LAMPUNG POST

      Jum'at, 1 Juli 2005 
     
      OPINI
     
     
     
     
Penerapan Sistem Ekonomi Islam 

      * Muhammad Taufik, Wartawan 'Lampung Post'



      Carut-marutnya perekonomian di Indonesia seperti tidak pernah 
berkesudahan. Krisis ekonomi yang makin parah ini berdampak juga pada krisis 
kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

      Secara global (mujmal) Alquran menyebutkan dengan 'iradh 'an dzikri 
(berpaling dari ketentuan-Ku), sebagaimana dinyatakan dalam Surah Thoha: 124, 
"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya 
penghidupan yang sempit (sulit) dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat 
dalam keadaan buta."

      Sebelumnya juga Rasulullah saw. memprediksi dalam sebuah hadis riwayat 
Imam Thabrani dari Ibnu Abbas, akan terjadinya berbagai krisis dalam kehidupan 
umat manusia yang sangat beraneka ragam apabila terdapat berbagai hal yang 
dilakukan sebelumnya, yaitu:

      Pertama, krisis kepribadian, yang ditandai dengan mudahnya orang 
bersumpah dan berjanji dan sangat mudah pula mengingkarinya. Krisis ini 
mengakibatkan dikuasainya kehidupan oleh orang-orang yang memusuhi Allah dan 
rasul-Nya serta memusuhi orang-orang yang beriman. Mereka juga berusaha 
menguasai kekayaan dan sumber alam serta mata pencarian masyarakat tersebut.

      Kedua, krisis keimanan, yang ditandai dengan keengganan ber-tahkim kepada 
ketentuan Allah dan rasul-Nya, keengganan menjadikan Alquran dan sunah Rasul 
sebagai rujukan dalam penataan dan pemecahan berbagai masalah yang dihadapinya. 
Krisis ini mengakibatkan merajalelanya kefakiran dan kemiskinan, membubungnya 
harga-harga, dan hukum yang dijadikan permainan semata oleh orang-orang yang 
punya pengaruh besar dan berduit.

      Ketiga, krisis moral, yang tercermin dengan merajalelanya tempat-tempat 
prostitusi, praktek aborsi yang mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit 
kelamin yang mematikan.

      Keempat, gaya hidup materialistis, yang tercermin pada gejala 
berlomba-lombanya mencari dan menumpuk harta kekayaan tanpa memperhatikan cara 
mendapatkannya dengan menghalalkan segala cara mendapatkannya. Gaya hidup ini 
ditandai keengganan berzakat, berinfak ataupun bersedekah hingga hilang rasa 
ukhuwah dan solidaritas kemanusiaan yang menonjol semangat individualistik dan 
kebatilan. Krisis dalam gaya hidup ini akan mengundang azab Allah swt. dalam 
bentuk musim kemarau yang panjang, kerusuhan di mana-mana, dan bencana alam 
lainnya.

      Karakter Ekonomi Islam

      Sejalan dengan berkembangnya kegiatan ekonomi, berkembang pula ilmu 
ekonomi yang melahirkan sistem-sistem ekonomi. Sampai pada Thomas Aquinas, 
kegiatan ekonomi masih diingatkan akan adanya bahaya bunga atau riba. Tetapi, 
setelah itu kegiatan ekonomi lebih banyak didominasi logika-logika manusia yang 
saling bertentangan, yang mengakibatkan makin melebarnya jurang antara si kaya 
dan miskin (akibat doktrin Adam Smith yang terkenal dengan istilah the 
invisible hand yang membiarkan berlakunya survival of the fittest) atau doktrin 
trade of A.W. Philips yang mengakibatkan pengangguran dan inflasi dan 
sebagainya.

      Demikian pula sistem ekonomi sosialis komunis yang didominasi perencanaan 
dan penguasaan alat-alat produksi secara terpusat oleh negara karena 
mengabaikan hak-hak individual ternyata juga tidak membawa kesejahteraan kepada 
umat manusia.

      Sebagai ajaran yang syaamil (mencakup) dan kaamil (sempurna) serta 
mutakaamil (saling melengkapi dan terkait yang berlandaskan pada wahyu Allah 
swt., tentu ajaran Islam mengandung pula ajaran yang berkaitan praktek-praktek 
ekonomi yang akan membawa pada kesejahteraan dan keselamatan hidup umat manusia 
(Q.S. 21: 107).

      Dalam terminologi syariat, ekonomi termasuk kelompok muamalah, dan 
muamalah termasuk pada bagian syariat yang terkait erat dengan akidah dan 
akhlak (Q.S. 14: 24--26). Atas dasar tersebut, kekhususan-kekhususan ekonomi 
Islam tereletak pada karakteristik dan wataknya yang berbeda dengan 
individualisme dan kapitalisme serta berbeda pula dengan sosialisme-komunisme.

      Secara umum, menurut Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Peran Nilai dan Moral 
dalam Perekonomian Islam, karakteristis ekonomi Islam itu ada empat; ilahiah, 
akhlak, kemanusiaan, dan pertengahan.

      Ilahiah, ekonomi Islam adalah ekonomi ilahiah karena titik berangkatnya 
dari Allah swt., tujuannya mencari rida Allah, dan cara-caranya juga tidak 
bertentangan dengan syariat-Nya.

      Seorang muslim melakukan kegiatan produksi, di samping memenuhi hajat 
hidupnya, keluarga, dan masyarakatnya, juga karena melaksanakan perintah Allah 
swt. (Q.S. 67: 15). Ketika seorang muslim mengonsumsi dan memakan dari 
sebaik-baiknya rezeki dan yang halal, ia merasa sedang melaksanakan perintah 
Allah (Q.S. 2: 168). Ia menikmatinya dalam batas kewajaran dan kesahajaan, 
sebagai bukti ketundukannya kepada perintah Allah (Q.S. 7: 31--32).

      Ketika berusaha, ia tidak akan berusaha dengan sesuatu yang haram, tidak 
akan melakukan riba dan menimbun barang, tidak akan berbuat lalim, tidak akan 
menipu, mencuri, korupsi, dan kolusi dan tidak pula melakukan praktek 
suap-menyuap (Q.S. 2: 188). Ketika memiliki harta, seorang muslim tidak akan 
menahannya karena kikir, tidak membelanjakan dengan cara boros; ia merasa 
hartanya itu merupakan amanah dari Allah swt. untuk dimanfaatkan sesuai dengan 
ketentuan-Nya (Q.S. 24:33).

      Dalam pandangan Islam, ekonomi bukan tujuan, melainkan semata-mata sarana 
yang lazim baginya mencapai tujuan yang lebih tinggi dan sarana penunjang dan 
pelayan bagi realisasi akidah dan syariatnya.

      Akhlak, kesatuan antara ekonomi dan akhlak ini akan makin jelas pada 
setiap langkah-langkah ekonomi, baik yang berkaitan produksi, konsumsi, 
distribusi, maupun kegiatan lainnya. Akhlak adalah landasan sekaligus bingkai 
bagi setiap aktivitas ekonomi. Jack Aster, pakar ekonomi Prancis, dalam 
bukunya, Islam dan Perkembangan Ekonomi, menyatakan Islam sebuah sistem hidup 
yang aplikatif dan secara bersamaan mengandung nilai-nilai akhlak yang tinggi.

      Kedua hal ini berkaitan erat, tidak pernah terpisah satu dengan yang 
lainnya. Dari sini bisa dipastikan kaum muslimin tidak akan menerima sistem 
ekonomi kapitalis yang hanya mementingkan keuntungan material dengan 
mengesampingkan hal-hal yang bersifat moral. Ekonomi Islam adalah ekonomi yang 
mengambil kekuatan wahyu Allah di Alquran, dan karena itu pasti berakhlak. 
Akhlak ini mampu memberikan makna baru terhadap konsep nilai dan mampu mengisi 
kekosongan pikiran yang nyaris muncul akibat era industrialisasi.

      Kemanusiaan, ekonomi Islam adalah ekonomi kemanusiaan, artinya, ekonomi 
yang memungkinkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat 
kebendaan maupun yang bersifat kejiwaan. Manusia merupakan tujuan--antara 
kegiatan ekonomi dalam Islam, sekaligus merupakan sarana dan pelakunya, dan 
memanfaatkan ilmu yang diajarkan Allah swt. kepadanya dan anugerah serta 
kemampuan yang diberikan-Nya. Di antara nilai kemanusiaan yang sangat menonjol 
dalam segala aktivitas yang diperintahkan ajaran Islam--termasuk kegiatan 
ekonomi--adalah keadilan, persaudaraan, saling mencintai, saling membantu, dan 
tolong-menolong. Sebab itu, harta tidak boleh hanya dimiliki sekelompok orang 
kaya (Q.S. 59: 7). Adanya kesadaran pada setiap harta yang kita miliki terdapat 
hak-hak orang lain (Q.S. 70: 24--25) yang tercermin dalam pelaksanaan zakat, 
infak, dan sedekah yang dikeluarkan untuk diberikan kepada yang berhak 
menerimanya, yang pada umumnya adalah orang yang duafa dan fakir miskin (Q.S. 
9:60).

      Pertengahan/keseimbangan, keseimbangan merupakan ruh dari ajaran Islam, 
sekaligus merupakan ruh pula bagi kegiatan perekonomian Islam. Misalnya, 
keseimbangan dalam pemilikan antara individu dan masyarakat (negara).

      Secara jujur diakui aplikasi ajaran Islam dalam kegiatan ekonomi yang 
tersebut di atas masih memerlukan usaha dan kerja keras yang sungguh-sungguh 
dari semua pihak yang terlibat di dalamnya. Mislanya, yang menyangkut 
penyadaran umat tentang perlunya kegiatan ekonomi yang berlandaskan ajaran 
Islam yang merupakan konsekuensi keimanan yang mengaharuskan aplikasi secara 
kafah (Q.S. 2: 208), demikian pula pemilikan SDM muslim yang andal, 
profesional, amanah, dan terpercaya, serta pemilikan lembaga ekonomi Islam 
seperti bank yang bebas dari riba.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke