda guru di universitas. Pekerjaan pun adalah Guru! Bukan jimat yang
setiap saat disebutkan kepada sesorang sehingga terkesan "kaum yang tak
tersentuh". "Karena kita sudah gila gelar, muncullah tawaran untuk membeli
gelar gila," kata almarhum Pak Andi di buku Pola Induksi Seorang
Eksperimentalis (Maret 2002).
Penerus Ilmu
Kendati meraih pendidikan doktor di IPB, saya berkesempatan mengikuti program
PhD Sandwich selama dua tahun di Jerman dan beberapa kali ikut studi musim
panas (summer school) di Eropa atas dorongan komisi pembimbing saya, yang telah
tercatat sebagai peneliti iklim tingkat dunia. Yang menarik, kata eksekutif dan
reguler tak pernah muncul di program doktor mereka. Tak ada stratifikasi
sosial. Yang ada hanya istilah Doktor Pekerja (Doctor Arbeiten) karena memang
kandidat doktor itu ditugaskan oleh Promotornya untuk bekerja di dunia
penelitian.
Dunia ini terdiri atas membaca, menulis, meneliti di lapangan dan laboratorium,
dan presentasi serta diskusi dengan kerangka berpikir ilmiah dan ditunjang
suasana akademis baik di menza (kafetaria) maupun di ruang kuliah.
Ada dua cara untuk menjadi doktor di Jerman dan umumnya di Eropa. Pertama, sang
kandidat Doktor harus mencari dan melamar pada seorang profesor sesuai dengan
minat keahliannya. Kedua, lowongan doktor melalui iklan yang dibuka oleh
Profesor karena ia memang mencari pekerja cerdas untuk mewujudkan target proyek
penelitiannya yang dibiayai oleh pihak sponsor.
Alternatif pertama, terkadang sulit karena sederet pertanyaan harus dijawab
dengan baik. Terutama mengenai topik proposal penelitian yang diajukan dan
sumber pembiayaannya. Bahkan bisa ditolak karena terkadang ide kandidat sudah
kadaluwarsa, di luar keahlian sang profesor ataupun sulit dikerjakan sendiri
tanpa kerjasama dengan kandidat doktor lain dalam satu payung penelitian yang
dibangun oleh institut atau universitas. Maklum, penelitian doktor di Eropa
harus dikerjakan sendiri dan bukan disubkontrakkan ke orang lain.
Alternatif kedua relatif lebih mudah karena umumnya profesor yang juga menjadi
Kepala Institut telah membuat kerangka penelitian bersama dengan koleganya
sehingga memerlukan beberapa "pekerja cerdas". Biaya hidup dan asuransi sang
pekerja cerdas ini ditanggung oleh proyek atas sponsor universitas atau
industri dan lembaga donor. Jadi praktis, pekerja cerdas ini akan meraih doktor
tanpa mengeluarkan biaya sendiri. Bahkan tak ada "tution fee" karena sistem
pendidikan di Jerman belum memungut biaya pendidikan langsung dari siswa atau
mahasiswanya. Semua biaya pendidikan ditanggung oleh negara. Bahkan dalam
sistem federal mereka, masing masing negara bagian di Jerman memiliki hak
otonomi untuk membiayai sistem pendidikannya termasuk memberikan subsidi kepada
sekolah dan guru berdasarkan jumlah siswa dan total prestasinya.
Dari dua alternatif untuk menjadi doktor tersebut, semuanya tidak didasarkan
pada keinginan untuk memberikan anugerah gelar kesarjanaan tertinggi saja
tetapi pelaku sistem pendidikan di Jerman berupaya melahirkan penerus bidang
keilmuan yang telah dibangun oleh pendahulunya. Sang profesor yang bertugas
saat ini membangun kerangka berpikir yang lebih komprehensif dan sistem
manajemen penelitian. Selanjutnya, kandidat doktor yang tergolong
pekerja-pekerja cerdas dapat berkreasi dengan baik di bawah bimbingannya tanpa
gangguan kastanisasi. Indikator keberhasilannya adalah pengisian peta kognitif
yang dipublikasikan melalui jurnal ilmiah atau disosialisasikan melalui seminar
dan workshop. Implikasinya bisa berubah menjadi paten jika sang kandidat doktor
dan profesor ini bekerja dengan sektor industri. Pekerja cerdas tadi juga bisa
diterima kembali sebagai peserta program pasca doktor (postdoctor program).
Secara keseluruhan, sang profesor pun akhir punya nama yang dapat menjamin
keberhasilan pembiayaan proposal penelitiannya yang akan datang.
Sesudah menyelesaikan pendidikan doktor, suasana akademisi memang sedikit
berubah karena sang pekerja cerdas yang telah bergelar doktor boleh jadi sudah
terlibat langsung di dunia industri atau membangun usaha sendiri di masyarakat.
Bagi yang lain, masih terbuka kegiatan melalui riset pasca doktor (postdoctor
research) bagi di institut asalnya maupun di lembaga lain. Riset kali ini sudah
tidak dibimbing lagi oleh Profesor seperti sebelumnya, tetapi hanya
dikoordinasikan oleh Ketua Tim Peneliti yang mungkin juga profesor. Jadi tampak
keberlanjutan ilmu itu terus diperhatikan dengan dukungan suasana ilmiah yang
dibangun pada tingkat negara, universitas atau lembaga penelitian hingga pada
tingkat terkecil yaitu institut.
Doktor Pandai, Doktor Bodoh
Implikasi teladan ini menunjukkan bahwa universitas berdiri bukan untuk
legitimasi penganugerahan gelar magister atau doktor tetapi untuk menempa
seorang kandidat agar berpikir ilmiah dan sistematik demi mendapatkan sumbangan
pemikiran baru dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika hanya untuk
legitimasi, maka sudah pasti kalah bersaing dengan agresivitas universitas
"Antah Berantah" yang telah menyulap rumah toko (RUKO) menjadi kampus dengan
sidang senat terbuka di hotel-hotel.
Lebih gila lagi, dua gelar (Profesor dan Doktor) langsung dapat diraih tanpa
bisa membedakan maknanya. Hanya karena sudah mampu membeli mahal tiket terusan
"Dunia Fantasi Ilmiah" maka penyandangnya juga tidak perlu tahu mana gelar
pendidikan tertinggi dan mana hanya kepangkatan akademik.
Di sinilah peranan universitas dan institut yang harus ditumbuhkan di
Indonesia, kendati kondisi ideal untuk pendidikan seperti negara-negara maju di
Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat masih ditempuh oleh bangsa ini. Garis tegas
pendidikan doktor harus diterapkan. Jika tidak, lebih baik universitas dan
institut di Indonesia tak perlu melahirkan doktor.
Kombinasi keraguan dan stratifikasi sosial yang muncul di sistem pendidikan
nasional untuk program pascasarjana, bakal melahirkan doktor pandai dan doktor
bodoh. Doktor pandai lahir karena kemampuan non akademis dan finansial yang
meraih gelar dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kendati membutuhkan biaya
semahal-mahalnya. Doktor bodoh terjadi karena komisi pembimbing promovendus
telah menerapkan kerangka berpikir ilmiah yang dibangun berdasarkan penelitian
di labroratorium dan lapangan, serta disampaikan ke dunia melalui presentasi
seminar, ujian, dan penulisan publikasi dalam waktu 3-5 tahun.
Boleh jadi nasihat kawan ini patut menjadi renungan bagi kita semua. "Indonesia
ini tak perlu orang pintar sekelas anda dan bergelar doktor! Yang diperlukan
sekarang adalah orang pandai-pandai". Karena tak tahu maksudnya, penulis lebih
memilih belajar lagi lewat program pasca doktor di Perancis dan Jerman. Siapa
tahu, penulis kelak jadi orang pandai di negeri orang daripada jadi orang
pandai-pandai di negeri sendiri. Boleh Gito loh? ***
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/