kalo mau paham pandangan lengkap nurcholish madjid tentang
ibnu arabi mesti baca disertasinya....
artikel ini cuma mengungkap sekelumit saja tentang sufisme, ibnu
arabi dan keesaan tuhan....
nb:
cuma untuk yang rendah hati mau belajar....
salam,
Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam
oleh Dr. Nurcholish Madjid
MASALAH KEABSAHAN TASAWUF
Membicarakan keabsahan Tasawuf dapat mengisyaratkan pengambilan sikap
penghakiman (judgment) dengan implikasi yang serius, karena menyangkut
masalah sampai dimana kita bisa dan berhak menilai pengalaman keruhanian
seseorang. Telah disinggung bahwa mistisisme atau pengalaman mistis, tidak
terkecuali yang ada pada kaum Sufi, selalu mengarah kedalam, dan dengan
sendirinya bersifat pribadi. Oleh karena itu pengalaman mistis hampir
mustahil dikomunikasikan kepada orang lain, dan selamanya akan lebih
merupakan milik pribadi si empunya sendiri. Oleh karena itu sering terjadi
adanya tingkah laku eksentrik dan "di luar garis," dan orang lain,
lebih-lebih sesama Sufi sendiri, akan memandangnya, dengan penuh
pengertian, jika tidak malah kekaguman. Berbagai cerita tentang "wali" yang
berkelakuan aneh, seperti banyak terdapat di berbagai negeri dan daerah
Islam, adalah kelanjutan dari persepsi mistis ini.
Karena itu, bagi mereka yang lebih melihat diri mereka sebagai pemegang
ajaran standar akan cepat mengutuk tingkah laku aneh itu sebagai tidak
lebih daripada keeksentrikan yang absurd tanpa makna, jika bukannya
kesintingan atau bahkan tarikan syetan yang sesat.
Kesesatan yang paling gawat, di mata ahl al-dhawahir, ialah yang ada dalam
kawasan teori dan pandangan dasar, yang mengarah kepada paham "kesatuan
eksistensial" (wahdat al-wujud). Selain berbagai tokoh yang sudah dikenal
umum, seperti al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar, penganut dan pengembang
pandangan itu yang paling kaya namun "liar" ialah Ibn 'Arabi. Dalam
bukunya, Fushush al-Hikam, Ibn 'Arabi berdendang dalam sebuah syair yang
bernada "gurauan" dengan Tuhan:
Maka Ia (Tuhan)-pun memujiku, dan aku memuji-Nya,
dan Ia menyembahku, dan aku pun menyembah-Nya.
Dalam keadaan lahir aku menyetujui-Nya dan
dalam keadaan hakiki aku menentang-Nya.
Maka Ia pun mengenaliku namun aku tak mengenali-Nya
lalu aku pun mengenali-Nya, maka aku pun menyaksikan-Nya
Maka mana mungkin Ia tiada perlu,
padahal aku menolong-Nya dan membahagiakan-Nya?
Untuk inilah Kebenaran mewujudkan aku,
sebab aku mengisi ilmu-Nya dan mewujudkan-Nya
Begitulah, sabda telah datang kepada kita,
dan telah dinyatakan dalam diriku segala maksudnya.14
Ibn Arabi memang mengaku sebagai "kutub para wali" (quthba al-awliya),
bahkan pemungkasnya. Ia dituding oleh para ulama Syari'ah sebagai yang
paling bertanggungjawab atas penyelewengan-penyelewengan dalam Islam,
khususnya yang terjadi di kalangan kaum Sufi. Namun bagi para pengikutnya
dia adalah al-syaikh al-akbar (guru yang agung).
Kesulitan memahami literatur kesufian, seperti karya-karya Ibn Arabi ialah
bahwa pengungkapan ide dan ajaran didalamnya sering menggunakan kata kiasan
(matsal) dan pelambang (ramz). Karena itu ungkapan-ungkapan yang ada harus
dipahami dalam kerangka interpretasi metaforis atau tafsir batini (ta'wil).
Dan adalah ta'wil itu memang yang menjadi metode pokok mereka dalam
memahami teks-teks suci, baik Kitab Suci maupun Hadits Nabi.
Maka meskipun mereka menggunakan metode ta'wil mereka sebenarnya tetap
berpegang kepada sumber-sumber suci itu. Hanya saja, sejalan dengan metode
mereka, mereka tidak memahami sumber-sumber itu menurut bunyi lahiriah
tekstualnya. Inilah pangkal kontroversi mereka dengan kaum Syari'ah. Maka
tidak jarang kaum Syari'ah mengutuk mereka sebagai sesat, seperti yang
dilakukan oleh Ibn Taymiyyah terhadap Ibn Arabi.
Tapi, dalam semangat empatik, mungkin justru pengalaman mistis kaum Sufi
harus dipandang sebagai bentuk pengalaman keagamaan yang sejati. Seperti
pengalaman Nabi dalam Mi'raj yang tak terlukiskan, sehingga karenanya juga
tak terkomunikasikan, pengalaman mistis kaum Sufi pun sesungguhnya berada
di luar kemampuan rasio untuk menggambarkannya. Kaum Sufi gemar mengatakan
bahwa untuk bisa mengetahui apa hakikat pengalaman itu, seseorang hanya
harus mengalaminya sendiri. Mereka mempunyai perbendaharaan yang kaya untuk
melukiskan kenyataan itu. Misalnya, tidak mungkinlah menjelaskan rasa
manisnya madu jika orang tidak pernah mencicipinya sendiri.
Pengalaman mistis tertinggi menghasilkan situasi kejiwaan yang disebut
ekstase. Dalam perbendaharaan kaum Sufi, ekstase itu sering dilukiskan
sebagai keadaan mabuk kepayang oleh minuman kebenaran. Kebenaran (al-haqq)
digambarkan sebagai minuman keras atau khamar. Bahkan untuk sebagian mereka
minuman yang memabukkan itu tidak lain ialah apa yang mereka namakan
"dlamir al-sya'n," yaitu kata-kata "an" yang berarti "bahwa" dalam kalimat
syahadat pertama, Asyhadu an la ilaha illa Llah" (Aku bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan selain Allah). Pelukisan ini untuk menunjukkan betapa intensenya
mereka menghayati Tauhid, sehingga mereka tidak menyadari apa pun yang lain
selain Dia Yang Maha Ada.
Karena itu, suatu pengalaman mistis mungkin akan hanya sekali terjadi dalam
hidup seorang, tanpa bisa diulangi. Inilah diumpamakan dengan turunnya
"malam kepastian" (laylat al-qadar), yang dalam al-Qur'an disebutkan
sebagai lebih baik dari seribu bulan. Artinya, seorang yang mengalami satu
momen menentukan itu, ia akan terpengaruh oleh pesan yang dibawa seumur
hidupnya, yaitu sekitar seribu bulan atau delapan puluh tahun. Karena itu
meskipun suatu pengalaman mistis sebagai suatu kejadian hanya bersifat
sesaat (transitory), namun relevansinya bagi pembentukan budi pekerti akan
bersifat abadi. Sebab dalam pengamalan intense sesaat itu orang berhasil
menangkap suatu kebenaran yang utuh. Kesadaran akan kebenaran yang utuh
itulah yang menimbulkan rasa bahagia dan tenteram yang mendalam, suatu
euphoria yang tak terlukiskan. Dan itulah kemabukan mistis. Kemudian, suatu
hal yang amat penting ialah bahwa euphoria itu sekaligus disertai dengan
kesadaran akan posisi, arti, dan peran diri sendiri yang proporsional,
yaitu "tahu diri" (ma'rifat al-nafs)15 yang tidak lebih daripada seorang
makhluk yang harus tunduk-patuh dan pasrah bulat (islam) kepada Sang Maha
Pencipta (al-Khaliq). Maka seorang Sufi, karena kepuasannya akan
pengetahuan tentang Kebenaran, tidak banyak menuntut dalam hidup ini. Ia
puas (qana'ah) dan lepas dari harapan kepada sesama makhluk. Ia bebas,
karena ia merasa perlu (faqir) hanya kepada Allah yang dapat ia temui di
mana saja melalui ibadat dan dzikir. Ia menghayati kehadiran Tuhan dalam
hidupnya melalui apresiasi akan nama-nama (kualitas-kualitas) Tuhan yang
indah (al-asma al-husna), dan dengan apresiasi itu ia menemukan keutuhan
dan keseimbangan dirinya
Hidup penuh sikap pasrah itu memang bisa mengesankan kepasifan dan
eskapisme. Tapi sebagai dorongan hidup bermoral, pengalaman mistis kaum
Sufi sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karena itulah ajaran Tasawuf
juga disebut sebagai ajaran akhlak. Dan akhlak yang hendak mereka wujudkan
ialah yang merupakan "tiruan" akhlak Tuhan, sesuai dengan sabda Nabi yang
mereka pegang teguh, "Berakhlaqlah kamu semua dengan akhlaq Allah." [Tamat]
Catatan kaki :
14 Muhy al-Din ibn Arabi, Fushush al-Hikam, h. 83. Cf terjemahan Inggris
oleh R.W.J. Austin, The Bezels of Wisdom (New York: Paulist Press, 1980),
h. 95.
15 Karena itu di kalangan kaum Sufi terkenal ungkapan dalam bahasa Arab,
"Man arafa nafsahu fa qad 'arafa Rabbahu" (Barangsiapa tahu dirinya maka ia
akan tahu Tuhannya). Karena pengetahuan tentang diri secara proporsional
adalah indikasi pengetahuan akan Kebenaran Yang Bulat.
At 02:53 AM 7/1/05 -0700, you wrote:
Sesatnya Ucapan Nurcholish Madjid: Iblis Kelak Akan
Masuk Surga
Tanggal: Tuesday, 20 May 2003
Topik: Artikel Islam
Ust. Hartono Ahmad Jaiz
AlDakwah.org--Nurcholish Madjid menimbulkan kasus 23
Januari 1987 di pengajian Paramadina yang ia pimpin di
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/