--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
> 
> ternyata citra bung Karno yang sering di bawa oleh megawati
> semakin pudar saja, terbukti dengan tidak terpilihnya beliau
> pada pemilihan umum tahun lalu  ..  diperparah lagi dengan
> sifat ngambek dan merasa terluka akan sepak terjang SBY,

FYI.. saya bukan Mega, jadi gak tahu 'daleman hati' dia.. :D
Tapi bisa kita baca tulisan di bawah ini, khususnya soal pengakuan
tidak akan berkampanye, tetapi akhirnya iya (dan 'kaget').

Juga soal tugas yang dilimpahkan kepada menteri lain, namun 
di luaran berembus isu tidak diberi tugas.. KALAU BENAR begitu adanya:
Jadi begitu yang katanya bukan typical pimpinan bangsa ini
dan begitu cara untuk sukses? 
Hmm.. (seperti melihat lampu bohlam dan tanduk setan)..

BTW, jadi ingat lagu 'Bohong' (2D?).. 
Bohong.. kamu suka bohong.. 
Bohong.. kamu terlalu(?)
..
Ku tak mau (3x).. punya pacar tapi hatiku tersiksa..
Ku tak mau (3x).. punya pacar yang ulahnya seperti kamu..
..

Tinggal ganti saja konteks pacar (dalam lagu) dengan.. 
ya tahu sendiri lah.. :-p

"..
Awalnya, Februari lalu, Megawati secara khusus mengundang rapat 
Wakil Presiden Hamzah Haz, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan
Susilo Bambang Yudhoyono, serta Menteri Kehakiman dan Hak Asasi
Manusia Yusril Ihza Mahendra di Istana Negara. Dalam rapat kecil itu
Mega me-nyampaikan masuknya surat dari Komisi Pemilihan Umum
tentang jadwal kampanye pemilu.

Mereka yang diundang rapat adalah anggota kabinet yang dikabarkan akan
mencalonkan diri sebagai presiden. Mega bertanya tentang 
kejelasan kabar pencalonan itu untuk memudahkan koordinasi 
pembagian tugas negara selama pemilu. Mega sendiri menjelaskan
posisinya sebagai presiden dan Ketua Umum PDIP yang sudah 
diusulkan partai menjadi calon presiden.

Hamzah Haz pun mengakui dirinya dicalonkan partainya. "Belum final, 
tapi menuju ke sana, dan saya akan ikut kampanye," katanya. 
Dari Yusril muncul bantahan: "Tidak, Bu. PBB tidak mencalonkan saya."
Terakhir Mega bertanya ke SBY, yang duduk di sebelah kanannya.
"Bagaimana, Pak Susilo, saya mendengar sendiri bahwa Pak Susilo 
dicalonkan sebagai presiden dari partai baru, Partai Demokrat. 
Apa benar?"

SBY terlihat kaget. "Tidak benar, Bu. Itu reka-rekaan wartawan saja. 
Yang jelas, saya tak akan berkampanye," ujar SBY. Mega lantas berkata.
"Oh, ya sudah kalau begitu, sudah clear. Bapak-bapak sudah tahu 
semua jadinya." Belakangan ternyata SBY malah masuk daftar juru
kampanye Partai Demokrat di urutan atas. Terpaksa sejumlah tugas 
negara dan pengamanan pemilu dibebankan kepada menteri lain. 
Namun, di luar, yang diembuskan malahan Mega tak memberikan 
tugas kepada SBY selama delapan bulan. Mega pun terluka....
.."
 
> apakah citra Sukarno sebagai orang hebat akan terpengaruh
> dengan sikap megawati yang terluka ini  .... ?  mungkin orang
> yang akan berziarah ke makam bung Karno akan lebih
> berkurang dan akhirnya menjadi sunyi dan sepi
> ini  akibat dari sifat   nasionalis sempit dari anak kesayangan
> bung KARNO  .....

Dari awal mestinya masyarakat bisa membedakan mana bapak
mana anak.. Gak semua ortu keren anaknya ok..
Bisa aja ortunya presiden, anaknya bajigur.. ini contoh lho.. contoh..
atau ortunya pemuka agama, anaknya jadi pemuka agama juga..
bisa jadi tukang nyekek botol atau tukang kocok kartu & buang duit..

Tapi beginilah kebanyakan masyarakat kita karena kondisi mereka
sendiri dan tidak mustahil tetap dipelihara pihak tertentu (dari dalam
maupun luar) yang tidak ingin mereka tercerahkan.. 
Dan kondisi ini perlu dibenahi bukan semata dihina.. 
 
> membalikkan zaman yang sudah maju kayaknya suatu cita-cita
> yang perlu di pertanyakan  ... zaman revolusioner kayaknya
> sudah harus di ubah dengan zaman berpikir kritis dan
> teratur dan manajerial ...gotong royong itu adalah manajemen
> yang tidak manusiwi karena memanfaatkan tenaga orang
> tanpa apresiasi  ...

Tidak selamanya gotroy itu jelek.. atau sebaliknya baik..
Koin itu 2 sisi, jendral eh bos.. Yang 6 sisi itu dadu (atau 'dice' 
kata orang sunda .. :-P

> salam, hati yang terluka

Wassalam,

Irwan.K

=======
http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2004/10/25/LN/mbm.20041025.ln11.id.html

        
Edisi. 35/XXXIII/25 - 31 Oktober 2004
                
Luar Negeri
Jurus Cikeas Menggapai Mega
Presiden Yudhoyono berusaha merangkul kubu Megawati hingga menjelang
pelantikannya. Gagal karena luka batin.

PAGI itu, seperti biasa, Tjiptaning berangkat ke kliniknya di Ciledug,
Tangerang, untuk berpraktek. Hanya sebentar berjalan kaki, di
kliniknya sudah ada dua pasien menanti. Tjiptaning, 46 tahun, memilih
melayani mereka ketimbang hadir di Gedung Majelis Permusyawaratan
Rakyat di Senayan, mengikuti acara pelantikan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan wakilnya, M. Jusuf Kalla.

"Saya tak bisa," kata Dokter Ribka Tjiptaning Proletariyati?begitu
nama lengkap anggota parlemen dari PDI Perjuangan ini. Sebelumnya ia
dikenal sebagai penulis buku Aku Bangga Jadi Anak PKI. Meski anggota
parlemen, Tjiptaning mengaku tak bisa melihat SBY, yang berlatar
belakang tentara, dilantik sebagai presiden. Hari itu di Senayan,
rupanya ia tak sendiri. Dari 679 anggota MPR, hanya 511 yang datang.

Megawati Soekarnoputri termasuk yang tak sudi hadir. Ia memilih sibuk
mengurusi tanaman di pekarangan rumahnya di Kebagusan. Cuma, kalau
ketidakhadiran Tjiptaning tak sampai membuat setori, absennya Mega
lumayan rame jadi omongan. Berbagai upaya dilakukan untuk "membujuk"
Mega hadir, baik oleh pimpinan MPR maupun kubu SBY, namun sang Ibu
seperti melengos cuek.

Menurut Irvan T. Edyson, koordinator staf pribadi SBY, kubu mereka
serius membangun komunikasi politik dan rekonsiliasi dengan Megawati.
"Agar tidak ada kesenjangan antara pemerintah baru dan yang lama,"
katanya. SBY bahkan menginginkan bisa bersilaturahmi dengan Mega di
Kebagusan, usai pelantikannya. "Baru setelah itu ke Istana Negara,"
kata Irvan. Tapi, begitulah, semuanya tinggal cita-cita.

Rupa-rupa jurus sudah dijajal. Mulai dari yang standar: mengirim surat
ke Sekretariat Negara usai pemilu, awal Oktober lalu, mohon bertemu
Mega. Jurus ini langsung kandas. Lobi juga dilancarkan ke "orang-orang
Mega". Guruh Sukarno Putra, bungsu dari trah Sukarno, dicoba didekati.
Pertemuan pertama dilakukan di kawasan Cibubur, Jakarta Timur,
beberapa hari seusai pemilu.

Empat poin ditawarkan. Pertama, Guruh diminta mempertemukan SBY dengan
Mega melalui jalur keluarga. Kedua, SBY berharap Mega datang ke acara
pelantikannya. Ketiga, SBY meminta izin keluarga untuk nyekar ke makam
Bung Karno di Blitar. Keempat, Guruh ditawari terlibat dalam Kabinet
Indonesia Bersatu sebagai menteri? entah apalah. Pertemuan kedua
berlangsung di sebuah hotel dalam acara jamuan pengusaha dengan
presiden terpilih.

Guruh mengakui pertemuannya dengan SBY. Perkara keinginan tadi, baru
satu yang bisa terkabul: nyekar ke Blitar. "Mbak Mega dan keluarga
mempersilakan," kata Guruh kepada Tempo di Kebagusan, pekan lalu.
"Bagaimanapun, Bung Karno adalah milik bangsa, semua orang bisa datang
berziarah." Ia mengaku menolak jabatan menteri karena tak mau
"melukai" kakaknya.

Akan halnya bertemu SBY, kata Guruh, Mega berdalih belum saatnya
dilakukan. "Insya Allah, sewaktu-waktu. Namun belum bisa sekarang,"
kata Guruh, menirukan si Mbak. Mentok di kalangan dalam, jurus
melambung pun digelar. Staf khusus SBY, Munawar Fuad, 33 tahun,
ditugasi membuka kontak dengan Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama dan calon wakil pre-siden dari kubu Mega.

Kontak pengurus teras Pemuda Ansor ini dengan Hasyim dibuat untuk
meraih dua agenda sekaligus. Pertama, mengundang Hasyim ke pelantikan
presiden terpilih?siapa tahu Mega tergerak. Kedua, melempangkan jalan
bagi calon Menteri Agama kabinet SBY, yaitu Maftuh Basyuni, yang
berasal dari kalangan NU.

Kontak pertama dilakukan per telepon, 16 Oktober. Ternyata gayung
bersambut. "Salam takzim saya untuk Pak SBY," kata Hasyim di seberang
telepon. Ia menyatakan akan hadir dalam acara pelantikan di MPR asal
ada undangan. Tapi, dalam kapasitas sebagai Ketua NU. Sikapnya ini
dipertegas ketika Hasyim ditemui di Bandara Halim Perdana Kusuma,
Jakarta, tiga hari kemudian.

Ia mengulangi kesediaannya hadir, yang berarti melempangkan jalan bagi
warga NU untuk duduk di kabinet. Hasyim menyatakan Pengurus Besar NU
tidak pernah merekomendasikan calon menteri dalam kabinet SBY-Kalla.
Namun PBNU ikhlas mendukung presiden dan wakil presiden hasil Pemilu
2004. "Saya bersyukur dan mengenal dekat Maftuh Basyuni karena sesama
alumni Pondok Pesantren Gontor," katanya. Namun belum ada kabar
tentang Megawati.

Sinyal untuk Mega via Hasyim ini akhirnya juga mentok. Hasyim mengaku
sudah mengajak Megawati hadir ke MPR, sampai pada pagi hari menjelang
pelantikan, tapi dijawab dengan penolakan. "Saya tak bisa memaksakan,"
kata Hasyim. Mega menolak karena alasan psikologis: susah buat dirinya
datang karena tak ada aturan protokol yang pasti untuk mantan presiden.

Menurut Sutradara Gintings, politisi yang kini bernaung di kandang
Banteng, komplikasi psikologi dan etika politik memang bakal meruap
bila Mega datang ke pelantikan presiden penggantinya. "Orang yang
memaksa Mega datang mengambil referensi Amerika. Padahal di Indonesia
elemennya berbeda," kata Sutradara.

"Bayangkan saja, dalam acara pelantikan, seorang presiden akan diikuti
oleh presiden dan wakil presiden terpilih pada saat pembukaan. Selesai
pelantikan, dia beralih mengikuti di belakang presiden dan wakil
presiden terpilih, yang notabene bekas pembantunya di kabinet,"
Sutradara menjelaskan. Menurut dia, yang penting bukanlah kehadiran
Mega dalam pelantikan yang bersifat seremonial dan simbolis,
me-lainkan sikap demokratis yang dilakukannya dengan menuntaskan
seluruh proses pemilihan umum.

Mega terkesan bertahan pada dalih konstitusi yang tak mengatur
kehadiran mantan presiden ke pelantikan penggantinya. Benarkah begitu?
Menurut seorang sumber yang sangat dekat Mega, kilah legal hanyalah
dalih menutup luka batin. "Mbak Mega merasa ditikam dari belakang,"
ujar sumber ini.

Awalnya, Februari lalu, Megawati secara khusus mengundang rapat Wakil
Presiden Hamzah Haz, Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo
Bambang Yudhoyono, serta Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Yusril Ihza Mahendra di Istana Negara. Dalam rapat kecil itu Mega
me-nyampaikan masuknya surat dari Komisi Pemilihan Umum tentang jadwal
kampanye pemilu.

Mereka yang diundang rapat adalah anggota kabinet yang dikabarkan akan
mencalonkan diri sebagai presiden. Mega bertanya tentang kejelasan
kabar pencalonan itu untuk memudahkan koordinasi pembagian tugas
negara selama pemilu. Mega sendiri menjelaskan posisinya sebagai
presiden dan Ketua Umum PDIP yang sudah diusulkan partai menjadi calon
presiden.

Hamzah Haz pun mengakui dirinya dicalonkan partainya. "Belum final,
tapi menuju ke sana, dan saya akan ikut kampanye," katanya. Dari
Yusril muncul bantahan: "Tidak, Bu. PBB tidak mencalonkan saya."
Terakhir Mega bertanya ke SBY, yang duduk di sebelah kanannya.
"Bagaimana, Pak Susilo, saya mendengar sendiri bahwa Pak Susilo
dicalonkan sebagai presiden dari partai baru, Partai Demokrat. Apa benar?"

SBY terlihat kaget. "Tidak benar, Bu. Itu reka-rekaan wartawan saja.
Yang jelas, saya tak akan berkampanye," ujar SBY. Mega lantas berkata.
"Oh, ya sudah kalau begitu, sudah clear. Bapak-bapak sudah tahu semua
jadinya." Belakangan ternyata SBY malah masuk daftar juru kampanye
Partai Demokrat di urutan atas. Terpaksa sejumlah tugas negara dan
pengamanan pemilu dibebankan kepada menteri lain. Namun, di luar, yang
diembuskan malahan Mega tak memberikan tugas kepada SBY selama delapan
bulan. Mega pun terluka....

Arif A. Kuswardono, Widiarsi Agustina, M. Nafi
                        
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
18/XXXIV/27 Juni - 03 Juli 2005

>                                                                    
                                                
>                     Danardono                                      
                                                
>                     HADINOTO              To:    
[email protected]                                          
>                     <rm_danardono@        cc:                      
                                                
>                     yahoo.de>             Subject:     Ant: Re: Ant:
RE: [ppiindia] Jelaskan Saja Luka Megawati     
>                     Sent by:                                       
                                                
>                     [EMAIL PROTECTED]                                 
                                                
>                     groups.com                                     
                                                
>                                                                    
                                                
>                                                                    
                                                
>                     01/07/2005                                     
                                                 15:16               
                                                                     
     
>                     Please respond                                 
                                                 to ppiindia         
                                                                     
     
> 
> Mungkin gak typikal pimpinan bangsa ini nihhh? Hik hik hik
> 
> 
> irwank2k2 <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> --- In [email protected], Danardono HADINOTO
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > kayaknya gak omong doang. Juga gak gagu...
> 
> Berarti itu gak masuk dalam 2 macam pimpinan donk..
> Kan tadi Eyang bilang kita punya 2 macam pimpinan.
> Makanya saya tanya:
> 
> > Gak masuk salah satu atau kriteria-nya yang perlu dirubah?
> 
> Selain itu dia bukan pimpinan donk berarti.. :-)
> Klo kata penyanyi dankdut: Kamu pilih yang mana?
> Hehehe..
> 
> Wassalam,
> 
> Irwan.K
> 
> ======
> > Tapi pasti ada yang gak puas, yang seneng, yang cuek, namanya
> > juga demo crazy
> >
> > irwank2k2 <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> > --- In [email protected], Danardono HADINOTO
> > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > Mas kita punya dua macam pimpinan: yang bisu kayak orang gagu,
> > > dan yang omong doang
> >
> > Klo presiden sekarang masuk yang mana, Eyang?
> > Gak masuk salah satu atau kriteria-nya yang perlu dirubah?
> > Hehehe..
> >
> > Wassalam,
> >
> > Irwan.K
> >
> > ========
> > > Jimmy Okberto <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
> > > Kebanyakan diem, jadi banyak yang ga ngerti maunya apa ...
> > > Tidak selamanya diam itu emas ...
> > >
> > > Ngomong duonk Ngomong ...
> > >
> > >
> > > -----Original Message-----
> > > From: Samudjo [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > Bukan luka, lebih tepat borok
> > > Samudjo
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
> > >
> > >
> > > http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=178372
> > > Kamis, 30 Juni 2005,
> > > Jelaskan Saja Luka Megawati
> > > Setelah pertemuan tokoh-tokoh kaliber nasional di rumahnya, Pak
> Wiranto
> > > sebagai tuan rumah menjelaskan bahwa yang hadir, antara lain, adalah
> > > tokoh-tokoh yang memiliki "luka" dengan Presiden Susilo Bambang
> > > Yudhoyono.
> > > Misalnya, Megawati yang tegas menyebut PDIP sebagai partai oposisi
> > > (koran
> > > ini 23/6).
> > > Pak Wiranto perlu memperjelas apa yang disebut "luka" Megawati.
> Megawati
> > > sebagai orang demorkat, apa "luka" karena kalah dalam pilpres yang
> lalu?
> > > Kalau lukanya dengan SBY, wong SBY sangat terkenal sopan santun,
> sumeh.
> > > Tutur katanya sangat runtut dan teratur. Orangnya ramah, terkenal
> > > sebagai
> > > orang yang jujur.
> > > Agar masyarakat lebih jelas mengenai masalah "luka" Megawati,
> lebih baik
> > > dijelaskan secara jelas dan gamblang agar tidak menimbulkan
> teka-teki di
> > > masyarakat.
> > > SOETIYONO, Plemahan Gg II, No 40c, Surabaya
> 
> 
> 
> 
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
>
__________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> YAHOO! GROUPS LINKS
> 
> 
>     Visit your group "ppiindia" on the web.
> 
>     To unsubscribe from this group, send an email to:
>  [EMAIL PROTECTED]
> 
>     Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
> 
> 
> ---------------------------------
> 
> 
> 
> 
> Kita menjalani kehidupan dengan apa yang
> kita peroleh, tetapi kita menciptakan
> kehidupan dengan apa yang kita berikan.
> 
> (Winston Churchill)
> 
> 
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
>
__________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________
> 
> Disclaimer :
> - This email and any file transmitted with it are confidential and
> are intended solely for the use of the individual or entity whom
> they are addressed, if you are not the original recipient, please
> delete it from your system.
> - Any views or opinions expressed in this email are those of the
> author only.
> ______________________________________________________________




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke