MEDIA INDONESIA
Jum'at, 01 Juli 2005

Mencari Pilar Toleransi Beragama
Rony Subayu, peneliti pada Badan Kajian Agama dan Kebudayaan Nusantara, Jakarta



SEBELUM berbicara tentang toleransi, saya teringat sebuah ungkapan yang cukup 
terkenal bahwa Indonesia bukan negara sekuler dan juga bukan negara religius. 
Dengan adagium ini, bangsa kita telah memaklumkan diri sebagai bangsa yang 
tidak berdiri di atas asas sekularisme total seperti yang terjadi di Turki 
misalnya, dan tidak pula dibangun di atas landasan ajaran agama tertentu 
seperti negara-negara Islam di Timur Tengah. Tapi, bangsa kita mengambil posisi 
tengah atau wilayah abu-abu antara sayap sekularitas dan religiositas. Dengan 
kata lain, negara kita berwajah ganda: sekuler sekaligus religius.

Kendati ada dualisme, kita tidak bisa memungkiri fakta bahwa seluruh anak 
bangsa memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda-beda. Perbedaan bukanlah 
konstruksi sosial yang sesekali waktu bisa dinafikan atau disingkirkan dari 
panggung sejarah karena sudah dianggap bertentangan dengan nilai-nilai 
sosio-kultural tertentu seperti budaya primitif yang digilas oleh logika 
modernitas. Namun, perbedaan lebih merupakan konstruksi teologis, semacam 
takdir Tuhan yang tak bisa ditawar-tawar atau qadha dalam istilah Islam. Oleh 
karena itu, ketika Nabi Muhammad SAW terlalu bersemangat mendakwahkan 
pesan-pesan keimanan, Allah menegurnya dengan mengatakan, ''Apakah engkau 
(Muhammad) akan memaksa seluruh manusia hingga mereka menjadi orang-orang yang 
beriman semua?'' (QS, Yunus/ 10: 99).

Sebagai konstruksi teologis, tentu perbedaan atau keragaman bukan hukum Tuhan 
yang sia-sia. 'Dalam perbedaan ada rahmat Tuhan,' demikian kurang lebih bunyi 
implisit sabda Nabi SAW. Namun, perbedaan pula yang mengantar manusia menjadi 
kaum barbar. Holocaust di Jerman di masa Hitler terjadi karena bangsa Jerman 
sebagai ras Arya 'merasa berbeda' dengan orang Yahudi yang bukan Arya. Perang 
Salib (Crushade) meletus karena umat Islam 'merasa berbeda' dengan Eropa yang 
Kristen. Sampit berdarah karena orang Dayak merasa berbeda secara etnis dengan 
orang Madura. Intinya, segala bentuk peperangan atau konflik sosial seluruhnya 
berakar dari tingginya perbedaan. Inilah problem paling pelik yang harus 
diselesaikan oleh manusia sendiri manakala perbedaan mengobarkan api pertikaian.

Salah satu dari aspek kehidupan manusia yang paling rentan menimbulkan konflik 
ialah agama. Di negara kita yang notabene masyarakatnya cukup religius, 
sentimen-sentimen keagamaan tidak jarang mencuat ke permukaan. Konflik Ambon, 
Sambas, Tangerang adalah sederet bukti nyata betapa sentimen keagamaan masih 
mengendap di dalam kesadaran masyarakat kita yang setiap saat bisa meletup. 
Tragisnya, sentimen keagamaan ini malah sering diembus-embuskan oleh kalangan 
agamawan melalui dakwah-dakwah di radio, buletin, media cetak, tempat ibadah, 
seremoni keagamaan, dan sebagainya. Inilah repotnya mengatasi problem hubungan 
antaragama yang sarat dengan dogma-dogma suci.

Untuk itu, dalam situasi semacam inilah sikap toleransi menjadi penting. 
Toleransi adalah sikap tenggang rasa manusia di tengah masyarakat yang 
serbamajemuk. Menurut Sebastiano Mosso dalam bukunya Tolleranza e Pluralismo, 
toleransi pada hakikatnya berpangkal pada kesadaran diri manusia akan bisikan 
nurani yang benar, lurus, dan sehat. Toleransi didasarkan atas sikap inklusif, 
pluralis, dan multikulturalis terhadap sesama. Toleransi mengandaikan pilihan 
dasar positif manusia atas keadaan antarsesamanya yang terbelenggu dalam 
ketertindasan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan. Sikap dasar ini ialah 
kesediaan untuk menerima, menghargai, dan menghormati sesama sebagai insan yang 
memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangan.

Toleransi menuntut keikhlasan dan keberanian moral manusia untuk mengakui serta 
menerima perbedaan dalam hidup sehari-hari tanpa menggunakan kekerasan. 
Perbedaan pada dasarnya memiliki rentetan keunikan dan keistimewaan sebagai 
kekayaan dalam hidup manusia. Kelebihan dan kekurangan pihak lain seharusnya 
diakui dan diterima secara jujur. Sikap dasar toleran akan terwujud bila 
manusia mau menghargai kepribadian sesama dalam keunikannya. Tiap pribadi 
memiliki kebebasan interior dalam nurani, pikiran, dan pendapat yang perlu 
mendapat tempat dalam konteks hidup bermasyarakat sambil memerhatikan 
kepentingan umum.

Di tengah tumbuh suburnya kemajemukan agama dan kepercayaan di negeri ini, 
agenda toleransi tentu merupakan sesuatu yang niscaya harus menjadi prioritas 
utama dalam program pemerintahan saat ini. Hubungan antaragama dan aliran 
kepercayaan hanya mungkin dibangun melalui sikap toleransi di mana para pemeluk 
agama dituntut untuk saling menghargai dan menerima keyakinan masing-masing. 
Dalam konteks membangun toleransi beragama, kita tentu membutuhkan peranti 
khusus agar proyek toleransi terbangun kukuh. Di sinilah, peran filsafat 
perennial menjadi tak terelakkan lagi sebagai pilar bangunan toleransi 
tersebut. Filsafat perennial mendalilkan sebuah prinsip bahwa semua agama 
adalah sama. Jika kita pernah mendengar pemeo bahwa banyak jalan menuju Roma, 
begitu pula ada banyak jalan menuju Tuhan. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, 
Buddha, aliran kepercayaan, dan sejenisnya adalah nama-nama jalan yang 
dengannya manusia bisa sampai kepada Tuhan.

Sayyid Hossein Nasr dalam bukunya, Knowledge and the Sacred, mengatakan bahwa 
tujuan (ghoyat) semua agama adalah satu, yakni menyembah, menuju atau pasrah 
kepada Tuhan yang satu; Nasr menyebutnya 'kesatuan transendental'. Dengan 
logika ini, Nasr akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa titik-temu agama-agama 
di dunia ini hanya bisa digali melalui wilayah metafisik. Frithjof Schuon, 
genius terbesar metafisika tradisional asal Swiss, juga memiliki pandangan 
serupa. Dalam The Transcendent Unity of Religions, Schuon memaparkan bahwa ada 
hierarki eksistensi dalam kehidupan dunia ini, mulai dari Tuhan yang menempati 
kedudukan tertinggi sampai kepada manusia dan makhluk hidup lainnya pada posisi 
terendah. Dari segi metafisik, hanya pada Tuhanlah terdapat titik-temu pelbagai 
agama, sedangkan di tingkat bawah agama-agama tercerai berai ke dalam wadah 
formalistik yang bermacam-macam.

Semangat perennial juga bisa kita jumpai dalam sejumlah ayat Alquran, salah 
satunya adalah QS Ali Imran yang merekam perintah Tuhan kepada Nabi SAW agar 
mencari titik-temu (common platform), atau 'kalimat sawa'' dalam istilah 
Alquran dengan penganut Yahudi dan Nasrani (ahl al-kitab) melalui penegasan 
bahwa mereka menyembah Tuhan yang sama, sekalipun Rasul dan kitab suci 
masing-masing berbeda. Dengan demikian, semua agama hanya mungkin kita 
pertemukan lewat jalur esoteris (batin). Dialog antaragama untuk toleransi 
tidak akan pernah mencapai 'kata sepakat' jika masing-masing pemeluk agama 
masih melihat dengan kacamata eksoteris (dzahir/formalisme agama).

Ada beberapa hal yang perlu kita rumuskan untuk menciptakan relasi yang baik, 
sehat, dan komunikatif antarumat beragama dewasa ini: Pertama, mengedepankan 
sudut pandang perennial dalam melihat pluralitas agama, sehingga keberadaan 
agama lain tidak dipandang sebagai sebuah 'ancaman' karena alasan perbedaan di 
tingkat formal. Kedua, mengetuk kesadaran para pemeluk agama untuk belajar 
saling 'mengerti' dan bukan 'mengetahui'.

Selama ini kita masih sebatas mengetahui apa dan bagaimana agama lain. 
Akibatnya, kita mudah terprovokasi dan menaruh rasa curiga yang berlebihan 
terhadap umat agama lain. Ketika umat Kristen mendirikan gereja di mana-mana 
misalnya, emosi kita langsung terbakar dan mencurigai pembangunan gereja 
sebagai program kristenisasi. Padahal, jika kita mengerti, dalam Kristen 
sesungguhnya terdapat banyak aliran atau mazhab yang setiap aliran memiliki 
gereja sendiri-sendiri. Jadi, wajar bila gereja bertebaran di mana-mana. Inilah 
pentingnya untuk 'mengerti'. Ketiga, perlunya mempersiapkan juru dakwah yang 
militan yang bertugas menyosialisasikan pentingnya toleransi beragama di 
tingkat akar rumput (grass root). Keberadaan juru dakwah ini tidak saja mutlak 
untuk mencairkan kebekuan wacana toleransi yang cuma dimarakkan di 
seminar-seminar, tapi juga untuk meng-counter wacana-wacana intoleransi yang 
kerap digembar-gemborkan oleh kelompok garis keras.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke